"Yang paling menyebalkan dari sebuah kenangan adalah membiarkannya bebas memperhatikanmu dari jauh. Bersiap kembali, jika memang dibutuhkan. Atau sekadar bertegur sapa, bahwa dirinya masih mengingatmu lamat-lamat."
How come?
('Sept.12)
"Yang paling menyebalkan dari sebuah kenangan adalah membiarkannya bebas memperhatikanmu dari jauh. Bersiap kembali, jika memang dibutuhkan. Atau sekadar bertegur sapa, bahwa dirinya masih mengingatmu lamat-lamat."
How come?
('Sept.12)
Beginilah tubuh kami berpindah tempat dari tahun ke tahun.
Kita tak pernah tahu, di usia ke berapa, kita mampu meraih mimpi yang hakiki.
Memangnya segala mimpi itu hakiki ya?
Tidak juga. Tapi berusaha menggapainya, why not?
Setelah menjalani tugas menjadi seorang guru atau pengajar atau mungkin pendidik juga, saya berkesimpulan bahwa passion dalam diri saya bukan berada di wilayah ini (red:wilayah pengajaran di kelas). Entah mengapa, seolah ruh saya tidak nyaman berada di posisi ini. Lantas apa passion saya? Bingung, saya juga masih merabanya.
Padahal suasana kelas dan sekolah sudah cukup bersahabat, murid-murid sudah segan dan menyenangi pelajaran bahasa indonesia, tapi jauh di dalam kepala saya.. Seseorang meneriaki otak saya hingga nyaris pecah.
Siapa yang berteriak?
Diri saya dari sisi yang lain.
Mau jadi apa dong si saya ini?
Penulis? Nggak deh kayaknya, cuma tulisan ringan yang belum punya ruh. (Tapi masih dipertimbangkan sejauh mata memandang).
Pebisnis? Bukannya dari awal memang cuma pelarian saja ya, sebagai pengisi kekosongan? Heeum, maybe kalau sudah mentok, larinya jadi tukang dagang.
Hehe.
Guru? Sedang dijalani, tapi belum sepenuhnya dari hati. (Mungkin efek masih punya baby yang kudu diurus di dalam rumah & belum rela bepergian lamalama tanpa si baby ini).
Waw, apa kabar anak kedua nanti? Yeay! Bakal mengeram dalam rumah lagi nih kayaknya.
Atau mungkin saya minat berkuliah lagi dan menjadi dosen?
Option pertama setuju, option kedua belum tahu karena masih seputar belajar mengajar. Yap, saya mau belajarnya saja tapi masih belum 'klop' dengan kegiatan mengajarnya. Padahal niat saya menjadi guru 'harusnya' adalah untuk mengamalkan ilmu. Mungkin belum sepenuhnya diniatkan dari hati nurani, ya.
Tapi ternyata lebih asik mengurus anak di rumah loh (red: ibu rumah tangga). Capeknya terlihat, hasilnya pun terlihat, bahagianya tiada dua, pahalanya berlipatlipat. Hihi. Tibatiba muncul celetukan, "mendidik anak sendiri saja dulu sebelum si kamu mendidik anak orang lain." Yes!
Entah karena kelamaan vakum berkarir dengan dunia luar atau karena memang belum menemukan passion.
Apalagi tahun ini jadi tantangan terheboh juga, sih. Meninggalkan bayi di rumah untuk pergi mengamalkan ilmu menjadi guru sekaligus pelatih ekskur Teater di sebuah sekolah islam. Heuheu. Semoga Syahla lekas tumbuh dan berkembang, supaya bisa ikut bunda ke sekolah tanpa digendong terus menerus. Jadi bunda nggak khawatir dengan kondisi kamu :D
Supaya suatu saat bunda rela bepergian tanpa Syahla, karena Syahla sudah bisa main sendiri nantinya dan nggak merepotkan orang lain lagi.
Oh iya, Syahla sedang bersiap menjadi kakak ^_^ Sebentar lagi saya menuju status "mother of two". Dengan demikian, Syahla nggak akan kesepian lagi karena nanti punya adik yang usianya berdekatan. Horeee! *semoga akur dan nggak ributributmulu*
terka menerka...
Kirakira setelah melahirkan, saya berhenti mengajar atau lanjut ya?
Lalu.. kami masih akan tinggal di Karawang atau pindah rumah ke kota lain, atau justru kembali ke Tanjungsari?
Siapa tahu lolos beasiswa luar negeri. Aamiin..
Heu, segala kemungkinan bisa terjadi tanpa didugaduga.
Tak sabar menanti deretan hari esok yang penuh misteri.
Bismillah. Rela melakoni bidang yang sedang digeluti saja dulu-lah, setelahnya, siapa yang tahu? *singsingkan lengan* ~,~
Selamat berhijrah!
Hai... mulai hari senin kami jadi orang karawang yang benarbenar menetap di karawang.
Wowww....
Selamat datang di dunia pendidikan!
Masih ada dua sampai tiga hari lagi menikmati suasana tanjungsari dan bandung.
Bandung... Besok kami datang! Bersiap, packing dan sebagainya. Oh God, saya akan kembali jadi manusia kecoklatan karena panasnya mirip panas di kampung halaman. Heuheu.
Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan jalan yang terbaik untuk keluarga kami ini. Aamiin.
Kadang kau butuh seseorang yang mau mendengar ceritamu, keluhanmu bahkan sampai ocehan tak berguna. Seseorang yang ketika diajak bicara bukan menganggap lawan bicaranya itu sebagai saingan yang mesti dikomentari pendapatnya, mesti dikoreksi tiap tuturkatanya, bahkan selalu dianggap salah dalam berucap. Seseorang yang mau mendengarkanmu dengan pikiran suci dan selalu berprasangka baik di awal tuturan. Tak meremehkan ucapanmu barang sehuruf-pun.
Kadang menjadi orang yang berpikir itu sangat melelahkan. Bahkan lawan bicara kita pun sudah berpikir lebih dulu untuk menyiapkan kalimatkalimat, jawaban, respon dan atau komentarkomentar atas ucapan kita yang mungkin belum juga selesai disampaikan ketika itu.
Oh, God.
I think, i need someone.
Yes, i need.
He isn't my husband.
Maybe..... you.
Saya baru saja mengirim aplikasi lamaran pekerjaan ke email kepala SDIT Lampu Iman di Karawang. Well, itu rekomendasi dari Ibu (mertua saya). Dari kemarin kami ngobrol via whatsapp, Ibu tahu kalau saya kelewat jenuh diam di rumah dan ingin segera mengajar. Beliau merekomendasikan saya untuk ngajar di sekolah tersebut. Alasannya, Syahla tidak perlu masuk daycare karena bisa dititipkan ke Abi. Selain itu, karena jarak sekolah dan rumah Ibu yang sangat dekat. Selain itu lagi.. karena di sana ada adik ipar saya yang masih bersekolah, namanya Nisa. Doi tahun ini naik ke kelas tiga. Ibu sangat berharap kalau saya ingin kerja, lebih baik kami tinggal di Karawang supaya bisa dekat dengan keluarga suami dan Syahla tetap terpantau.
Pertengahan bulan kemarin, saya juga memasukkan aplikasi ke Temasek International School di Bandung. But, saya nggak yakin bakal lolos di sana karena berbagai macam hal. Saya masih takut buat nitipin Syahla ke daycare. Sebetulnya lebih condong buat ngajar di Bandung sih, karena suami juga domisili kerjaannya di Bandung. Mungkin rumah di tanjungsari mau kami jual (itupun kalau laku sesuai dengan harga yang kami pasang). Tapi semuanya bentrok di batin seorang ibu yang nggak bisa jauh berlamalama dari bayi mungilnya. Saya juga masih belum rela dan belum sepenuhnya tega-yakin-percaya buat nyerahin Syahla ke tangan oranglain. Huhu.
Duuuh, jadi dugdugser sendiri. Banyak keraguan buat masukin aplikasi ke berbagai lowker. Aslinya.. Belum rela ninggalin Syahla barang limamenit bahkan berjam-jam :(
Entahlah, tapi sayanya juga pengen ngajar nih. Mumpung materi penguasaan kelas dan teknik pengajarannya masih nempel erat di kepala, takutnya kelamaan di rumah malah bikin tumpul.
Baca? Nulis?
Udah... tapi tetep, pengen bersosialisasi di dunia luar.
Kubu pertahanan otak dan batin saya mulai 'sengklek' dan 'bengkok'. Saya nggak bisa milih mana yang lebih baik. Memang benar-benar kudu solat istikhoroh sesuai saran ibu :') *efek ngobrol panjanglebar sama ibu mertua di whatsapp*
Dari segala kemungkinan, saya lebih milih untuk tetep tinggal serumah dengan suami dan Syahla *di manapun itu nantinya*. Karena bagaimanapun, hidup berumah tangga lebih asik kalau tinggal mandiri dalam sebuah rumah.
Ehya, tetangga di rumah ini juga udah mulai asik *saya dan suami makin ragu buat pindah rumah* ah!
Yaaah, Insya Alloh ada jalan yang terbaik dari segala pilihan ini. Bismillah aja.
Sambil nunggu acc lamaran, mending baca-tulis dan jualan online dulu gih! *ujar batin saya* tibatiba semuanya ditinggalkan setelah melihat tingkah lucu Syahla. ~saya mah gini orangnya.
Selamat tidur!
Ini sering terjadi dalam beberapa kasus menulis. Ketika saya asik menyusun kalimat dan merangkai sebuah alur yang pas, saya merasa karya saya itu bagus. Ya, tidak terlalu buruk. Tapi ketika membacanya ulang di hari lain, saya merasa jijik dan heran terhadap diri sendiri.
"Kenapa tulisan saya begini? Kok alurnya gini sih? Eh, bahasanya terlalu baku. Loh, kok terlalu santai ya?"
Ah, dan sebagainya sebagainya.
Sontak saya tekan tombol ctrl+A+delete. Saya hapus dari blog dan tumblr. Saya biarkan ia mengendap di laptop. Mungkin suatu saat bisa saya ubah sedikit, atau dipoles sampai mulus dan enak dibaca.
Well, apakah itu terjadi cuma pada saya? Kayaknya nggak deh.
Bye!
Lelaki itu.
Ia orang pertama yang nyaris membuatku susah tidur, menangisi segala sesuatu yang sebabnya tak pernah kutahu. Ia gemar bernyanyi, bermain alat musik dan segala tetekbengek yang berkaitan dengan dunia seni. Barangkali cinta; mata yang terpejam dan tak melihat apa-apa selain tubuh dan wajahnya.
Mengakhiri penantian yang sia-sia. Aku berani mengambil langkah untuk menyudahi harapan itu. Kami menjalin hati, tapi selalu gagal mengikat nurani. Kami saling mencinta, tapi terbentur oleh raga yang tak bisa berkata-kata.
"Kenangan; ibarat novel terfavorit. Meski sudah tahu endingnya seperti apa, tapi aku selalu ingin membuka dan membacanya lagi."
Tapi rasa mempunyai masa kadaluarsa!
..hingga pada kehidupan berikutnya, aku menemukan ia dalam tubuh yang berbeda..
Ia lebih mudah bergaul dan senang melontarkan lelucon vulgar dalam imajinasinya. Ia lebih mudah berkatakata dan terlihat lebih dewasa. Tubuhnya lebih tinggi dengan lesung pipit di sebelah kiri. Rambutnya, perpaduan bentuk ikal dan kribo -mirip sepertimu. Suaranya agak berat dan terdengar renyah, nyanyiannya merdu -sama sepertimu.
Bukankah tak baik menyamakan jiwaragamu dalam tubuh orang lain?
Tapi aku benarbenar menemukan sebagian dirimu dalam dirinya. Aku menemukan katakata yang hilang dari mulutmu. Aku menemukan perasaan yang sama seperti kepadamu. Di dirinya, kesetiaan adalah hal yang utama -yang tak pernah kadaluarsa.
Aku melihat masadepan bergemilang indah bersamanya.
Namun tak ada engkau di sana!
Entah ke mana perginya.. Semakin hari, aku melihatnya sebagai sosok yang berbeda dan tak mirip siapa-siapa.
Mungkin cinta;
keberhasilanku memangkas habis masalalu -termasuk dirimu.
Pelaminan, 13-14-15 []
Jangan menyuruhku berhenti;
Mengingat sendisendi tubuhmu yang kaku
Atau sekadar berlelucon tentang kuku di jari kakimu yang bau
Kau selalu berkata,
sulit menemukan tempat untuk mengadu
Lantas aku menjelma rinai gigil yang ngilu
Kerna seseorang merampas malam dariku.
Atau hujan,
Barangkali gerimis yang tetap membasahkan
Seperti mengulang kesaksian mata dan kaki
Sorot dan langkah menuju tubuhmu yang lepas dari genggaman.
Kembali,
Atau zaman lebih dulu mati.
mimpiitumembawakumenujumu;
menujuselseltubuhmu
menyisakanperasaanngilu.
apakahengkauyangtengahdirundurindu
atauakuyangkesulitanmelepasbayangbayang
disuatumalamperpisahansepasanginsan
sedangkitamiripduakububerlawanan
belajarmelepaskenangan.
June, 19. []
Hai... Puan.
Berapa hati yang telah retak oleh ulah dan sikapmu? Adakah kau tahu, jumlah itu sebanding dengan dosa yang kau perbuat karena membuat oranglain sakit?
Entahlah, Tuhan.
Saya tak pernah berani mematahkan hati seseorang, apalagi mereka. Barangkali rasa percaya diri yang tinggi membuat mereka berangsur patah dengan sendiri.
Mengapa setiap peristiwa baru, membuat saya bisa mematahkan hati beberapa orang lelaki?
Ah, Tuhan. Bahkan mukapun tampak biasabiasa saja, perilaku apalagi. Apakah ucapan saya yang lugu, atau justru terlalu mengandung ilmu? Saya terlahir dari sepasang manusia yang luar biasa, semua orang pun begitu saya kira. Jadi apa hebatnya? Toh semuanya sama saja.
Tapi beruntungnya, peristiwaperistiwa itu menambah imaji baru dalam kepala saya. Bermula ketika menjadi mahasiswa baru, berkecimpung di UKM, melakoni drama, jambore bahasa sastra, tour sastra, lego ergo scio, kkn, sampai pada ppl. Di luar kampus bahkan terjadi interaksi seperti itu -tak sengaja mematahkan hati lagi- ketika berkegiatan dengan komunitas lain.
How come?
Sampai ada beberapa rekan perempuan yang mengira saya "perempuan pecicilan" hinggap dari satu hati ke lain hati tanpa mau terikat.
Itulah sebabnya.
Kedekatan yang terjalin dengan lawanjenis; anggapan bahwa kami hanya berteman baik atau mungkin bersahabat, dipatahkan oleh sesama jenis.
Pada akhirnya keresahan itu larung dan berlabuh di satu nama.. -yang saat ini resmi memboyong hidupku.
Mengingat beberapa peristiwa dan mengawetkannya dalam bentuk katakata, hanya itu yang bisa dilakukan untuk membuatnya abadi.
Terlalu baku dan kaku menceritakan hal semacam ini. Lain kali saya akan menceritakan hal yang lebih berbobot lagi. Mungkin tentang pernikahan, proses kehamilan, proses melahirkan hingga proses merawat bayi dan berumahtangga. Ah, semuanya tumpah dalam kepala dan sulit lagi untuk dipungut kemudian dirangkai menjadi peristiwa yang berharga.
Atau mungkin saya akan bercerita tentang jabatan sebagai ibu negara (maksudnya, istri dari seorang ketua / seseorang yang pernah menjabati sebuah organisasi dan komunitas. Atau mungkin sebagai bendahara yang merupakan anggota perempuan satusatunya yang tersisa dari satu angkatan di organisasi dan komunitas tersebut?) Ya, banyak yang ingin diluapkan. Tapi saya tidak punya banyak waktu 'berkualitas' untuk menuliskannya. Ini pun hanya sebatas ocehan tak berbobot dan tak mengandung banyak wawasan. Hanya catatan kedua setelah memori otak saya yang mulai kadaluarsa kelak.
Baiklah, berapa banyak hati yang telah saya patahkan? Waaah, sombong sekali perempuan ini! (anggapan tersebut pasti ada). Ya, saya sudah meminta maaf pada beberapa orang, tapi mungkin masih ada yang belum terjamah oleh ingatan.
"Hati itu memilih, bukan dipilih. Jatuh cintalah pelanpelan, jangan sekaligus. Berat nanti.." (Pak Wayan dlm Perahu Kertas).
hatihati, Hati!
Hati, hatihati!
:')
Di beranda rumah Jane, Jon menikmati senja dengan semangkuk mie rebus rasa ayam bawang & sejumput cinta yang tertuang dalam sebotol sambal ekstra pedas.
Sembari bercakap-cakap membayangkan masa depan yang penuh rencana, Jane menuang sesendok kopi dan sedikit gula sesuai selera.
"Buatanmu istimewa," ujar Jon tibatiba.
Dituangnya didih air yang mengalir dari termos stainless ke dalam cangkir. Jane mengaduk-aduk kopi hingga larut lalu memberikannya pada Jon.
"Nanti pas resepsi, kita sekalian launching antologi puisi perkawinan ya," seru Jon sebelum bibirnya bersentuhan dengan bibir cangkir dan menyeruput kopi yang mengepul.
Jane tersenyum, pikirannya berlari menuju masa depan.
"Aku mau punya banyak anak," timpal Jon lagi.
Jane nyengir kuda, "Dua cukup".
Jon menggeleng, "minimal lima."
Jane mengernyitkan dahi, menatap heran sosok lelaki yang tak peduli pada aturan pemerintah.
"Kalau begitu, tiga saja." Lagi-lagi Jane bernegosiasi dengan calon suaminya itu.
"Kenapa cuma tiga?" Selera makan Jon terhenti, menunggu mempelai wanitanya memberi penjelasan yang tepat.
"Kalau kita punya tiga anak. Aku bisa mengusulkan tiga nama yang baik," ujar Jane penuh semangat.
"Siapa saja?" Jon mulai antusias merespon Jane.
"Anak pertama bernama Ilo, anak kedua bernama Vey dan anak ketiga bernama Ou." Jelas Jane, singkat.
"Artinya apa?" tanya Jon memicingkan mata.
"Pokoknya itu nama yang terbaik!" Jawab Jane sekenanya.
"Kok?" timpal Jon.
"Iya.. jika disatukan, ketiganya akan membentuk kalimat istimewa. Ilo-Vey-Ou yang berarti i love you!" Jane tertawa girang meski Jon baru menyadari setelah
tawa kekasihnya itu reda.
Percakapan terus berlanjut hingga matahari larut dalam perut bumi. Jane mengantar kekasihnya menuju vespa 66 yang terparkir di halaman rumah. Setelah
berpamitan dan memastikan tubuh lelakinya lenyap dari tikungan gang, Jane berjalan ke beranda rumah dan membereskan sisasisa jamuan yang nyaris habis.
Diambilnya cangkir Jon, mata sayu Jane mulai mengamati ke dalam cangkir. Ia tersenyum senang lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Ia mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya pada Jon.
"Hei, tahu tidak?
Aku menemukan sesuatu!
.....
Ada cinta ketinggalan di dasar cangkir kopimu, Jon!" [] ♥
[catatan singkat sebelum tidur, sambil membayangkan deretan hari esok yang melambai-lambai, karena Jon akan segera sidang skripsi bulan ini! Eureka! Semoga kali ini serius..]
Hari itu, aku menerjemahkan kata-kata dalam kehidupan nyata. Inilah adanya, agustus 2013 lalu. Nyaris dua tahun sudah segalanya berlalu tanpa rekayasa. Tak sabar menunggu kejutan demi kejutan berikutnya. I miss you all my besties.