Senin, 08 April 2013

Membuat Draft Adegan (1)



Proses Membuat Draft Adegan Pertunjukan Teater

"Sura" karya Dewi Bulan
&
"Etalase Tubuh" karya Sahlan Bahuy


draft adegan ini saya buat ketika saya menjadi salah satu aktor dalam naskah tersebut untuk sebuah pementasan Teater Lakon yang diselenggarakan oleh Festival Teater Indonesia (FTI) di Gedung Rumentang Siang-Bandung pada tahun 2012 lalu. 

saya mencoba membuat draft adegan baru pada cerpen dan naskah yang sudah ada, belajar menulis dari adegan-adegan ketika berlatih teater. selamat mengapresiasi!

kalimat pengantar dariku :


"Duka hanyalah mentega yang meleleh di penggorengan panas"


list adegan

-       Sura kecil dididik dari keluarga yang over protektif, menyuruhnya belajar, dan melarang bermain ke luar dengan anak-anak seusianya.
-         Di rumah, ayahnya begitu keras padanya dan juga ibunya.
-        Sura amat dekat dan menyayangi ibunya. Suatu ketika ibunya mengajak Sura ke sebuah rumah sakit untuk menemani ibunya berobat. Mulai dari situlah Sura berjanji pada ibunya bahwa kelak ia ingin menjadi seorang dokter sehingga ibunya tak perlu repot-repot menyisihkan uang untuk membayar berobat atau sekedar menebus obat yang tak murah.
-     Suatu ketika Ayahnya bangkrut ketika Sura menginjak sekolah menengah pertama. Ayahnya mulai ketahuan sering main perempuan dan korupsi uang perusahaannya sehingga ia resmi dikeluarkan dari perusahaan itu dan harus membayar hutang buah korupsinya terhadap uang kantornya. Ayahnya mulai frustasi dan selalu menghambur-hamburkan uang yang dimiliki ibunya dan tidak memikirkan keperluan keluarganya lagi.
-       Sura tak peduli terhadap hal-hal tentang cinta yang biasa terjadi pada anak seusianya. Ia begitu jera terhadap lelaki karena perlakuan keras ayahnya pada ibunya di rumah. Akhirnya ia memutuskan untuk membenci lelaki dan hanya akan memikirkan pendidikannya saja.
-  Sura mendapatkan juara kelas berturu-turut, namun ia begitu angkuh dan sombong karena kepintarannya itu. Ia mulai meremehkan teman-temannya dan menganggap bahwa dirinyalah yang paling pintar.
-       Sura beranjak dewasa dengan niatan menjadi seorang dokter karena citacita yang ia idamkan sejak kecil. Ia gigih belajar dan mencoba mendaftarkan diri ke beberapa lowongan beasiswa perguruan tinggi.
-   Suatu ketika ibunya sakit-sakitan karena perilaku ayahnya yang tidak bertanggung jawab pada keluarga. Dan ibunya pun tidak mampu bertahan hidup karena sakit yang mulai kronis itu. Akhirnya  sang ibu pun meninggal dunia.
-   Sepeninggal ibunya, Sura pun gagal meraih beasiswa impiannya untuk menjadi dokter karena ketidakkonsenannya ketika mengikuti ujian seleksi. Ia pun depresi. Ia amat membenci ayahnya, karena perilaku ayahnyalah yang menjadikan hidupnya berbelok tak sesuai dengan apa yang ia impikan sejak dulu. Ibunya meninggal, dan ia tak meraih beasiswa yang diimpikannya. Ia begitu dendam dan membenci ayahnya.
-      “mengapa Tuhan tak mencabut nyawa ayah saja. aku masih membutuhkan ibu, aku tak butuh lelaki pengumbar mani itu. aku hanya butuh ibu.”
-        Sura depresi dan melarikannya dengan mengunjungi diskotik, ia pulang dan menjumpai ayahnya yang tengah terkapar di ruang tamu sepertinya selesai bermain judi dan minum alkohol dengan teman-temannya.
-     Ayah Sura tak sadarkan diri, mengira bahwa yang datang itu bukanlah anak semata wayangnya. Ia memeluk Sura, begitupun dengan Sura yang mulai layu tubuhnya karena pengaruh minuman keras. Mereka masuk ke dalam kamar dan melakukan hubungan yang melanggar hakekat anak dan ayah. Mereka bersenggama dalam ketidaksadaran bahwa mereka satu darah daging.


Adegan 1
Siluet tubuh Sura remaja dan ibunya di dalam rumah sakit
*Nyanyian Sendu*
Sura : Ibu, aku berjanji suatu saat aku akan menjadi dokter pribadimu. Sehingga ibu tak perlu repot-repot ke rumah sakit dan membayar biaya yang tak murah ini.
Ibu : ketika janjimu amat mulia, maka ibu akan mendoakan itu agar kau mampu melunasinya pada ibu. Kau harus menjadi orang yang sukses Nak. Pintar, cerdas, dan tidak melupakan hakikatmu sebagai seorang wanita.
Sura : aku sayang ibu. Ibu harus berjanji untuk sembuh. Ibu harus sembuh, kuat dan siap mendampingiku untuk mencapai cita-cita itu.
Mereka berdua berpelukan. dari belakang terdengar samar-samar suara perempuan yang tertawa kencang, lalu lama kelamaan menangis.

Adegan 2
Di luar panggung
Mbok Minah : sudah hampir tiga puluh tahun saya menjadi tetangga setia keluarga Sura. Tapi belum ada perubahan yang nampak bagi kemakmuran keluarga ini. saya hanya menjadi seorang saksi bisu atas segala peristiwa yang terjadi dalam keluarga mereka. Tapi saya peduli terhadap mereka. Ya, karena Ibu Sura amat baik terhadap saya. Ia kerap meminjami saya uang atau bahkan memberikan makanan dengan cuma-cuma. Untuk itulah saya masih setia menemani Sura hingga ia dewasa dan menentukan jalan hidupnya.

Dalam panggung, ruang tamu. Seorang wanita muda muncul dari arah pintu masuk.
Sura : Ibuuuu... ibu... (tertawa riang)
Tampak suara ibu dari arah dapur.
Ibu : iya Nak. Ada kabar gembira apalagi sayang?
Sura : ibu, aku bahagia. Suatu kehebatan tersendiri dan aku telah menduga semua Ini  Bu.
Ibu masuk ke ruang tamu, menghampiri Sura dengan senyum bahagianya.
Sura : bu, Sura meraih juara kelas lagi. Untuk ketiga kalinya sura mendapat penghargaan sebagai peraih rangking pertama ujian nasional di sekolah. Sura bahagia sekali bu.
Ibu : syukurlah Nak, ibu juga ikut bahagia dengan apa yang kau capai ini. (batuk-batuk)
Pelukan hangat sang ibu dilayangkan ke tubuh Sura.

Setting 1
(Nenek adalah Sura yang telah tua, cerita ini flashback tentang dirinya dan keluarganya)
Di sini nenek seolah menjadi tetangga Sura berusia 60 tahun. Ia menjadi saksi bisu atas setiap peristiwa yang terjadi dalam keluarga tersebut.

Di luar panggung ::
Nenek : “Sura adalah sebuah nama yang ibunya berikan karena perempuan itu lahir pada bulan Sura dalam kalender Islam.”

Dalam panggung ::
Sura pulang dari sekolah, ia bercerita pada ibunya bahwa ia mendapat nilai ujian nasional tertinggi di sekolahnya dan berkesempatan meraih beasiswa pendidikan di fakultas kedokteran dengan satu cara ia harus mampu melewati ujian tertulis yang diadakan oleh perguruan tinggi tersebut. Mendengar itu ibunya sangat bahagia dan memeluk Sura.
Dari pintu masuklah ayah Sura dalam kondisi mabuk berat lalu berteriak tidak karuan. Ia mencemooh perusahaannya, masalah keuangan di perusahaannya hingga menyentuh ranah korupsi dalam perusahaannya.
Sura dan ibunya sangat terkejut lalu ibunya mencoba mengajak bicara ayahnya, akan tetapi tak ditanggapi dengan baik oleh ayahnya. Ia justru memarahi sang ibu dengan kata-kata kasar bahkan sesekali wajahnya berubah ekspresi menjadi wajah lelaki hidung belang. Ia menggoda istrinya seolah yang sedang berbicara dengannya itu bukanlah istrinya melainkan seorang PSK. Sehingga dengan genitnya ia merayu dan meminta PSK itu menemaninya tidur.
Mendengar itupun ibu Sura menangis. Kemudian Ayah Sura mengeluarkan sebuah surat dari dalam saku kemejanya. Ibu langsung merampasnya, ternyata itu adalah surat PHK yang dilayangkan perusahaan tempat Ayah Sura bekerja. Ya, benar saja. Ayah Sura di PHK karena masalah keuangan yang disalahgunakannya dalam perusahaan tersebut.
Di sana ayah Sura mulai tidak sadarkan diri atas ucapan dan tingkah laku yang ia perbuat. Sesekali ia tertawa seperti orang gila, dan sekejap ia langsung mencibir tak karuan.
Ibu Sura sangat tertekan dengan kondisi itu, ia langsung menangis sejadi-jadinya. Kakinya mulai berat. Ayah Sura langsung terjatuh dan tergeletak di lantai ruang itu. Sura yang melihat semua itu ikut menangis dan berusaha meraih tubuh ibunya yang juga mulai layu dan terduduk lesu di lantai tepat di samping kediaman ayahnya. Mereka menangis dan meratapi nasib yang menimpa keluarga mereka.

Dari luar panggung ::
Si nenek menangis lalu perlahan mereda.
“(sedih) Sura yang malang, Ibu yang malang, (marah) Ayah yang tidak bertanggung jawab. (bingung) Ayah? Ayah.....(menangis lagi)



catatan
sampai pementasan ini berlangsung dan detik ini juga, saya belum menyelesaikan rasa penasaran  saya dalam membuat adegan baru naskah ini, karena terhambat oleh kesibukan kampus dan aktivitas menulis genre lainnya. Uwow. *fight! L

Tidak ada komentar:

Posting Komentar