Sabtu, 20 Juni 2020
Ikutan Kelas Bengkel Diri? Siapa Takut!
Sabtu, 09 September 2017
Pro Kontra about Daycare
Baiklah.
Di awal tulisan tahun ini, saya hendak membahas sedikitnya ihwal daycare.
Apa sih daycare itu?
Istilah yang biasa orang kenal untuk menyebutkan tempat penitipan anak. :(
Mungkin....
Sebenarnya saya bisa saja memindahkan penjelasan tentang daycare itu dari mbah gugel atau kamus lainnya ke dalam tulisan ini. Supaya tulisan ini terlihat lebih akurat dan keren (karena banyak istilah2 yg akan muncul. Haha)
Tapi biarlah itu jadi pengetahuan yang kalian (para pembaca) cari sendiri, karena tulisan ini akan lebih membahas pengalaman dan peristiwa yg saya alami, bukan pada arti kata daycare itu sendiri.
Sip!
Bagaimana mulanya saya bisa pro dengan dunia daycare semacam ini?
Oke. Jadi begini...
Mulanya, tahun ini ibu mertua saya meresmikan pembukaan preschool dan daycare di sekitar perumahan yang kami tempati. Hanya bermodalkan nekat dan rasa percaya diri, beliau pun membuatnya untuk mempermudah para orangtua (khususnya pekerja) yang hendak menitipkan anaknya dalam pengasuhan kami selama mereka sedang bekerja di tempatnya masing-masing.
Kenapa mereka tak menyewa pembantu saja?
Sangat berbeda memang ketika ART juga ditugaskan untuk mengasuh anak2 di rumah.
Ya..
Perlakuan yang berbeda. Mungkin tidak dirasakan bagi mereka yang sudah memercayai ART nya untuk mengasuh anak mereka. Namun pastinya ada saja orangtua yg kurang yakin dgn pola pengasuhan ART yg basic-nya diambil dr penduduk ekonomi bawah di daerah setempat.
Apalagi maraknya berita penculikan, pencurian, hingga penganiayaan anak di bawah umur, yang bertebaran di media.
Orangtua akan waswas menghadapi hal itu.
Pilihan mereka (khususnya para ibu karir) hanya tiga, berhenti bekerja, membawa anaknya bekerja bersama mereka, atau tetap bekerja dan menitipkan anaknya pada orang & lembaga yg mereka percayai (jujur/ikhlas mengasuh anak mereka).
Well. Kita langsung bahas ke pengalaman saya terhadap preschool dan daycare ya.
Apa sih yang menjadi keyakinan saya sehingga memutuskan untuk memasukkan Syahla dan Hanan ke daycare?
Ada beberapa hal yang memicu keputusan ini.
[1] Preschool dan Daycare yang ibu mertua saya buat ini adalah baru. Yaa.. baru dirintis angkatan pertama. Jadi butuh banyak modal, tenaga pendidik maupun anak2 didiknya.
Akhirnya untuk meramaikan semua itu, Syahla dan Hanan pun diminta terlibat di dalamnya. Siswa di sana pun masih sekitar 10 orang. Terbagi atas beberapa anak yg masuk ke kelas playgrup, preschool, dan daycare. Suamiku pun setuju demi perkembangan sekolah milik orangtuanya itu. Keputusan setuju ini diambil setelah mempertimbangkan hal-hal berikutnya yang akan saya jelaskan di bawah ini.....
[2] Syahla usianya sudah nyaris 3 tahun. Kosakatanya sudah buanyaaaak... Aktifnya sudah luarre biasa! Kemampuan bersosialisasinya pun tinggi. Hanya, keinginan untuk berbaginya yang masih kurang. :(
Wajar! Saya pernah baca postingan bunda Elly Risman, katanya anak usia 2-4 th memang masih butuh timangan orangtuanya, dan belum mampu berbagi benda/barang miliknya dgn anak lain. Masamasa itu adalah golden age mereka. Kehadiran orangtua adalah faktor utama kebahagiaan mereka. Tanpa banyak mainan pun mereka akan senang misalnya ayah/bunda memerankan anggota tubuhnya sebagai mainan yang bisa menarik perhatian mereka, ketimbang mainan asli yg terbuat dr berbagai bahan plastik. :D
[3] Hanan usianya 1,5 th. Sudah banyak kosakata juga karena sering mengobrol dan bernyanyi dengan kakaknya. Kakak perempuan yg cerewet dan suka bernyanyi itu pun akhirnya menularkan kamus kata baru di kepala Hanan. Saya sudah berani mengajak Hanan ngobrol dan curhat, karena doi akan merespon.
Saya jadi lebih PD ketika Syahla dan Hanan bersanding dgn anak2 lainnya di lingkungan rumah, dalam hal berbicara. *Entah karena emak bapaknya lulusan Bahasa Indonesia, anaknya jadi doyan unjuk gigi* 8)
[4] Saya bekerja sebagai guru dan tahun ini dinobatkan menjadi walikelas 6 di salah satu sekolah Islam di Karawang. Sedangkan suami bekerja dan menetap di Bandung yang hanya tiap satu sampai dua minggu sekali pulang ke Karawang untuk menebus rindu pada istri dan anakanaknya. :'D
Cie..cie.. LDR pasca kawin.
Aslinya "nggak enak" banget.. :(((
[5] Jadwal mengajar saya tidak begitu padat. Dari senin sampai jumat saya selalu mengunjungi anak-anak ketika zuhur tiba, karena waktu istirahat di sekolah selama satu jam.
Senin-selasa pulang jam 14.30. Hari rabu, full dr 7.30 sampai jam 4 sore, karena menjadi pembimbing ekskul olah vokal dan musik di sekolah. :(
Sedangkan kamis-jumat hanya sampai jam 12 siang :D
Santai kan? Lumayan! :D
Tapi tetap, saya harus standby memantau grup WA orangtua, karena kadang ada saja ortu yang menanyakan atau menitipkan sesuatu untuk disampaikan pada anaknya.
Beruntunglah lokasi sekolah tempat saya mengajar itu begitu dekat, ada di belakang rumah. Jd tinggal buka pintu doraemon di rumah, saya langsung masuk ke area sekolah. Hehe.
Itulah juga yg menjadi penyebab kenapa saya mau bekerja di sekolah tersebut. Mengingat kondisi anak2 yg masih butuh perhatian saya, akhirnya faktor jarak lah yg paling utama dalam mengambil keputusan untuk bekerja.
[6] Guru yang mengajar di preschool Syahla adalah adik ipar saya. Hehe. Jadi doi sudah kenal kalau bibi/tantenya itu yang mengajari dan menemaninya bermain sambil belajar selama bunda bekerja.
Waktu belajar dimulai pukul 7.30 sampai pukul 11 siang. Setelahnya, akan ada beberapa orangtua yg menjemput anaknya (selesai preschool), dan anak lainnya (masuk ke daycare) akan menetap di sana sampai sore hari ketika orangtuanya selesai bekerja.
Alhamdulillah... Sejauh ini Hanan cukup merasa nyaman karena di sana ada kakaknya, jd mungkin tidak begitu merasa 'ditinggalkan' oleh saya karena ia masih bersama dgn orang terdekatnya yaitu Syahla. Meski keduanya sering berebut mainan.. Tp sebentar saja juga sudah baikan lagi. Aamiin.. -_-
Tapi andai bisa berucap, mungkin mereka sebenarnya tidak mau ditinggalkan lama2 oleh saya yg bekerja. Yaa.. Semoga saja diberi jalan terbaik untuk semua pilihan ini.
[7] Jarak preschool/daycare dengan rumah kami yang sangat sangat dekat, karena masih berada di dalam perumahan yang kami tempati. Hanya berkisar 4-5 rumah. Apalagi kepala sekolahnya adalah adik ipar saya itu, dia kuliah di jurusan PAUD. Jadi makin yakin. :')
Sebenarnya begini. Banyak peristiwa yg hendak saya rekam dalam berbagai tulisan di blog ini. Hanya saja, untuk memindahkannya ke dalam tulisan, butuh waktu dan mood yang stabil dalam melakukannya.
Seperti malam ini. Saya sedang ada mood untuk mengetik banyak-banyak di ponsel saya.
Yap! Tulisan saya sekarang bermula dan tersimpan dalam telepon genggam. Aplikasi Blogger yg memudahkannya, karena Laptop sudah tak bisa diselamatkan lagi. Oke, ini cukup membantu. :(
Lanjut cerita.
Dulu ketika memasuki tahun ajaran baru 2017, mertua menawari saya menjadi kepsek di preschool and daycare tersebut. Tapi saya menolak dengan alasan, bukan bidang saya..... :S
Sempat terjadi perdebatan sengit antara kami sekeluarga. Memang, baiknya, saya bisa menjadi kepsek sekaligus menemani anak2 saya bermain dan belajar di sana. Tapi saya 'kekeuh' tidak mau, lantaran saya merasa bukan ahlinya dan tdk ada minat di bidang itu.
Ya, pola pengasuhan anak di rumah dengan di tempat preschool atau daycare semacam itu kan pasti berbeda. Harus punya ilmu dan pengalaman yang mumpuni. Saya takut salah mendidik anak orang :'(
Apalagi masamasa emas (golden age) seusia mereka. Kalau anak saya sih, yaaa bisa saja karena saya orangtua kandungnya. Tp kalau anak orang? Hehe.
Memang saya juga mendidik anak orang lain di sekolah dasar, tp alhamdulillah kan sesuai dgn ilmu yg sudah saya geluti yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Pun jua anak2di SD yang saya ajar, usianya sudah lebih besar, sudah cepat tanggap dan lebih mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya.
Kalau mendidik batita dan balita bisa semudah dan semendadak itu, mungkin di dunia ini tidak ada jurusan pendidikan anak usia dini yang memang khusus mengajari anak2 sesuai usia pertumbuhannya. Dan tidak ada seminar parenting atau pola asuh masamasa golden age anak.
Beda pasti antara keikhlasan dan bahasa tubuhnya ketika mengasuh dan mendidik mereka... :D
Apalagi daycare itu bisa dikatakan seharian full. Menunggu orangtua mereka datang sore hari pulang dari bekerja, barulah mereka dijemput. Berarti sang anak dititip seharian di sekolah dan artinya apa2 yg harus ditanamkan di sekolah, harus benar2 baik dan seharusnya langsung diberikan oleh ahlinya, karena anak2 di usia itu mudah sekali menyerap dan mencontoh sikap juga bahasa tubuh kita tanpa mereka klasifikasi baik atau buruknya.
Menjadi ibu bagi anak2 yg lahir dari rahim saya pun bukan hal yg mudah, apalagi menjadi ibu bagi anak2 orang lain, agaknya perlu belajar menyiapkan lagi mental dan pola asuhnya.
Nah, itulah mengapa lahirnya tulisan ini. Berangkat dari gejolak batin saya yang dari dulu sebenarnya sudah mengusung kata tidak setuju terhadap adanya "daycare". Kasian anak2 kita, Mak! :(
Hal itu akan dipahami lebih dalam jika kamu pernah bertemu dengan seorang wanita yg sudah menikah belasan tahun namun belum jua dikarunia anak.
"Hai.. Kamu wanita karir ya? Anak-anakmu dititip ke daycare? Ya Allah, aku yg sudah nikah belasan tahun ini belum juga dikarunia anak, kok kamu dan ibu2 lain yg sudah dapat amanah, malah menitipkannya ke tempat penitipan anak?"
Jleeeebbbbb!!!! :'( :'(
Menyakitkan....
Iya.. Dari awal nitipin Syahla dan Hanan ke daycare juga bukan merupakan keputusan yg mudah. Apalagi kerinduan saya akan kehadiran bocahbocah di setiap waktunya.
Dulu kalau saya ngajar, salahsatu dari mereka selalu saya bawa. Tp lamalama mungkin jd agak menghambat pembelajaran di kelas, karena fokus siswa adalah ke anak saya, bukan ke materi yg saya sampaikan.
Akhirnya, dibuatlah keputusan untuk berhenti mengajar karena fokus mau main dan belajar bareng Syahla & Hanan di rumah.
Tapi kenyataan tak semudah ucapan dan niatan yg hendak dicapai. Beberapa guru mendatangi saya dan menawarkan gaji dua kali lipat dr sebelumnya. Demi apa? Supaya saya gak jadi berhenti mengajar, karena mungkin belum ada guru penggantinya.
Lah kok saya malah mau tetap bekerja dan tergiur dgn tawaran tersebut?
Ke - 7 alasan yang sudah saya jabarkan di atas adalah pemicu keputusan saya hingga akhirnya bersedia menitipkan Syahla Hanan di daycare mertua saya, dan melanjutkan perjuangan saya bekerja sebagai guru di sekolah yang sudah saya tempati selama 3 tahun terakhir itu.
Oke. Saya kira cukup.
Sebuah pelajaran yang ingin saya sampaikan adalah,
Untukmu para wanita yang sekarang sudah memiliki anak atau baru dikaruniai anak atau sebentar lagi akan mempunyai anak, nikmati saja dulu prosesnya. Luar biasa sekali menahan gejolak amarah, kesal, dan bahkan lelah yang berkecamuk dalam kepala ketika mengasuh anak2 kita. Tapi itu tidak akan lama. Karena usia anak-anak kita akan bertambah. Mereka akan memasuki usia sekolah dan menemukan teman2 barunya. Kita akan sulit lagi meminta waktu bermain dengannya. Kita akan sulit untuk memeluknya erat2 karena mereka akan tumbuh besar dan memiliki dunianya sendiri.
Jaga baik-baik anak kita. Semoga tulisan ini bisa membantu para orangtua yang berniat menitipkan anaknya ke daycare.
Jika tdk ada faktor2 penyebab di atas, lebih baik tdk usah dititipkan ya. Kasihan anak2 akan merasa ditinggalkan, terabaikan dr dunia orangtuanya. Mereka merasa jauh dan tdk terangkul lagi.
So, ayah/bunda pikirkan lagi. Kecuali kalau keadaannya kayak pengalaman saya di atas. Mungkin masih bisa diterima, tp harus sering dikunjungi supaya mereka tetap merasa orangtuanya ada mengawasi dan menjaga mereka dr jauh.. :D
Saya juga, niatnya.. Hanya setahun ini saja. Setelah tahun ajaran ini berlalu, Insya Allah mau ngikut suami ke Bandung dan menetap di sana. Pastinya mengasuh anak2 seharian full lagi. Oh.. Senangnya... Aamiin allohumma aamiin.. :D :D
Karena pada akhirnya lelah juga kalau LDR-an pasca menikah dan punya anak. Mereka butuh sosok ayah setiap harinya. Keputusan pindah harus segera diambil. Semoga diberi kelancaran dan segala yg terbaik untuk kami. Aamiin..
Semoga ada rezeki lebih untuk menebus niatan tersebut.
Toh banyak ulama yang mengatakan bahwa anak2 kita ternyata sudah punya rezekinya masing2. Jadi kita sebagai orangtua hanya perlu mendidiknya menjadi anak yang sholeh/sholehah. Itulah yg paling utama, sholeh/sholehah, selanjutnya pintar dan cerdas jadi nilai tambahan yg otomatis akan mengikuti di belakangnya.
Biidznillah....
Masyaa Allah, tak terasa, semuanya mengalir begitu saja. Sudah seperti ustadzah belum ini ya? Hahaha.
Oke.
Allohumma yassir walatu'assir..
Sekian dan terimakasih.
Salam.
Sabtu, 10 September 2016
Kondisi Kulit Bayi Keduaku
Senin 28 maret 2016 pukul 03.00 wib, di sebuah rumah bersalin milik seorang bidan desa yang kebetulan adalah tante dari suamiku ini ramai dikunjungi beberapa sanak saudara kami.
Yap! Saya berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang merupakan anak kedua kami. Di usia kakaknya yang belum genap 2 tahun, doi sudah dikaruniai adik bayi. Hah? Huhu. Begitulah kiranya Tuhan senang menitipkan amanah kepada saya dan suami. Uwow (positif thinking sajaaa).
Anak kedua saya ini merupakan bayi yang kami tunggu-tunggu karena alhamdulillah berjenis kelamin laki-laki. Sepasang dengan si sulung yang merupakan anak perempuan. So.. Sepertinya saya tidak akan hamil lagi dalam waktu dekat, karena sudah sepasang. Hihi. Cukup dululah. ^^
Baik, kembali ke cerita.
Dulu.. Ketika my first baby, Yahlamu Syahla Mikhaila terlahir ke dunia, doi tampak begitu bersih dan menggemaskan karena terlihat cabi. Sementara anak keduaku ini tampak begitu kebalikan dari yang pertama.
Betapa tidak?
Hanan, my baby boy, berkulit hitam kemerahan (meski dulu syahla juga begitu, tapi seiring beberapa bulan, kulitnya mulai memutih). Kata orang-orang sih, kalau ketika bayi berkulit hitam kemerahan, nanti besarnya akan berkulit putih. Dan begitulah yang terjadi pada syahla.
Kalau hanan? Nggak tuh. Huhu :'(
Jadi ketika hanan lahir, dia nggak bersih. Kulitnya seperti melepuh atau you know kalau telapak tangan kita kelamaan nyuci atau berendam dalam air? Terlihat kan keriput-keriput gitu? Mudah sobek ya.. Karena tampak putih keriput-keriting seperti mie rebus yang kelamaan didiamkan (bahasa gaulnya "beukah").
Begitulah yang terjadi pada kulit hanan saat lahir. Kepalanya biang keringat, merah dan ada bintik-bintik berisi cairan bening yang kecil-kecil.
Tubuh hanan pun terlihat kurus, tapi dia lebih panjang dari kakaknya. Beda cuma 1 senti sih. Hihi.
Pada akhirnya saya berprediksi..
Apakah ini semua karena selama kehamilan hanan, saya jarang mengonsumsi air kelapa muda dan susu kedelai?
Sewaktu hamil syahla, saya sangat rajin meminum kedua itu. Tapi saat hanan, tidak begitu sering. Bahkan sangat jarang ketemu dua minuman tersebut. Ckck.
Saya lebih sering minum kopi. Omaygaaat.. "Pantesan si hanan hideung jiga cai kopi." Hahaha.
Begitulah kira-kira.
Sampai seminggu hanan tak urungnya berganti kulit. Setiap habis mandi, kulitnya ikut luntur seperti sisik ular yang mulai pudar. Atau seperti daki keringat kita. Bedanya daki ini berwarna putih, warna kulit yang tergesek sobek.
Saya begitu kasihan melihat kondisi hanan. Apalagi ditambah biang keringat yang mulai merajah ke sekujur tubuhnya. Benar-benar aneh! Kenapa dengan anak keduaku ini? Kok bedaaa... ~~~~
Selama kurang lebih tiga hari kami tinggal di rumah saudara kami yang merupakan bidan itu. Kebetulan letaknya yang di desa, sangat memudahkan kami untuk bertemu hal-hal tahayul di luar logika.
Kenapa?
Yaa... Beberapa saudara menduga, bayi kami dirasuki roh nenek keluarga di sana. Makanya bayinya nangis terus. Kemerahan badannya dan ganti kulit.
(OMG.. Bayiku cuma kurang minum asi, jadi dia nangis terus dan badannya mulai panas).
Gimana nggak kurang asi? Wong pas lahir nggak dibiarkan nyusu lama denganku.. :'(
Malah disuruhnya minum susu formula (katanya dulu juga mereka gitu, pas pertama bayi lahir biar nggak dehidrasi ditambah susu formula).
Laah.. Saya pernah ngelahirin syahla atulah.. Ada pengalaman setidaknya, minimal pun itu.
Saya yang stres menghadapi pro-kontra pendapat orang-orang di sana, juga mengakibatkan nggak lancarnya asi yang keluar. Yapyap, menjadi busui itu harus relaks.. supaya asinya deras, nggak tersumbat karena stres pikiran :(
Apalagi saya dan suami sampai lupa kalau harus mengompres PD dengan washlap yang sudah direndam air hangat (supaya asi mengalir keluar). Kenapa sampai lupa dengan proses itu ya? Apalagi di sana tidak ada yang mengingatkan, bidan pun tidak.. :'(
Padahal Asi juga akan keluar kalau sering disusui ke bayi loh. Kalau bayinya minum sufor, jarang nyusu, nggak ada yang merangsang si asi untuk keluar dong. Huhu *so sad jadinya melihat kenyataan seperti ini*
Untungnya ada sepupu suami yang juga berprofesi sebagai bidan. Kali ini sarannya sesuai dengan apa yang dilakukan bidanku dulu sewaktu melahirkan syahla. Masuk akal dan lebih kekinian (nggak tahayul atau pamali-pamalian lagi, yang bikin kepala jadi stres) hehe.
Begitulah peliknya melahirkan di sana. Tapi sebenarnya ada senangnya juga sih. Berkat melahirkan di sana, persalinan saya total tanpa jahitan, alias normal dan lancar. Beda dengan sewaktu melahirkn syahla yang penuh perjuangan menahan sakit jahitan. Syukurlah masih ada sisi baiknya ya. Terima kasih keluargaku... :')
Akhirnya sepulang kami ke rumah mertua yang letaknya di kota, saya dan suami tak urung mencari di gugel tentang keanehan kulit hanan ini.
Ternyata banyak juga bayi yang mengalami hal serupa. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan bahwa bayi dengan kondisi demikian sepatutnya tidak mandi dengan sabun, barangkali sensitif timbul dari sabunnya. Kemudian ada juga yang berpendapat, karena cuaca yang ekstrim. Ada juga yang menyarankan dioles pakai minyak lentik yang terbuat dari kelapa, baiknya buat sendiri. Pada pengobatan tradisional ini, gunakan minyak lentik sehabis mandi, dibalur dan oles-oles, sedikit gosok-gosok untuk mempermudah melepas kulit-kulit yang berganti.
Berhasil tidak?
Berhasil sih, ganti kulitnya mulai agak hilang. Tapi.... Malah jadi bintik-bintik merah. Ya ampun.. *tepok jidat lagi*
Pasti karena kulit hanan sensitif. Saya baca lagi di gugel, jangan pakai baby oil untuk kulit semacam ini. Saya nggak pake kok~ berarti ini murni karena minyak lentik yang nambah deretan bintik-bintik merah hanan.
Akhirnya seminggu pun berlalu bertepatan dengan aqikah Hanan Khoury Malouf dan sunnah mencukur rambut setelah 7 hari bayi terlahir plus tali pusarnya lepas sempurna.
Di waktu bersamaan dengan saya yang terserang penyakit belspalsy ->> baca selengkapnya di PASCA MELAHIRKAN
Saya juga disibukkan dengan urusan penyembuhan kulit hanan.
Akhirnya si suami kembali searching ke mbah gugel. Didapati beberapa nama salep untuk penyakit kulit serupa hanan.
Kalau syahla termasuk bayi Mefurosan yang merupakan salep rekomendasi dari kakak ipar saya di Cicalengka Bandung , lain dengan hanan yang menemukan salep kulit baru! Yap, Salep Betason-N. Akhirnya dibelilah salep tersebut.
Selama beberapa hari menggunakan salep itu, alhamdulillah.. Kulit hanan bersih dari ganti kulit maupun bintik-bintik merah berisi cairan bening. Yeay! Alhamdulillah.... 😘😘😘😘
Sebetulnya kalau ganti kulit sih memang wajar terjadi pada bayi yang baru lahir. Lama kelamaan juga akan hilang dengan sendirinya. Hanya bagaimana kita sebagai orangtua mesti tekun dan sabar dalam menyikapi serta berhati-hati pada tiap proses pelepasan kulit lama menjadi kulit mulus yang baru itu.
Anw, thanks yaa mbah gugel! Kamu sangat membantu. Hihi.
Tapi saya tidak menyarankan anda semua yang mengalami hal serupa dengan anak saya untuk mengikuti langkah-langkah kami di atas ya!
Baiknya kalau tidak mau ambil resiko yang sangat rentan, periksakan saja dulu ke dokter.
Kalau saya dan suami sih mengikuti aliran tradisional dulu, setelahnya searching ke gugel. Kalau tidak didapati kesembuhan yang total, barulah jalan terakhirnya adalah DOKTER.
Kebetulan juga selama ini penyakit-penyakit yang hinggapnya merupakan penyakit ringan (tapi cukup membandel sih) hehe. Kalau sudah masuk penyakit kronis, saya nggak berani ambil bagian ini lagi. Buru-buru kita bawa ke tangan ahli saja. Betul? :D
Baiklah, sekian sharing pengalamannya ya! Semoga kulit kita tetap sehat meski cuaca Indonesia makin semrawut. :'(
Salam hangat!
• mother of two •
Jumat, 09 September 2016
Syahla Mimisan? Gejala DBD kah?
Selasa, 19 Juli 2016
Fulltime Mommy (housewife)
Dengarkan,
seseorang mengetuk pintu dari jeruji hati yang digembok rapi.
Siapa ia?
Dua pasang kaki mungil yang berkeliaran di selasar kepala.
Sesekali merayap ke mata dan bergelayut menyedot mendung tak terkira.
Sudahkah kau memeluk ia?
Nyaris seutuhnya, namun terlepas sebagian.
Sisasisa waktu kuperbaiki dengan seksama
berharap kaki-kaki mungil kembali melebarkan sudut di bibirnya.
Tak ada yang siasia.
Hanya menunggu saat yang tepat untuk melepas sepersatu catatan penting di kepala.
Termasuk sebagian cita yang tertunda untuk sementara.
[Bersabarlah. Akan ada waktunya.]
Juli, 2016.
Selasa, 12 April 2016
Bel's Palsy pasca Melahirkan
Bersyukur sekali, tertanggal 28 maret 2016 pukul 3 pagi saya berhasil melahirkan seorang bayi lakilaki di Karawang dengan berat 3kg dan panjang 51cm. Alhamdulillah, saya merasakan kenikmatan yang luar biasa pasca melahirkan kali ini. Saya berhasil melahirkan normal tanpa jahitan.
Terdengar biasa mungkin bagi beberapa orang, but i'm so happy cos of it. Betapa tidak? Dengan melahirkan secara normal tanpa jahitan, cukup sehari-dua hari, tubuh kita bisa kembali bersinergi dengan lingkungan. I mean, kembali beraktifitas layaknya orang-orang yang tak habis melahirkan. 😊😊😊
Hari pertama pasca melahirkan, yang terbesit dalam kepala saya adalah kondisi syahla, my first kiddo. Saya khawatir dia belum menerima kehadiran makhluk mungil baru di dalam rumah. And then, terbukti, doi begitu rewel mengetahui induknya menggendong dan menyusui manusia lain di luar dirinya.
Oke, beralih topik. Pasca melahirkan, saya terserang penyakit aneh semacam stroke ringan. Padahal tensi darah saya normal. Well, dokter akupuntur bilang, saya terserang bel's palsy. Penyakit radang saraf di hanya sebagian wajah yakni sebelah kiri. Perlahan saya kesulitan membuka mulut dan mengunyah, lidah bagian kiri terasa mati rasa layaknya kaki kesemutan.
Hari berikutnya mata sebelah kiri saya mulai redup dan fungsi kedipannya sangat melamban, sehingga tak simetris dengan aktifitas mata sebelah kanan. Di sini saya mulai pusing kalau berkedip, karena tak serentaknya kelopak mata ketika menutup.
Selanjutnya beralih ke hidung , pipi dan alis. Semua mulai berkurang fungsinya. Hidung hanya bisa diangkat sebelah kanan, sedang lubang kiri tetap diam. Seolah ototnya tak ikut tertarik. Alis pun demikian, tak bisa dinaik-turunkan seperti biasa. Kemudian bibir. Saya hanya bisa senyum sebelah yaitu menarik ujung bibir sebelah kanan, sedang yang kiri tetap diam. Di sinilah saya mulai merasa tak nyaman.
Pasca melahirkan, pasti banyak sanak saudara yang datang menjenguk. Karena itulah saya mulai panik. Bibir saya hanya bisa ditarik sebelah, sehingga terkesan angkuh ketika senyum dan menurut saya itu sangat tak sopan jika terlihat oleh orang-orang yang datang berkunjung. Saya seolah tak senang. Jadi saya putuskan untuk pergi berobat.
Pengobatan pertama, saya dan suami mencari tahu penyebab terjadinya bels palsy dari internet. Banyak kemungkinan yang membuat saya pasrah kalau-kalau penyakit ini akan tetap bersarang di wajah saya. Kepanikan menjalar ke keluarga di rumah maupun keluarga saya di Cirebon.
Akhirnya ibu mertua mengantar saya berobat ke dokter akupuntur yang memakan biaya hingga 300ribuan itu, pada sekali pengobatan. Dan dokter itu menyarankan saya melewati 5-10 kali pengobatan. Wewww!!! Kebayang mahalnya bukan main -,- Pasca akupuntur, saya belum mendapati perubahan secara signifikan dalam wajah. Semuanya tampak biasa-biasa saja. Barangkali butuh proses yang lama, sesuai yang dikatakan oleh dokter tersebut.
Malam harinya, beberapa kerabat suami menganjurkan saya pijat saraf. Kami pun diantar ke sebuah rumah pijat. Di sana ada seorang lelaki tua tapi masih tampak kuat dan bersemangat. Ia adalah abah R. Beliau memijat saya dari kepala sampai pundak. Bagian kepala dan wajah terasa diremas-remas dan terguncang heboh ketika dipijat. Saya merasa geli dan ingin tertawa ketika kepala saya seperti oleng ke sana ke mari menerima pijatan-pijatan fantastik dari si abah. Tapi itu semua terasa nikmat. Saya merasa lebih segar pasca pemijatan.
Sebelum beranjak pulang, abah R memberi saya tiga galon kecil berisi kangen water dan cairan yang disemprotkan. Katanya, saya harus minum sebanyak satu gelas tiap pagi, siang, sore dan malam. Lalu semprotkan cairan itu ke belakang telinga yang terasa ada sebuah benjolan kecil. Pijat-pijat bagian itu tiga jam sekali.
Baru sekali pemijatan ke abah R. Saya dan keluarga merasa puas dan yakin kalau penyakit ini bisa sembuh. Abah R sangat mahir memijat. Beliau sangat hafal tiap-tiap saraf yang terasa sakit di kepala saya. Beliau pijat dengan tenang sambil sesekali memberi ceramah tentang saraf-saraf dalam tubuh. Suami saya ada di sana ketika saya dipijat. Dia tak hentinya bertanya tentang proses pemijatan yang membuat abah R tambah bersemangat mengguncang isi kepala saya hingga segar kembali.
Yang saya yakini dari pemijatan itu adalah, abah R mampu menyebutkan penyebab penyebab terjadinya penyakit itu. Jadi, semua itu bersumber dari maagh yang sudah lama saya derita. Kemudian lari ke kepala, jadilah migran di kepala bagian kiri. Di sinilah saya sangat yakin. Saya memang mengalaminya selama masa kehamilan tua. Migran membuat saya susah tidur karena menahan rasa sakit yang tak kunjung reda. Berikutnya beliau menceritakan tentang kipas angin, ac, atau angin malam yang tak baik untuk tubuh. Semua itu bisa jadi penyebab penyakit yang baru kali pertama saya alami ini. Kalau menyoal angin, saya dan suami sudah mengetahuinya dari internet dan dokter akupuntur pun sudah menjelaskan detail tentang itu (persis seperti info yang saya dapat dari gugel).
Akhirnya saya pun kembali ke rumah dengan wajah sumringah. Seminggu kemudian setelah melakukan pemijatan rutin secara mandiri dan minum air yang dibeli dari rumah pijat itu, akhirnya sedikit demi sedikit bibir kiri saya bisa ditarik. Malam berikutnya saya kembali pijat ke abah R. Kali ini bagian pundak dan lengan sebelah kiri. Terasa tegang awalnya, namun lentur kembali setelah dipijat. Dan tangan kiri saya seolah tak ada beban.
Dua minggu berlalu dan seluruh indra bagian kiri wajah saya mulai pulih. Saya bisa mengangkat alis dengan serempak. Hidung pun terangkat dua-duanya. Bibir tertarik ke ujung masing-masing, sehingga saya bisa tersenyum normal kembali. Mata saya bisa berkedip dengan serempak, terutama ketika mandi, saya sudah tak perlu menutup mata sebelah kiri dengan tangan saya, karena sekarang kelopak mata saya sudah bisa menutup dengan sendirinya. Sempat resah karena ketika bels palsy, mata sebelah kiri tak bisa mengedip secara spontan ketika air mengalir dari ujung kepala saya (red:sewaktu mandi). Akibatnya mata saya menjadi perih dan merah tiap usai mandi karena kelopak mata tak berfungsi normal.
Itu sedikit cerita kondisi saya pasca melahirkan. Sebenarnya di sini sangat banyak yang ingin saya ceritakan, terutama menyoal anak-anak. Banyak yang ingin saya ceritakan tentang syahla dan adik barunya ketika terlahir ke dunia.
Betapa hebatnya seorang wanita dan mulianya ia ketika berjuang mempertahankan nyawa dalam perutnya, hingga si jabang bayi benar-benar terlahir ke dunia. Ini yang disebut surga ada di telapak kaki ibu. Memang benar, perjuangan seorang ibu tak dapat dibalas dengan bayaran uang. Hanya doadoa dan kebahagiaan yang perlu dilestarikan untuknya. Selalu ingin melihat ibu tersenyum tanpa beban, mendengar semua nasihat baiknya dengan seksama tanpa membantah, semuanya demi kebahagiaan ibu. ❤❤❤
Cerita seputar perjuangan seorang ibu ketika melahirkan dan "how to be a good mother of two" (yang berkaca dari pengalaman hidup saya), akan ditulis dalam catatan lain setelah ini. Tunggu saja ya. Segera meluncur! [] 😊😊😊
Jumat, 28 Agustus 2015
Move and Grow (!)
Perempuan ini becermin;
Di dalam sana, tubuhnya semakin terlihat anggun dengan longdress menjuntai menutupi mata kaki, juga sepasang kaos kaki panjang berwarna hitam -kadang krem-
Ia merasa bahagia bisa berpindah dari sebuah tubuh yang dulunya tak pernah malumalu mengumbar rambut coklatnya, juga betis yang nyaris berotot karena sibuk latihan barisberbaris dan olahraga.
Ia merasa bahagia, tubuhnya berkembang ke arah yang lebih baik.
2010 - perempuan itu bermata sayu dengan rambut tergerai sebahu. Poni yang terjepit di sebelah kanan -kadang juga kiri- adalah ke-khas-an darinya. Kemeja pendek dengan celana jeans gelap yang meliuk jelas -memancarkan lekuk tubuh berukuran sedang-
2011 - ia berpakaian etnik, dengan rok tunik dan tas gendong yang setia bersandar di punggungnya. Sepatunya bertalitemali, meski bukan sepatu ket, melainkan sepatu plastik juga kulit yang penuh ikatan membelit.
2012 - rambutnya tersembunyi dalam balutan kerudung. Tubuhnya mulai bersinergi dengan akal dan nurani. "Bukankah sudah waktunya untuk setia?" Ya, akhirnya perempuan itu setia mengenakan tudung di kepalanya. Meski jeans ketat dengan sobekan di lutut masih membelit kakinya.
2013 - ia masih mengenakan tudung di kepalanya, dengan panjang sedada -namun tak menutupinya. Celananya mulai berganti model. Kini ia lebih sering memakai kostum berbahan kain. Ya, perempuan itu mulai menyadari tubuhnya berada di fase mana. Ia mulai mengganti seluruh celana jeans yang nyaris tercabikcabik itu, dengan celana bahan berukuran longgar, kadang rok sepan, kadang juga rok yang menjuntai luas mirip rok cinderella.
2014 - tudungnya masih setia di kepala, masih berukuran sedada -kadang melebihi, namun tak sering. Ia mengklasifikasi bajubajunya -baju berkancing adalah favoritnya saat itu- sementara celana dan rok masih silih berganti menguasai jenjang kakinya.
2015 - tubuhnya berpindah dari satu fase ke fase berikutnya. Ia tersadar, betapa hijab adalah kewajiban seorang perempuan untuk mengenakannya. Kini -di tahun ini - tepatnya bulan juli - ia tumbuh dan berkembang ke fase yang lebih serius. Fase yang bukan mengutamakan fesyen atau kecantikan dari pakaian, melainkan "inner beauty" yang benarbenar dihadirkan dan tak mencolok penampilan. Keimanan dan ketakwaan seorang perempuan -ia masih belajar, sama seperti perempuan awam lainnya yang ingin berkomitmen dengan tubuhnya. Ia mulai terbiasa dengan rok menjuntai menutupi mata kaki, kaos kaki hitam menutupi telapak kaki, manset tangan menutupi pergelangan, baju tak ketat yang panjangnya melebihi paha, dan tentunya tudung yang menjuntai menutupi dada bahkan perutnya.
Ia bahagia, tubuhnya bermetamorfosa.
Ia bahagia, lingkungannya dapat menjamah akal dan pikiran untuk kembali ke aqidah dan akhlak yang Tuhan inginkan.
Ia bahagia, masa kecilnya kembali ke hadapan. Impian dan seluruh asa yang mulai menampakkan wujudnya.
Terimakasih, segalanya terbayar sudah.
Mimpimimpi masa kecil -harapan untuk mondok pesantren di Jawa, harapan untuk menutup aurat dari ujung rambut hingga kaki sejak sekolah dasar, harapan dan mimpimimpi yang sempat dibabat habis oleh orang tersayang di sana- segalanya mulai terasa nyaman untuk dilakoni saat ini. Meski tak persis berada di tempattempat yang diimpikan itu, namun sejatinya Tuhan sudah bijak dan berbaik hati untuk memberikan rasa yang sama dengan segala harapanharapan itu. Sepertinya Tuhan menawarkan kebahagiaan yang harus selalu dijemput dan diciptakan oleh diri kita masingmasing.
Thanks to Alloh.
Alhamdulillah... semoga selalu menjadi pribadi yang lebih baik di tengah maraknya fesyen yang berkelebat.
Saat oranglain berkamuflase dengan lingkungannya kini -ada yang menjadi lebih buruk; roknya tergeser oleh celana, bajunya hanya sepaha dan tudungnya tak melebihi dada- semoga ia kembali menjadi dirinya yang dulu; yang cerminannya sudah menyerap dalam tubuhku.
Semoga selalu sempat berdoa untuk keselamatan diri sendiri, juga oranglain. ❤❤❤
Rabu, 08 Juli 2015
Menggenapi Usia
Kau tahu La, tubuh kita kuyup diguyur waktu...
Sejam lalu kita baru saja selesai menggenapkan usiamu.
Beberapa rekan dan sahabat datang mengunjungimu.
Bukankah kau bahagia dengan hal itu?
La, hidup tak sekadar menjalani hari demi hari sesuai langkah kaki maupun mimpimimpi di kepala,
hidup di kedalaman arti yang lebih rinci membawamu pada fase perubahan apapun.
Selalu bijak menghadapi hidup yang runyam ini, nak. Karena hidup tak sebercanda tingkah ayahmu.
Hidup untuk hidup.
Semoga tak ada sesal yang kembali berkelebat di deret usiamu kelak.
Selamat tanggal 8, La!
Mengulang tanggal di setiap bulannya, kemudian bersiap menghadapi fase berikutnya yang (mungkin) sangat kau nantikan.
Love you, dear!
Happy cakeday! :')
Senin, 06 Juli 2015
Kenang-Kenangan #1
Siang itu aku dipanggil oleh Pak Heru, guru biologi di sekolah yang juga menjabat sebagai pembina osis. Tahun 2009 aku demisioner dari osis, menduduki jabatan sebagai bendahara 1. Meski pada pemilihan suara, aku mendapat posisi terbanyak kedua, namun akhirnya aku ditempatkan sebagai bendahara, bukan wakil ketua. Tersebab dari kelima orang kandidat, tak ada yang berpengalaman memegang uang osis (tahun sebelumnya - 2007 aku menjabat sebagai bendahara 2 di osis saat baru masuk SMA kelas 10). Akhirnya aku pun rela ditugaskan kembali menjadi bendahara osis periode 2008-2009 saat menduduki kelas 11ipa3.
Kembali ke pemanggilan itu, tanpa banyak bicara Pak Heru memberi selembar surat edaran dari dinas kabupaten cirebon. Setelah membaca, akhirnya aku tahu kalau Pak Heru memintaku untuk menjadi perwakilan sekolah dalam ajang solo vokal putri tingkat kabupaten. Tak hanya sendiri, di ajang tersebut ada juga kategori laki-laki.
Tanpa kuduga, Pak Heru menyebut sebuah nama yang membuat kepalaku limbung. Laki-laki berinisial R. Di tulisan ini aku akan menyebutnya "Er".
Tak ada masalah dengan Er, hanya sebuah rasa yang membentur kepalaku untuk kembali mengingatnya.
Siapa Er?
Tak banyak yang tahu bagaimana perasaan kami tumbuh begitu saja. Perasaan yang tak pernah sampai pada tempatnya. Hingga aku memutuskan untuk menyudahi penantian yang sia-sia.
Baiklah, kembali ke pemanggilan itu. Beberapa saat setelah duduk di ruang TU, Er datang menghampiri kami. Ia mengetuk pintu dan melempar senyum pada kami. Bergegas tubuhnya sudah berpindah di sampingku.
Pak Heru memulai percakapan, meminta kami untuk hadir pada technical meeting di Sumber tanpa ditemani oleh dirinya ataupun guru yang lain karena hari itu bentrok dengan rapat guru-guru di sekolah. Er setuju dan mengusulkan untuk mengendarai motor ke tempat TM yang diperkirakan memakan waktu 45 menit dari sekolah. TM dilaksanakan entah berapa hari setelah pertemuan tersebut, yang pasti tak berselang lama.
Hari technical meeting tiba. Aku dan Er pergi ke Sumber menunggangi motor. Saat itu statusku memang sedang tak terikat pada siapapun karena hubunganku dengan Dee kandas menjelang kenaikan kelas 12. Maksudku, aku tak bisa menerima masa lalu Dee. Entahlah, aku begitu pemilih. Barangkali juga karena hatiku masih terikat pada Er, lelaki yang pertama kali membuatku nyaman di sekolah saat mengikuti tes seleksi pengurus osis di kelas 10.
Lelaki yang punya hobi sama denganku -menulispuisi. Lelaki yang punya ketertarikan yang sama -senidanmusik. Lelaki berjiwa seni dengan sekelumit cinta pada dunia kesenian. Lelaki yang aktif bergiat di Paskibra (pasukan pengibar bendera). Ia bisa membagi kecintaan pada dunia seni, olahraga maupun barisberbaris. Pun denganku. Jadi tak ada alasan untuk tidak tertarik padanya karena sederet keserasian yang ditakdirkan Tuhan.
Saat itu aku sedang jomblo dan menikmati masa lajang di usia remaja. Vakum dari dunia percintaan, aku memutuskan untuk menjalin persahabatan dengan beberapa orang lakilaki maupun perempuan. Hingga aku tak sadar, banyak lelaki yang nyaris patah hati karena terlalu percaya diri mendekatiku (baiklah, abaikan yang satu ini).
Aku tahu, Er sudah memiliki kekasih. Sebenarnya aku ingin menceritakan kronologi cerita ini dari awal, agar para pembaca bisa mengaitkan perasaan tokoh-tokoh dalam masalah ini. Tapi sudahlah, terlalu sesumbar. Barangkali bisa kalian temukan di cerpen berjudul "Feeling Guilty" yang sengaja kutulis untuk persyaratan diklat asas beberapa tahun lalu.
Well, karena alasan perintah dari sekolah, akhirnya tak ada masalah mengenai pemberangkatan ini. Kekasih Er bernama Fat. Kami bertiga (berempat dengan Dee -dulunya) termasuk teman dekat yang bergiat di osis maupun paskibra. Tak ayal, kedekatan kami berempat mulanya karena jabatan di paskibra. Aku dan Dee dipasangkan menjadi pengemban putra dan putri (bertanggungjawab atas satu angkatan), sedangkan Fat dan Er dipasangkan menjadi Bapak dan Ibu lurah (bertanggungjawab atas satu kepengurusan).
Teman-teman di sekolah juga sudah tahu kalau aku dan Er dekat karena Er memanggilku adik dan aku memanggilnya kakak. Namun jauh sebelum eratnya sebutan kakak-beradik itu, kami memang pernah mengikat hati. Sekadar mengikat dan meyakini bahwa ada rasa yang lain di antara kami berdua. Segalanya tampak biasa saja di depan orang-orang, barangkali karena semua hanya melihatnya dari kacamata depan saja, mereka tidak melihat jauh ke dalamnya.
Kedekatan kamipun direstui oleh seorang guru perempuan yang sudah kuanggap sebagai second mother. Aku menyebutnya Bunda. Tapi tetap, kami tak bisa mengikat hati di depan banyak orang. Kami hanya dekat sebagai sahabat, tak lebih. Barangkali cuma Bunda yang mengetahui perasaan kami satu sama lain. Itu pun Bunda ketahui ketika aku dan Er mengikuti lomba menyanyi solo di dinas kabupaten.
Bunda yang mengantar kami ke sana saat hari perlombaan. Bunda pula yang mendengar segala curahan hati kami masing-masing, hingga ia menganggap bahwa aku dan Er saling menyukai tapi tak bisa mengikat hati. Entah apa sebabnya, Bunda juga tak punya solusi.
Menuju perlombaan menyanyi, aku dan Er menyiapkan kostum sebaik mungkin. Er bahkan mengantarku membeli sepatu untuk kebaya yang akan kukenakan nanti. Hari itu Er pertama kali berkunjung ke rumahku.
Seusai membeli sepatu, Er mengobrol dengan ambu dan abah. Kami semua tampak akrab. Apalagi Er dan aku akan menyanyikan lagu lawas yang sangat dikenal ambuku. Er sampai berlatih menyanyikan lagu "Selendang Sutera" bersama ambu, karena beliau sangat hafal lagu tersebut. Aku juga tak kalah saing, ikut berlatih menyanyikan lagu "Pantang Mundur". Semuanya terdengar syahdu, ditambah suara ambu yang merdu.
Beberapa saat sebelum sampai di rumah, Er membelikanku eskrim. Ya, dia memang tahu kalau perempuan bermata sayu ini adalah maniak eskrim. Akhirnya dia membelikan beberapa eskrim untuk keluargaku juga. Bahkan Er sengaja membukakan cangkang eskrim untuk abah. Kedekatanpun terjalin di antara keduanya.
Begitulah, pertemuan singkat dengan Er yang menimbulkan kesan baik di mata keluargaku. Hingga aku benar-benar takut menghadapinya.
Bagaimana tidak?
Aku bepergian dengan seorang lelaki yang sudah tak sendiri. Membeli sepatu, bahkan makan eskrim bersama. Aku merasa janggal dengan keadaan itu, aku takut perasaan silam kembali muncul. Aku takut akan ada permasalahan yang timbul. Ya, aku takut menyulut pertengkaran antara Er dan Fat.
Berpindah dari ketakutanku dan kewaspadaan untuk tidak terlalu "baper", akhirnya aku berusaha santai menjalaninya. Sampai perlombaan itu benarbenar selesai dan aku tak akan dipersatukan lagi dengan Er.
Entah tanggal berapa saat itu. Aku lupa mengingatnya.
###
*tobecontinued*
Kamis, 11 Juni 2015
Jon dan Jane [#1]
Di beranda rumah Jane, Jon menikmati senja dengan semangkuk mie rebus rasa ayam bawang & sejumput cinta yang tertuang dalam sebotol sambal ekstra pedas.
Sembari bercakap-cakap membayangkan masa depan yang penuh rencana, Jane menuang sesendok kopi dan sedikit gula sesuai selera.
"Buatanmu istimewa," ujar Jon tibatiba.
Dituangnya didih air yang mengalir dari termos stainless ke dalam cangkir. Jane mengaduk-aduk kopi hingga larut lalu memberikannya pada Jon.
"Nanti pas resepsi, kita sekalian launching antologi puisi perkawinan ya," seru Jon sebelum bibirnya bersentuhan dengan bibir cangkir dan menyeruput kopi yang mengepul.
Jane tersenyum, pikirannya berlari menuju masa depan.
"Aku mau punya banyak anak," timpal Jon lagi.
Jane nyengir kuda, "Dua cukup".
Jon menggeleng, "minimal lima."
Jane mengernyitkan dahi, menatap heran sosok lelaki yang tak peduli pada aturan pemerintah.
"Kalau begitu, tiga saja." Lagi-lagi Jane bernegosiasi dengan calon suaminya itu.
"Kenapa cuma tiga?" Selera makan Jon terhenti, menunggu mempelai wanitanya memberi penjelasan yang tepat.
"Kalau kita punya tiga anak. Aku bisa mengusulkan tiga nama yang baik," ujar Jane penuh semangat.
"Siapa saja?" Jon mulai antusias merespon Jane.
"Anak pertama bernama Ilo, anak kedua bernama Vey dan anak ketiga bernama Ou." Jelas Jane, singkat.
"Artinya apa?" tanya Jon memicingkan mata.
"Pokoknya itu nama yang terbaik!" Jawab Jane sekenanya.
"Kok?" timpal Jon.
"Iya.. jika disatukan, ketiganya akan membentuk kalimat istimewa. Ilo-Vey-Ou yang berarti i love you!" Jane tertawa girang meski Jon baru menyadari setelah
tawa kekasihnya itu reda.
Percakapan terus berlanjut hingga matahari larut dalam perut bumi. Jane mengantar kekasihnya menuju vespa 66 yang terparkir di halaman rumah. Setelah
berpamitan dan memastikan tubuh lelakinya lenyap dari tikungan gang, Jane berjalan ke beranda rumah dan membereskan sisasisa jamuan yang nyaris habis.
Diambilnya cangkir Jon, mata sayu Jane mulai mengamati ke dalam cangkir. Ia tersenyum senang lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Ia mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya pada Jon.
"Hei, tahu tidak?
Aku menemukan sesuatu!
.....
Ada cinta ketinggalan di dasar cangkir kopimu, Jon!" [] ♥
[catatan singkat sebelum tidur, sambil membayangkan deretan hari esok yang melambai-lambai, karena Jon akan segera sidang skripsi bulan ini! Eureka! Semoga kali ini serius..]
Sabtu, 14 Juni 2014
Edisi Nonton Teater
Edisi nonton teater cukup sekian. Setelah hari ini, kami tetap berburu tontonan lagi di luar sana. Tentunya tontonan yang pas dengan dompet kami, tapi kebetulan semua pertunjukan yang kami tonton di atas itu adalah pertunjukan gratis, kecuali beberapa yang memang sangat berharga. Yaaa, sebenarnya dalam berkesenian kita dilarang menimbang-nimbang untung rugi uang yang kita keluarkan. Demi harga sebuah kesenian, berapapun harusnya tidak jadi masalah, 'berkesenian kok setengah-setengah' begitulah!
Edisi nonton film akan saya posting di luar wacana ini, supaya lebih terklasifikasi. Hehe.
Baiklah,
salam sastra, salam seni dan budaya,
tetaplah menjadi apresiator jika karya kita ingin juga diapresiasi orang lain.
^_^