Rabu, 22 Oktober 2014

Tulisan Investigasi

Ketika Prostitusi Dilegalkan

Bandung termasuk salah satu kota yang konon disorot sebagai kawasan prostitusi tertinggi kedua setelah Surabaya. Beberapa tempat yang sudah tak asing lagi di mata masyarakatnya menjadi langganan para lelaki hidung belang yang sengaja datang dengan berbagai alasan. Salah satu tempat yang paling dikenal masyarakat Bandung sebagai tempat prostitusi bernama Saritem.
Pada masa penjajahan Belanda, nama Saritem tersohor sebagai tempat hiburan malam seperti diskotik dan karaoke. Menurut salah seorang pekerja, sebut saja Anggrek, tempat itu didirikan oleh seseorang berkebangsaan Belanda yang sengaja menjadikannya sebagai tempat hiburan orang-orang Belanda ketika masih menjajah Indonesia.  Dinamakan Saritem awalnya karena tempat tersebut terletak di jalan Saritem. Namun karena tempat itu menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat Bandung, maka tempat tersebut sempat ditutup.  Setelah resmi ditutup pada tahun 1998, didirikanlah sebuah pesantren di sana.
Seiring berjalannya waktu, tempat tersebut hadir kembali karena beberapa pekerja seks yang sengaja memunculkannya lantaran sulit mencari pekerjaan di bidang lain. Mereka sudah meyakini bahwa pekerjaan itulah yang mampu mereka lakukan dan bisa menghidupi mereka serta keluarganya. Menurut Anggrek, dipilihnya kembali kawasan itu sebagai tempat prostitusi karena letaknya yang strategis. Akhirnya sekitar tahun 2000, tempat tersebut hadir dengan sebutan lain. Tempat yang dekat dengan sebuah bangunan pesantren itupun kini disebut Gang Pesantren. Konon pengadaan tempat itu sudah mendapat izin dari pihak berwajib kota Bandung, sehingga pihak pesantren tidak berani menggugat keberadaannya. Namun tetap saja ada beberapa orang yang masih senang menyebutnya Saritem.
Anggrek menjelaskan bahwa tempat tersebut kini dikelola oleh orang-orang yang memang mengabdikan diri di sana dan berkaitan dengan kegiatan tersebut, di antaranya para pekerja seks, calo sebagai perantara pelanggan kepada pramunikmat, dan dokter yang sengaja dihadirkan untuk menangani kesehatan para pekerja seks serta pelanggannya. Anggrek juga menyebutkan siapa saja para pelanggan yang datang ke tempat itu. Kebanyakan pelanggannya adalah pekerja kantoran. Tak jarang para pegawai dinas juga mengunjungi tempat itu, sebutlah para polisi dan tentara militer. “Pegawai dinas tidak boleh berkunjung kalau sedang memakai baju dinas,” jelas Anggrek. Sebagian besar pelanggan mengaku berkunjung ke tempat tersebut untuk mencari kesenangan belaka, namun ada pula yang sengaja datang karena sedang stres dengan pekerjaan mereka dan masalah rumah tangganya.
Tempat yang sudah memiliki banyak pelanggan itu dibuka mulai pukul 12 siang sampai pukul 5 pagi dengan fasilitas yang cukup memadai, seperti kamar tidur yang bersih, kipas angin di setiap ruangan serta kamar mandi yang lengkap dengan shower.
Mereka memasang tarif yang beragam dan terjangkau, berkisar antara Rp 100.000,- sampai Rp 500.000,-. Tentu saja pelanggan yang berani membayar mahal yang akan memperoleh layanan terbaik. Pekerja seks yang berumur 25 tahun ke atas memasang tarif mulai dari Rp 100.000,-. Bagi mereka yang baru bekerja di tempat tersebut dipasang tarif Rp 150.000,- sebagai bahan tarif percobaan. Apabila pekerja baru itu mendapat banyak pelanggan, maka tarif yang dipasang pun dinaikkan, tergantung dari kesepakatan pekerja seks dan pelanggannya. Di tempat tersebut bekerja pula para janda muda yang memasang tarif Rp 200.000,-. Sementara para pekerja seks yang bertubuh bagus dan berparas cantik memiliki tarif tersendiri. Di antaranya, bagi mereka yang berusia sekitar 23 sampai 26 tahun memasang tarif Rp 250.000,- dan ada juga yang  berusia 19 sampai 25 tahun yang memasang tarif Rp 300.000,-. Sedangkan tarif termahal sebesar Rp 400.000 sampai Rp 500.000,- dipasang oleh para pekerja seks yang bertubuh bagus, berkulit putih, berparas cantik, dan biasanya mantan model.  Sampai saat ini, tempat tersebut masih ramai dikunjungi lelaki hidung belang yang ingin mencari kepuasan meskipun harus berani membayar mahal tarif yang dipasang.

Catatan :
Tulisan ini ditulis kisaran tahun 2012, untuk itu apabila Anda yang membacanya berada di tahun yang berbeda, mohon perhatikan perkembangan zaman dan aturan yang saat ini sedang berlaku di masyarakat kota kembang, sehingga kita bisa sama-sama memosisikan berita ini sesuai porsinya. Barangkali tahun ini sudah tidak dilegalkan dan atau lain-lainnya. Segala kemungkinan bisa saja terjadi seiring perkembangan zaman dan berjalannya waktu. Terima kasih.

NB :
(Tulisan ini diperoleh dari hasil wawancara salah seorang teman saya bersama seorang pegawai / pramunikmat di tempat tersebut yang kemudian saya transkip ke bentuk tulisan sebagai bahan investigasi sewaktu mengontrak mata kuliah di kelas Jurnalistik angkatan 2010).

Sabtu, 13 September 2014

Musik Pengiring Ketika Menulis

Sedari dulu sudah menggemari musik-musik instrumen film Full House.
Beberapa di antaranya :

Paradiso

 시 (Instrumental)

Too Late

Amazing Love

Selain itu, musik-musik di bawah ini juga berpengaruh loh (bagi saya). Terutama tulisan yang isinya seputar kenangan, kesedihan, masa silam, dan atau sejenisnya. Semacam metode sugesti-imajinasi jika dikaitkan dengan penelitian atau pembelajaran, sih. Ini hanya beberapa dari koleksi musik yang saya sukai. Sebetulnya masih banyak lagi musik-musik favorit untuk menulis. Sekadar berbagi, ya.. hanya beberapalah. Check it!

Stuff We Did

Historia De Un Amor

Kojo no tsuki

And then, masih banyak lagi.
Musikalisasi puisi misalnya? santapan wajib dong!
Karya-karya (puisi) eyang Sapardi Djoko Damono yang sudah banyak dimusikalisasi oleh para apresiator di dunia ini. Di antaranya:

Hatiku Selembar Daun - SDD

Hujan Bulan Juni

Aku Ingin  atau Aku Ingin (versi rekaman)

dan satu lagi yang terfavorit, tapi belum nemu di youtube. Judulnya "Di Restoran".
Kapan-kapan saya unggah ke soundcloud deh.

Setelahnya, saya akan gelisah karena suatu hal yang entah apa. Duet antara pikiran dan hati yang saling meronta, meminta untuk segera diluapkan. What it is? entahlah. Sesuatu yang mengganjal ~ sebuah kegelisahan pada akhirnya muncul tiba-tiba. Maka, “menulislah!”

Setiap orang memiliki perbedaan dalam menyulut ketertarikan serta kemampuannya terhadap menulis. Saya? gelisah dulu, baru menulis. Kegelisahan tidak hanya ditunggu kehadirannya. Kita juga bisa menciptakan kegelisahan itu sendiri. Caranya? cuma masing-masing dari kita yang tahu. Misal membaca, membuka-buka file lama (masa lalu), mendengarkan musik-musik mellow, nonton film drama-romantik, dan lain sebagainya. Ini hanya sebagian dari cara untuk mencipta kegelisahan. Pada akhirnya kitalah yang menjemputnya sendiri, berangkat dengan kendaraan apapun itu.

So… kapanpun kita bisa menulis dong meskipun tidak sedang gelisah?
Memang benar! Menulis itu gampang dan bisa dilakukan kapan saja.
Tapi... tulisan yang seperti apa dulu hasilnya?
Berkualitaskah? Nah! :)

*renungkan! ^_^

Selasa, 09 September 2014

*Favorite Quotes in Perahu Kertas Movie*




 “Gimana kita bisa terus jalan kalau tempat kita berpijak aja beda.”
“Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.”
 “Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.”
“Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.”
“Ada saatnya cinta harus dilepas, tidak digenggam dengan begitu erat. Bahwa ada saatnya kita tidak perlu berlari, tapi berhenti, melihat sekeliling. dan tersenyum.”
“Nyerah sama realistis itu beda tipis..”
“Apa yang orang bilang realistis, belum tentu sama apa yang kita pikirkan. ujung ujungnya kita juga tau kok, mana yang diri kita sebenarnya, mana yang bukan diri kita. Dan…kita juga tau apa yang kita pengen jalani.”
 “Tidak akan ada masa depan bila tidak ada masa lalu. Pengkhianat terbesar adalah harapan kosong. Kenyataan terpahit adalah kenyataan yang tak setinggi harapan itu.”
 “Karena bersamamu, aku tidak takut lagi jadi pemimpi.”
“Dalam hidup, kita harus memilih antara Mimpi dan Realita.”
there’s time where we need to survive and there’s time where we must surrender.”
 
 
 
(catatan : tulisan ini dari blog tetangga, namanya sama-sama Intan ^_^  ini sumbernya >> http://intansearth.blogspot.com/2012/10/perahu-kertas-movie_14.html )

Sabtu, 06 September 2014

finally....

Akhirnya kami melepasmu dengan segera,
setelah dua tahun terakhir kau menjadi benalu dalam hidup kami.
Akhirnya kami rela membiarkanmu terlunta-lunta menghadapi hidup yang rumit ini.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari masa lalu kami.

Ya. Hidup di dunia begitu singkat.
Pergunakan waktumu tanpa kami, mulai sekarang.

Minggu, 31 Agustus 2014

Tulisan Penutup Bulan Agustus

Wow, sudah lama tidak mengisi blog kece ini. B-)

Tadi pagi saya buka-buka fb, tetiba nemu sebuah link yang dibagikan oleh salah satu senior saya di ASAS. Kenapa juga tetiba saya nulis di blog? ya kerna ini! kerna saya ingin membagikan link yang saya baca tersebut.

Sekadar berbagi motivasi, spesialnya buat laki saya yang kebetulan kuliah di jurusan sastra and you know what i mean? saya agak risih dengan orang-orang desa saya (lembur/kampung) yang mungkin enggak terlalu paham tentang sastra itu apa dan ngapain sih kuliah di jurusan tersebut, nanti kerjanya apa, dan.. blablabla blablabla. Barangkali mereka khawatir saya tidak ternafkahi dengan baik. What? saya perempuan yang mau berkarir kok nanti, jadi enggak apa-apa kalau laki saya kerjaannya di rumah, di sebuah ruang kerjanya yang penuh buku-buku laiknya perpustakaan, terus dia standby ngadepin laptop dengan segelas kopi hitam dan rokok kretek. Hihihi. (beberapa orang menganggap ini bukan sebuah pekerjaan? ckck).

Seperti yang pernah teman saya tulis dalam statusnya di fb,
"saya ingin memiliki suami yang tetap berpenghasilan, bukan berpenghasilan tetap."
(saya tidak mau menerjemahkan, silakan pahami baik-baik kata-kata tersebut!)

dan seperti yang pernah dikatakan oleh dosen linguistik saya di kampus,
"carilah laki-laki yang tetap bekerja, bukan bekerja tetap."

Nah...
sekaitan dengan itu, saya punya link yang tadi pagi dibagikan oleh kang Ubai di fb ASAS. 
Nih link-nya :


Setelah baca-baca itu link, saya jadi manggut-manggut sendiri. 
So, what's wrong? Saya sudah memprediksi kalau suatu saat bakal ada yang menganggap remeh jurusan ini. Tapi kembali lagi ke setiap manusianya sih. Kuliah di jurusan lain semisal kedokteran, hukum, matematika, dll, kalau manusia yang ngelakoninnya enggak serius dan enggak bener, tetep aja hasilnya bakal buruk. Jadi jangan salahkan jurusannya ya. 
(iyaaaa...)

Satu lagi buat penutup,  kalimat dari senior yang nyomblangin saya dan WM dulu :

"kata-kata lebih hebat daripada senjata." (hehe)

you know what i mean? yeah.. *sssttt...* ^_^

Sabtu, 19 Juli 2014

Kepada Ia

Jangan pernah mengecewakan keluargamu sendiri. 

Saya sudah, dan sedang tak baik dengan ia (seseorang yang masih kecewa terhadap saya). Kapan akan berlalu? entah. Saya malu untuk menghubunginya lebih dulu, padahal seharusnya tak begitu. Orang yang sejak kecil mengetahui perkembangan hidupmu, mendukung karirmu, memotivasi, membantu, melatih menghadapi kehidupan baru, ia sekarang terasa jauh. Jauh.... bahkan jauh untuk kudekap. Tak ada yang salah dengan pertengkaran kami. Ini adalah bentuk kasih sayangnya pada saya, begitupun sebaliknya. Saya rindu ia - yang masih menimbun kekecewaannya pada saya.

- Maafkan saya, Kak. Semoga lebaran kali ini bisa memusnahkan keegoisan kita masing-masing.

Jumat, 27 Juni 2014

Ours

Untuk apa saya menulis dan berceloteh di dalam blog ini? 
Kenapa tidak membeli buku harian saja seperti zaman sekolah dulu? 

Rasanya kaku menulisi kehidupan sekarang dalam sebuah buku harian, padahal itu adalah kegiatan yang lebih baik ketimbang menulisinya dalam media sosial. Padahal itu adalah kegiatan yang lebih rahasia, daripada mengumbar kehidupan untuk dibaca oleh banyak orang.

Lalu apa untungnya menulis keseharian saya di dalam blog atau media sosial lainnya yang jelas-jelas akan dibaca oleh semua orang?

Ask me something...

Saya menulis di blog ini untuk menarik benang merah antara masa depan dengan masa lalu. Saya tahu, banyak sekali  yang ingin kamu tahu tentang kehidupan kami di sini. Sekalipun berupa ocehan yang menyia-nyiakan waktu, tapi itu bisa menjadi titik acumu untuk menariknya dengan kehidupan-kehidupan yang telah lalu.

Jangan munafik, setiap tulisan yang saya tulis, adalah makananmu  untuk menyusun puzzle masa depan. Saya tak pernah yakin, apakah hal ini akan berhasil atau tidak. Saya baru akan berhenti, setelah kamu benar-benar melarungkan hidupmu pada seseorang kelak. Ketika kamu bahagia dengan orang yang benar-benar bisa menjadi pengganti kami dalam hidupmu. 

Maka biarkan saya terus berceloteh dalam blog ini, sekadar membuatmu merasa bahagia dan tersenyum picik melihat kehidupan kami yang monoton, atau mungkin membuatmu sedih dan gelisah karena mengetahui kehidupan kami yang sekarang jauh lebih baik dan menguntungkan.

Ya, saya akan terus menulis jika sedang gelisah dan memikirkan sesuatu yang aneh. Kecuali jika kamu bosan untuk mencari tahu tentang kami, atau jika kamu sudah berniat untuk tidak melarungkan hidupmu pada seseorang di luar kami selama-lamanya. 

Bisa saja saya berhenti menulisi kehidupan kami dalam blog ini, tapi saya khawatir pada hidupmu. Seolah masa depanmu ada di tangan kami. Seolah masa depanmu juga bergantung pada tingkah laku kami saat ini. Kami peduli terhadapmu, tapi mungkin tak akan lama.

Kami khawatir kalau-kalau kami yang lebih dulu bosan menunggu reaksimu di sana, menunggu kamu memberi kabar bahagia bahwa kamu sudah menemukan orang yang tepat.

Ah, sudahlah. Keputusan ada di tanganmu, sejak dulu saya selalu ingin menanyakan hal ini padamu..

"apa kamu menunggu sampai saya mati, baru kemudian kamu bisa tenang dan rela melarungkan hidupmu pada seseorang lain di luar kami?"


tentu, itu akan kamu jawab seketika dalam tulisanmu yang lain.
Maka biarkan saya tetap menulis, agar kamu bisa merangkai masa depanmu sekarang.
Saya tahu, kamu tidak pernah ingin merasa dikasihani oleh siapapun, tapi untuk masa depanmu yang melibatkan banyak masa lalu kami, saya rasa itu perlu.


Kamis, 19 Juni 2014

Celoteh

kapan terakhir kali kamu menulis puisi?
tepatnya sebulan lalu. Ketika saya benar-benar gelisah, lantas mendaratkannya dengan menulis. Tapi hasilnya kurang indah. Saya rehat menulis puisi sejak bulan itu, kebetulan karena saya ingin fokus pada tulisan lain yang lebih mempertaruhkan nyawa saya di kampus. Ya, si tuan S! - called skripsi. *heem*

kapan terakhir kali kamu menulis cerpen?
tepatnya dua bulan lalu. Ketika saya namai cerita itu sebagai "Cerpen Akhir April" dan melabuhkannya di blog ini. Saya menulisnya dengan tergesa-gesa karena takut kehilangan ide. Pikiran saya begitu padat bulan-bulan ini. Saya enggan membiarkan ide-ide itu mengawang, tanpa parasut untuk mendarat, atau pelampung untuk menepi. Saya ingin ide itu sampai pada tempatnya. Kau tahu, rayap dalam kepala saya hampir beranak pinak. Saya khawatir ia memakan seluruh ide terbaik dalam pikiran saya.

kapan terakhir kali kamu mengoceh di media sosial?
sampai detik ini pun saya masih mengoceh. Entah apa yang saya ocehkan. Rasanya ingin terus berceloteh tanpa ada telunjuk yang menuding bibir saya untuk diam. Sampai kau benar-benar membacanya!

kau? siapa 'kau'?
kau? barangkali adalah saya, bisa juga kamu yang sedang membaca, atau si orang ketiga dalam naskah ini yang entah di mana keberadaannya. Siapapun 'kau', saya ingin kau membacanya.

haaah... sudahlah. Saya mau melanjutkan celoteh ini dalam mimpi. Semoga besok masih ada pasokan ide dalam kepala untuk melanjutkan tulisan akhir saya di kampus.  

Good night!


Senin, 16 Juni 2014

Memorandum

Tiba-tiba saya rindu kedua orang tua, keluarga dan masa-masa terdahulu, sebelum empat tahun lalu saya mendaratkan diri di jurusan yang penuh dengan bacaan sepadat ini.

Tiba-tiba saya ingin bereinkarnasi menjadi siswa kelas 12. Melarungkan gairahnya pada jurusan yang tepat. Seni Musik, baru kemudian Bahasa. Tapi saya memperoleh Bahasa. Sudahlah, ini jalan saya. Barangkali kalau tidak larung ke Bahasa, saya tidak mungkin melanjutkan tulisan-tulisan klise semacam ini. Saya tetap senang, sekalipun passion nomor dua yang saya peroleh. 

Kalau begitu, saya telah bereinkarnasi menjadi bocah TK. Karena saat menduduki taman kanak-kanak itulah, gairah membaca saya mencapai puncaknya. Majalah Bobo, Ino, dan koran-koran yang berisi cerita anak-anak, selalu menjadi teman ketika makan dan sebelum tidur. Ya, meskipun pada kenyataannya gairah bernyanyi dan bermain musik itu sudah tertanam sejak saya bisa berbicara dan berceloteh menanyakan lagu-lagu yang mengalun dari suara merdu ibu. Tapi keduanya bersinergi dalam tubuh saya. Bidang bahasa yang paling saya suka adalah keterampilan membaca dan menulis. Setelah sejak kecil saya dijejali keterampilan menyimak dongeng yang diceritakan oleh ibu, lantas saya menjadi tertarik pada dunia musik ketika ibu menyisipi dongengan tersebut dengan lagu-lagu pendukungnya. Sejak saat itulah saya gemar membaca. Apalagi ibu selalu membawa buah tangan berupa majalah anak-anak dan kumpulan kisah islam untuk anak teladan. Dari sanalah, gairah menulis pun muncul. Menulis cerita diselingi menulis larik-larik lagu untuk mendukung cerita tersebut. Saya senang memiliki pengalaman seistimewa ini. Berkat ibu.

Saya rindu ibu. Rindu dongeng yang ia ceritakan. Rindu suara merdunya dalam bernyanyi untuk mendukung dongeng tersebut. Saya selalu merindukan ibu.

Untuk mengenang dan membayar kerinduan ini, saya berniat menerapkannya pada anak-anak saya kelak. Bercerita atau mendongeng diselingi lagu-lagu lama yang khas dari dongengan tersebut.

Jadilah pendongeng yang baik, ujar ibu.
Ya, Engkau adalah pendongeng sekaligus penyanyi terbaik dalam hidup saya.
Ibu adalah guru pertama yang saya kagumi di dunia ini.

Selalu, seperti peribahasa 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'.
Saya ingin sepertimu, bu. Menjadi perempuan mulia, perempuan multitalenta, yang bisa menjadi apa saja  dan berguna bagi anak-anaknya.



_memorandum dari ibu_

Sabtu, 14 Juni 2014

Edisi Nonton Teater

Akhir bulan kemarin sampai awal bulan ini, di tengah kesibukan saya menggarap ujian dan laporan PPL *tepatnya minggu-minggu lalu*, demi nama ketenangan batin, akhirnya saya memutuskan untuk ikut nonton teater secara berturut-turut. Maksudnya? Akhir mei sampai awal juni adalah hari yang penuh dengan garapan teater. Mulai dari nonton teater di jurusan, yaitu pergelaran sastra dari mahasiswa angkatan 2012 berturut-turut. Pertunjukannya diadaptasi dari puisi karya penyair terkenal, artinya bentuk transformasi puisi ke dalam drama panggung. Kemudian, dua garapan CD Teater yaitu Burried Child dan Mengandung Tuhan. Lalu parahnya lagi, garapan ujian akhir jurusan teater di STSI yang pementasannya berturut-turut juga. *ppffft*

Pertunjukan pertama yang saya dan suami tonton di STSI berjudul Pintu Tertutup. Lalu ada satu hari di mana pertunjukannya hanya sebentar sekitar 20 menit tapi mengocek dompet sebesar 25ribu rupiah perorang sebagai perayaan hari lingkungan hidup sedunia. Pertunjukan tersebut dipersembahkan oleh Teater Payung Hitam STSI Bandung. Kemudian hari berikutnya kami menonton Anna und Martha Sektor Ketiga, lalu berlanjut ke selasar sunaryo menonton pertunjukan berjudul Semangkapati (hanya yang mendapat undangan yang diperbolehkan masuk). Beruntunglah kami punya rekan baik dari STSI, sehingga undanganpun didapat di tempat. ^_^

Selain itu, sebenarnya saya juga mendapat undangan khusus dari siswa SMA Negeri 2 Bandung, tempat saya praktik mengajar. Undangan pertunjukan drama musikal yang dipersembahkan oleh ekskul Rumah Seni di sekolah tersebut. Tapi sayangnya, saya tidak bisa hadir karena cuaca tidak mendukung saya untuk berangkat.

Rasanya puas, di tengah penyusunan Laporan PPL dan revisi bab 1 sampai 3 yang super 'jelimet' dengan dosen pembimbing, saya masih sempat nonton teater yang 'bejibun' itu. Saya merasa seperti bereinkarnasi menjadi mahasiswa tingkat satu yang gemar berapresiasi (lagi). Senangnya!

Di luar, saya dan suami nonton teater yang berturut-turut. Di dalam kamar, kami juga tetap nonton. Tapi nonton film hasil memungut dari laptop rekan-rekan kami. Hahaha. Sampai seorang rekan kami berniat untuk menjual satu softfile film seharga tiga ribu rupiah, saking banyaknya film yang doi koleksi, dan banyak juga para "movie freak" di dunia ini.

Edisi nonton teater cukup sekian. Setelah hari ini, kami tetap berburu tontonan lagi di luar sana. Tentunya tontonan yang pas dengan dompet kami, tapi kebetulan semua pertunjukan yang kami tonton di atas itu adalah pertunjukan gratis, kecuali beberapa yang memang sangat berharga. Yaaa, sebenarnya dalam berkesenian kita dilarang menimbang-nimbang untung rugi uang yang kita keluarkan. Demi harga sebuah kesenian, berapapun harusnya tidak jadi masalah, 'berkesenian kok setengah-setengah' begitulah!

Edisi nonton film akan saya posting di luar wacana ini, supaya lebih terklasifikasi. Hehe.
Baiklah,
salam sastra, salam seni dan budaya,
tetaplah menjadi apresiator jika karya kita ingin juga diapresiasi orang lain.


^_^