Tiba-tiba saya rindu kedua orang tua, keluarga dan masa-masa terdahulu, sebelum empat tahun lalu saya mendaratkan diri di jurusan yang penuh dengan bacaan sepadat ini.
Tiba-tiba saya ingin bereinkarnasi menjadi siswa kelas 12. Melarungkan gairahnya pada jurusan yang tepat. Seni Musik, baru kemudian Bahasa. Tapi saya memperoleh Bahasa. Sudahlah, ini jalan saya. Barangkali kalau tidak larung ke Bahasa, saya tidak mungkin melanjutkan tulisan-tulisan klise semacam ini. Saya tetap senang, sekalipun passion nomor dua yang saya peroleh.
Kalau begitu, saya telah bereinkarnasi menjadi bocah TK. Karena saat menduduki taman kanak-kanak itulah, gairah membaca saya mencapai puncaknya. Majalah Bobo, Ino, dan koran-koran yang berisi cerita anak-anak, selalu menjadi teman ketika makan dan sebelum tidur. Ya, meskipun pada kenyataannya gairah bernyanyi dan bermain musik itu sudah tertanam sejak saya bisa berbicara dan berceloteh menanyakan lagu-lagu yang mengalun dari suara merdu ibu. Tapi keduanya bersinergi dalam tubuh saya. Bidang bahasa yang paling saya suka adalah keterampilan membaca dan menulis. Setelah sejak kecil saya dijejali keterampilan menyimak dongeng yang diceritakan oleh ibu, lantas saya menjadi tertarik pada dunia musik ketika ibu menyisipi dongengan tersebut dengan lagu-lagu pendukungnya. Sejak saat itulah saya gemar membaca. Apalagi ibu selalu membawa buah tangan berupa majalah anak-anak dan kumpulan kisah islam untuk anak teladan. Dari sanalah, gairah menulis pun muncul. Menulis cerita diselingi menulis larik-larik lagu untuk mendukung cerita tersebut. Saya senang memiliki pengalaman seistimewa ini. Berkat ibu.
Saya rindu ibu. Rindu dongeng yang ia ceritakan. Rindu suara merdunya dalam bernyanyi untuk mendukung dongeng tersebut. Saya selalu merindukan ibu.
Untuk mengenang dan membayar kerinduan ini, saya berniat menerapkannya pada anak-anak saya kelak. Bercerita atau mendongeng diselingi lagu-lagu lama yang khas dari dongengan tersebut.
Jadilah pendongeng yang baik, ujar ibu.
Ya, Engkau adalah pendongeng sekaligus penyanyi terbaik dalam hidup saya.
Ibu adalah guru pertama yang saya kagumi di dunia ini.
Selalu, seperti peribahasa 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya'.
Saya ingin sepertimu, bu. Menjadi perempuan mulia, perempuan multitalenta, yang bisa menjadi apa saja dan berguna bagi anak-anaknya.
_memorandum dari ibu_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar