COKELAT PEMBERIAN AYAH
oleh Intan Pertiwi
Ingatanku berpencar ke masa-masa silam. Ada
ritual kasih sayang ayah yang selalu kudapati tepat di hari ulang tahunku.
Beberapa tahun ke belakang, ketika ayah masih memeluk tubuh mungilku sambil
membawa sekotak cokelat kesukaanku. Ayah mendulang hujan di mataku dengan
potongan cokelat yang ia hiasi permen kristal dikemas dengan pita merah.
Sekotak cokelat pemberian ayah yang tahun ini belum aku dapatkan.
Malam ini adalah dingin tersunyi yang aku
rasakan. Entah karena kos-kosan yang sepi, atau karena perasaanku yang kosong
tanpa penghuni. Aku dirunjam rindu pada kasih sayang manis yang selalu ayah
sematkan dalam sekotak cokelat. Tiba-tiba ayah datang membawa sekotak cokelat.
Tapi cokelat itu tidak berbentuk boneka salju melainkan berbentuk burung hantu
dan tidak dihiasi permen kristal. Ayah justru membawa kotak cokelat yang
dihiasi pita hitam. Aku melayangkan senyum pada ayah, tapi ia meluncurkan
gerimis di matanya. Aku sangat terkejut dan langsung memeluk ayah, karena
perasaan khawatir, aku pun menangis kencang hingga terbangun. Kudapati ruang
kosan yang sunyi, tak ada ayah di pelukanku. Aku memanggilnya, tak ada yang
menjawab, hanya suara jangkrik yang semakin mendorong batinku untuk menelepon
ayah.
Belum sempat mengambil telepon genggam, ia sudah
berdering lebih dulu. Suaranya nyaring, memekikkan telinga dan mempercepat
degupku. Aku meraih telepon genggam yang ada di samping bantalku, tampak
sederet nomor baru. Saat kujawab telepon itu, muncul suara lirih di dalamnya.
Kak Rina menelepon, dia sudah sampai di gerbang kosan. Dia menyuruhku untuk
membukakan gerbang. Belum sempat bertanya, telepon terputus. Tanpa pikir
panjang aku langsung keluar dari kamar, kakiku menabrak sesuatu di lantai.
Mataku langsung menjurus padanya, dengan gemetar kuraih sebuah kotak berisi
cokelat boneka salju dengan hiasan permen kristal dan pita cantik berwarna
merah. Aku tersenyum, itu pasti dari ayah, tapi di mana ayah. Buru-buru aku
berlari keluar kosan menuju pintu gerbang. Di balik deretan besi kos-kosanku
tampak kakak tengah berdiri. Aku membuka kunci gerbang, kulihat tubuh kakak
yang layu dengan mata sembap. Kakak langsung memeluk tubuhku erat sambil
mengeluarkan isak yang membuat degupku semakin kencang. Ia berbisik pelan,
“Mobil Ayah masuk jurang, De. Ayah mengalami kecelakaan saat menuju ke sini.”
[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar