Sabtu, 20 April 2013

Cerita Mini


COKELAT PEMBERIAN AYAH
oleh Intan Pertiwi

Ingatanku berpencar ke masa-masa silam. Ada ritual kasih sayang ayah yang selalu kudapati tepat di hari ulang tahunku. Beberapa tahun ke belakang, ketika ayah masih memeluk tubuh mungilku sambil membawa sekotak cokelat kesukaanku. Ayah mendulang hujan di mataku dengan potongan cokelat yang ia hiasi permen kristal dikemas dengan pita merah. Sekotak cokelat pemberian ayah yang tahun ini belum aku dapatkan.
Malam ini adalah dingin tersunyi yang aku rasakan. Entah karena kos-kosan yang sepi, atau karena perasaanku yang kosong tanpa penghuni. Aku dirunjam rindu pada kasih sayang manis yang selalu ayah sematkan dalam sekotak cokelat. Tiba-tiba ayah datang membawa sekotak cokelat. Tapi cokelat itu tidak berbentuk boneka salju melainkan berbentuk burung hantu dan tidak dihiasi permen kristal. Ayah justru membawa kotak cokelat yang dihiasi pita hitam. Aku melayangkan senyum pada ayah, tapi ia meluncurkan gerimis di matanya. Aku sangat terkejut dan langsung memeluk ayah, karena perasaan khawatir, aku pun menangis kencang hingga terbangun. Kudapati ruang kosan yang sunyi, tak ada ayah di pelukanku. Aku memanggilnya, tak ada yang menjawab, hanya suara jangkrik yang semakin mendorong batinku untuk menelepon ayah.
Belum sempat mengambil telepon genggam, ia sudah berdering lebih dulu. Suaranya nyaring, memekikkan telinga dan mempercepat degupku. Aku meraih telepon genggam yang ada di samping bantalku, tampak sederet nomor baru. Saat kujawab telepon itu, muncul suara lirih di dalamnya. Kak Rina menelepon, dia sudah sampai di gerbang kosan. Dia menyuruhku untuk membukakan gerbang. Belum sempat bertanya, telepon terputus.  Tanpa pikir panjang aku langsung keluar dari kamar, kakiku menabrak sesuatu di lantai. Mataku langsung menjurus padanya, dengan gemetar kuraih sebuah kotak berisi cokelat boneka salju dengan hiasan permen kristal dan pita cantik berwarna merah. Aku tersenyum, itu pasti dari ayah, tapi di mana ayah. Buru-buru aku berlari keluar kosan menuju pintu gerbang. Di balik deretan besi kos-kosanku tampak kakak tengah berdiri. Aku membuka kunci gerbang, kulihat tubuh kakak yang layu dengan mata sembap. Kakak langsung memeluk tubuhku erat sambil mengeluarkan isak yang membuat degupku semakin kencang. Ia berbisik pelan, “Mobil Ayah masuk jurang, De. Ayah mengalami kecelakaan saat menuju ke sini.” []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar