Tahu tidak, hari ini saya kembali nonton AADC di laptop. Tepat ba'da zuhur tadi saya iseng (lagi) ngeklik folder film yang sudah beberapa tahun jadi penghuni laptop saya, dan akhirnya kembali menonton film yang sudahsudah.
AADC - ingatan persahabatan yang dulu pernah saya alami kembali menyeruak di kepala. Semasa SMP saya punya geng, bukan geng brutal, tepatnya geng belajar.
Adalah Geng Munir yang punya akronim Geng Mudah Nyengir. entah karena kepolosan dan keluguan kami atau bagaimana, sampaisampai lahirlah nama geng yang akronimnya sangat rancu ini. *hehe
Satu lagi, Geng Munir terbentuk ketika kami menduduki kelas 9 yang terdiri dari empat orang lelaki dan tiga perempuan - salah satunya saya. Persahabatan dimulai ketika kami resmi menjadi pengurus OSIS. Saya yang dipercaya warga SMP menjadi wakil ketua OSIS pun akhirnya bisa merasakan kembali namanya persahabatan.
Yup, mengapa ada ungkapan "merasakan kembali" ? karena sebelumnya, tepat kelas 8, saya memiliki sebuah geng lain yang tak sengaja terbentuk lantaran kebersamaan yang sering dilakukan. Saya memiliki enam orang teman perempuan yang resmi mengajak saya bergabung dalam sebuah geng bernama "SEGHA" akronim dari Seven Girls Happy. - lebih baik dari nama geng semasa kelas 9. *hehe
Ada beberapa cerita menarik dan masamasa keren ketika saya tergabung dalam geng-geng kece ini. *hahaha
Tapi bukan sekarang, nanti - setelah saya selesai membuat pulau, pasti cerita ini berlanjut.
enough! - gelisahnya mulai reda, nanti saya sulut lagi supaya blog ini bisa penuh. Ok.
bye bye ~
Jumat, 19 April 2013
Ocehan
malam ini judulnya "kangen" - seperti lirik lagu dewa 19 yang diputar ulang terus menerus di laptop sampai saya tidur nanti (pas x-factor udahan).
malam ini saya rindu, tapi entah rindu yang seperti apa. saya juga kebingungan mencari penawar dari penyakit akut ini. selain bertemu dan bersama kamu, apalagi coba yang bisa ngobatin penyakit musiman semacam ini? jawabannya - entah! hahaha.
malam ini kamu pamit, aku diam.
aku pamit, kamu diam.
(kaya lirik lagu d'massiv ~lalalala...)
kami berpisah dengan sederhana, sebelum langit tunggang gunung, sebelum burungburung pulang ke kandang biangnya, sebelum ada yang mengakut di tubuhmu, kami berpisah dengan sederhana.
tepat di kota ini
angin membaca perih rindu yang jauh
menyepuh luka, melambaikan rupa
semacam ritual di musim cinta
kita mengakhiri percakapan sembari menyulut kenangan
lalu menghadiahi malam dengan rimbun kerinduan yang nanar di pikiran
- kegelisahan yang berujung pada ocehan -
2013, Penamat Kata untuk Poem.
malam ini saya rindu, tapi entah rindu yang seperti apa. saya juga kebingungan mencari penawar dari penyakit akut ini. selain bertemu dan bersama kamu, apalagi coba yang bisa ngobatin penyakit musiman semacam ini? jawabannya - entah! hahaha.
malam ini kamu pamit, aku diam.
aku pamit, kamu diam.
(kaya lirik lagu d'massiv ~lalalala...)
kami berpisah dengan sederhana, sebelum langit tunggang gunung, sebelum burungburung pulang ke kandang biangnya, sebelum ada yang mengakut di tubuhmu, kami berpisah dengan sederhana.
tepat di kota ini
angin membaca perih rindu yang jauh
menyepuh luka, melambaikan rupa
semacam ritual di musim cinta
kita mengakhiri percakapan sembari menyulut kenangan
lalu menghadiahi malam dengan rimbun kerinduan yang nanar di pikiran
- kegelisahan yang berujung pada ocehan -
2013, Penamat Kata untuk Poem.
Senin, 15 April 2013
Minggu, 14 April 2013
Sajak Kehilangan Tuan
Semacam penyakit musiman yang datang ketika tidak ada lagi persuaan.
semacam rindu tapi berakhir jemu.
semacam cinta tapi berakhir lara.
untuk dua hari tanpamu, aku bisa, meski mata berkacakaca.
Semacam ritual pemanggil cinta;
kau yang duduk di sebuah dipan
dengan tubuh menghadap selasar jalan
ditemani bakau yang mengepul perlahan
sembari menyulut rinai-rinai kesakitan.
Dari tempat berbeda
aku membayangkanmu berdiri menopang jemu
bersiap menyisipkan segugus pilu
sembari berurai kenangan dan haru
lantas berkata,
"Padamu, kukembalikan sebait rindu"
untuk Poem yang dua hari ini hilang dari pandangan
untuk Poem yang selalu aku rindukan
untuk Poem yang kuanggap sebagai pahlawan
ini sekadar sajak tak bertuan
tidak memiliki rasa yang menakjubkan
ini sekadar ungkapan kasih sayang
sebelum tiba hari pertemuan
[April 2013, Intan Pertiwi]
semacam rindu tapi berakhir jemu.
semacam cinta tapi berakhir lara.
untuk dua hari tanpamu, aku bisa, meski mata berkacakaca.
Semacam ritual pemanggil cinta;
kau yang duduk di sebuah dipan
dengan tubuh menghadap selasar jalan
ditemani bakau yang mengepul perlahan
sembari menyulut rinai-rinai kesakitan.
Dari tempat berbeda
aku membayangkanmu berdiri menopang jemu
bersiap menyisipkan segugus pilu
sembari berurai kenangan dan haru
lantas berkata,
"Padamu, kukembalikan sebait rindu"
untuk Poem yang dua hari ini hilang dari pandangan
untuk Poem yang selalu aku rindukan
untuk Poem yang kuanggap sebagai pahlawan
ini sekadar sajak tak bertuan
tidak memiliki rasa yang menakjubkan
ini sekadar ungkapan kasih sayang
sebelum tiba hari pertemuan
untuk Kekasih yang ditinggalkan;
Poem - Lelaki penyulut rindu
[April 2013, Intan Pertiwi]
Kamis, 11 April 2013
about First Love "a little thing called love"
Malam ini saya berencana menyusun beberapa berita yang sudah saya siapkan bahannya. Tapi nasib berkata lain. Mendadak jari saya memainkan kursor ke arah folder film yang ada di laptop kesayangan saya ini. And then, I find it! yup! First Love, sebuah film yang udah bikin hati saya terenyuh (lagi). Udah berapa kali nonton film ini yaaa? anehnya saya gak pernah bosen dan film tersebut resmi menjadi penghuni tetap laptop saya!
Ini kali ke sekian saya sering berimajinasi liar. Entah kenapa tiap kali kelar nonton film tertentu (biasanya drama romantik) mendadak pikiran saya berlari-lari menggapai masa silam. Saya seolah diajak kembali buat mengulang beberapa tahun ke belakang. Sebuah pikiran liar yang mengembalikan ingatan saya tentang seseorang. Who? "Someone"?
Pernah gak sih kalian memisalkan sesuatu. Yup, misalnya beberapa karakter tokoh yang ada di ceritacerita tertulis atau bahkan film yang kamu tonton tibatiba menjelma orangorang yang pernah ngisi hidup kamu? hahaha.
Saya langsung ngangguk kalau ada yang nanya gitu. Kenapa yah? Jawabannya simpel. Saya terlalu mendalami sesuatu yang telah saya alami, sampaisampai hal tersebut sering berlarian di ruang gerak saya.*uhuk
It's about you! about him, about her, about them, about us, about all - called love!
Semua itu berkelindan di dalam kepala saya. Kadang bikin saya tertunduk lemah, tapi gak jarang juga bikin saya sumringah. Perasaan semacam "dejavu" itu kayaknya hadir, padahal kadar kemiripannya enggak utuh kok. Yaaa, namanya juga "fiksi belaka". Tapi saya rasa ini juga dialami oleh kebanyakan orang, menyamakan tokoh dalam film atau novel dengan kehidupan nyata dirinya. Hoho.
Terdengar lucu, tapi tulisan ini belum sampai pada inti pembicaraan saya kok! Sayangnya arloji berputar sangat cepat. Tepat dua belas dua puluh dua, dan tiba waktunya saya untuk membuat pulau. Oke, ini cuma intermezo aja. Next time, saya mau nulis kaitan film A Crazy Little Thing Called Love dengan kehidupan remaja saya. Uwow. Entah kenapa baru sempet nulis catatan ini setelah beberapa kali nonton filmnya. Awal nonton film tersebut saya terlena untuk tidak melakukan apaapa terhadap alur filmnya. Tapi baru kali ini saya gelisah setelah nonton lagi, akhirnya nulis catatan usang ini deh.
Ok Guys, I think enough. See you next time!
- hal kecil yang disebut cinta -
sedikit saya kutip terjemahan dari soundtrack penutup film Thailand ini :
bisakah kau dengar itu?
hatiku
apakah memberitahumu bahwa aku mencintaimu
tapi aku tidak bisa mengungkapkan rasa sejatiku untuk siapapun
bisakah kau dengar itu?
hatiku
apakah masih menunggu di sana untukmu untuk membuka
dan aku hanya bisa berharap kau akan tahu itu
bahwa aku satu di sini untuk mencintaimu
semoga kau mengetahuinya
kelak
*First Love - a little thing called love*
Senin, 08 April 2013
Membuat Draft Adegan (2)
Tahun 2012 lalu saya mengampu salah satu mata kuliah semester empat yaitu Pergelaran Sastra yang berupa pertunjukan teater. Ketika itu saya dinobatkan oleh anggota kelas untuk menjadi tim kreatif dalam penulisan naskah dramanya. Cerpen yang kami pilih adalah Warna Ungu karya Ratna Indraswari. Tapi, berhubung saya juga tengah sibuk menghadapi resital Teater Lakon ketika itu, akhirnya draft adegan dalam naskah ini belum selesai dan masih setia menjadi penghuni laptop saya. Belum sempat saya publikasikan karena adegannya yang masih gamang. Akhirnya, draft adegan dari rekan saya yang lain telah rampung dan dipentaskan untuk pergelaran sastra kelas. Dan karena kesibukanlah saya meninggalkan tulisan ini yang memang belum saya umbar ke mata semua orang, termasuk rekan dekat saya. Sepertinya saya masih belum berminat untuk melanjutkannya.
Adegan 1
Setting Kamar Luke
Lampu menyorot anak kecil yang membawa papan
bertuliskan tanggal 14 Februari 2000.
Adegan Luke kembali ke rumah setelah tiga hari
hilang
Setting ruang tamu rumah Luke
Luke datang tergopoh-gopoh menuju ruang tamu
tanpa mengetuk pintu. Orang tua dan keluarga sedang duduk di kursi ruang tamu.
Mereka berdiri ketika Luke datang
menerobos kegelisahan mereka.
Mamah Luke : “Luke…..”
Luke : “ Mamah….
Papah….” (sambil memeluk orang tuanya)
Seluruh keluarga memasang wajah heran dan penuh
pertanyaan. Salah seorang keluarga menelepon Indra untuk datang ke rumah itu.
Pakde Luke : “Halo,
nak Indra. Bisakah Nak Indra dan keluarga segera datang ke rumah keluarga kami?
Luke telah kembali. Mungkin ia bisa menjelaskan penyebab dari semua permasalahan
ini. Ya, kami tunggu.”
Papah Luke : “Ke
mana saja kamu? Apakah kamu lupa dengan acara pernikahanmu sendiri?”
Mamah Luke : “Luke,
jelaskan pada mamah apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
Luke : “Maafkan
Luke Mah, Pah, waktu itu Luke…..”
Keluarga Indra datang dengan wajah yang tidak
menyenangkan.
Papah Luke : “Nah,
Indra dan keluarganya telah datang. Ayo jelaskan pada kami.”
Luke : “Waktu itu… waktu itu aku merasa gerah, seorang anak kecil
membimbingku untuk keluar dari rumah ini.”
Indra : “seorang anak kecil? Siapa
dia?”
Luke : “Entahlah, aku berpikir
untuk menghibur anak itu dan kukira dia adalah salah satu anak dari keluarga
besar kita.”
Mamah Luke: “kamu taukan bahwa
keluarga kita tidak memiliki anak kecil selain bayi dari saudara sepupumu? Lagipula
semua anak di keluarga ini sudah tidak pantas dikatakan sebagai anak kecil
karena usianya sebaya denganmu Nak.”
Mamah Indra : “waktu itupun menurut
saya, anak-anak keluarga kami juga tidak berkeliaran menuju kamarmu Nak.”
Luke : “Entahlah. Aku tidak
berpikir sejauh itu, karena aku sangat peka terhadap anak-anak. Apalagi anak
itu terlihat murung. Sehingga naluri kecilku tergerak untuk menghiburnya. Lalu kami
pergi menaiki becak yang parkir di depan rumah, dengan harapan aku akan kembali
tepat pukul 14.00 sebelum menikah. Ini sensasi yang luar biasa. Aku dan anak
kecil itu merasa bahagia, Mah. Kami ke sebuah taman anak- anak minum es krim
dan duduk-duduk di kursi taman. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 16.00.
Aku tersadar bahwa sudah terlambat untuk pulang ke rumah dan anak itu tiba-tiba
sudah pergi entah ke mana, sehingga aku panik dan bergegas mencarinya.”
Papah Indra : “Hey nak, kau nampak
naïf dengan jawaban itu. Apakah kau mengkhayal atau justru kau merahasiakan
sesuatu dari kami?”
Keluarga Indra mengangguki
Pakde Luke : “sebentar, barang kali
Luke belum selesai menceritakannya.”
Mamah Luke : “ayo sayang lanjutkan
ceritamu itu”
Luke : “ya, aku serius dengan
ceritaku ini. Anak itu tetap tidak diketemukan, aku
menangis dan mencemaskan anak itu. Kalau tidak bisa diketemukan malam itu, aku
akan merasa sangat berdosa. Pasti orangtuanya sedang panik mencarinya. Memang,
seharusnya aku melaporkan kehilangan anak itu pada keluarga dan polisi. Tapi
aku merasa ketakutan dan berharap setiap saat anak itu akan muncul lagi dan
kita bersama akan melewati hari-hari yang lebih bahagia. Aku cemas dengan
keberadaan anak itu, Mah”
Indra : “Luke,
sudahlah. Ceritamu itu sungguh tidak masuk akal. Kau terkesan gila dengan
cerita konyolmu itu. Kau sudah menghancurkan semuanya. Pernikahan kita batal
karena keteledoranmu. Aku tidak yakin untuk melanjutkan hubungan ini.”
Luke : “Tapi aku
menceritakan apa adanya. Kalau pernikahan itu tidak jadi, aku tidak bisa
disalahkan. Waktu itu aku dan anak kecil tersebut begitu bahagia dan aku begitu
panik karena tiba-tiba anak itu tidak berada di sisiku. (menunjuk
ke indra) Seharusnya, kamu menganalisa masalah ini terlebih dahulu dengan
lebih tenang, sebelum memutuskan hubungan ini. Kita masih saling mencintai bukan?”
Indra : “cinta? Dengan
kekonyolan ceritamu itu, kau makin nampak tidak layak untuk dicintai.”
Papah Indra :
“Sudahlah, keluarga kami sudah sepakat untuk memutuskan hubungan ini. Maaf
sebelumnya, tapi keluarga kalian telah mempermalukan keluarga kami dihadapan
banyak orang. Apa kata dunia jika seorang Indra yang segagah ini gagal menikah
hanya karena wanitanya pergi tanpa kabar di hari pernikahan mereka?”
Membuat Draft Adegan (1)
Proses Membuat Draft Adegan Pertunjukan Teater
"Sura" karya Dewi Bulan
&
"Etalase Tubuh" karya Sahlan Bahuy
saya mencoba membuat draft adegan baru pada cerpen dan naskah yang sudah ada, belajar menulis dari adegan-adegan ketika berlatih teater. selamat mengapresiasi!
kalimat pengantar dariku :
"Duka hanyalah mentega yang meleleh di penggorengan
panas"
list adegan
- Sura kecil dididik dari keluarga
yang over protektif, menyuruhnya belajar, dan melarang bermain ke luar dengan
anak-anak seusianya.
- Di rumah, ayahnya begitu keras
padanya dan juga ibunya.
- Sura amat dekat dan menyayangi
ibunya. Suatu ketika ibunya mengajak Sura ke sebuah rumah sakit untuk menemani
ibunya berobat. Mulai dari situlah Sura berjanji pada ibunya bahwa kelak ia
ingin menjadi seorang dokter sehingga ibunya tak perlu repot-repot menyisihkan
uang untuk membayar berobat atau sekedar menebus obat yang tak murah.
- Suatu ketika Ayahnya bangkrut
ketika Sura menginjak sekolah menengah pertama. Ayahnya mulai ketahuan sering
main perempuan dan korupsi uang perusahaannya sehingga ia resmi dikeluarkan
dari perusahaan itu dan harus membayar hutang buah korupsinya terhadap uang
kantornya. Ayahnya mulai frustasi dan selalu menghambur-hamburkan uang yang
dimiliki ibunya dan tidak memikirkan keperluan keluarganya lagi.
- Sura tak peduli terhadap hal-hal
tentang cinta yang biasa terjadi pada anak seusianya. Ia begitu jera terhadap
lelaki karena perlakuan keras ayahnya pada ibunya di rumah. Akhirnya ia memutuskan
untuk membenci lelaki dan hanya akan memikirkan pendidikannya saja.
- Sura mendapatkan juara kelas
berturu-turut, namun ia begitu angkuh dan sombong karena kepintarannya itu. Ia
mulai meremehkan teman-temannya dan menganggap bahwa dirinyalah yang paling
pintar.
- Sura beranjak dewasa dengan niatan
menjadi seorang dokter karena citacita yang ia idamkan sejak kecil. Ia gigih belajar
dan mencoba mendaftarkan diri ke beberapa lowongan beasiswa perguruan tinggi.
- Suatu ketika ibunya sakit-sakitan
karena perilaku ayahnya yang tidak bertanggung jawab pada keluarga. Dan ibunya
pun tidak mampu bertahan hidup karena sakit yang mulai kronis itu. Akhirnya sang ibu pun meninggal dunia.
- Sepeninggal
ibunya, Sura pun gagal meraih beasiswa impiannya untuk menjadi dokter karena
ketidakkonsenannya ketika mengikuti ujian seleksi. Ia pun depresi. Ia amat membenci
ayahnya, karena perilaku ayahnyalah yang menjadikan hidupnya berbelok tak
sesuai dengan apa yang ia impikan sejak dulu. Ibunya meninggal, dan ia tak meraih
beasiswa yang diimpikannya. Ia begitu dendam dan membenci ayahnya.
- “mengapa Tuhan tak mencabut nyawa
ayah saja. aku masih membutuhkan ibu, aku tak butuh lelaki pengumbar mani itu.
aku hanya butuh ibu.”
- Sura depresi dan melarikannya dengan mengunjungi diskotik, ia
pulang dan menjumpai ayahnya yang tengah terkapar di ruang tamu sepertinya
selesai bermain judi dan minum alkohol dengan teman-temannya.
- Ayah Sura tak sadarkan diri,
mengira bahwa yang datang itu bukanlah anak semata wayangnya. Ia memeluk Sura,
begitupun dengan Sura yang mulai layu tubuhnya karena pengaruh minuman keras.
Mereka masuk ke dalam kamar dan melakukan hubungan yang melanggar hakekat anak
dan ayah. Mereka bersenggama dalam ketidaksadaran bahwa mereka satu darah
daging.
Adegan 1
Siluet tubuh Sura remaja
dan ibunya di dalam rumah sakit
*Nyanyian Sendu*
Sura : Ibu, aku
berjanji suatu saat aku akan menjadi dokter pribadimu. Sehingga ibu tak
perlu repot-repot ke rumah sakit dan membayar biaya yang tak murah ini.
Ibu : ketika
janjimu amat mulia, maka ibu akan mendoakan itu agar kau mampu melunasinya pada
ibu. Kau harus menjadi orang yang sukses Nak. Pintar, cerdas, dan tidak
melupakan hakikatmu sebagai seorang wanita.
Sura : aku sayang
ibu. Ibu harus berjanji untuk sembuh. Ibu harus sembuh, kuat dan siap mendampingiku
untuk mencapai cita-cita itu.
Mereka berdua
berpelukan. dari belakang terdengar samar-samar suara perempuan yang tertawa
kencang, lalu lama kelamaan menangis.
Adegan 2
Di luar panggung
Mbok Minah : sudah
hampir tiga puluh tahun saya menjadi tetangga setia keluarga Sura. Tapi belum
ada perubahan yang nampak bagi kemakmuran keluarga ini. saya hanya menjadi seorang
saksi bisu atas segala peristiwa yang terjadi dalam keluarga mereka. Tapi saya
peduli terhadap mereka. Ya, karena Ibu Sura amat baik terhadap saya. Ia kerap
meminjami saya uang atau bahkan memberikan makanan dengan cuma-cuma. Untuk
itulah saya masih setia menemani Sura hingga ia dewasa dan menentukan jalan
hidupnya.
Dalam panggung,
ruang tamu. Seorang wanita muda muncul dari arah pintu masuk.
Sura : Ibuuuu...
ibu... (tertawa riang)
Tampak suara ibu
dari arah dapur.
Ibu : iya Nak. Ada
kabar gembira apalagi sayang?
Sura : ibu, aku
bahagia. Suatu kehebatan tersendiri dan aku telah menduga semua Ini Bu.
Ibu masuk ke ruang
tamu, menghampiri Sura dengan senyum bahagianya.
Sura : bu, Sura
meraih juara kelas lagi. Untuk ketiga kalinya sura mendapat penghargaan sebagai peraih rangking pertama ujian nasional di sekolah. Sura bahagia sekali bu.
Ibu : syukurlah
Nak, ibu juga ikut bahagia dengan apa yang kau capai ini. (batuk-batuk)
Pelukan hangat sang ibu dilayangkan ke tubuh Sura.
Setting 1
(Nenek adalah Sura yang telah tua, cerita ini flashback
tentang dirinya dan keluarganya)
Di sini nenek seolah
menjadi tetangga Sura berusia 60 tahun. Ia menjadi saksi bisu atas setiap
peristiwa yang terjadi dalam keluarga tersebut.
Di luar panggung ::
Nenek : “Sura
adalah sebuah nama yang ibunya berikan karena perempuan itu lahir pada bulan
Sura dalam kalender Islam.”
Dalam panggung ::
Sura pulang dari
sekolah, ia bercerita pada ibunya bahwa ia mendapat nilai ujian nasional
tertinggi di sekolahnya dan berkesempatan meraih beasiswa pendidikan di fakultas
kedokteran dengan satu cara ia harus mampu melewati ujian tertulis yang
diadakan oleh perguruan tinggi tersebut. Mendengar itu ibunya sangat bahagia dan
memeluk Sura.
Dari pintu masuklah
ayah Sura dalam kondisi mabuk berat lalu berteriak tidak karuan. Ia mencemooh
perusahaannya, masalah keuangan di perusahaannya hingga menyentuh ranah korupsi
dalam perusahaannya.
Sura dan ibunya
sangat terkejut lalu ibunya mencoba mengajak bicara ayahnya, akan tetapi tak ditanggapi
dengan baik oleh ayahnya. Ia justru memarahi sang ibu dengan kata-kata kasar
bahkan sesekali wajahnya berubah ekspresi menjadi wajah lelaki hidung belang. Ia menggoda istrinya seolah yang sedang berbicara dengannya itu bukanlah istrinya
melainkan seorang PSK. Sehingga dengan genitnya ia merayu dan meminta PSK itu
menemaninya tidur.
Mendengar itupun
ibu Sura menangis. Kemudian Ayah Sura mengeluarkan sebuah surat dari dalam saku
kemejanya. Ibu langsung merampasnya, ternyata itu adalah surat PHK yang
dilayangkan perusahaan tempat Ayah Sura bekerja. Ya, benar saja. Ayah Sura di
PHK karena masalah keuangan yang disalahgunakannya dalam perusahaan tersebut.
Di sana ayah Sura mulai tidak sadarkan diri atas ucapan dan tingkah laku yang ia perbuat.
Sesekali ia tertawa seperti orang gila, dan sekejap ia langsung mencibir tak
karuan.
Ibu Sura sangat
tertekan dengan kondisi itu, ia langsung menangis sejadi-jadinya. Kakinya mulai
berat. Ayah Sura langsung terjatuh dan tergeletak di lantai ruang itu. Sura
yang melihat semua itu ikut menangis dan berusaha meraih tubuh ibunya yang juga
mulai layu dan terduduk lesu di lantai tepat di samping kediaman ayahnya. Mereka
menangis dan meratapi nasib yang menimpa keluarga mereka.
Dari luar panggung ::
Si nenek menangis
lalu perlahan mereda.
“(sedih) Sura yang
malang, Ibu yang malang, (marah) Ayah yang tidak bertanggung jawab. (bingung) Ayah?
Ayah.....(menangis lagi)
catatan :
sampai pementasan ini berlangsung dan detik ini juga, saya belum menyelesaikan rasa penasaran saya dalam membuat adegan baru naskah ini, karena terhambat oleh kesibukan kampus dan aktivitas menulis genre lainnya. Uwow. *fight! L
Minggu, 07 April 2013
Sajak
Sajak Mengenang Ibu (1)
di matamu mengalir sungai
berkelok menempuh seribu tahun perjalanan
di matamu kucium melati
semerbak sampai ujung perhentian
di matamu kutemukan diriku
bersatu sampai akhir zaman
di matamu kutemukan surgaku
di matamu mengalir sungai
berkelok menempuh seribu tahun perjalanan
di matamu kucium melati
semerbak sampai ujung perhentian
di matamu kutemukan diriku
bersatu sampai akhir zaman
di matamu kutemukan surgaku
Selasa, 26 Maret 2013
Filosofi Musikalisasi Puisi "Bahtera Ga1b"
Bahtera Gaib adalah salah satu nama kelas di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2010 yang ada di UPI Bandung. Diberi nama Bahtera Ga1b, karena memiliki kepanjangan "Bahasa dan Sastera Gabungan 1 B". Satu B di sini karena saat itu kami masih menduduki tingkat satu dan semester satu.
Ga1B di sini kerap kami sebut sebagai Gaib agar tidak kesulitan memanggilnya. Sehingga Bahtera Ga1B pun tenar dengan sebutan Bahtera Gaib. *agak alay*
Sedikit rancu karena kami menamainya ketika duduk di semester pertama. Sehingga dalam membuat akronim pun kurang sinkron dengan kepanjangannya. Tapi tak apa, seadanya, justru membuat kami Cetar Membahana Badai .
Saat ini kami sudah melambung berkat nama tersebut. Setidaknya beberapa langkah lebih dikenal warga UPI dari pada kelas lainnya yang tak bernama. Hehe :)
Setelah beberapa bulan memasuki kelas B tersebut, akhirnya seorang pentolan band metal di Bandung yang juga menjadi bagian dari kelas ini, Tedy, menghimpun beberapa anggota dari kelas ini untuk membentuk sebuah tim musikalisasi puisi. Awalnya yang diajak bergabung adalah rekan-rekan dekatnya saja, tapi setelah dirasa kurang lengkap, akhirnya ia mengajak yang lain untuk bergabung.
Tim Musikalisasi Puisi Bahtera Gaib terbentuk ketika diadakannya lomba musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono dalam kegiatan Gebyar Bahasa & Sastra Indonesia (GBSI) Hima Satrasia FPBS UPI yang sengaja diadakan pada bulan Oktober 2010 guna memperingati bulan Bahasa. Terhitung ketika itu usia kuliah kami baru beberapa bulan dari Juni 2010.
Dari kegiatan mendadak tersebut akhirnya tim musikalisasi puisi yang digawangi oleh Tedy ini pun mulai merekrut personil. Awal terbentuk, personil di sini berjumlah 8 orang, terdiri dari :
Tedy (gitar1)
saya-Intan (lead vocal)
Tanti (violin + vocal2)
Irma (vocal3)
Indra (gitar2)
Trisna (gitar3)
Putro (Jimbe)
Fajar (alat musik sederhana-buatan)
Beberapa bulan setelah perform dalam lomba tersebut, terjadi seleksi alam lantaran kesibukan yang tak bisa diganggu gugat. Dua orang personil mengundurkan diri, yaitu Putro dan Fajar. Tersisa 6 orang.
Selama satu tahun kami ber-6 saling melengkapi, setidaknnya ada pemain gitar tetap yaitu Tedy, violin yang dipegang oleh Tanti, dan lead vocal adalah saya (Intan). Paling tidak, harus ada ketiga orang ini, sementara tiga yang lain mulai sibuk dengan aktivitas lainnya.
Selama satu tahun, kami jarang tampil lengkap ber-6. Kadang kami hanya tampil ber-4, jika tidak ditambah Irma, mungkin ditambah Trisna atau mungkin juga Indra. Yang pasti personil tetap dalam tim ini adalah Saya, Tedy dan Tanti. Kami bertiga yang selalu ada untuk perform, baik itu undangan tampil di kampus atau pun di luar kampus.
Beranjak ke akhir tahun 2012 sampai 2013, kami lelah dengan ketidakpastian personil ini karena sejak tahun sebelumnya kami resmi mendapat dosen pembimbing, yakni Bapak Makmur Saadie. Beliau yang menangani keperluan rekaman kami, puisi-puisi yang akan dimusikalisasikan (kebanyakan adalah puisi karya Beliau), juga keperluan tampil di acara-acara.-semacam Manager.
Setelah menimbang berbagai hal, satu orang dari personil kami bernama Trisna mengundurkan diri karena satu dan lain masalah yang sulit dicari solusinya.
Akhirnya, tim musikalisasi puisi Bahtera Gaib sampai saat ini tersisa 5 orang, sudah resmi rekaman dan membuat sebuah album dengan tema "Kisah Perjalanan".
Personil ini saya buat rinci, terdiri dari :
Intan Pertiwi (lead vocal)
Tanti Puspita (violin + vocal 2)
Irma Nurfa (vocal 3)
Tedy Heriyadi (gitar1)
Indra Sukma Falak (gitar2)
Beberapa puisi yang sudah kami musikalisasikan & melambungkan nama kami di antaranya :
1. Akulah Si Telaga (Sapardi)
2. Aku Ingin (Sapardi)
3. Bahasaku (Sides)
4. Kampung Halaman (Hikmat)
5. Lagu Sederhana (Acep Zamzam)
6. Burn (Agus R.Sarjono)
7. Di Zawiyyah (Makmur Saadie)
8. Berziarah Di Hadroh Fatimah Az-Zahra / BDHFA (Makmur Saadie)
9. Kisah Perjalanan (Makmur Saadie)
10. Do'a (3) (Makmur Saadie)
11. Suatu Subuh Menuju Sebuah Masjid / SSMSM (Makmur Saadie)
12. Taman (Chairil Anwar)
Sementara, album pertama kami yang diberi tema Kisah Perjalanan, hanya berisi 6 buah puisi yaitu point 6 sampai 11 saja.
Setelah album kami tersebar di beberapa guru maupun dosen bahasa Indonesia yang ada di Jawa Barat, akhirnya pembimbing kami menawarkan kami untuk kembali melakukan rekaman dengan beberapa puisi yang telah beliau buat. Maka, ter-aransemen-lah beberapa puisi yang beliau suguhkan namun belum memasuki dapur rekaman. Di antaranya :
1. Kenduri Puisi Cinta (Makmur Saadie)
2. Sekuntum Puisi Untuk Sang Nabi (Makmur Saadie)
3. Wajah Indah Sang Nabi (Makmur Saadie)
4. Semesta-Mu (Makmur Saadie)
Sehingga jika ditotal, ada sebanyak 16 puisi yang sudah kami rilis namun sebagiannya belum kami luncurkan dalam bentuk album.
Saat ini, kami juga tengah menggarap beberapa puisi lagi untuk diaransemenkan.
Semakin banyak puisi dan aransemen yang kami buat, semakin banyak pula manfaat yang kami dapat dari hasil peluncurannya.
catatan :
Jika Anda berminat membeli album rekaman kami yang berbentuk CD, silahkan hubungi Facebook saya-tertera dalam blog ini. Atau, kami juga menyediakan mp3 gratis jika memang Anda menginginkannya. Silahkan temui kami di Jurdiksatrasia FPBS UPI Bandung. Kebanyakan puisi yang kami aransemen adalah aliran romantik dan religius. Selamat mengapresiasi (!)
Sedikit berbagi, berikut beberapa lirik puisi karya Dosen Pembimbing kami :
KISAH PERJALANAN
Kisah pertama
semut bermalam di ranting bidara
bermimpi bidadari bermata jeli mutiara
terjaga di gelap malam memandang semesta
elok wajahnya ketika gelap menamparkan cahaya
Kisah kedua
pengembara berjalan menuju senja
lelah dan papa berebah di tanah terbuka
terpesona menatap langit berawan jingga
dan rindunya sampai juga di pintu Sorga
Ini kisahku mengembara di lembah batu
mengais jejak di bongkah waktu
menerka arah dan tanda tidak terduga
tapi sempat menulis sajak cinta
Lalu bermimpi senja yang suci
awan putih turun di kebun ceri
membungkus lembut melambung ke langit sunyi
berselancar aku di jalur pelangi
DI ZAWIYYAH
aku sebatang pohon
ketika hujan kudengar nadi
tik tak jam yang beriring
lewat ranting menuju daun
tak jelas yang terasa
kecuali hujan di dalam kebun
serpihan waktu yang berguguran
lalu kudiam
tak terasa apakah aku ada atau tiada
tetapi ada yang senantiasa
menatapku dari arah tak berhingga
DOA (3)
(debur ombak di laut)
Ya Allah
debur ombak di laut
ialah rinduku
Ya Allah
rinduku menjulang
pucuk-pucuk ombak
menjilat bulan
Ya Allah
rinduku bergemuruh di angkasa
Ya Allah
cinta-Mu menggulung semesta
menjadi seberkas cahaya
Ya Allah
bumi langitku lenyap
digilas cahaya-Mu
Ya Allah
aku tiada
tapi rinduku menjadi cahaya
KENDURI PUISI CINTA
Rindu melancip
di kenduri puisi
puisi cinta yang gaib
berdaulat di hati
Dibakar cinta
hati kita bernyanyi
membenamkan jiwa
di samudera Illahi
Jeritkan cintamu
luapkan rindumu
sampai bulir airmata
menderas diperas cinta
-sekian (!)
Sabtu, 16 Maret 2013
Bersemangat (lagi)
Tulisan saya dimuat.
Rasanya riuh tabuhan di dada ketika melihat nama saya terpampang kembali dalam sebuah koran. Terakhir melihat nama saya masuk di koran itu semasa SMA. Tepatnya di rubrik tokoh-profil. Saya lolos sebagai "Cewek Multitalenta" dalam koran Radar Cirebon.
Saat itu yang saya ingat, saking bangganya ibu membaca, beliau menggunting laman tersebut dan melaminatingnya, lalu terakhir saya mudik ke Cirebon bulan lalu, tulisan itu masih setia bertengger di lemari kaca ruang tamu-rumah Ibu saya. Ya, sebuah tulisan yang di dalamnya terdapat nama dan profil singkat mengenai saya.
Bulan Maret 2013, tepatnya tanggal 14, saya kembali digegerkan dengan hal semacam itu.
Thanks to Inilah Koran.
Setelah vakum dan belum berani mengirimkan sesuatu lagi ke koran selepas SMA, Rabu (13/3) saya terpaksa mengirim tulisan saya ke harian Inilah Koran (Jabar). -terpaksa (?) -tidak bersungguh-sungguh (?) -tidak yakin akan dimuat (?) -pesimis (?) -iseng (?) may be (!)
Sebuah opini yang saya beri judul "Perempuan dan Objek (Karya) Sastra".
Sebuah tulisan yang awalnya saya kirim untuk memenuhi tugas Penulisan Opini dan Editorial di kelas Jurnalistik semester 6. Akhirnya bisa diterima pihak Inilah Koran. Syukurlah. Berarti tinggal menunggu nilai A dari Bapak Dosen. Congrats for me (!)
"Scribo Ergosum - Menulislah, maka kamu ada" - sebuah tema yang diusung untuk diklat ASAS tahun ini.
Wow, bersemangat (!)
Berikut link koran digitalnya :
http://www.inilah.com/ikoran/idxkoran
Rasanya riuh tabuhan di dada ketika melihat nama saya terpampang kembali dalam sebuah koran. Terakhir melihat nama saya masuk di koran itu semasa SMA. Tepatnya di rubrik tokoh-profil. Saya lolos sebagai "Cewek Multitalenta" dalam koran Radar Cirebon.
Saat itu yang saya ingat, saking bangganya ibu membaca, beliau menggunting laman tersebut dan melaminatingnya, lalu terakhir saya mudik ke Cirebon bulan lalu, tulisan itu masih setia bertengger di lemari kaca ruang tamu-rumah Ibu saya. Ya, sebuah tulisan yang di dalamnya terdapat nama dan profil singkat mengenai saya.
Bulan Maret 2013, tepatnya tanggal 14, saya kembali digegerkan dengan hal semacam itu.
Thanks to Inilah Koran.
Setelah vakum dan belum berani mengirimkan sesuatu lagi ke koran selepas SMA, Rabu (13/3) saya terpaksa mengirim tulisan saya ke harian Inilah Koran (Jabar). -terpaksa (?) -tidak bersungguh-sungguh (?) -tidak yakin akan dimuat (?) -pesimis (?) -iseng (?) may be (!)
Sebuah opini yang saya beri judul "Perempuan dan Objek (Karya) Sastra".
Sebuah tulisan yang awalnya saya kirim untuk memenuhi tugas Penulisan Opini dan Editorial di kelas Jurnalistik semester 6. Akhirnya bisa diterima pihak Inilah Koran. Syukurlah. Berarti tinggal menunggu nilai A dari Bapak Dosen. Congrats for me (!)
"Scribo Ergosum - Menulislah, maka kamu ada" - sebuah tema yang diusung untuk diklat ASAS tahun ini.
Wow, bersemangat (!)
Berikut link koran digitalnya :
http://www.inilah.com/ikoran/idxkoran
Langganan:
Postingan (Atom)






