Tahun 2012 lalu saya mengampu salah satu mata kuliah semester empat yaitu Pergelaran Sastra yang berupa pertunjukan teater. Ketika itu saya dinobatkan oleh anggota kelas untuk menjadi tim kreatif dalam penulisan naskah dramanya. Cerpen yang kami pilih adalah Warna Ungu karya Ratna Indraswari. Tapi, berhubung saya juga tengah sibuk menghadapi resital Teater Lakon ketika itu, akhirnya draft adegan dalam naskah ini belum selesai dan masih setia menjadi penghuni laptop saya. Belum sempat saya publikasikan karena adegannya yang masih gamang. Akhirnya, draft adegan dari rekan saya yang lain telah rampung dan dipentaskan untuk pergelaran sastra kelas. Dan karena kesibukanlah saya meninggalkan tulisan ini yang memang belum saya umbar ke mata semua orang, termasuk rekan dekat saya. Sepertinya saya masih belum berminat untuk melanjutkannya.
Adegan 1
Setting Kamar Luke
Lampu menyorot anak kecil yang membawa papan
bertuliskan tanggal 14 Februari 2000.
Adegan Luke kembali ke rumah setelah tiga hari
hilang
Setting ruang tamu rumah Luke
Luke datang tergopoh-gopoh menuju ruang tamu
tanpa mengetuk pintu. Orang tua dan keluarga sedang duduk di kursi ruang tamu.
Mereka berdiri ketika Luke datang
menerobos kegelisahan mereka.
Mamah Luke : “Luke…..”
Luke : “ Mamah….
Papah….” (sambil memeluk orang tuanya)
Seluruh keluarga memasang wajah heran dan penuh
pertanyaan. Salah seorang keluarga menelepon Indra untuk datang ke rumah itu.
Pakde Luke : “Halo,
nak Indra. Bisakah Nak Indra dan keluarga segera datang ke rumah keluarga kami?
Luke telah kembali. Mungkin ia bisa menjelaskan penyebab dari semua permasalahan
ini. Ya, kami tunggu.”
Papah Luke : “Ke
mana saja kamu? Apakah kamu lupa dengan acara pernikahanmu sendiri?”
Mamah Luke : “Luke,
jelaskan pada mamah apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
Luke : “Maafkan
Luke Mah, Pah, waktu itu Luke…..”
Keluarga Indra datang dengan wajah yang tidak
menyenangkan.
Papah Luke : “Nah,
Indra dan keluarganya telah datang. Ayo jelaskan pada kami.”
Luke : “Waktu itu… waktu itu aku merasa gerah, seorang anak kecil
membimbingku untuk keluar dari rumah ini.”
Indra : “seorang anak kecil? Siapa
dia?”
Luke : “Entahlah, aku berpikir
untuk menghibur anak itu dan kukira dia adalah salah satu anak dari keluarga
besar kita.”
Mamah Luke: “kamu taukan bahwa
keluarga kita tidak memiliki anak kecil selain bayi dari saudara sepupumu? Lagipula
semua anak di keluarga ini sudah tidak pantas dikatakan sebagai anak kecil
karena usianya sebaya denganmu Nak.”
Mamah Indra : “waktu itupun menurut
saya, anak-anak keluarga kami juga tidak berkeliaran menuju kamarmu Nak.”
Luke : “Entahlah. Aku tidak
berpikir sejauh itu, karena aku sangat peka terhadap anak-anak. Apalagi anak
itu terlihat murung. Sehingga naluri kecilku tergerak untuk menghiburnya. Lalu kami
pergi menaiki becak yang parkir di depan rumah, dengan harapan aku akan kembali
tepat pukul 14.00 sebelum menikah. Ini sensasi yang luar biasa. Aku dan anak
kecil itu merasa bahagia, Mah. Kami ke sebuah taman anak- anak minum es krim
dan duduk-duduk di kursi taman. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 16.00.
Aku tersadar bahwa sudah terlambat untuk pulang ke rumah dan anak itu tiba-tiba
sudah pergi entah ke mana, sehingga aku panik dan bergegas mencarinya.”
Papah Indra : “Hey nak, kau nampak
naïf dengan jawaban itu. Apakah kau mengkhayal atau justru kau merahasiakan
sesuatu dari kami?”
Keluarga Indra mengangguki
Pakde Luke : “sebentar, barang kali
Luke belum selesai menceritakannya.”
Mamah Luke : “ayo sayang lanjutkan
ceritamu itu”
Luke : “ya, aku serius dengan
ceritaku ini. Anak itu tetap tidak diketemukan, aku
menangis dan mencemaskan anak itu. Kalau tidak bisa diketemukan malam itu, aku
akan merasa sangat berdosa. Pasti orangtuanya sedang panik mencarinya. Memang,
seharusnya aku melaporkan kehilangan anak itu pada keluarga dan polisi. Tapi
aku merasa ketakutan dan berharap setiap saat anak itu akan muncul lagi dan
kita bersama akan melewati hari-hari yang lebih bahagia. Aku cemas dengan
keberadaan anak itu, Mah”
Indra : “Luke,
sudahlah. Ceritamu itu sungguh tidak masuk akal. Kau terkesan gila dengan
cerita konyolmu itu. Kau sudah menghancurkan semuanya. Pernikahan kita batal
karena keteledoranmu. Aku tidak yakin untuk melanjutkan hubungan ini.”
Luke : “Tapi aku
menceritakan apa adanya. Kalau pernikahan itu tidak jadi, aku tidak bisa
disalahkan. Waktu itu aku dan anak kecil tersebut begitu bahagia dan aku begitu
panik karena tiba-tiba anak itu tidak berada di sisiku. (menunjuk
ke indra) Seharusnya, kamu menganalisa masalah ini terlebih dahulu dengan
lebih tenang, sebelum memutuskan hubungan ini. Kita masih saling mencintai bukan?”
Indra : “cinta? Dengan
kekonyolan ceritamu itu, kau makin nampak tidak layak untuk dicintai.”
Papah Indra :
“Sudahlah, keluarga kami sudah sepakat untuk memutuskan hubungan ini. Maaf
sebelumnya, tapi keluarga kalian telah mempermalukan keluarga kami dihadapan
banyak orang. Apa kata dunia jika seorang Indra yang segagah ini gagal menikah
hanya karena wanitanya pergi tanpa kabar di hari pernikahan mereka?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar