Tampilkan postingan dengan label Kisah Berkesan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Berkesan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2020

Ikutan Kelas Bengkel Diri? Siapa Takut!

Assalamualaikum. Alhamdulillah blog ini kembali lagi setelah beberapa tahun kemarin off karena domainnya habis. 😂 Sebenarnya blog ini sempat aktif dan aku jadikan website, tapi karena lupa bayar domain, akhirnya website tersebut gak bisa aku akses. Sementara aku juga sibuk mengurusi 3 bocil di rumah dan pekerjaan rumah tangga yang gak pernah habis. Hihi. Namanya juga emak2 ibu rumah tangga, yang bekerja fulltime di rumah. Jadilah aku gak sempat nengok tulisanku lagi.

Alhamdulillah ala kulli haal. Dipertemukan kembali dengan bengkel diri level 2 yang lengkap materi di dalamnya menyoal kehidupan rumah tangga, fiqih wanita, dan parenting utamanya. Selain itu skill dan kemampuan/passion kami pun diasah berkat materi-materi yang disampaikan. Salahsatunya kelas menulis ini. Nge-blogging lagi dong, buibu.. bersyukur banget kalau gak karena tugas menulis blog ini ada, mungkin emak beranak tiga ini udah melupakan tulisan-tulisannya yang sempat terekam di sini. Banyak hal yang patut disyukuri setelah ikutan kelas bengkel diri.

Awal mula mengenal bengkel diri bukan karena si aku sudah berteman dengan Ummu Balqis di Instagram, melainkan karena aku mengikuti akunnya ibok Retno Hening dengan gadis pintarnya bernama Kirana. Dari akun tersebutlah, ada Ummu Balqis yang muncul. Entah dari mana sih dulu itu, lupa, yang pasti ada kaitannya dengan postingan ibok Retno itu. dan akhirnya aku pun nge-follow akun Ummu Balqis, yang kemudian dilanjutkan dengan mantengin setiap postingan beliau. Dari postingan-postingan tersebutlah, muncul kelas online bengkel diri yang digawangi oleh beliau. 

Berkaca dari kehidupan rumah tangga yang nano nano rasanya, akhirnya aku pun memutuskan untuk ikutan kelas bengkel diri level 1. Saat itu tahun 2019 ketika Yuzar anak ketigaku sudah lahir, kelas BD itu pun dimulai. Apa gak repot ikutan kelas online sambil ngurus 2 krucil dan ditambah kehadiran si bayi Yuzar? 

Pastinya... 

Tapi beruntungnya masih bisa membagi waktu malam ku untuk nyimak materi BD. Nggak tahu kenapa kayak dimudahkan sama Allah untuk belajar, padahal jelas-jelas baru punya bayi yang identik dengan kegiatan begadang. Tapi Alhamdulillah Yuzar gak semerepotkan itu. Tiap malam dia tidur dengan pulas. Emak dan bapaknya nggak ada tuh begadang2 club' kayak zaman anak pertama dulu 😆 mungkin sudah ke-handel dan paham ya.. jadi bisa mengurus bayi dengan nyaman. Sehingga doi gak ngajak emak bapaknya begadang suntuk. Alhamdulillah..

Karena itulah tiap malam kisaran jam 10 ke atas, pasti emak beranak tiga ini mulai buka grup WA untuk belajar dan nyimak materi BD. Makanya di level 1 aku sering banget posting resume materi ataupun tugas di jam-jam 12 ke atas 😂 tengah malam posting IG isinya tugas BD. Ahahaa. Rapopo yang penting dikerjain dan bisa naik kelas ke level 2. Bersyukur banget! MasyaAllah Tabarakallah 💞


Kenapa sih ngotot banget pengen naik ke level 2?
Dari sekian banyak komunitas belajar online untuk para ibu-ibu dan muslimah, kayaknya cuma Bengkel Diri yang bikin aku betah bahkan haus akan ilmu. Nggak ngerti deh kenapa, tapi beneran ya materi yang disajikan itu benar-benar yang dibutuhkan aku saat ini dan nanti. Menurutku kelas BD ini terlengkap sih bahasannya. Karena mencakup duniawi juga, akhirat juga. Maksudnya duniawi tuh ya bicara soal skill/passion kita, bicara soal bisnis juga, dan hal lain yang berkaitan dengan kehidupan di dunia. Naaah.. yang lebih pentingnya lagi, bekal materi akhiratnya juga bagus dan lengkap banget! Apalagi untuk kita khususnya seorang muslimah. Materi kerumahtanggaan dan parenting yang umumnya banyak juga diadakan di komunitas lain. Tapi aku ngelihatnya yang ini lebih lengkap dan jelas karena disandingkan dengan nilai agama. Jadi ngerasa dapat materi plus plus gitu. Kalau kamu mau tahu apa aja sih rincian materi perkuliahannya? Bisa tengok deh Instagram @Bengkel_Diri 😄 ngefollow IG - nya gratis kok. Bisa dicek and ricek ya.. pasti buat kamu pengejar kajian2 online ttg kewanitaan, kerumahtanggaan, dan parenting, kamu akan langsung jatuh cinta pas pertama baca jadwal perkuliahannya 😆🤭💞


Alhamdulillah.. bersyukur juga kegiatan scroll2 IG ku ini ada manfaatnya. Bisa ketemu akun ibok Retno Hening dan si cantik Kirana, terus akhirnya sampai ke akunnya Ummu Balqis, dan sekarang bisa ketemu kelas Bengkel Diri bahkan lanjut ke level 2 nya. MasyaAllah Tabarakallah 💞 

Dari ikutan kelasnya aja di level 1 yaitu kelas SHAWWAL, akhirnya dapat banyak teman dan sahabat online 🤭😆 nambah silaturahim juga kalau ke mana mana bisa ketemuan dan janjian sama mereka. Terus sekarang juga di kelas Daarul Muqoomah level 2, banyak juga dapat teman-teman baru. MasyaAllah senang banget pastinya. Nggak ngerasa sendiri mengarungi nano nano kehidupan berumahtangga dan repotnya mengurusi bocil, karena dengan ikutan kelas ini dan berteman dengan semua pesertanya, jadi banyak sharing-sharing terkait itu semua, banyak juga dapat bimbingan, dukungan, semangat, dan motivasi berlipat dari mereka yang senasib dengan aku. 🤭


Biasanya emak-emak apalagi yang udah punya banyak anak di rumahnya, agak susah keluar rumah untuk ikutan kelas-kelas parenting, atau kajian keagamaan. Makanya dengan bengkel diri ini kayak semacam fasilitas terbaik gitu. Gak perlu repot-repot keluar rumah, cukup siapkan kuota, alat tulis, dan waktu terbaik buat nyimak materinya di antara kesibukan kita. Bukan hanya ibu rumah tangga ya yang ikutan kelas ini, banyak juga ibu-ibu pekerja dan singelillah yang ikutan kelas ini. MasyaAllah hebatnya mereka bisa manage waktu khusus buat dengerin dan nyimak ilmu-ilmu bermanfaat dari bengkel diri ini. 😍💞


Semoga setelah baca postingan ini, kamu yang belum ikutan kelas bengkel diri bisa mempertimbangkannya lagi ya.. begitu bermanfaatnya kelas ini, sampai para singelillah yang masih remaja dan berkuliah juga banyak yang ikutan. Kerennya lagi, pernah ada keluarga pria yang mau melangsungkan khitbah, dengan syarat si perempuannya harus ikutan kelas bengkel diri dulu, dan dapat sertifikatnya. MasyaAllah segitu kerennya kan materi-materi bengkel diri bagi mereka yang haus akan ilmu. 😍😍😍


Sekian dulu ya postingan pertamaku di bulan Juni 2020 ini. 🤭😆 Semoga ke depannya bisa meramaikan jagat kepenulisan blog lagi deh.. aamiin.. 😍🥰


Tertanda sayang,
Emak beranak tiga yang lagi senang belajar.

Intan Pertiwi
(IG @intanpertiwi92)


Sabtu, 09 September 2017

Pro Kontra about Daycare

Baiklah.

Di awal tulisan tahun ini, saya hendak membahas sedikitnya ihwal daycare.

Apa sih daycare itu?
Istilah yang biasa orang kenal untuk menyebutkan tempat penitipan anak. :(

Mungkin....

Sebenarnya saya bisa saja memindahkan penjelasan tentang daycare itu dari mbah gugel atau kamus lainnya ke dalam tulisan ini. Supaya tulisan ini terlihat lebih akurat dan keren (karena banyak istilah2 yg akan muncul. Haha)

Tapi biarlah itu jadi pengetahuan yang kalian (para pembaca) cari sendiri, karena tulisan ini akan lebih membahas pengalaman dan peristiwa yg saya alami, bukan pada arti kata daycare itu sendiri.

Sip!

Bagaimana mulanya saya bisa pro dengan dunia daycare semacam ini?

Oke. Jadi begini...

Mulanya, tahun ini ibu mertua saya meresmikan pembukaan preschool dan daycare di sekitar perumahan yang kami tempati. Hanya bermodalkan nekat dan rasa percaya diri, beliau pun membuatnya untuk mempermudah para orangtua (khususnya pekerja) yang hendak menitipkan anaknya dalam pengasuhan kami selama mereka sedang bekerja di tempatnya masing-masing.

Kenapa mereka tak menyewa pembantu saja?
Sangat berbeda memang ketika ART juga ditugaskan untuk mengasuh anak2 di rumah.

Ya..
Perlakuan yang berbeda. Mungkin tidak dirasakan bagi mereka yang sudah memercayai ART nya untuk mengasuh anak mereka. Namun pastinya ada saja orangtua yg kurang yakin dgn pola pengasuhan ART yg basic-nya diambil dr penduduk ekonomi bawah di daerah setempat.

Apalagi maraknya berita penculikan, pencurian, hingga penganiayaan anak di bawah umur, yang bertebaran di media.

Orangtua akan waswas menghadapi hal itu.

Pilihan mereka (khususnya para ibu karir) hanya tiga, berhenti bekerja, membawa anaknya bekerja bersama mereka, atau tetap bekerja dan menitipkan anaknya pada orang & lembaga yg mereka percayai (jujur/ikhlas mengasuh anak mereka).

Well. Kita langsung bahas ke pengalaman saya terhadap preschool dan daycare ya.

Apa sih yang menjadi keyakinan saya sehingga memutuskan untuk memasukkan Syahla dan Hanan ke daycare?

Ada beberapa hal yang memicu keputusan ini.

[1] Preschool dan Daycare yang ibu mertua saya buat ini adalah baru. Yaa.. baru dirintis angkatan pertama. Jadi butuh banyak modal, tenaga pendidik maupun anak2 didiknya.

Akhirnya untuk meramaikan semua itu, Syahla dan Hanan pun diminta terlibat di dalamnya. Siswa di sana pun masih sekitar 10 orang. Terbagi atas beberapa anak yg masuk ke kelas playgrup, preschool, dan daycare. Suamiku pun setuju demi perkembangan sekolah milik orangtuanya itu. Keputusan setuju ini diambil setelah mempertimbangkan hal-hal berikutnya yang akan saya jelaskan di bawah ini.....

[2] Syahla usianya sudah nyaris 3 tahun. Kosakatanya sudah buanyaaaak... Aktifnya sudah luarre biasa! Kemampuan bersosialisasinya pun tinggi. Hanya, keinginan untuk berbaginya yang masih kurang. :(

Wajar! Saya pernah baca postingan bunda Elly Risman, katanya anak usia 2-4 th memang masih butuh timangan orangtuanya, dan belum mampu berbagi benda/barang miliknya dgn anak lain. Masamasa itu adalah golden age mereka. Kehadiran orangtua adalah faktor utama kebahagiaan mereka. Tanpa banyak mainan pun mereka akan senang misalnya ayah/bunda memerankan anggota tubuhnya sebagai mainan yang bisa menarik perhatian mereka, ketimbang mainan asli yg terbuat dr berbagai bahan plastik. :D

[3] Hanan usianya 1,5 th. Sudah banyak kosakata juga karena sering mengobrol dan bernyanyi dengan kakaknya. Kakak perempuan yg cerewet dan suka bernyanyi itu pun akhirnya menularkan kamus kata baru di kepala Hanan. Saya sudah berani mengajak Hanan ngobrol dan curhat, karena doi akan merespon.

Saya jadi lebih PD ketika Syahla dan Hanan bersanding dgn anak2 lainnya di lingkungan rumah, dalam hal berbicara. *Entah karena emak bapaknya lulusan Bahasa Indonesia, anaknya jadi doyan unjuk gigi* 8)

[4] Saya bekerja sebagai guru dan tahun ini dinobatkan menjadi walikelas 6 di salah satu sekolah Islam di Karawang. Sedangkan suami bekerja dan menetap di Bandung yang hanya tiap satu sampai dua minggu sekali pulang ke Karawang untuk menebus rindu pada istri dan anakanaknya. :'D
Cie..cie.. LDR pasca kawin.
Aslinya "nggak enak" banget.. :(((

[5] Jadwal mengajar saya tidak begitu padat. Dari senin sampai jumat saya selalu mengunjungi anak-anak ketika zuhur tiba, karena waktu istirahat di sekolah selama satu jam.

Senin-selasa pulang jam 14.30. Hari rabu, full dr 7.30 sampai jam 4 sore, karena menjadi pembimbing ekskul olah vokal dan musik di sekolah. :(

Sedangkan kamis-jumat hanya sampai jam 12 siang :D

Santai kan? Lumayan! :D

Tapi tetap, saya harus standby memantau grup WA orangtua, karena kadang ada saja ortu yang menanyakan atau menitipkan sesuatu untuk disampaikan pada anaknya.

Beruntunglah lokasi sekolah tempat saya mengajar itu begitu dekat, ada di belakang rumah. Jd tinggal buka pintu doraemon di rumah, saya langsung masuk ke area sekolah. Hehe.

Itulah juga yg menjadi penyebab kenapa saya mau bekerja di sekolah tersebut. Mengingat kondisi anak2 yg masih butuh perhatian saya, akhirnya faktor jarak lah yg paling utama dalam mengambil keputusan untuk bekerja.

[6] Guru yang mengajar di preschool Syahla adalah adik ipar saya. Hehe. Jadi doi sudah kenal kalau bibi/tantenya itu yang mengajari dan menemaninya bermain sambil belajar selama bunda bekerja.

Waktu belajar dimulai pukul 7.30 sampai pukul 11 siang. Setelahnya, akan ada beberapa orangtua yg menjemput anaknya (selesai preschool), dan anak lainnya (masuk ke daycare) akan menetap di sana sampai sore hari ketika orangtuanya selesai bekerja.

Alhamdulillah... Sejauh ini Hanan cukup merasa nyaman karena di sana ada kakaknya, jd mungkin tidak begitu merasa 'ditinggalkan' oleh saya karena ia masih bersama dgn orang terdekatnya yaitu Syahla. Meski keduanya sering berebut mainan.. Tp sebentar saja juga sudah baikan lagi. Aamiin.. -_-

Tapi andai bisa berucap, mungkin mereka sebenarnya tidak mau ditinggalkan lama2 oleh saya yg bekerja. Yaa.. Semoga saja diberi jalan terbaik untuk semua pilihan ini.

[7] Jarak preschool/daycare dengan rumah kami yang sangat sangat dekat, karena masih berada di dalam perumahan yang kami tempati. Hanya berkisar 4-5 rumah. Apalagi kepala sekolahnya adalah adik ipar saya itu, dia kuliah di jurusan PAUD. Jadi makin yakin. :')

Sebenarnya begini. Banyak peristiwa yg hendak saya rekam dalam berbagai tulisan di blog ini. Hanya saja, untuk memindahkannya ke dalam tulisan, butuh waktu dan mood yang stabil dalam melakukannya.

Seperti malam ini. Saya sedang ada mood untuk mengetik banyak-banyak di ponsel saya.

Yap! Tulisan saya sekarang bermula dan tersimpan dalam telepon genggam. Aplikasi Blogger yg memudahkannya, karena Laptop sudah tak bisa diselamatkan lagi. Oke, ini cukup membantu. :(

Lanjut cerita.
Dulu ketika memasuki tahun ajaran baru 2017, mertua menawari saya menjadi kepsek di preschool and daycare tersebut. Tapi saya menolak dengan alasan, bukan bidang saya..... :S

Sempat terjadi perdebatan sengit antara kami sekeluarga. Memang, baiknya, saya bisa menjadi kepsek sekaligus menemani anak2 saya bermain dan belajar di sana. Tapi saya 'kekeuh' tidak mau, lantaran saya merasa bukan ahlinya dan tdk ada minat di bidang itu.

Ya, pola pengasuhan anak di rumah dengan di tempat preschool atau daycare semacam itu kan pasti berbeda. Harus punya ilmu dan pengalaman yang mumpuni. Saya takut salah mendidik anak orang :'(

Apalagi masamasa emas (golden age) seusia mereka. Kalau anak saya sih, yaaa bisa saja karena saya orangtua kandungnya. Tp kalau anak orang? Hehe.

Memang saya juga mendidik anak orang lain di sekolah dasar, tp alhamdulillah kan sesuai dgn ilmu yg sudah saya geluti yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Pun jua anak2di SD yang saya ajar, usianya sudah lebih besar, sudah cepat tanggap dan lebih mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya.

Kalau mendidik batita dan balita bisa semudah dan semendadak itu, mungkin di dunia ini tidak ada jurusan pendidikan anak usia dini yang memang khusus mengajari anak2 sesuai usia pertumbuhannya. Dan tidak ada seminar parenting atau pola asuh masamasa golden age anak.

Beda pasti antara keikhlasan dan bahasa tubuhnya ketika mengasuh dan mendidik mereka... :D

Apalagi daycare itu bisa dikatakan seharian full. Menunggu orangtua mereka datang sore hari pulang dari bekerja, barulah mereka dijemput. Berarti sang anak dititip seharian di sekolah dan artinya apa2 yg harus ditanamkan di sekolah, harus benar2 baik dan seharusnya langsung diberikan oleh ahlinya, karena anak2 di usia itu mudah sekali menyerap dan mencontoh sikap juga bahasa tubuh kita tanpa mereka klasifikasi baik atau buruknya.

Menjadi ibu bagi anak2 yg lahir dari rahim saya pun bukan hal yg mudah, apalagi menjadi ibu bagi anak2 orang lain, agaknya perlu belajar menyiapkan lagi mental dan pola asuhnya.

Nah, itulah mengapa lahirnya tulisan ini. Berangkat dari gejolak batin saya yang dari dulu sebenarnya sudah mengusung kata tidak setuju terhadap adanya "daycare". Kasian anak2 kita, Mak! :(

Hal itu akan dipahami lebih dalam jika kamu pernah bertemu dengan seorang wanita yg sudah menikah belasan tahun namun belum jua dikarunia anak.

"Hai.. Kamu wanita karir ya? Anak-anakmu dititip ke daycare? Ya Allah, aku yg sudah nikah belasan tahun ini belum juga dikarunia anak, kok kamu dan ibu2 lain yg sudah dapat amanah, malah menitipkannya ke tempat penitipan anak?"

Jleeeebbbbb!!!! :'( :'(

Menyakitkan....

Iya.. Dari awal nitipin Syahla dan Hanan ke daycare juga bukan merupakan keputusan yg mudah. Apalagi kerinduan saya akan kehadiran bocahbocah di setiap waktunya.

Dulu kalau saya ngajar, salahsatu dari mereka selalu saya bawa. Tp lamalama mungkin jd agak menghambat pembelajaran di kelas, karena fokus siswa adalah ke anak saya, bukan ke materi yg saya sampaikan.

Akhirnya, dibuatlah keputusan untuk berhenti mengajar karena fokus mau main dan belajar bareng Syahla & Hanan di rumah.

Tapi kenyataan tak semudah ucapan dan niatan yg hendak dicapai. Beberapa guru mendatangi saya dan menawarkan gaji dua kali lipat dr sebelumnya. Demi apa? Supaya saya gak jadi berhenti mengajar, karena mungkin belum ada guru penggantinya.

Lah kok saya malah mau tetap bekerja dan tergiur dgn tawaran tersebut?

Ke - 7 alasan yang sudah saya jabarkan di atas adalah pemicu keputusan saya hingga akhirnya bersedia menitipkan Syahla Hanan di daycare mertua saya, dan melanjutkan perjuangan saya bekerja sebagai guru di sekolah yang sudah saya tempati selama 3 tahun terakhir itu.

Oke. Saya kira cukup.

Sebuah pelajaran yang ingin saya sampaikan adalah,

Untukmu para wanita yang sekarang sudah memiliki anak atau baru dikaruniai anak atau sebentar lagi akan mempunyai anak, nikmati saja dulu prosesnya. Luar biasa sekali menahan gejolak amarah, kesal, dan bahkan lelah yang berkecamuk dalam kepala ketika mengasuh anak2 kita. Tapi itu tidak akan lama. Karena usia anak-anak kita akan bertambah. Mereka akan memasuki usia sekolah dan menemukan teman2 barunya. Kita akan sulit lagi meminta waktu bermain dengannya. Kita akan sulit untuk memeluknya erat2 karena mereka akan tumbuh besar dan memiliki dunianya sendiri.

Jaga baik-baik anak kita. Semoga tulisan ini bisa membantu para orangtua yang berniat menitipkan anaknya ke daycare.

Jika tdk ada faktor2 penyebab di atas, lebih baik tdk usah dititipkan ya. Kasihan anak2 akan merasa ditinggalkan, terabaikan dr dunia orangtuanya. Mereka merasa jauh dan tdk terangkul lagi.

So, ayah/bunda pikirkan lagi. Kecuali kalau keadaannya kayak pengalaman saya di atas. Mungkin masih bisa diterima, tp harus sering dikunjungi supaya mereka tetap merasa orangtuanya ada mengawasi dan menjaga mereka dr jauh.. :D

Saya juga, niatnya.. Hanya setahun ini saja. Setelah tahun ajaran ini berlalu, Insya Allah mau ngikut suami ke Bandung dan menetap di sana. Pastinya mengasuh anak2 seharian full lagi. Oh.. Senangnya... Aamiin allohumma aamiin.. :D :D

Karena pada akhirnya lelah juga kalau LDR-an pasca menikah dan punya anak. Mereka butuh sosok ayah setiap harinya. Keputusan pindah harus segera diambil. Semoga diberi kelancaran dan segala yg terbaik untuk kami. Aamiin..

Semoga ada rezeki lebih untuk menebus niatan tersebut.
Toh banyak ulama yang mengatakan bahwa anak2 kita ternyata sudah punya rezekinya masing2. Jadi kita sebagai orangtua hanya perlu mendidiknya menjadi anak yang sholeh/sholehah. Itulah yg paling utama, sholeh/sholehah, selanjutnya pintar dan cerdas jadi nilai tambahan yg otomatis akan mengikuti di belakangnya.

Biidznillah....

Masyaa Allah, tak terasa, semuanya mengalir begitu saja. Sudah seperti ustadzah belum ini ya? Hahaha.

Oke.

Allohumma yassir walatu'assir..

Sekian dan terimakasih.
Salam.

Sabtu, 10 September 2016

Kondisi Kulit Bayi Keduaku

Senin 28 maret 2016 pukul 03.00 wib, di sebuah rumah bersalin milik seorang bidan desa yang kebetulan adalah tante dari suamiku ini ramai dikunjungi beberapa sanak saudara kami.

Yap! Saya berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang merupakan anak kedua kami. Di usia kakaknya yang belum genap 2 tahun, doi sudah dikaruniai adik bayi. Hah? Huhu. Begitulah kiranya Tuhan senang menitipkan amanah kepada saya dan suami. Uwow (positif thinking sajaaa).

Anak kedua saya ini merupakan bayi yang kami tunggu-tunggu karena alhamdulillah berjenis kelamin laki-laki. Sepasang dengan si sulung yang merupakan anak perempuan. So.. Sepertinya saya tidak akan hamil lagi dalam waktu dekat, karena sudah sepasang. Hihi. Cukup dululah. ^^

Baik, kembali ke cerita.
Dulu.. Ketika my first baby, Yahlamu Syahla Mikhaila terlahir ke dunia, doi tampak begitu bersih dan menggemaskan karena terlihat cabi. Sementara anak keduaku ini tampak begitu kebalikan dari yang pertama.

Betapa tidak?
Hanan, my baby boy, berkulit hitam kemerahan (meski dulu syahla juga begitu, tapi seiring beberapa bulan, kulitnya mulai memutih). Kata orang-orang sih, kalau ketika bayi berkulit hitam kemerahan, nanti besarnya akan berkulit putih. Dan begitulah yang terjadi pada syahla.

Kalau hanan? Nggak tuh. Huhu :'(

Jadi ketika hanan lahir, dia nggak bersih. Kulitnya seperti melepuh atau you know kalau telapak tangan kita kelamaan nyuci atau berendam dalam air? Terlihat kan keriput-keriput gitu? Mudah sobek ya.. Karena tampak putih keriput-keriting seperti mie rebus yang kelamaan didiamkan (bahasa gaulnya "beukah").

Begitulah yang terjadi pada kulit hanan saat lahir. Kepalanya biang keringat, merah dan ada bintik-bintik berisi cairan bening yang kecil-kecil.
Tubuh hanan pun terlihat kurus, tapi dia lebih panjang dari kakaknya. Beda cuma 1 senti sih. Hihi.

Pada akhirnya saya berprediksi..
Apakah ini semua karena selama kehamilan hanan, saya jarang mengonsumsi air kelapa muda dan susu kedelai?

Sewaktu hamil syahla, saya sangat rajin meminum kedua itu. Tapi saat hanan, tidak begitu sering. Bahkan sangat jarang ketemu dua minuman tersebut. Ckck.

Saya lebih sering minum kopi. Omaygaaat.. "Pantesan si hanan hideung jiga cai kopi." Hahaha.

Begitulah kira-kira.

Sampai seminggu hanan tak urungnya berganti kulit. Setiap habis mandi, kulitnya ikut luntur seperti sisik ular yang mulai pudar. Atau seperti daki keringat kita. Bedanya daki ini berwarna putih, warna kulit yang tergesek sobek.

Saya begitu kasihan melihat kondisi hanan. Apalagi ditambah biang keringat yang mulai merajah ke sekujur tubuhnya. Benar-benar aneh! Kenapa dengan anak keduaku ini? Kok bedaaa... ~~~~

Selama kurang lebih tiga hari kami tinggal di rumah saudara kami yang merupakan bidan itu. Kebetulan letaknya yang di desa, sangat memudahkan kami untuk bertemu hal-hal tahayul di luar logika.

Kenapa?

Yaa... Beberapa saudara menduga, bayi kami dirasuki roh nenek keluarga di sana. Makanya bayinya nangis terus. Kemerahan badannya dan ganti kulit.
(OMG.. Bayiku cuma kurang minum asi, jadi dia nangis terus dan badannya mulai panas).
Gimana nggak kurang asi? Wong pas lahir nggak dibiarkan nyusu lama denganku.. :'(

Malah disuruhnya minum susu formula (katanya dulu juga mereka gitu, pas pertama bayi lahir biar nggak dehidrasi ditambah susu formula).

Laah.. Saya pernah ngelahirin syahla atulah.. Ada pengalaman setidaknya, minimal pun itu.

Saya yang stres menghadapi pro-kontra pendapat orang-orang di sana, juga mengakibatkan nggak lancarnya asi yang keluar. Yapyap, menjadi busui itu harus relaks.. supaya asinya deras, nggak tersumbat karena stres pikiran :(

Apalagi saya dan suami sampai lupa kalau harus mengompres PD dengan washlap yang sudah direndam air hangat (supaya asi mengalir keluar). Kenapa sampai lupa dengan proses itu ya? Apalagi di sana tidak ada yang mengingatkan, bidan pun tidak.. :'(

Padahal Asi juga akan keluar kalau sering disusui ke bayi loh. Kalau bayinya minum sufor, jarang nyusu, nggak ada yang merangsang si asi untuk keluar dong.  Huhu *so sad jadinya melihat kenyataan seperti ini*

Untungnya ada sepupu suami yang juga berprofesi sebagai bidan. Kali ini sarannya sesuai dengan apa yang dilakukan bidanku dulu sewaktu melahirkan syahla. Masuk akal dan lebih kekinian (nggak tahayul atau pamali-pamalian lagi, yang bikin kepala jadi stres) hehe.

Begitulah peliknya melahirkan di sana. Tapi sebenarnya ada senangnya juga sih. Berkat melahirkan di sana, persalinan saya total tanpa jahitan, alias normal dan lancar. Beda dengan sewaktu melahirkn syahla yang penuh perjuangan menahan sakit jahitan. Syukurlah masih ada sisi baiknya ya. Terima kasih keluargaku... :')

Akhirnya sepulang kami ke rumah mertua yang letaknya di kota, saya dan suami tak urung mencari di gugel tentang keanehan kulit hanan ini.

Ternyata banyak juga bayi yang mengalami hal serupa. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan bahwa bayi dengan kondisi demikian sepatutnya tidak mandi dengan sabun, barangkali sensitif timbul dari sabunnya. Kemudian ada juga yang berpendapat, karena cuaca yang ekstrim. Ada juga yang menyarankan dioles pakai minyak lentik yang terbuat dari kelapa, baiknya buat sendiri. Pada pengobatan tradisional ini, gunakan minyak lentik sehabis mandi, dibalur dan oles-oles, sedikit gosok-gosok untuk mempermudah melepas kulit-kulit yang berganti.

Berhasil tidak?

Berhasil sih, ganti kulitnya mulai agak hilang. Tapi.... Malah jadi bintik-bintik merah. Ya ampun.. *tepok jidat lagi*

Pasti karena kulit hanan sensitif. Saya baca lagi di gugel, jangan pakai baby oil untuk kulit semacam ini. Saya nggak pake kok~ berarti ini murni karena minyak lentik yang nambah deretan bintik-bintik merah hanan.

Akhirnya seminggu pun berlalu bertepatan dengan aqikah Hanan Khoury Malouf dan sunnah mencukur rambut setelah 7 hari bayi terlahir plus tali pusarnya lepas sempurna.

Di waktu bersamaan dengan saya yang terserang penyakit belspalsy ->> baca selengkapnya di PASCA MELAHIRKAN
Saya juga disibukkan dengan urusan penyembuhan kulit hanan.

Akhirnya si suami kembali searching ke mbah gugel. Didapati beberapa nama salep untuk penyakit kulit serupa hanan.

Kalau syahla termasuk bayi Mefurosan yang merupakan salep rekomendasi dari kakak ipar saya di Cicalengka Bandung , lain dengan hanan yang menemukan salep kulit baru! Yap, Salep Betason-N. Akhirnya dibelilah salep tersebut.

Selama beberapa hari menggunakan salep itu, alhamdulillah.. Kulit hanan bersih dari ganti kulit maupun bintik-bintik merah berisi cairan bening. Yeay! Alhamdulillah.... 😘😘😘😘

Sebetulnya kalau ganti kulit sih memang wajar terjadi pada bayi yang baru lahir. Lama kelamaan juga akan hilang dengan sendirinya. Hanya bagaimana kita sebagai orangtua mesti tekun dan sabar dalam menyikapi serta berhati-hati pada tiap proses pelepasan kulit lama menjadi kulit mulus yang baru itu.

Anw, thanks yaa mbah gugel! Kamu sangat membantu. Hihi.
Tapi saya tidak menyarankan anda semua yang mengalami hal serupa dengan anak saya untuk mengikuti langkah-langkah kami di atas ya!

Baiknya kalau tidak mau ambil resiko yang sangat rentan, periksakan saja dulu ke dokter.
Kalau saya dan suami sih mengikuti aliran tradisional dulu, setelahnya searching ke gugel. Kalau tidak didapati kesembuhan yang total, barulah jalan terakhirnya adalah DOKTER.

Kebetulan juga selama ini penyakit-penyakit yang hinggapnya merupakan penyakit ringan (tapi cukup membandel sih) hehe. Kalau sudah masuk penyakit kronis, saya nggak berani ambil bagian ini lagi. Buru-buru kita bawa ke tangan ahli saja. Betul? :D

Baiklah, sekian sharing pengalamannya ya! Semoga kulit kita tetap sehat meski cuaca Indonesia makin semrawut.  :'(

Salam hangat!
mother of two

Jumat, 09 September 2016

Syahla Mimisan? Gejala DBD kah?

Serius? (´・_・`)
Sekadar sharing pengalaman ya!
Selama seminggu kemarin syahla sakit loh! (╯︵╰,)
Tiga hari pertama doi terserang batuk pilek (efek kalau diajak ke sekolah dikasih permen + coklat mulu sama siswa, alhasil tumbang juga). 
Hari berikutnya selepas tidur siang, badannya mendadak demam & biang keringat makin menjadijadi merahnya. Tibatiba doi jadi pemurung, pendiem & nggak selebay biasanya. 
Ternyata pas saya cek, dinding dalam mulut ada benjolan kecil semacam sariawan.
Pantesan doi sering masukin tangan ke dalam mulut (kayak nahan sakit gitu), terus juga sering bau mulut. Karena kering mungkin ya, jadi suka kukasih minum biar nggak dehidrasi.
Kulit badannya terserang biang keringat yang membandel; nggak sembuh-sembuh, sampai bintik merahnya makin banyak!
Karawang oh Karawang panasnyaa...
Malam hari kalau batuknya nyesek banget, kadang-kadang bisa sampai muntah. Di sini syahla keliatan droooop banget! Kantong matanya hitam karena batuk ngeganggu tidurnya.
Obat andalan syahla selama batuk adalah baby's cough syrup. Terus kalau demam, minum sanmol pake takaran anak-anak.
Tapi saya terlanjur panik, karena panasnya syahla nggak turun-turun sampai sore. Padahal baru aja minum sanmol.
Malamnya saya berniat bawa doi ke dokter. Kami udah siap-siap untuk berangkat.
Tapi, pas kami udah tinggal caww....
*jreng-jreng*
Saya cek badannya lagi, suhu tubuh doi udah stabil, nggak panas.
Pas ditanya, "syahla sakit?" doi jawab ~enggak. 
Syahla udah mulai jalan ke sana ke mari, agak mendingan dari sebelumnya. Saya pun mengurungkan niat ke dokter. Toh syahla udah mulai ceria lagi.
Esoknya demam doi udah reda. Batuk pilek pun mulai jarang. Akhirnya saya menyangka kalau doi sudah benar-benar pulih. 
Sampai suatu siang, saya pulang dari sekolah. Kakeknya bilang kalau syahla keluar mimisan. Di situlah saya benar-benar nyesel sempat baca artikel tentang gejala DBD pada anak, yang sebagian besar opsinya ada di diri syahla saat itu.
Apalagi opsi terakhir. Keluar mimisan! Sontak, langsung beneran pergi ke dokter hari itu juga.
Tapi... Begitulah ternyata tabiatnya syahla.... (-_-)
Sesampainya di dokter, doi keliatan segar banget! Jalan bolak balik, nggak mau diem, lari-larian, narik-narik kerudung saya, narik-narik baju sambil cengengesan, terus loncat-loncat nggak karuan.
Sesekali doi nyamperin ibu-ibu yang lagi gendong bayi, terus doi nyamperin saya lagi dan bilang kalau bayinya nangis. Saya balas, "iya.. bayinya lagi sakit. Syahla kemarin juga sakit ya kayak dede bayi itu?"
Doi melengos dan lanjut jalan lagi nyamperin anak kecil laki-laki yang sepertinya mau periksa juga bareng ibunya. Doi bilang ke saya, "mau ke aa, mau ke aa.." sambil senyum dan nunjuk anak laki-laki itu.
Ckck. What happen with u, Syahla?
Oemji.. Beneran ibu-ibu di depan kursi kami yang keheranan dari tadi langsung nanya,
"anaknya sakit apa teh?" nnngggg.. 
pas saya tanya ke doi,
"syahla udah sembuh ya?"
Doi langsung jawab ~iya...  (-_-")

Saya langsung bilang ke ibu itu, 
"kemarin batuk pilek dan demam, tadi siang mimisan. Terus keluar bintik-bintik kayak biang keringat di bagian tertentu."

Ibu-ibu itu langsung nyambar, 
"oh, itu sih panas dalam mungkin teh," ujarnya sambil tertawa kecil dan langsung saya balas dengan senyum bingung. 

Panas dalam? Sepertinya betul juga sih, lagipula sekarang udah keliatan membaik dan pecicilannya syahla udah keluar..!
Nggak mungkin cancel kan, karena udah terlanjur daftar dan tinggal nunggu dipanggil dokter. Ya udah sih, periksain aja daripada penasaran sama penyakitnya kemarin-kemarin.. 
(skip skip skip) 
Sepulang dari dokter, langsung diwawancarai penduduk satu rumah  sampai bapaknya dari jakarta nelponin terus tapi nggak keangkat-angkat karena saya sibuk ngobrol and cerita 
Hmmm... Gitu deeeh, Syahla cuma nyaris terserang "tampak", tapi belum keluar semuanya. Dokter cuma bilang gitu.
Kalau mimisannya, dok? ~Cuma dikasih vitamin juga beres.
Kalau bintik2nya? Nih, sampai keliatan kayak ada cairan di dalam bintiknya. Dokter bilang ~airnya nggak cocok.
Pake air apa? (Air pam!) Oh iya, jelek itu, ngerusak kulit! *Singkat dan selesai periksanya*  Ckck.
Nggak seru ah penyakitnya.. 
Yaah.. Selesai juga deh ceritanya  Alhamdulillah sih tapinya ^,^
Btw, ciri suhu tubuh syahla sudah normal dan sehat kembali adalah doi mulai bertingkah lebay, tapi i think doi cerdas deh. Suka nggak bisa diem. Meski kadang menyebalkan, tapi ngangenin banget deh ini bocah.. 
Selama syahla sakit, sekelebat ingatan tentang amarah saya, kesalnya saya pas dia suka bikin onar atau sekadar numpah-numpahin apapun itu, mendadak lenyap seutuhnya. Berubah jadi penyesalan tak terkira,
"kenapa kemarin-kemarin saya sempat marah ke dia pas dia nyobek-nyobek buku, numpahin air dari gelas, ngejailin adiknya sampai pernah tidur di perut adiknya yang masih bayi sambil cengengesan, dan lain lain yang bikin naik pitam. Padahal ini kan usia emasnya, lagi aktif-aktifnya bertingkah. Kenapa coba mesti marah?" Ckck.
~Duuh memang penyesalan selalu datang belakangan.
Akhirnya rasa kangen terhadap tingkah konyol syahla itu benar-benar nggak terbendung saat melihat si anak tertidur lunglai di atas kasur, nggak seceria biasanya, pasif! dan kantung mata yang menimbun kelelahan menahan rasa sakit.
Pada hakikatnya semua ini jadi alasan kenapa kita (as a mom) mesti sabar dan ikhlas.... Memang lagi masanya anak seaktif ini. Please intan, think deeply before doing something!
Memang kadang lebih sering reaksioner menghadapi tingkah anak. Harusnya nggak gitu! Pelan-pelan, anak pasti ngerti dan nurut... :')
Oke, mulai sekarang dicoba lagi ya lebih sabar dan ikhlas.. :')
Siiiip!
Ini bukan kali pertama syahla sakit loh. Udah sering doi sakit-sakitan, tapi ringan, nggak separah sekarang sampai keluar mimisan segala ಠ_ಠ
Memang sebetulnya dari dulu syahla itu bayi anti dokter bangeeet... Karena tiap mau ke dokter pasti saya dan suami selalu nunda,
"kita liat besok, kalau masih sakit, baru ke dokter!"
tahu-tahu besoknya udah sembuh pakai obat-obatan tradisional. Gitu weh teruss..  Dan.. Terbukti kan di penyakitnya yang sekarang ini!  Syukurlah.. 
Syukurlah.. Syahla bayi hemat biaya!  karena saat ini babehnya di Jakarta dan emaknya panik setelah baca artikel DBD, akhirnya ke dokter juga kita Laaa...
Tapi saya jadi tahu setelah konsul ke dokter tentang bintik-bintik merah yang menyerang doi, hanan, bahkan saya juga. 
Yap! karena faktor air dan cuaca,  bukan faktor makanan kan.. Dulu tinggal di sumedang juga makannya sama kok kayak di sini, tapi nggak bintik-bintik, karena cuacanya dingin, pake air gunung mandinya, bersih dan alami. Nggak ada kaitannya dengan makanan.  Duuh jadi kangen tanjungsari-sumedang 
Sudahlah ~ Sekian sharing pengalaman mahmud hari ini.
Bye!
Semoga kita semua selalu sehat yaaaa!
Aamiin.. 
Semoga aja setelah memposting ini, nggak ada tanda-tanda kemunculan penyakit baru lagi di tubuh kami!
SEMBUH SEMBUH SEHAT SEHAT!
Aamiin.. 
~~~~~~  Baca cerita lengkapnya di instagram saya juga yaaa [@intanpertiwi92] bonus foto syahla juga loooh.. :D 

Selasa, 19 Juli 2016

Fulltime Mommy (housewife)

Dengarkan,
seseorang mengetuk pintu dari jeruji hati yang digembok rapi.
Siapa ia?
Dua pasang kaki mungil yang berkeliaran di selasar kepala.
Sesekali merayap ke mata dan bergelayut menyedot mendung tak terkira.

Sudahkah kau memeluk ia?
Nyaris seutuhnya, namun terlepas sebagian.
Sisasisa waktu kuperbaiki dengan seksama
berharap kaki-kaki mungil kembali melebarkan sudut di bibirnya.

Tak ada yang siasia.
Hanya menunggu saat yang tepat untuk melepas sepersatu catatan penting di kepala.
Termasuk sebagian cita yang tertunda untuk sementara.

[Bersabarlah. Akan ada waktunya.]

Juli, 2016.

Selasa, 12 April 2016

Bel's Palsy pasca Melahirkan

Bersyukur sekali, tertanggal 28 maret 2016 pukul 3 pagi saya berhasil melahirkan seorang bayi lakilaki di Karawang dengan berat 3kg dan panjang 51cm. Alhamdulillah, saya merasakan kenikmatan yang luar biasa pasca melahirkan kali ini. Saya berhasil melahirkan normal tanpa jahitan.

Terdengar biasa mungkin bagi beberapa orang, but i'm so happy cos of it. Betapa tidak? Dengan melahirkan secara normal tanpa jahitan, cukup sehari-dua hari, tubuh kita bisa kembali bersinergi dengan lingkungan. I mean, kembali beraktifitas layaknya orang-orang yang tak habis melahirkan. 😊😊😊

Hari pertama pasca melahirkan, yang terbesit dalam kepala saya adalah kondisi syahla, my first kiddo. Saya khawatir dia belum menerima kehadiran makhluk mungil baru di dalam rumah. And then, terbukti, doi begitu rewel mengetahui induknya menggendong dan menyusui manusia lain di luar dirinya.

Oke, beralih topik. Pasca melahirkan, saya terserang penyakit aneh semacam stroke ringan. Padahal tensi darah saya normal. Well, dokter akupuntur bilang, saya terserang bel's palsy. Penyakit radang saraf di hanya sebagian wajah yakni sebelah kiri. Perlahan saya kesulitan membuka mulut dan mengunyah, lidah bagian kiri terasa mati rasa layaknya kaki kesemutan.
Hari berikutnya mata sebelah kiri saya mulai redup dan fungsi kedipannya sangat melamban, sehingga tak simetris dengan aktifitas mata sebelah kanan. Di sini saya mulai pusing kalau berkedip, karena tak serentaknya kelopak mata ketika menutup.

Selanjutnya beralih ke hidung , pipi dan alis. Semua mulai berkurang fungsinya. Hidung hanya bisa diangkat sebelah kanan, sedang lubang kiri tetap diam. Seolah ototnya tak ikut tertarik. Alis pun demikian, tak bisa dinaik-turunkan seperti biasa. Kemudian bibir. Saya hanya bisa senyum sebelah yaitu menarik ujung bibir sebelah kanan, sedang yang kiri tetap diam. Di sinilah saya mulai merasa tak nyaman.

Pasca melahirkan, pasti banyak sanak saudara yang datang menjenguk. Karena itulah saya mulai panik. Bibir saya hanya bisa ditarik sebelah, sehingga terkesan angkuh ketika senyum dan menurut saya itu sangat tak sopan jika terlihat oleh orang-orang yang datang berkunjung. Saya seolah tak senang. Jadi saya putuskan untuk pergi berobat.

Pengobatan pertama, saya dan suami mencari tahu penyebab terjadinya bels palsy dari internet. Banyak kemungkinan yang membuat saya pasrah kalau-kalau penyakit ini akan tetap bersarang di wajah saya. Kepanikan menjalar ke keluarga di rumah maupun keluarga saya di Cirebon.

Akhirnya ibu mertua mengantar saya berobat ke dokter akupuntur yang memakan biaya hingga 300ribuan itu, pada sekali pengobatan. Dan dokter itu menyarankan saya melewati 5-10 kali pengobatan. Wewww!!! Kebayang mahalnya bukan main -,-  Pasca akupuntur, saya belum mendapati perubahan secara signifikan dalam wajah. Semuanya tampak biasa-biasa saja. Barangkali butuh proses yang lama, sesuai yang dikatakan oleh dokter tersebut.

Malam harinya, beberapa kerabat suami menganjurkan saya pijat saraf. Kami pun diantar ke sebuah rumah pijat. Di sana ada seorang lelaki tua tapi masih tampak kuat dan bersemangat. Ia adalah abah R. Beliau memijat saya dari kepala sampai pundak. Bagian kepala dan wajah terasa diremas-remas dan terguncang heboh ketika dipijat. Saya merasa geli dan ingin tertawa ketika kepala saya seperti oleng ke sana ke mari menerima pijatan-pijatan fantastik dari si abah. Tapi itu semua terasa nikmat. Saya merasa lebih segar pasca pemijatan.

Sebelum beranjak pulang, abah R memberi saya tiga galon kecil berisi kangen water dan cairan yang disemprotkan. Katanya, saya harus minum sebanyak satu gelas tiap pagi, siang, sore dan malam. Lalu semprotkan cairan itu ke belakang telinga yang terasa ada sebuah benjolan kecil. Pijat-pijat bagian itu tiga jam sekali.

Baru sekali pemijatan ke abah R. Saya dan keluarga merasa puas dan yakin kalau penyakit ini bisa sembuh. Abah R sangat mahir memijat. Beliau sangat hafal tiap-tiap saraf yang terasa sakit di kepala saya. Beliau pijat dengan tenang sambil sesekali memberi ceramah tentang saraf-saraf dalam tubuh. Suami saya ada di sana ketika saya dipijat. Dia tak hentinya bertanya tentang proses pemijatan yang membuat abah R tambah bersemangat mengguncang isi kepala saya hingga segar kembali.

Yang saya yakini dari pemijatan itu adalah, abah R mampu menyebutkan penyebab penyebab terjadinya penyakit itu. Jadi, semua itu bersumber dari maagh yang sudah lama saya derita. Kemudian lari ke kepala, jadilah migran di kepala bagian kiri. Di sinilah saya sangat yakin. Saya memang mengalaminya selama masa kehamilan tua. Migran membuat saya susah tidur karena menahan rasa sakit yang tak kunjung reda. Berikutnya beliau menceritakan tentang kipas angin, ac, atau angin malam yang tak baik untuk tubuh. Semua itu bisa jadi penyebab penyakit yang baru kali pertama saya alami ini. Kalau menyoal angin, saya dan suami sudah mengetahuinya dari internet dan dokter akupuntur pun sudah menjelaskan detail tentang itu (persis seperti info yang saya dapat dari gugel).

Akhirnya saya pun kembali ke rumah dengan wajah sumringah. Seminggu kemudian setelah melakukan pemijatan rutin secara mandiri dan minum air yang dibeli dari rumah pijat itu, akhirnya sedikit demi sedikit bibir kiri saya bisa ditarik. Malam berikutnya saya kembali pijat ke abah R. Kali ini bagian pundak dan lengan sebelah kiri. Terasa tegang awalnya, namun lentur kembali setelah dipijat. Dan tangan kiri saya seolah tak ada beban.

Dua minggu berlalu dan seluruh indra bagian kiri wajah saya mulai pulih. Saya bisa mengangkat alis dengan serempak. Hidung pun terangkat dua-duanya. Bibir tertarik ke ujung masing-masing, sehingga saya bisa tersenyum normal kembali. Mata saya bisa berkedip dengan serempak, terutama ketika mandi, saya sudah tak perlu menutup mata sebelah kiri dengan tangan saya, karena sekarang kelopak mata saya sudah bisa menutup dengan sendirinya. Sempat resah karena ketika bels palsy, mata sebelah kiri tak bisa mengedip secara spontan ketika air mengalir dari ujung kepala saya (red:sewaktu mandi). Akibatnya mata saya menjadi perih dan merah tiap usai mandi karena kelopak mata tak berfungsi normal.

Itu sedikit cerita kondisi saya pasca melahirkan. Sebenarnya di sini sangat banyak yang ingin saya ceritakan, terutama menyoal anak-anak. Banyak yang ingin saya ceritakan tentang syahla dan adik barunya ketika terlahir ke dunia.

Betapa hebatnya seorang wanita dan mulianya ia ketika berjuang mempertahankan nyawa dalam perutnya, hingga si jabang bayi benar-benar terlahir ke dunia. Ini yang disebut surga ada di telapak kaki ibu. Memang benar, perjuangan seorang ibu tak dapat dibalas dengan bayaran uang. Hanya doadoa dan kebahagiaan yang perlu dilestarikan untuknya. Selalu ingin melihat ibu tersenyum tanpa beban, mendengar semua nasihat baiknya dengan seksama tanpa membantah, semuanya demi kebahagiaan ibu. ❤❤❤

Cerita seputar perjuangan seorang ibu ketika melahirkan dan "how to be a good mother of two" (yang berkaca dari pengalaman hidup saya), akan ditulis dalam catatan lain setelah ini. Tunggu saja ya. Segera meluncur! [] 😊😊😊

Jumat, 28 Agustus 2015

Move and Grow (!)

Perempuan ini becermin;

Di dalam sana, tubuhnya semakin terlihat anggun dengan longdress menjuntai menutupi mata kaki, juga sepasang kaos kaki panjang berwarna hitam -kadang krem-

Ia merasa bahagia bisa berpindah dari sebuah tubuh yang dulunya tak pernah malumalu mengumbar rambut coklatnya, juga betis yang nyaris berotot karena sibuk latihan barisberbaris dan olahraga.

Ia merasa bahagia, tubuhnya berkembang ke arah yang lebih baik.

2010 - perempuan itu bermata sayu dengan rambut tergerai sebahu. Poni yang terjepit di sebelah kanan -kadang juga kiri- adalah ke-khas-an darinya.  Kemeja pendek dengan celana jeans gelap yang meliuk jelas -memancarkan lekuk tubuh berukuran sedang-

2011 - ia berpakaian etnik, dengan rok tunik dan tas gendong yang setia bersandar di punggungnya. Sepatunya bertalitemali, meski bukan sepatu ket, melainkan sepatu plastik juga kulit yang penuh ikatan membelit.

2012 - rambutnya tersembunyi dalam balutan kerudung. Tubuhnya mulai bersinergi dengan akal dan nurani. "Bukankah sudah waktunya untuk setia?" Ya, akhirnya perempuan itu setia mengenakan tudung di kepalanya. Meski jeans ketat dengan sobekan di lutut masih membelit kakinya.

2013 - ia masih mengenakan tudung di kepalanya, dengan panjang sedada -namun tak menutupinya. Celananya mulai berganti model. Kini ia lebih sering memakai kostum berbahan kain. Ya, perempuan itu mulai menyadari tubuhnya berada di fase mana. Ia mulai mengganti seluruh celana jeans yang nyaris tercabikcabik itu, dengan celana bahan berukuran longgar, kadang rok sepan, kadang juga rok yang menjuntai luas mirip rok cinderella.

2014 - tudungnya masih setia di kepala, masih berukuran sedada -kadang melebihi, namun tak sering. Ia mengklasifikasi bajubajunya -baju berkancing adalah favoritnya saat itu- sementara celana dan rok masih silih berganti menguasai jenjang kakinya.

2015 - tubuhnya berpindah dari satu fase ke fase berikutnya. Ia tersadar, betapa hijab adalah kewajiban seorang perempuan untuk mengenakannya. Kini -di tahun ini - tepatnya bulan juli - ia tumbuh dan berkembang ke fase yang lebih serius. Fase yang bukan mengutamakan fesyen atau kecantikan dari pakaian, melainkan "inner beauty" yang benarbenar dihadirkan dan tak mencolok penampilan. Keimanan dan ketakwaan seorang perempuan -ia masih belajar, sama seperti perempuan awam lainnya yang ingin berkomitmen dengan tubuhnya. Ia mulai terbiasa dengan rok menjuntai menutupi mata kaki, kaos kaki hitam menutupi telapak kaki, manset tangan menutupi pergelangan, baju tak ketat yang panjangnya melebihi paha, dan tentunya tudung yang menjuntai menutupi dada bahkan perutnya.

Ia bahagia, tubuhnya bermetamorfosa.
Ia bahagia, lingkungannya dapat menjamah akal dan pikiran untuk kembali ke aqidah dan akhlak yang Tuhan inginkan.

Ia bahagia, masa kecilnya kembali ke hadapan. Impian dan seluruh asa yang mulai menampakkan wujudnya.

Terimakasih, segalanya terbayar sudah.
Mimpimimpi masa kecil -harapan untuk mondok pesantren di Jawa, harapan untuk menutup aurat dari ujung rambut hingga kaki sejak sekolah dasar, harapan dan mimpimimpi yang sempat dibabat habis oleh orang tersayang di sana- segalanya mulai terasa nyaman untuk dilakoni saat ini. Meski tak persis berada di tempattempat yang diimpikan itu, namun sejatinya Tuhan sudah bijak dan berbaik hati untuk memberikan rasa yang sama dengan segala harapanharapan itu. Sepertinya Tuhan menawarkan kebahagiaan yang harus selalu dijemput dan diciptakan oleh diri kita masingmasing.

Thanks to Alloh.
Alhamdulillah... semoga selalu menjadi pribadi yang lebih baik di tengah maraknya fesyen yang berkelebat.

Saat oranglain berkamuflase dengan lingkungannya kini -ada yang menjadi lebih buruk; roknya tergeser oleh celana, bajunya hanya sepaha dan tudungnya tak melebihi dada- semoga ia kembali menjadi dirinya yang dulu; yang cerminannya sudah menyerap dalam tubuhku.

Semoga selalu sempat berdoa untuk keselamatan diri sendiri, juga oranglain. ❤❤❤

Rabu, 08 Juli 2015

Menggenapi Usia

Kau tahu La, tubuh kita kuyup diguyur waktu...
Sejam lalu kita baru saja selesai menggenapkan usiamu.
Beberapa rekan dan sahabat datang mengunjungimu.
Bukankah kau bahagia dengan hal itu?

La, hidup tak sekadar menjalani hari demi hari sesuai langkah kaki maupun mimpimimpi di kepala,
hidup di kedalaman arti yang lebih rinci membawamu pada fase perubahan apapun.

Selalu bijak menghadapi hidup yang runyam ini, nak. Karena hidup tak sebercanda tingkah ayahmu.

Hidup untuk hidup.

Semoga tak ada sesal yang kembali berkelebat di deret usiamu kelak.

Selamat tanggal 8, La!
Mengulang tanggal di setiap bulannya, kemudian bersiap menghadapi fase berikutnya yang (mungkin) sangat kau nantikan.

Love you, dear!
Happy cakeday! :')

Senin, 06 Juli 2015

Kenang-Kenangan #1

Siang itu aku dipanggil oleh Pak Heru, guru biologi di sekolah yang juga menjabat sebagai pembina osis. Tahun 2009 aku demisioner dari osis, menduduki jabatan sebagai bendahara 1. Meski pada pemilihan suara, aku mendapat posisi terbanyak kedua, namun akhirnya aku ditempatkan sebagai bendahara, bukan wakil ketua. Tersebab dari kelima orang kandidat, tak ada yang berpengalaman memegang uang osis (tahun sebelumnya - 2007 aku menjabat sebagai bendahara 2 di osis saat baru masuk SMA kelas 10). Akhirnya aku pun rela ditugaskan kembali menjadi bendahara osis periode 2008-2009 saat menduduki kelas 11ipa3.

Kembali ke pemanggilan itu, tanpa banyak bicara Pak Heru memberi selembar surat edaran dari dinas kabupaten cirebon. Setelah membaca, akhirnya aku tahu kalau Pak Heru memintaku untuk menjadi perwakilan sekolah dalam ajang solo vokal putri tingkat kabupaten. Tak hanya sendiri, di ajang tersebut ada juga kategori laki-laki.

Tanpa kuduga, Pak Heru menyebut sebuah nama yang membuat kepalaku limbung. Laki-laki berinisial R. Di tulisan ini aku akan menyebutnya "Er".

Tak ada masalah dengan Er, hanya sebuah rasa yang membentur kepalaku untuk kembali mengingatnya.

Siapa Er?

Tak banyak yang tahu bagaimana perasaan kami tumbuh begitu saja. Perasaan yang tak pernah sampai pada tempatnya. Hingga aku memutuskan untuk menyudahi penantian yang sia-sia.

Baiklah, kembali ke pemanggilan itu. Beberapa saat setelah duduk di ruang TU, Er datang menghampiri kami. Ia mengetuk pintu dan melempar senyum pada kami. Bergegas tubuhnya sudah berpindah di sampingku.

Pak Heru memulai percakapan, meminta kami untuk hadir pada technical meeting di Sumber tanpa ditemani oleh dirinya ataupun guru yang lain karena hari itu bentrok dengan rapat guru-guru di sekolah. Er setuju dan mengusulkan untuk mengendarai motor ke tempat TM yang diperkirakan memakan waktu 45 menit dari sekolah. TM dilaksanakan entah berapa hari setelah pertemuan tersebut, yang pasti tak berselang lama.

Hari technical meeting tiba. Aku dan Er pergi ke Sumber menunggangi motor. Saat itu statusku memang sedang tak terikat pada siapapun karena hubunganku dengan Dee kandas menjelang kenaikan kelas 12. Maksudku, aku tak bisa menerima masa lalu Dee. Entahlah, aku begitu pemilih. Barangkali juga karena hatiku masih terikat pada Er, lelaki yang pertama kali membuatku nyaman di sekolah saat mengikuti tes seleksi pengurus osis di kelas 10.

Lelaki yang punya hobi sama denganku -menulispuisi. Lelaki yang punya ketertarikan yang sama -senidanmusik. Lelaki berjiwa seni dengan sekelumit cinta pada dunia kesenian. Lelaki yang aktif bergiat di Paskibra (pasukan pengibar bendera). Ia bisa membagi kecintaan pada dunia seni, olahraga maupun barisberbaris. Pun denganku. Jadi tak ada alasan untuk tidak tertarik padanya karena sederet keserasian yang ditakdirkan Tuhan.

Saat itu aku sedang jomblo dan menikmati masa lajang di usia remaja. Vakum dari dunia percintaan, aku memutuskan untuk menjalin persahabatan dengan beberapa orang lakilaki maupun perempuan. Hingga aku tak sadar, banyak lelaki yang nyaris patah hati karena terlalu percaya diri mendekatiku (baiklah, abaikan yang satu ini).

Aku tahu, Er sudah memiliki kekasih. Sebenarnya aku ingin menceritakan kronologi cerita ini dari awal, agar para pembaca bisa mengaitkan perasaan tokoh-tokoh dalam masalah ini. Tapi sudahlah, terlalu sesumbar. Barangkali bisa kalian temukan di cerpen berjudul "Feeling Guilty" yang sengaja kutulis untuk persyaratan diklat asas beberapa tahun lalu.

Well, karena alasan perintah dari sekolah, akhirnya tak ada masalah mengenai pemberangkatan ini. Kekasih Er bernama Fat. Kami bertiga (berempat dengan Dee -dulunya) termasuk teman dekat yang bergiat di osis maupun paskibra. Tak ayal, kedekatan kami berempat mulanya karena jabatan di paskibra. Aku dan Dee dipasangkan menjadi pengemban putra dan putri (bertanggungjawab atas satu angkatan), sedangkan Fat dan Er dipasangkan menjadi Bapak dan Ibu lurah (bertanggungjawab atas satu kepengurusan).

Teman-teman di sekolah juga sudah tahu kalau aku dan Er dekat karena Er memanggilku adik dan aku memanggilnya kakak. Namun jauh sebelum eratnya sebutan kakak-beradik itu, kami memang pernah mengikat hati. Sekadar mengikat dan meyakini bahwa ada rasa yang lain di antara kami berdua. Segalanya tampak biasa saja di depan orang-orang, barangkali karena semua hanya melihatnya dari kacamata depan saja, mereka tidak melihat jauh ke dalamnya.

Kedekatan kamipun direstui oleh seorang guru perempuan yang sudah kuanggap sebagai second mother. Aku menyebutnya Bunda. Tapi tetap, kami tak bisa mengikat hati di depan banyak orang. Kami hanya dekat sebagai sahabat, tak lebih. Barangkali cuma Bunda yang mengetahui perasaan kami satu sama lain. Itu pun Bunda ketahui ketika aku dan Er mengikuti lomba menyanyi solo di dinas kabupaten.

Bunda yang mengantar kami ke sana saat hari perlombaan. Bunda pula yang mendengar segala curahan hati kami masing-masing, hingga ia menganggap bahwa aku dan Er saling menyukai tapi tak bisa mengikat hati. Entah apa sebabnya, Bunda juga tak punya solusi.

Menuju perlombaan menyanyi, aku dan Er menyiapkan kostum sebaik mungkin. Er bahkan mengantarku membeli sepatu untuk kebaya yang akan kukenakan nanti. Hari itu Er pertama kali berkunjung ke rumahku.

Seusai membeli sepatu, Er mengobrol dengan ambu dan abah. Kami semua tampak akrab. Apalagi Er dan aku akan menyanyikan lagu lawas yang sangat dikenal ambuku. Er sampai berlatih menyanyikan lagu "Selendang Sutera" bersama ambu, karena beliau sangat hafal lagu tersebut. Aku juga tak kalah saing, ikut berlatih menyanyikan lagu "Pantang Mundur". Semuanya terdengar syahdu, ditambah suara ambu yang merdu.

Beberapa saat sebelum sampai di rumah, Er membelikanku eskrim. Ya, dia memang tahu kalau perempuan bermata sayu ini adalah maniak eskrim. Akhirnya dia membelikan beberapa eskrim untuk keluargaku juga. Bahkan Er sengaja membukakan cangkang eskrim untuk abah. Kedekatanpun terjalin di antara keduanya.

Begitulah, pertemuan singkat dengan Er yang menimbulkan kesan baik di mata keluargaku. Hingga aku benar-benar takut menghadapinya.

Bagaimana tidak?
Aku bepergian dengan seorang lelaki yang sudah tak sendiri. Membeli sepatu, bahkan makan eskrim bersama. Aku merasa janggal dengan keadaan itu, aku takut perasaan silam kembali muncul. Aku takut akan ada permasalahan yang timbul. Ya, aku takut menyulut pertengkaran antara Er dan Fat.

Berpindah dari ketakutanku dan kewaspadaan untuk tidak terlalu "baper", akhirnya aku berusaha santai menjalaninya. Sampai perlombaan itu benarbenar selesai dan aku tak akan dipersatukan lagi dengan Er.

Entah tanggal berapa saat itu. Aku lupa mengingatnya.

###
*tobecontinued*

Kamis, 11 Juni 2015

Jon dan Jane [#1]

Di beranda rumah Jane, Jon menikmati senja dengan semangkuk mie rebus rasa ayam bawang & sejumput cinta yang tertuang dalam sebotol sambal ekstra pedas.

Sembari bercakap-cakap membayangkan masa depan yang penuh rencana, Jane menuang sesendok kopi dan sedikit gula sesuai selera.

"Buatanmu istimewa," ujar Jon tibatiba.

Dituangnya didih air yang mengalir dari termos stainless ke dalam cangkir. Jane mengaduk-aduk kopi hingga larut lalu memberikannya pada Jon.

"Nanti pas resepsi, kita sekalian launching antologi puisi perkawinan ya," seru Jon sebelum bibirnya bersentuhan dengan bibir cangkir dan menyeruput kopi yang mengepul.

Jane tersenyum, pikirannya berlari menuju masa depan.

"Aku mau punya banyak anak," timpal Jon lagi.

Jane nyengir kuda, "Dua cukup".

Jon menggeleng, "minimal lima."

Jane mengernyitkan dahi, menatap heran sosok lelaki yang tak peduli pada aturan pemerintah.

"Kalau begitu, tiga saja." Lagi-lagi Jane bernegosiasi dengan calon suaminya itu.

"Kenapa cuma tiga?" Selera makan Jon terhenti, menunggu mempelai wanitanya memberi penjelasan yang tepat.

"Kalau kita punya tiga anak. Aku bisa mengusulkan tiga nama yang baik," ujar Jane penuh semangat.

"Siapa saja?" Jon mulai antusias merespon Jane.

"Anak pertama bernama Ilo, anak kedua bernama Vey dan anak ketiga bernama Ou." Jelas Jane, singkat.

"Artinya apa?" tanya Jon memicingkan mata.

"Pokoknya itu nama yang terbaik!" Jawab Jane sekenanya.

"Kok?" timpal Jon.

"Iya.. jika disatukan, ketiganya akan membentuk kalimat istimewa. Ilo-Vey-Ou yang berarti i love you!" Jane tertawa girang meski Jon baru menyadari setelah
tawa kekasihnya itu reda.

Percakapan terus berlanjut hingga matahari larut dalam perut bumi. Jane mengantar kekasihnya menuju vespa 66 yang terparkir di halaman rumah. Setelah
berpamitan dan memastikan tubuh lelakinya lenyap dari tikungan gang, Jane berjalan ke beranda rumah dan membereskan sisasisa jamuan yang nyaris habis.

Diambilnya cangkir Jon, mata sayu Jane mulai mengamati ke dalam cangkir. Ia tersenyum senang lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Ia mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya pada Jon.

"Hei, tahu tidak?
Aku menemukan sesuatu!

.....

Ada cinta ketinggalan di dasar cangkir kopimu, Jon!" [] ♥

[catatan singkat sebelum tidur, sambil membayangkan deretan hari esok yang melambai-lambai, karena Jon akan segera sidang skripsi bulan ini! Eureka! Semoga kali ini serius..]

Sabtu, 14 Juni 2014

Edisi Nonton Teater

Akhir bulan kemarin sampai awal bulan ini, di tengah kesibukan saya menggarap ujian dan laporan PPL *tepatnya minggu-minggu lalu*, demi nama ketenangan batin, akhirnya saya memutuskan untuk ikut nonton teater secara berturut-turut. Maksudnya? Akhir mei sampai awal juni adalah hari yang penuh dengan garapan teater. Mulai dari nonton teater di jurusan, yaitu pergelaran sastra dari mahasiswa angkatan 2012 berturut-turut. Pertunjukannya diadaptasi dari puisi karya penyair terkenal, artinya bentuk transformasi puisi ke dalam drama panggung. Kemudian, dua garapan CD Teater yaitu Burried Child dan Mengandung Tuhan. Lalu parahnya lagi, garapan ujian akhir jurusan teater di STSI yang pementasannya berturut-turut juga. *ppffft*

Pertunjukan pertama yang saya dan suami tonton di STSI berjudul Pintu Tertutup. Lalu ada satu hari di mana pertunjukannya hanya sebentar sekitar 20 menit tapi mengocek dompet sebesar 25ribu rupiah perorang sebagai perayaan hari lingkungan hidup sedunia. Pertunjukan tersebut dipersembahkan oleh Teater Payung Hitam STSI Bandung. Kemudian hari berikutnya kami menonton Anna und Martha Sektor Ketiga, lalu berlanjut ke selasar sunaryo menonton pertunjukan berjudul Semangkapati (hanya yang mendapat undangan yang diperbolehkan masuk). Beruntunglah kami punya rekan baik dari STSI, sehingga undanganpun didapat di tempat. ^_^

Selain itu, sebenarnya saya juga mendapat undangan khusus dari siswa SMA Negeri 2 Bandung, tempat saya praktik mengajar. Undangan pertunjukan drama musikal yang dipersembahkan oleh ekskul Rumah Seni di sekolah tersebut. Tapi sayangnya, saya tidak bisa hadir karena cuaca tidak mendukung saya untuk berangkat.

Rasanya puas, di tengah penyusunan Laporan PPL dan revisi bab 1 sampai 3 yang super 'jelimet' dengan dosen pembimbing, saya masih sempat nonton teater yang 'bejibun' itu. Saya merasa seperti bereinkarnasi menjadi mahasiswa tingkat satu yang gemar berapresiasi (lagi). Senangnya!

Di luar, saya dan suami nonton teater yang berturut-turut. Di dalam kamar, kami juga tetap nonton. Tapi nonton film hasil memungut dari laptop rekan-rekan kami. Hahaha. Sampai seorang rekan kami berniat untuk menjual satu softfile film seharga tiga ribu rupiah, saking banyaknya film yang doi koleksi, dan banyak juga para "movie freak" di dunia ini.

Edisi nonton teater cukup sekian. Setelah hari ini, kami tetap berburu tontonan lagi di luar sana. Tentunya tontonan yang pas dengan dompet kami, tapi kebetulan semua pertunjukan yang kami tonton di atas itu adalah pertunjukan gratis, kecuali beberapa yang memang sangat berharga. Yaaa, sebenarnya dalam berkesenian kita dilarang menimbang-nimbang untung rugi uang yang kita keluarkan. Demi harga sebuah kesenian, berapapun harusnya tidak jadi masalah, 'berkesenian kok setengah-setengah' begitulah!

Edisi nonton film akan saya posting di luar wacana ini, supaya lebih terklasifikasi. Hehe.
Baiklah,
salam sastra, salam seni dan budaya,
tetaplah menjadi apresiator jika karya kita ingin juga diapresiasi orang lain.


^_^

Jumat, 13 Juni 2014

Mother of Alien(s)

Apa sih? Geje deh!
Awalnya saya bingung menanggapi sebutan nama yang diusung-usung oleh beberapa rekan saya itu. Ya secara, mother of alien(s), kenapa coba harus itu?
Ternyata eh ternyata, saya baru paham setelah sang laki menjelaskan semua-muanya. Hahaha.

Sejak resmi menjadi pengurus arena studi apresiasi sastra dan juga cd teater rintisan angkatan 2010, saya resmi ditetapkan sebagai "moa" (singkat). Itu karena hanya sayalah satu-satunya betina yang tersisa di angkatan 2010 yang masih rela mengorbankan waktunya untuk berpetualang bersama orang-orang aneh semacam mereka (red: lelaki berinisial wm, wec, aap, rrd, mu, ra, zn, wrs, mt, lsl, iw, dan lain-lain yang tidak mungkin saya sebutkan lagi karena keburu stres memikirkannya).

Wajar sih saya mendapat julukan semacam ini. Bayangin, setiap kali orang-orang ini kumpul dan bepergian ke suatu tempat, pasti cuma saya betina satu-satunya yang ikut. Yaa meski kadang ada beberapa betina lain yang terpaksa ikut karena alasan pacarnya ikut, kepingin refreshing juga, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Tapi yang sering nongol dan menetap di kumpulan orang-orang aneh ini yaa saya. Iyaaaa, saya. *ala dodit*

Bepergian malam, menghabiskan bensin untuk menikmati kota yang lengang, menghabiskan sisa uang untuk membeli kuliner baru dan aneh, bermalam di rumah salah satu rekan kami karena kemalaman di jalan, menatap bintang dan bulan yang kadang-kadang kepikiran kenapa mereka begitu akrab kayak kami ini, dan lain-lain, lain-lain...

Baiklah, minggu ini saya resmi dilepas dari tempat PPL yaitu SMA Negeri 2 Bandung. Rasanya sumringah banget! why? soalnya saya enggak dapet gaji sih. Coba kalau PPL dapet gaji, kan lumayan ya selama 4 bulan itu mengabdikan diri untuk bertemu manusia-manusia baru dan mengajari mereka ilmu yang tak pernah habis-habis. *halah* Yaa.. kan jadi kurang motivasi kalau enggak ada duitnya. *matre* *bukan pahlawan tanpa tanda jasa* oke!

Back ke persoalan "moa", begitulah kisah mulanya saya dinobatkan menjadi ibu dari para alien yang berkeliaran di jurusan kami. Kenapa mereka disebut alien? ada banyak alasannya sih. Maybe karena mereka adalah orang-orang yang terisolasi dari kepedulian dosen yang anti-kritikan. Bisa juga karena mereka adalah orang-orang yang doyan diskusi tapi dosennya 'ogah' diajak diskusi atau berdebat. *sama aja*

Yang pasti mereka adalah orang-orang yang peduli dan suka berkesenian. Umumnya lebih ke-anti pembodohan dari dosen. Tergabung dalam cd teater dan jurusan saya. Jurdiksatrasia. Beberapa di antaranya adalah pengurus asas, dan sisanya adalah teman main saya di luar akademik. (red: sahabat suami saya).

Sebetulnya, saya cukup diuntungkan dengan kehadiran mereka dalam hidup saya yang begitu monoton ini. Karena ketika PPL, saya enggak jarang ketemu sama makhluk baru di sekolah yang sifat dan kelakuannya mirip mereka. So, saya enjoy ngadepinnya, saking udah seringnya ketemu orang-orang aneh kayak mereka -_-

Setelah 4 bulan sibuk mencerdaskan bangsa *PPL*, akhirnya saya kembali jadi Mother of Alien(s)!
Tepatnya di suatu malam yang membebaskan kami dari beban mengajar karena semuanya sudah selesai ujian. Kami ber-7 (yang ikut) memutuskan untuk merayakan ulang tahun abang wec di sebuah tempat yang tak asing bagi kebanyakan lelaki. Yap, "Beerman"! 

Apa? saya ke beerman? baru kali itu kok! saya yang berkerudung dan tengah berbadan dua ini ikutan ke tempat semacam itu? astaghfirulloh! *ngelus dada*

Iya, saya juga enggak nyangka mereka bakal melarungkan motornya di tempat itu. Tapi apa daya, menemani suami dan beberapa rekan alien menghilangkan penat karena kesibukan yang menumpuk sebagai mahasiswa tingkat akhir, mengharuskan saya untuk rela diajak kemana-mana dan kembali jadi "moa". Tapi kali itu saya bukan betina satu-satunya. Beruntung saudari 'y' ikut, jadi bukan cuma saya satu-satunya perempuan berkerudung di tempat semacam itu. Oh God, oh my parents, oh my children, forgive me please.. forgive your mother!  forgive my husband - your father, boy!

Kebetulan ada donatur tetap di antara kami yang membayar semuanya, sehingga itu jadi point plus saya bersedia ikut dengan mereka. Mumpung gratis! Terus di sana saya ikutan minum? Iyalah ikutan minum! Eeeh tapi tenang, bukan minuman yang aneh-aneh kayak mereka. Seperti biasa, supaya bisa menghilangkan penat dan tetap sehat, saya memutuskan untuk memesan eskrim dan jus alpukat. Enough.
 
Btw, lama-lama saya baca ulang semua tulisan di blog ini isinya ocehan enggak penting semua. Saya lupa kalau udah jadi ibu rumah tangga. Tapi no problem, jadi IRT yang tetap gaul sama sosmed, apa salahnya. *ngelus poni*

Well, banyak banget yang pengen saya tulis dalam blog ini. Terutama pas saya dan suami pindahan kosan. Kunjungan demi kunjungan tak pernah surut menghujani ruangan kami. Yaa begitulah kalau resmi jadi induk dari anak-anak semacam mereka. Sekarang saya dan suami lagi bedrest - tepar! Saya yang terlunta-lunta menyelesaikan bab 4 & 5 tapi masih dibingungkan dengan bab 3 yang mengudara *belum ada revisi lagi* karena dospemnya terlampau sibuk. Juga suami yang sibuk merangkul bocah-bocah jurusan untuk berpartisipasi dalam garapan teater "Umang-Umang" sebelum mereka semua pada bubar karena mudik lebaran. 

Saking baru latihan teater lagi, olah tubuh lagi, olah vokal lagi, reading lagi, karena beberapa bulan sebelumnya sibuk menjadi ketua asas, akhirnya doi resmi tepar malam ini. Get well soon, Poem!

Duuh, saya pegel nih duduk dan ngetiknya. Udah dululah, saya mau istirahat dan nonton film-film baru di laptop. Eeeeh mau nonton bola juga sih, piala dunia. Tapi enggak tau deh, mau ngelus-ngelus suami dulu aja biar cepet sembuh dan bisa ngajak saya jalan-jalan lagi. Okesip. *enggak penting*

Terima kasih sudah sudi mampir dan membaca cuap-cuap basah yang menyia-nyiakan ini. 
Salam fifa world cup 2014. Salam pilpres 2014. Salam hujan bulan juni. Salam bulan ramadhan dan lebaran. Salam revisian dosen. Salam sidang skripsweet dan wisuda. Salam mudik dan liburan. Salam untuk waktu musiman semacam ini. Salam sayang untuk kelahiran yang sebentar lagi terjadi. Wassalam.

_tertanda : Mother of Alien(s)_

 

Sabtu, 19 April 2014

Perempuan, Fetus dan Parenting

Pulang dari karawang tanggal 6 april lalu, saya mendapat banyak bekal dari ibu mertua. Ibu meminjami saya sebuah buku berjudul "Miracle at Home" - Keajaiban dalam rumah Berdasarkan Kisah Nyata (cara mudah penerapan teknik parenting untuk mengubah perilaku buruk anak dalam waktu relatif singkat dan mencapai kebahagiaan dalam keluarga) karya Dr.Zulaehah Hidayati. 

Dari buku tersebut banyak yang saya dan suami dapatkan. Belum selesai membacanya sih, baru sebagian, tapi sudah banyak pelajaran yang dibagikan tentang proses mengasuh anak dan memperlakukannya di rumah.

Selain buku parenting, tahun lalu juga ibu memberi sebuah buku berjudul "Ensiklopedi Wanita Muslimah" karya Haya binti Mubarok Al-Bark. Dari buku ini saya juga banyak mendapat wawasan tentang perempuan. Terdiri dari :
- kedudukan wanita sebelum dan sesudah islam
- akidah islam (akidah islam, hasil dan manfaat dari akidah)
- fikih wanita muslimah (thaharah/bersuci; shalat; zakat; puasa; haji dan umrah; nikah)
- akhlak wanita muslimah
- ragam ihwal wanita muslimah
- ibu hamil, merawat bayi dan pola mendidik anak
- pilihan nama-nama anak (anak laki-laki dan anak perempuan)
- doa doa keseharian.

Subhanalloh, betapa mulianya menjadi perempuan. Banyak yang harus saya dan suami pelajari untuk menjadi orang tua. Alhamdulillah, kami menyicil sejak tahun lalu dengan bacaan-bacaan semacam ini, terlepas dari pengalaman yang didapat berdasarkan aktivitas langsung dengan saudara-saudara kami terutama ke empat kakak saya yang sudah berumah tangga dan memiliki anak.

Buku-buku ini sangat membantu kami menambah wawasan. Di samping itu, beruntunglah kami diberi beberapa video parenting dan perkembangan anak dari salah satu dosen di kampus yang mengajar ilmu kebahasaan, terutama proses pemerolehan bahasa anak.

Saya dan suami sesekali rajin menonton youtube tentang proses pembentukan janin, aktivitasnya di dalam perut, proses melahirkan sampai memandikan dan membedong bayi yang baru lahir, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. Dari sekian banyak video tentang bayi di youtube, salah satu yang membuat saya takjub adalah video Keadaan Janin Ketika Al-Quran dibacakan. Menontonnya  membuat hati saya bergetar, merinding dan hampir menitikkan air mata. Entahlah terkesan lebay atau bagaimana, tapi saya senang menyaksikannya. Saya merasa sangat tentram melihat aktivitas janin dalam video tersebut ketika dibacakan al-quran, apalagi posisinya tampak seperti tengah bersujud kepada Allah swt. Ya Allah, saya hampir menangis menontonnya.

Berikut link video tersebut, semoga bermanfaat bagi kita calon orang tua terutama bagi calon ibu :

http://www.youtube.com/watch?v=SayHSDO6wF8

Ada juga beberapa kalimat bermakna yang saya dapat dari sebuah video di youtube :

Jika anak hidup dengan kritikan
ia akan belajar mengutuk
jika anak hidup dengan kekerasan
ia akan belajar melawan
jika anak hidup dengan ejekan
ia akan belajar untuk menjadi pemalu

Jika anak hidup dengan dipermalukan
ia akan belajar merasa bersalah
jika anak hidup dengan toleransi
ia akan belajar bersabar
jika anak hidup dengan dorongan
ia akan belajar percaya

Jika anak hidup dengan pujian
ia akan belajar untuk menghargai
jika anak hidup dengan tindakan yang jujur
ia akan belajar tentang keadilan
jika anak hidup dengan rasa aman
ia akan belajar mempercayai

Jika anak hidup dengan persetujuan
ia akan belajar untuk menghargai dirinya
jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan
ia akan belajar untuk menemukan cinta di muka bumi ini.


Sekian, semoga bermanfaat dan memberikan kebaikan bagi kita semua.
Wassalam.

Kamis, 17 April 2014

Wedding Story


Tahun 2014 adalah tahun di mana saya sering melakukan perjalanan jauh. Berpetualang dari satu daerah ke daerah lain, membawa seonggok daging yang bersarang dalam tubuh saya. Kelak, daging ini akan tumbuh dewasa dan menjadi sulung yang tangguh. Seperti yang pernah diramalkan Tuhan. Keluarga saya menggelar resepsi pernikahan tanggal 29 maret 2014. Di mana hubungan kami diresmikan di mata seluruh orang. Kali ini bukan pertemuan dan perayaan dua keluarga lagi, tapi seluruh orang yang merasa berkepentingan dan peduli terhadap kami.

Bulan maret sampai april, selepas ujian proposal, saya dan suami mengalami banyak perjalanan. Mulai dari Bandung-Cicalengka, Bandung-Cirebon, sampai Bandung-Karawang. Terlepas dari beberapa perjalanan ASAS untuk mengisi acara, yang cukup memakan tenaga dan waktu rehat kami. Selama beberapa kali hal tersebut terulang, laiknya sepasang kekasih yang berpetualang di tengah rentetan kesibukan. Well, kami tetap melakoninya dengan santai. 

Menikah muda? why not?

Tapi siapa sangka dulu saya pernah mengusung prinsip untuk tidak berpacaran sebelum selesai kuliah? Prinsip itu saya usung matang-matang ketika duduk di bangku menengah pertama. Hingga beberapa lawan jenis yang menggemari saya harus menunggu kalau-kalau suatu saat saya akan menebas prinsip itu. Dan.. doa mereka akhirnya terkabul. Prinsip itu kandas begitu saya memasuki sekolah menengah akhir. Ckck.

Dulu saya tergolong akademisi sekolah yang anti pacaran. Makanya sejak SD sampai SMP saya banyak sekali memiliki teman laki-laki dalam ikatan "kakak angkat - adik angkat" yang notabenenya mereka pernah menembak saya.

What's wrong? Sudah menjadi hal yang lumrah ungkapan kakak-beradik itu lahir di kehidupan kita. Berawal dari rasa ingin memiliki yang tak sampai, hingga akhirnya hanya berlabuh menjadi ikatan persaudaraan yang direkayasa. Itulah dunia kita.

Kembali ke obrolan awal, saya menetapkan untuk berani mengambil resiko menikah muda.

Why? “Untuk menghalalkan segalanya”

Saya dan suami akan terbebani masalah biaya hidup, modal, dan nafkah lahir maupun batin. Barangkali kelak keluarga kecil ini akan bertambah besar dengan kehadiran beberapa putra dan putri. Aamiin. Tapi kami sudah melakoninya dengan nyaman. Beban tetap ada, dan selalu kami pikirkan untuk mengatasinya selagi kami mampu. Semoga selamanya ikatan ini tidak menjadi beban yang terus dikhawatirkan orang-orang karena konon kami masih tergolong muda dan belum berpenghasilan tetap. Tapi, “setiap manusia memiliki rezekinya masing-masing”, ucap suami saya yang selalu bersemangat dan produktif.

Kami mempunyai sebuah ruang kecil yang padat. Sebuah ruang yang dulunya hanya ditinggali seorang lelaki, sekarang dipadati dengan kehadiran si perempuan. Ruangan ini tidak kecil, tapi tak luas juga, hanya berukuran sekitar 5x4 meter. Kami tetap menempatinya. Menata barang-barang dua penghuni yang beragam, juga perpustakaan pribadi masing-masing yang dirasa banyak memakan sudut dan pojokan.

Memindahkan seluruh barang "seserahan" keluarga mempelai laki-laki ke mempelai perempuan dari karawang ke cirebon, kemudian dari cirebon dibawa lagi ke bandung, rasanya seperti memindahkan rumah beserta isinya. Well, kami tetap strong kok melaluinya. Ya, tubuh kami belum renta, jiwa kami masih muda dan berkobar. Dan kami tergolong manusia-manusia yang pernah berkecimpung di bagian logistik sebuah organisasi kampus. Jadi hal semacam ini sudah sering kami lakukan sebelumnya.

***

Jumat (28/3) pukul 19.00 wib, keluarga dari karawang tiba di cirebon dengan selamat. Bermaksud untuk bermalam di cirebon agar ikut membantu mempersiapkan resepsi esok hari. 

Malamnya sekitar pukul 22.00 atau 23.00 wib, rombongan dari Komunitas Malaikat (Ciparay) yakni Kang Ahmad Faisal Imron (Afi) beserta Teh Lia (istri), ditemani makhluk liar bernama Chandra (aktor teater sekaligus penyair STSI) datang dan bermalam sejenak melepas lelah di rumah kami.

Sabtu (29/3) kami menyelenggarakan resepsi yang sederhana, seperti hubungan kami yang begitu sederhana dan dengan sangat sederhana larung dalam ikatan rumah tangga.

Pukul 07.30 wib keluarga kami dari CD Teater UPI (Jurdiksatrasia 2010) tiba di cirebon. Terdiri dari, Rio sang supir, Juwita si penyemangat supir, dan selir-selir lainnya seperti Dhika, Bang Willy Bob, Bang Marsten, Roby Aji, Uki, Latif beserta pasangan, Debi. Ke sembilan makhluk luar biasa ini datang dengan wajah agak mengantuk karena menghabiskan  pagi buta mereka dalam perjalanan eksotis yang mungkin sangat melelahkan. Pasti. Tampak dari kelahapan mereka ketika sampai di rumah hajat dan langsung disuguhi sarapan bergizi. Hehe.

Pukul 08.00 keluarga suami saya, dari sumedang, batu jaya, dan buah dua pun tiba. Rombongan itu datang dengan berbagai macam ekspresi, melihat cucu, keponakan sekaligus sepupu sulung mereka mengakhiri masa lajangnya dengan makhluk Cirebon yang selama ini hanya mereka kenal melalui media sosial. (-_-) Kehebohan keluarga ini pun berlanjut dengan sarapan bersama yang kami siapkan di mushola keluarga saya (samping rumah) yang sejak tahun lalu dipadati dengan taman bacaan masyarakat (Al-Falah), PAUD, juga Madrasah.

Sekitar pukul 10.00 wib, keluarga kami dari Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS UPI) pun menyusul. Tak kalah lelahnya dengan pujangga-pujangga CD Teater, mereka juga datang dengan perut yang siap diisi berbagai makanan dan selalu tersenyum, berusaha menyemangati acara kami. Mereka terdiri dari, Bang Juple alias Zulfa, penyair pemanen kentang - Bang Isal Syahreza, Willy Rasta si pengiring saya ketika bermusikalisasi, Ketua ASAS yang baru naik - Auf alias Maruf, Fahmi Suck sang supir tangguh, Rangga Gadoel yang kelak juga akan meminang gadis Cirebon yakni adik kelas saya di SMP, dan perempuan blesteran Jawa-Batak yang menggeluti sastra inggris bernama Dinda.

Ba’da Dzuhur, rombongan berikutnya dari Bandung pun hadir. Adik-adik tingkat kami di kampus yang tergabung dalam Hima Satrasia, mereka datang mengendarai sepeda motor. Wow… strong sekali kalian, Nak!

Beberapa saat kemudian rombongan dari Teater Lakon UPI pun tak kalah ambil bagian. Mereka tiba dengan selamat dan masih dalam kondisi utuh. Tentunya mereka datang dengan ciri khasnya yaitu “ngekting alias ngaktor, apa-apa serba di-teater-keun.” Hihi. Kembali, rombongan ini tak kalah lahap dengan Bandung-an lainnya.

Sekitar pukul 14.00  pasangan UKSK datang. Si ketua angkatan 2010, Kelvin atau sering disapa Mas Owo yang baru saja lengser dari jabatannya sebagai ketua UKSK, ditemani kekasihnya, perempuan cantik dari kelas linguistik 2010, Ita. Mereka sengaja datang menunggangi sepeda motor dari Bandung. Mereka tidak hanya datang berdua, beberapa saat kemudian menyusullah aktivis kampus lainnya yakni Kang Ketus alias Restu Nur Wahyudin dan Manarul Ikhsan si bang asem. Pantesan pengurus Hima sekarang strong-strong, wong’ seniornya aja lebih strong.  Singkatnya, mereka menjadi penamat kehadiran tamu-tamu dari Bandung sore itu.

Malamnya setelah resepsi berakhir, pukul 00.00 wib, ketika saya dan suami sudah mengarungi alam mimpi, tiba-tiba terdengar ketukan pintu berulang kali. Ternyata itu adalah kakak sulung saya, alumni FPOK UPI yang saat ini mengajar di SMAN 26 Bandung dan menjadi alasan saya untuk pulang ke Cicalengka. Tanpa bermaksud mengganggu ketenteraman kami yang tengah melepas lelah, ia datang memberitahu bahwa kami kedatangan tamu dari Bandung – lagi. (hah, jam berapa ini?)

Suami saya pun bergegas keluar kamar dan menemui tamu tengah malam itu. And then, tahukah kalian siapa tamu-tamu yang katanya dari Bandung itu? Yap, ternyata mereka adalah gerombolan kelas Dik.C, sebagian besar adalah teman saya di kelas Jurnalistik 2010. Mereka tak kalah hebat dengan rombongan sebelumnya. Malah terkesan lebih strong atau yang paling strong karena melakukan perjalanan - konvoi motor - dari siang hari pukul 14.00 wib sampai menyentuh malam yang lengang pukul 00.00 wib.

Akhirnya, dengan menu seadanya tapi masih segar untuk dimakan, mereka pun melahap hidangan yang kami suguhkan. Setelahnya, mereka rehat sejenak di tengah rumah, membaringkan tubuh mereka di atas karpet dan tumpukan bantal yang kami siapkan. Lalu, setengah jam kemudian, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke rumah salah satu rekan kelas mereka yang letaknya sekitar setengah jam dari rumah hajat. Wow.

Akhirnya, tamu seumuran kami dari luar Cirebon pun habis tepat di perpindahan hari sabtu ke minggu malam itu, terlepas dari silih bergantinya rekan-rekan TK, SD, SMP, SMA, maupun rekan-rekan masa kecil saya di madrasah dan juga pengajian Al-Falah, yang datang dengan ucapan serupa “Semoga Sa-Ma-Wa” kemudian mengabadikan beberapa foto bersama kami.

Finally, Terima kasih untuk kalian yang sudah hadir dan peduli pada acara kami.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tumpahkan di sini. Tapi sekarang saya harus berbenah. Padahal, cerita berikutnya tentang perjalanan kami (saya dan suami) ketika berpetualang ke bandung dan karawang pasca resepsi belum saya ulas. Mungkin lain waktu ketika saya kembali senggang, dan ketika suami saya pulas merehatkan pikirannya setelah semalaman suntuk berkarya seperti sekarang ini, sesekali ia terbangun hanya untuk mengingatkan saya yang duduk keasyikan di depan laptop.

Jangan kebanyakan duduk sila, Bun.” ucapnya sambil tersenyum, lalu tertidur lagi.

Baiklah tuan-tuan dan nona-nona, saya rasa cukup untuk tulisan hari ini. Selebihnya saya hanya mengatakan bahwa kami bahagia dengan pernikahan kami yang tergolong muda ini. Tidak perlu khawatir dengan skenario berikutnya dari Tuhan, kami sudah lama berjaga-jaga. Cukup doa dan dukungan moril dari kalian agar kami bisa menjalani kehidupan ini dengan lebih baik lagi.

Kebahagian milik kita. Kata tokoh Rancho dalam film 3 Idiots juga, “all is well.”
So… just walking on.