MATERI
KELAS SIAP MENDIDIK (BENGKEL DIRI)
PENGENALAN
HOME SCHOOLING
Pemateri
: Teh Karina Hakman
(resume
materi oleh Intan Pertiwi)
BENTUK
HOME SCHOOLING
dipengaruhi
oleh :
- Kebutuhan pokok
Dalam
kondisi lapang ataupun sempit, kebutuhan pokok harus dimasukkan dalam HS kita.
misalnya
a.
Aqidah – dalam perjalanannya harus memasukkan nilai-nilai Tauhid
b.
Ibadah – pengajaran-pengajaran materi yangg
disesuaikan dengan kebutuhan ibadah anak
c.
Akhlak – ada adab yang harus sedikit
demi sedikit kita sampaikan, tidak bertentangan dengan nilai islamiyah baik
akhlak kepada Allah maupun akhlak kepada muslim lainnya
d.
Jasadiyah – terkait kekuatan fisik dan kekuatan
tubuh (tidak bisa bikin kelas HS yang hanya duduk di tempat dari pagi sampai
sore, harus bergerak)
e.
Tsaqafah – harus ada Tsaqafah2 Islamiyah
yang harus dimasukkan minimal ke dalam kurikulum.
- Keinginan
a.
Harapan orang tua (karena ortu sebagai
kepsek/nahkoda kapal besar) mau dibawa ke mana pendidikan anak kita. Walaupun
nanti kita memanggil guru HS, tetap kita ortu yang memegang pucuk kepemimpinan
(kepsek). Apa yang menjadi harapan kita,
kita turunkan melalui pengajaran-pengajaran pada anak kita di rumah. (ini
kelebihan HS).
-
Merumuskan apa yang menjadi harapan kita
sbg ortu agar jelas diarahkan ke mana anak-anak kita, jangan ikut-ikutan trendi
saja.
-
Bukan hanya harapan ortu yang jadi
pertimbangan, tapi juga harapan anak.
Seiring
dengan anak-anak bertumbuh besar, dia punya bakat dan minat. Bentuk-bentuk HS
juga harus disesuaikan dgn harapan anak2. Ketika anak2 belum bisa menyampaikan,
kita lihat anak kita senang di bidang apa dan senang menggunakan metode belajar
yang bagaimana. Antara harapan anak, minat, bakat, harapannya akan bisa
terakomodasi di HS ini.
HS
hadir untuk mengakomodasi hal-hal yang spesiifk dan unik, berdasarkan keunikan
masing-masing.
b. Ekonomi keluarga
Tiap
keluarga kondisi ekonominya berbeda, jadi HS ini disesuaikan dgn kemampuan
ekonomi keluarganya. Dan ini juga untuk memecah paradigma bahwa HS itu mahal.
Anggarannya selalu berbeda sesuai dengan fase kehidupan kita.
c. Komitmen waktu
Harus
disesuiakan dengan waktu ortu (suami istri)
d. Support system
-
Keluarga yang membantu, misal HS untuk
sang adik, maka dibantu oleh kakak-kakaknya agar termotivasi, oleh bibinya, dan
saudara-saudara lainnya.
-
Suami – sejauh mana suami kita mau
mendukung. Dukungannya bisa all out, parsial, atau sekadar pemberian dana, dll.
-
Mertua dan orangtua kita juga
-
ART juga bagian dari support system kita
-
Semuanya menjadi satu kesatuan untuk
membentuk energi positif pembentukan HS.
KURIKULUM
KELUARGA
- Mempelajari
tahapan perkembangan anak dari berbagai sumber
-
Bentuk kurikulum itu fleksibel,
menyesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.
-
Agar kita tidak terkotakkan dari
pendapat orang, kita juga harus mencari dari berbagai sumber agar kita kaya
akan referensi untuk membentuk kurikulum tersebut.
-
Buku-buku tahapan perkembanagan anak
(psikologi), Tahapan perkembangan anak dalam islam, dan buku2 sekaitan dengan
itu.
- Mengenali anak
dalam tahapan
-
Kedekatan emosi dan interaksi ortu dan
anak menjadi salahsatu hal yang sangat penting. Kuncinya TRIAL AND LEARN
(MENCOBA DAN BELAJAR).
-
HS menjadi sulit ketika kita gak kenal
gimana anak kita.
- Mempelajari gaya
belajar anak
-
Ini melalui proses, gak langsung jadi.
-
Menyesuaikan dengan usia anak.
-
Golden moment hanya bisa kita dapatkan
ketika kita benar-benar memperhatikan apa sih maunya si anak, mengenali
keseharian sang anak, kapan waktu dia bisa duduk dengan konsentrasi yang
tinggi, dll..
-
Gaya belajar anak dan waktu efektif
belajar anak
- Jadwal
-
Misal, datang waktu solat, kita harus
solat dulu, konsep tauhid dan akhlak kepada Allah harus masuk di sana.
-
Misal, optimalkan waktu membersamai anak
dari waktu subuh sampai siang bada dzuhur. Sisanya ba’da dzuhur sampai sore,
anak-anak main dengan sesukanya, kita tetap memperhatikan namun tidak
memberikan arahan penekanan belajar (di sini waktu kosong ortu untuk digunakan
dalam mengerjakan hal/kegiatan lainnya, misal mendengar kajian ilmu, membaca
buku, dll). Ba’da maghrib sampai sebelum tidur boleh dilanjut pemberian materi
dengan metode mengobrol santai.
- Sumber dan
penyusunan materi
-
Memilih orang lain jika kita tidak
mumpuni tentang sebuah materi, misal materi tafsir quran, tahsin, dll, kita bisa
cari guru yang lebih mumpuni untuk anak kita.
-
Waktu untuk penyusunana materinya
disesuaikan saja, ada yang tipenya pekanan misalnya. Ada yang harian, bulanan, dll.
-
Pastikan ketika menyusun materi, harus
memperhatikan apa yang mau ditekankan di bulan itu, misal bulan ini focus pada
ibadah anak-anak, pengenalan Tauhid, dll. Tapi untuk evaluasinya bisa pekanan.
Apa yang kurang dan apa yang harus diperbaiki.
Terkait
kurikulum, misal contohnya, home schooler, Ummu Aiman, beliau punya kurikulum
yang menyesuaikan dengan kurikulum di Australia. Hal itu kita kembalikan lagi
dengan kondisi keluarga masing-masing. Atau ada juga Teh Patra, beliau patokannya
lebih ke durasi (jadwal khusus), misal kurikulum pekanan, dalam sepekan olahraga
harus sekian jam, hafalan berapa lama, dll.
METODE
- Talaqqi
-
Bisa dipakai untuk hafalan, ketika
anak-anak belum bisa baca alquran
-
Kita membacakan sesuatu kemudian anak
mengikuti (mendengarkan murrotal), untuk mempelajari makhraj yang benar setiap
hurufnya.
-
Persurat boleh, perjuz boleh
- Metode
ngobrol/diskusi
-
Salahsatu cara santai untuk kita
kemudian memasukkan suatu nilai / ilmu pengetahuan tanpa sadar tapi lebih masuk
(masuknya ke alam bawah sadar sang anak)
-
Misalnya tentang pengenanlan ALLAH Swt
yang menciptakan, dll. Ngobrol yang berulang-ulang.
- Bermain
Konsep
bahwa muslim itu memang diminta atau diperintahkan untuk bergerak, tidak duduk
intensif dari pagi sampai sore. HS justru salahsatu sarana untuk anak-anak
mengeksplor gerak tubuhnya. Skill mendasar seperti berlari, olahraga
ketangkasan dan kekuatan tubuh lainnya seperti berenang, memanah, bela diri,
dll.
Kita
para home schooler harus mampu mempertimbangkan waktu bermain itu menjadi
penting. Anak-anak yang kebutuhan bermainnya tercukupi, akan mudah masuk ke
dalam materi yang lebih dalam. Artinya banyak proses pembelajaran yang
dilakukan dengan cara bermain. Mengenalkannya melalui permainan, agar anak
menjadi senang.
Dari
bermain itu tercipta hasrat untuk belajar. Awalnya bermain bebas, kemudian
mereka akan lebih terbantu untuk belajar dan duduk fokus. Karena hasrat
keingintahuannya besar. Memahami proses belajar yang dia gak harus langsung
bisa, tapi ada proses memahami belajar yang harus diulang-ulang agar bisa.
- Story telling
(baca buku/tanpa baca)
Bagi
yang bisa memfasilitasi buku, bisa disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga.
Yang terpenting adalah bagaimana kemudian materi yang ingin kita sampaikan itu
akan tersampaikan dengan baik ke anak. Bisa juga kita cari materi melalui
website2 terpercaya, ibunya yang belajar, kemudian disampaikan ke anak-anak.
Bisa bukunya dicicil untuk kebutuhan satubulan ke depan / satu tahun ke depan.
Memanfaatkan buku-buku preorder juga yang harganya jauh di bawah harga normal.
Nanti lama kelamaan ada juga anak-anak yang akan bisa belajar secara otodidak.
(misal sang anak sudah bisa membaca sendiri, ia akan terbiasa dengan membaca
buku yang kita fasilitasi).
- Pemaparan/penjelasan
Ibunya
yang mencari tahu materi kemudian dijelaskan ke anak-anak, dll.
- Studi kasus
Misal
ada kejadian gerhana matahari, jelaskan berdasarkan kejadian dan prosesnya.
- Percobaan
Bisa
banyak kita dapatkan dari berbagai sumber seperti buku-buku, tayangan youtube,
dll, yang membahas tentang percobaan/uji coba/reaksi.
- Rihlah/jalan-jalan.
-
Metode ini sangat efektif karena kita
mengenalkan misalnya pengetahuan tentang keberadaan Allah dengan mengajak
anak-anak kita rihlah ke kebun binatang, mengonfirmasi bahwa hewan-hewan di
sana semuanya adalah ciptaan Allah Swt.
-
Dengan rihlah/jalan-jalan, anak-anak akan
mengenal lebih dalam kondisi masyarakat (ada yang miskin, kaya). Ketika dia
rihlah dia punya wawasan tentang kondisi yang nyata karena melihat secara
langsung. Misal dengan naik angkot, ke yayasan yatim piatu, melihat polisi dan
dokter, dll.
- Praktik keseharian
& 10. Keteladan
-
Penting ketika kita mau membangun
prinsip-prinsip kebutuhan pokok dalam Islam. Hal ini harus ditunjukan oleh
keseharian keluarga. Misal ketika adzan semua aktivitas keluarga harus
berhenti, dan langsung beribadah. Menciptakan kepercayaan terhadap Illahnya.
Dari praktik keseharian dan keteladan, banyak anak-anak pelajari dari kita
sehari-hari, tanpa pemaparan panjang lebar, anak-anak akan otomatis meniru.
Misal ucapan maaf, permisi, tolong, terimakasih, dll.
-
Misal kebersihan; mau dia dibacakan buku
tentang kebersihan sebanyak apapun, tapi kalau pada praktik kesehariannya
orangtua tidak mencontohkan keteladan kebersihan, itu akan percuma, semua
materi yang disampaikan belum tentu akan masuk pada diri sang anak jika pada
praktiknya orangtua tidak ikut andil memberikan contoh tentang menjaga
kebersihan itu. Harus ada praktik keteladanan di rumah tentang kebersihan yang
dilakukan oleh orangtua dan keluarga.
DENGAN BERBAGAI KAPASITAS BIAYA
1. Pengajar
-
Kesesuaian nilai yang kita harapkan (misal
mencarikan guru Quran yang sesuai dan mumpuni)
-
Kesesuaian metode (metode yang sesuai
dengan kondisi anak-anak kita)
Misal
belajar baca oleh ibunya, belajar olahraga dengan ayahnya, dll.
-
Pembekalan materi (banyak baca buku /
belajar lagi, dan ikuti pelatihan2 guna mendalami materi agar ter-upgrade
dengan metode terkini untuk anak-anak kita)
2. Bahan
-
Mandiri (disiapkan/membuat sendiri)
-
External (bisa diambil dari produk/bahan
pembelajaran yang dijual di pasaran/ bisa juga mencontoh dari pemateri home
schooler yang biasa sharing tentang HS nya)
3. Jadwal
-
Waktu shalat (harus diutamakan kewajiban
dalam beribadah sholat)
-
Kebutuhan orangtua (disesuaikan dengan
kebutuhan ortu untuk anaknya apa saja sih, misal satu hari minimal anak hafal 2
ayat quran atau 2 hadist, maka durasi pembelajaran dalam jadwal yang dibuat
harus disesuaikan dengan itu).
-
Jadwal yang dibuat harus disesuaikan
juga dengan materi/metode/pengajar/anak
SOSIALISASI ANAK HOME SCHOOLING
-
Tujuan Sosialisasi
-
Objek Sosialisasi
-
Adab Sosialisasi
LEGALISASI IJAZAH
Ijazah
HS bisa didapatkan dari :
-
Sekolah induk
-
Ujian persamaan
-
Portofolio
-
Ujian Internasional
-
Sertifikat HS Formal
“THERE IS NO ONE BEST
WAY OF PARENTING AND TEACHING. EACH CHILD IS UNIQUE, LIKEWISE FOR EACH FAMILY.”
“Tidak ada satu cara
terbaik yang baku untuk semua anak dalam parenting maupun pengajaran, karena
setiap anak itu unik, dan setiap keluarga itu unik. Sehingga kita tidak perlu
menyamakan standar anak kita dengan standar orang lain.”
Alhamdulillah
selesai juga rangkuman materi pertama kelas siap mendidik dari bengkel diri.
Sampai jumpa di resume berikutnya. Semangat bertumbuh menjadi makhluk Allah
yang lebih baik lagi. Aamiin allohumma aamiin.
Jangan
lupa follow IG @intanpertiwi92 ya!
Makasih banyak ilmunyaaa mbaa..berdaging semua isinya..sangat bermanfaat🤩🤩🤩
BalasHapustantangan aku sekarang ada di support system. karena jujur kalau sendirian ngasuh 2 anak itu cukup kewalahan. apalagi untuk anak yang berbeda usia. beda juga kebutuhannya.
BalasHapusWaahh aq ketinggalan kelas ini.. karena di share.. alhamdulillah jd gak ketinggalan materi.. jazakillah khair
BalasHapusTerima Kasih ilmunya mb
BalasHapusAlhamdulillah, punya simpanan ilmu baru☺ jazakillah Mba
BalasHapusNice sharing
BalasHapusTq mba😊🙏
Alhamdulillah, ada yg sharing ilmu dari kelas siap mendidik bd 😁
BalasHapusNice sharing mba
BalasHapusMasyaaAllah sharingnya paket kumplit. Jazaakillahu khairan.
BalasHapusSemangat homeschooling ya mba, mumpung anak masih kecil cari ilmu sebanyak2nya
BalasHapusWahh kerennn...
BalasHapusTerimakasih atas sharing ilmunya mbaa :)
BalasHapusMasyaAllah mba, ikutan kelas ini juga...
BalasHapusNice sharing mbak.....
BalasHapus