Rabu, 08 Juli 2020

PENGENALAN HOME SCHOOLING

 

MATERI KELAS SIAP MENDIDIK (BENGKEL DIRI)

PENGENALAN HOME SCHOOLING

Pemateri : Teh Karina Hakman

(resume materi oleh Intan Pertiwi)

 

BENTUK HOME SCHOOLING

dipengaruhi oleh :

  1. Kebutuhan pokok

Dalam kondisi lapang ataupun sempit, kebutuhan pokok harus dimasukkan dalam HS kita.

misalnya

a.       Aqidah – dalam perjalanannya  harus memasukkan nilai-nilai Tauhid

b.      Ibadah – pengajaran-pengajaran materi yangg disesuaikan dengan kebutuhan ibadah anak

c.       Akhlak – ada adab yang harus sedikit demi sedikit kita sampaikan, tidak bertentangan dengan nilai islamiyah baik akhlak kepada Allah maupun akhlak kepada muslim lainnya

d.      Jasadiyah – terkait kekuatan fisik dan kekuatan tubuh (tidak bisa bikin kelas HS yang hanya duduk di tempat dari pagi sampai sore, harus bergerak)

e.       Tsaqafah – harus ada Tsaqafah2 Islamiyah yang harus dimasukkan minimal ke dalam kurikulum.

  1. Keinginan

a.       Harapan orang tua (karena ortu sebagai kepsek/nahkoda kapal besar) mau dibawa ke mana pendidikan anak kita. Walaupun nanti kita memanggil guru HS, tetap kita ortu yang memegang pucuk kepemimpinan (kepsek).  Apa yang menjadi harapan kita, kita turunkan melalui pengajaran-pengajaran pada anak kita di rumah. (ini kelebihan HS).

-          Merumuskan apa yang menjadi harapan kita sbg ortu agar jelas diarahkan ke mana anak-anak kita, jangan ikut-ikutan trendi saja.

-          Bukan hanya harapan ortu yang jadi pertimbangan, tapi juga harapan anak.

Seiring dengan anak-anak bertumbuh besar, dia punya bakat dan minat. Bentuk-bentuk HS juga harus disesuaikan dgn harapan anak2. Ketika anak2 belum bisa menyampaikan, kita lihat anak kita senang di bidang apa dan senang menggunakan metode belajar yang bagaimana. Antara harapan anak, minat, bakat, harapannya akan bisa terakomodasi di HS ini.

HS hadir untuk mengakomodasi hal-hal yang spesiifk dan unik, berdasarkan keunikan masing-masing.

b.      Ekonomi keluarga

Tiap keluarga kondisi ekonominya berbeda, jadi HS ini disesuaikan dgn kemampuan ekonomi keluarganya. Dan ini juga untuk memecah paradigma bahwa HS itu mahal. Anggarannya selalu berbeda sesuai dengan fase kehidupan kita.

c.       Komitmen waktu

Harus disesuiakan dengan waktu ortu (suami istri)

d.      Support system

-          Keluarga yang membantu, misal HS untuk sang adik, maka dibantu oleh kakak-kakaknya agar termotivasi, oleh bibinya, dan saudara-saudara lainnya.

-          Suami – sejauh mana suami kita mau mendukung. Dukungannya bisa all out, parsial, atau sekadar pemberian dana, dll.

-          Mertua dan orangtua kita juga

-          ART juga bagian dari support system kita

-          Semuanya menjadi satu kesatuan untuk membentuk energi positif pembentukan HS.

 

KURIKULUM KELUARGA

  1. Mempelajari tahapan perkembangan anak dari berbagai sumber

-          Bentuk kurikulum itu fleksibel, menyesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.

-          Agar kita tidak terkotakkan dari pendapat orang, kita juga harus mencari dari berbagai sumber agar kita kaya akan referensi untuk membentuk kurikulum tersebut.

-          Buku-buku tahapan perkembanagan anak (psikologi), Tahapan perkembangan anak dalam islam, dan buku2 sekaitan dengan itu.

  1. Mengenali anak dalam tahapan

-          Kedekatan emosi dan interaksi ortu dan anak menjadi salahsatu hal yang sangat penting. Kuncinya TRIAL AND LEARN (MENCOBA DAN BELAJAR).

-          HS menjadi sulit ketika kita gak kenal gimana anak kita.

  1. Mempelajari gaya belajar anak

-          Ini melalui proses, gak langsung jadi.

-          Menyesuaikan dengan usia anak.

-          Golden moment hanya bisa kita dapatkan ketika kita benar-benar memperhatikan apa sih maunya si anak, mengenali keseharian sang anak, kapan waktu dia bisa duduk dengan konsentrasi yang tinggi, dll..

-          Gaya belajar anak dan waktu efektif belajar anak

  1. Jadwal

-          Misal, datang waktu solat, kita harus solat dulu, konsep tauhid dan akhlak kepada Allah harus masuk di sana.

-          Misal, optimalkan waktu membersamai anak dari waktu subuh sampai siang bada dzuhur. Sisanya ba’da dzuhur sampai sore, anak-anak main dengan sesukanya, kita tetap memperhatikan namun tidak memberikan arahan penekanan belajar (di sini waktu kosong ortu untuk digunakan dalam mengerjakan hal/kegiatan lainnya, misal mendengar kajian ilmu, membaca buku, dll). Ba’da maghrib sampai sebelum tidur boleh dilanjut pemberian materi dengan metode mengobrol santai.

  1. Sumber dan penyusunan materi

-          Memilih orang lain jika kita tidak mumpuni tentang sebuah materi, misal materi tafsir quran, tahsin, dll, kita bisa cari guru yang lebih mumpuni untuk anak kita.

-          Waktu untuk penyusunana materinya disesuaikan saja, ada yang tipenya pekanan misalnya. Ada yang harian, bulanan, dll.

-          Pastikan ketika menyusun materi, harus memperhatikan apa yang mau ditekankan di bulan itu, misal bulan ini focus pada ibadah anak-anak, pengenalan Tauhid, dll. Tapi untuk evaluasinya bisa pekanan. Apa yang kurang dan apa yang harus diperbaiki.

Terkait kurikulum, misal contohnya, home schooler, Ummu Aiman, beliau punya kurikulum yang menyesuaikan dengan kurikulum di Australia. Hal itu kita kembalikan lagi dengan kondisi keluarga masing-masing. Atau ada juga Teh Patra, beliau patokannya lebih ke durasi (jadwal khusus), misal kurikulum pekanan, dalam sepekan olahraga harus sekian jam, hafalan berapa lama, dll.

 

METODE

  1. Talaqqi

-          Bisa dipakai untuk hafalan, ketika anak-anak belum bisa baca alquran

-          Kita membacakan sesuatu kemudian anak mengikuti (mendengarkan murrotal), untuk mempelajari makhraj yang benar setiap hurufnya.

-          Persurat boleh, perjuz boleh

  1. Metode ngobrol/diskusi

-          Salahsatu cara santai untuk kita kemudian memasukkan suatu nilai / ilmu pengetahuan tanpa sadar tapi lebih masuk (masuknya ke alam bawah sadar sang anak)

-          Misalnya tentang pengenanlan ALLAH Swt yang menciptakan, dll. Ngobrol yang berulang-ulang.

  1. Bermain

Konsep bahwa muslim itu memang diminta atau diperintahkan untuk bergerak, tidak duduk intensif dari pagi sampai sore. HS justru salahsatu sarana untuk anak-anak mengeksplor gerak tubuhnya. Skill mendasar seperti berlari, olahraga ketangkasan dan kekuatan tubuh lainnya seperti berenang, memanah, bela diri, dll.

Kita para home schooler harus mampu mempertimbangkan waktu bermain itu menjadi penting. Anak-anak yang kebutuhan bermainnya tercukupi, akan mudah masuk ke dalam materi yang lebih dalam. Artinya banyak proses pembelajaran yang dilakukan dengan cara bermain. Mengenalkannya melalui permainan, agar anak menjadi senang.

Dari bermain itu tercipta hasrat untuk belajar. Awalnya bermain bebas, kemudian mereka akan lebih terbantu untuk belajar dan duduk fokus. Karena hasrat keingintahuannya besar. Memahami proses belajar yang dia gak harus langsung bisa, tapi ada proses memahami belajar yang harus diulang-ulang agar bisa.

  1. Story telling (baca buku/tanpa baca)

Bagi yang bisa memfasilitasi buku, bisa disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga. Yang terpenting adalah bagaimana kemudian materi yang ingin kita sampaikan itu akan tersampaikan dengan baik ke anak. Bisa juga kita cari materi melalui website2 terpercaya, ibunya yang belajar, kemudian disampaikan ke anak-anak. Bisa bukunya dicicil untuk kebutuhan satubulan ke depan / satu tahun ke depan. Memanfaatkan buku-buku preorder juga yang harganya jauh di bawah harga normal. Nanti lama kelamaan ada juga anak-anak yang akan bisa belajar secara otodidak. (misal sang anak sudah bisa membaca sendiri, ia akan terbiasa dengan membaca buku yang kita fasilitasi).

  1. Pemaparan/penjelasan

Ibunya yang mencari tahu materi kemudian dijelaskan ke anak-anak, dll.

  1. Studi kasus

Misal ada kejadian gerhana matahari, jelaskan berdasarkan kejadian dan prosesnya.

  1. Percobaan

Bisa banyak kita dapatkan dari berbagai sumber seperti buku-buku, tayangan youtube, dll, yang membahas tentang percobaan/uji coba/reaksi.

  1.  Rihlah/jalan-jalan.

-          Metode ini sangat efektif karena kita mengenalkan misalnya pengetahuan tentang keberadaan Allah dengan mengajak anak-anak kita rihlah ke kebun binatang, mengonfirmasi bahwa hewan-hewan di sana semuanya adalah ciptaan Allah Swt.

-          Dengan rihlah/jalan-jalan, anak-anak akan mengenal lebih dalam kondisi masyarakat (ada yang miskin, kaya). Ketika dia rihlah dia punya wawasan tentang kondisi yang nyata karena melihat secara langsung. Misal dengan naik angkot, ke yayasan yatim piatu, melihat polisi dan dokter, dll.

  1. Praktik keseharian & 10. Keteladan

-          Penting ketika kita mau membangun prinsip-prinsip kebutuhan pokok dalam Islam. Hal ini harus ditunjukan oleh keseharian keluarga. Misal ketika adzan semua aktivitas keluarga harus berhenti, dan langsung beribadah. Menciptakan kepercayaan terhadap Illahnya. Dari praktik keseharian dan keteladan, banyak anak-anak pelajari dari kita sehari-hari, tanpa pemaparan panjang lebar, anak-anak akan otomatis meniru. Misal ucapan maaf, permisi, tolong, terimakasih, dll.

-          Misal kebersihan; mau dia dibacakan buku tentang kebersihan sebanyak apapun, tapi kalau pada praktik kesehariannya orangtua tidak mencontohkan keteladan kebersihan, itu akan percuma, semua materi yang disampaikan belum tentu akan masuk pada diri sang anak jika pada praktiknya orangtua tidak ikut andil memberikan contoh tentang menjaga kebersihan itu. Harus ada praktik keteladanan di rumah tentang kebersihan yang dilakukan oleh orangtua dan keluarga.

 

DENGAN BERBAGAI KAPASITAS BIAYA

1.      Pengajar

-          Kesesuaian nilai yang kita harapkan (misal mencarikan guru Quran yang sesuai dan mumpuni)

-          Kesesuaian metode (metode yang sesuai dengan kondisi anak-anak kita)

Misal belajar baca oleh ibunya, belajar olahraga dengan ayahnya, dll.

-          Pembekalan materi (banyak baca buku / belajar lagi, dan ikuti pelatihan2 guna mendalami materi agar ter-upgrade dengan metode terkini untuk anak-anak kita)

2.      Bahan

-          Mandiri (disiapkan/membuat sendiri)

-          External (bisa diambil dari produk/bahan pembelajaran yang dijual di pasaran/ bisa juga mencontoh dari pemateri home schooler yang biasa sharing tentang HS nya)

3.      Jadwal

-          Waktu shalat (harus diutamakan kewajiban dalam beribadah sholat)

-          Kebutuhan orangtua (disesuaikan dengan kebutuhan ortu untuk anaknya apa saja sih, misal satu hari minimal anak hafal 2 ayat quran atau 2 hadist, maka durasi pembelajaran dalam jadwal yang dibuat harus disesuaikan dengan itu).

-          Jadwal yang dibuat harus disesuaikan juga dengan materi/metode/pengajar/anak

 

SOSIALISASI ANAK HOME SCHOOLING

-          Tujuan Sosialisasi

-          Objek Sosialisasi

-          Adab Sosialisasi

 

LEGALISASI IJAZAH

Ijazah HS bisa didapatkan dari :

-          Sekolah induk

-          Ujian persamaan

-          Portofolio

-          Ujian Internasional

-          Sertifikat HS Formal

 

“THERE IS NO ONE BEST WAY OF PARENTING AND TEACHING. EACH CHILD IS UNIQUE, LIKEWISE FOR EACH FAMILY.”

“Tidak ada satu cara terbaik yang baku untuk semua anak dalam parenting maupun pengajaran, karena setiap anak itu unik, dan setiap keluarga itu unik. Sehingga kita tidak perlu menyamakan standar anak kita dengan standar orang lain.”

 

Alhamdulillah selesai juga rangkuman materi pertama kelas siap mendidik dari bengkel diri. Sampai jumpa di resume berikutnya. Semangat bertumbuh menjadi makhluk Allah yang lebih baik lagi. Aamiin allohumma aamiin.

 

Jangan lupa follow IG @intanpertiwi92 ya!


Sabtu, 20 Juni 2020

Ikutan Kelas Bengkel Diri? Siapa Takut!

Assalamualaikum. Alhamdulillah blog ini kembali lagi setelah beberapa tahun kemarin off karena domainnya habis. 😂 Sebenarnya blog ini sempat aktif dan aku jadikan website, tapi karena lupa bayar domain, akhirnya website tersebut gak bisa aku akses. Sementara aku juga sibuk mengurusi 3 bocil di rumah dan pekerjaan rumah tangga yang gak pernah habis. Hihi. Namanya juga emak2 ibu rumah tangga, yang bekerja fulltime di rumah. Jadilah aku gak sempat nengok tulisanku lagi.

Alhamdulillah ala kulli haal. Dipertemukan kembali dengan bengkel diri level 2 yang lengkap materi di dalamnya menyoal kehidupan rumah tangga, fiqih wanita, dan parenting utamanya. Selain itu skill dan kemampuan/passion kami pun diasah berkat materi-materi yang disampaikan. Salahsatunya kelas menulis ini. Nge-blogging lagi dong, buibu.. bersyukur banget kalau gak karena tugas menulis blog ini ada, mungkin emak beranak tiga ini udah melupakan tulisan-tulisannya yang sempat terekam di sini. Banyak hal yang patut disyukuri setelah ikutan kelas bengkel diri.

Awal mula mengenal bengkel diri bukan karena si aku sudah berteman dengan Ummu Balqis di Instagram, melainkan karena aku mengikuti akunnya ibok Retno Hening dengan gadis pintarnya bernama Kirana. Dari akun tersebutlah, ada Ummu Balqis yang muncul. Entah dari mana sih dulu itu, lupa, yang pasti ada kaitannya dengan postingan ibok Retno itu. dan akhirnya aku pun nge-follow akun Ummu Balqis, yang kemudian dilanjutkan dengan mantengin setiap postingan beliau. Dari postingan-postingan tersebutlah, muncul kelas online bengkel diri yang digawangi oleh beliau. 

Berkaca dari kehidupan rumah tangga yang nano nano rasanya, akhirnya aku pun memutuskan untuk ikutan kelas bengkel diri level 1. Saat itu tahun 2019 ketika Yuzar anak ketigaku sudah lahir, kelas BD itu pun dimulai. Apa gak repot ikutan kelas online sambil ngurus 2 krucil dan ditambah kehadiran si bayi Yuzar? 

Pastinya... 

Tapi beruntungnya masih bisa membagi waktu malam ku untuk nyimak materi BD. Nggak tahu kenapa kayak dimudahkan sama Allah untuk belajar, padahal jelas-jelas baru punya bayi yang identik dengan kegiatan begadang. Tapi Alhamdulillah Yuzar gak semerepotkan itu. Tiap malam dia tidur dengan pulas. Emak dan bapaknya nggak ada tuh begadang2 club' kayak zaman anak pertama dulu 😆 mungkin sudah ke-handel dan paham ya.. jadi bisa mengurus bayi dengan nyaman. Sehingga doi gak ngajak emak bapaknya begadang suntuk. Alhamdulillah..

Karena itulah tiap malam kisaran jam 10 ke atas, pasti emak beranak tiga ini mulai buka grup WA untuk belajar dan nyimak materi BD. Makanya di level 1 aku sering banget posting resume materi ataupun tugas di jam-jam 12 ke atas 😂 tengah malam posting IG isinya tugas BD. Ahahaa. Rapopo yang penting dikerjain dan bisa naik kelas ke level 2. Bersyukur banget! MasyaAllah Tabarakallah 💞


Kenapa sih ngotot banget pengen naik ke level 2?
Dari sekian banyak komunitas belajar online untuk para ibu-ibu dan muslimah, kayaknya cuma Bengkel Diri yang bikin aku betah bahkan haus akan ilmu. Nggak ngerti deh kenapa, tapi beneran ya materi yang disajikan itu benar-benar yang dibutuhkan aku saat ini dan nanti. Menurutku kelas BD ini terlengkap sih bahasannya. Karena mencakup duniawi juga, akhirat juga. Maksudnya duniawi tuh ya bicara soal skill/passion kita, bicara soal bisnis juga, dan hal lain yang berkaitan dengan kehidupan di dunia. Naaah.. yang lebih pentingnya lagi, bekal materi akhiratnya juga bagus dan lengkap banget! Apalagi untuk kita khususnya seorang muslimah. Materi kerumahtanggaan dan parenting yang umumnya banyak juga diadakan di komunitas lain. Tapi aku ngelihatnya yang ini lebih lengkap dan jelas karena disandingkan dengan nilai agama. Jadi ngerasa dapat materi plus plus gitu. Kalau kamu mau tahu apa aja sih rincian materi perkuliahannya? Bisa tengok deh Instagram @Bengkel_Diri 😄 ngefollow IG - nya gratis kok. Bisa dicek and ricek ya.. pasti buat kamu pengejar kajian2 online ttg kewanitaan, kerumahtanggaan, dan parenting, kamu akan langsung jatuh cinta pas pertama baca jadwal perkuliahannya 😆🤭💞


Alhamdulillah.. bersyukur juga kegiatan scroll2 IG ku ini ada manfaatnya. Bisa ketemu akun ibok Retno Hening dan si cantik Kirana, terus akhirnya sampai ke akunnya Ummu Balqis, dan sekarang bisa ketemu kelas Bengkel Diri bahkan lanjut ke level 2 nya. MasyaAllah Tabarakallah 💞 

Dari ikutan kelasnya aja di level 1 yaitu kelas SHAWWAL, akhirnya dapat banyak teman dan sahabat online 🤭😆 nambah silaturahim juga kalau ke mana mana bisa ketemuan dan janjian sama mereka. Terus sekarang juga di kelas Daarul Muqoomah level 2, banyak juga dapat teman-teman baru. MasyaAllah senang banget pastinya. Nggak ngerasa sendiri mengarungi nano nano kehidupan berumahtangga dan repotnya mengurusi bocil, karena dengan ikutan kelas ini dan berteman dengan semua pesertanya, jadi banyak sharing-sharing terkait itu semua, banyak juga dapat bimbingan, dukungan, semangat, dan motivasi berlipat dari mereka yang senasib dengan aku. 🤭


Biasanya emak-emak apalagi yang udah punya banyak anak di rumahnya, agak susah keluar rumah untuk ikutan kelas-kelas parenting, atau kajian keagamaan. Makanya dengan bengkel diri ini kayak semacam fasilitas terbaik gitu. Gak perlu repot-repot keluar rumah, cukup siapkan kuota, alat tulis, dan waktu terbaik buat nyimak materinya di antara kesibukan kita. Bukan hanya ibu rumah tangga ya yang ikutan kelas ini, banyak juga ibu-ibu pekerja dan singelillah yang ikutan kelas ini. MasyaAllah hebatnya mereka bisa manage waktu khusus buat dengerin dan nyimak ilmu-ilmu bermanfaat dari bengkel diri ini. 😍💞


Semoga setelah baca postingan ini, kamu yang belum ikutan kelas bengkel diri bisa mempertimbangkannya lagi ya.. begitu bermanfaatnya kelas ini, sampai para singelillah yang masih remaja dan berkuliah juga banyak yang ikutan. Kerennya lagi, pernah ada keluarga pria yang mau melangsungkan khitbah, dengan syarat si perempuannya harus ikutan kelas bengkel diri dulu, dan dapat sertifikatnya. MasyaAllah segitu kerennya kan materi-materi bengkel diri bagi mereka yang haus akan ilmu. 😍😍😍


Sekian dulu ya postingan pertamaku di bulan Juni 2020 ini. 🤭😆 Semoga ke depannya bisa meramaikan jagat kepenulisan blog lagi deh.. aamiin.. 😍🥰


Tertanda sayang,
Emak beranak tiga yang lagi senang belajar.

Intan Pertiwi
(IG @intanpertiwi92)


Sabtu, 09 September 2017

Pro Kontra about Daycare

Baiklah.

Di awal tulisan tahun ini, saya hendak membahas sedikitnya ihwal daycare.

Apa sih daycare itu?
Istilah yang biasa orang kenal untuk menyebutkan tempat penitipan anak. :(

Mungkin....

Sebenarnya saya bisa saja memindahkan penjelasan tentang daycare itu dari mbah gugel atau kamus lainnya ke dalam tulisan ini. Supaya tulisan ini terlihat lebih akurat dan keren (karena banyak istilah2 yg akan muncul. Haha)

Tapi biarlah itu jadi pengetahuan yang kalian (para pembaca) cari sendiri, karena tulisan ini akan lebih membahas pengalaman dan peristiwa yg saya alami, bukan pada arti kata daycare itu sendiri.

Sip!

Bagaimana mulanya saya bisa pro dengan dunia daycare semacam ini?

Oke. Jadi begini...

Mulanya, tahun ini ibu mertua saya meresmikan pembukaan preschool dan daycare di sekitar perumahan yang kami tempati. Hanya bermodalkan nekat dan rasa percaya diri, beliau pun membuatnya untuk mempermudah para orangtua (khususnya pekerja) yang hendak menitipkan anaknya dalam pengasuhan kami selama mereka sedang bekerja di tempatnya masing-masing.

Kenapa mereka tak menyewa pembantu saja?
Sangat berbeda memang ketika ART juga ditugaskan untuk mengasuh anak2 di rumah.

Ya..
Perlakuan yang berbeda. Mungkin tidak dirasakan bagi mereka yang sudah memercayai ART nya untuk mengasuh anak mereka. Namun pastinya ada saja orangtua yg kurang yakin dgn pola pengasuhan ART yg basic-nya diambil dr penduduk ekonomi bawah di daerah setempat.

Apalagi maraknya berita penculikan, pencurian, hingga penganiayaan anak di bawah umur, yang bertebaran di media.

Orangtua akan waswas menghadapi hal itu.

Pilihan mereka (khususnya para ibu karir) hanya tiga, berhenti bekerja, membawa anaknya bekerja bersama mereka, atau tetap bekerja dan menitipkan anaknya pada orang & lembaga yg mereka percayai (jujur/ikhlas mengasuh anak mereka).

Well. Kita langsung bahas ke pengalaman saya terhadap preschool dan daycare ya.

Apa sih yang menjadi keyakinan saya sehingga memutuskan untuk memasukkan Syahla dan Hanan ke daycare?

Ada beberapa hal yang memicu keputusan ini.

[1] Preschool dan Daycare yang ibu mertua saya buat ini adalah baru. Yaa.. baru dirintis angkatan pertama. Jadi butuh banyak modal, tenaga pendidik maupun anak2 didiknya.

Akhirnya untuk meramaikan semua itu, Syahla dan Hanan pun diminta terlibat di dalamnya. Siswa di sana pun masih sekitar 10 orang. Terbagi atas beberapa anak yg masuk ke kelas playgrup, preschool, dan daycare. Suamiku pun setuju demi perkembangan sekolah milik orangtuanya itu. Keputusan setuju ini diambil setelah mempertimbangkan hal-hal berikutnya yang akan saya jelaskan di bawah ini.....

[2] Syahla usianya sudah nyaris 3 tahun. Kosakatanya sudah buanyaaaak... Aktifnya sudah luarre biasa! Kemampuan bersosialisasinya pun tinggi. Hanya, keinginan untuk berbaginya yang masih kurang. :(

Wajar! Saya pernah baca postingan bunda Elly Risman, katanya anak usia 2-4 th memang masih butuh timangan orangtuanya, dan belum mampu berbagi benda/barang miliknya dgn anak lain. Masamasa itu adalah golden age mereka. Kehadiran orangtua adalah faktor utama kebahagiaan mereka. Tanpa banyak mainan pun mereka akan senang misalnya ayah/bunda memerankan anggota tubuhnya sebagai mainan yang bisa menarik perhatian mereka, ketimbang mainan asli yg terbuat dr berbagai bahan plastik. :D

[3] Hanan usianya 1,5 th. Sudah banyak kosakata juga karena sering mengobrol dan bernyanyi dengan kakaknya. Kakak perempuan yg cerewet dan suka bernyanyi itu pun akhirnya menularkan kamus kata baru di kepala Hanan. Saya sudah berani mengajak Hanan ngobrol dan curhat, karena doi akan merespon.

Saya jadi lebih PD ketika Syahla dan Hanan bersanding dgn anak2 lainnya di lingkungan rumah, dalam hal berbicara. *Entah karena emak bapaknya lulusan Bahasa Indonesia, anaknya jadi doyan unjuk gigi* 8)

[4] Saya bekerja sebagai guru dan tahun ini dinobatkan menjadi walikelas 6 di salah satu sekolah Islam di Karawang. Sedangkan suami bekerja dan menetap di Bandung yang hanya tiap satu sampai dua minggu sekali pulang ke Karawang untuk menebus rindu pada istri dan anakanaknya. :'D
Cie..cie.. LDR pasca kawin.
Aslinya "nggak enak" banget.. :(((

[5] Jadwal mengajar saya tidak begitu padat. Dari senin sampai jumat saya selalu mengunjungi anak-anak ketika zuhur tiba, karena waktu istirahat di sekolah selama satu jam.

Senin-selasa pulang jam 14.30. Hari rabu, full dr 7.30 sampai jam 4 sore, karena menjadi pembimbing ekskul olah vokal dan musik di sekolah. :(

Sedangkan kamis-jumat hanya sampai jam 12 siang :D

Santai kan? Lumayan! :D

Tapi tetap, saya harus standby memantau grup WA orangtua, karena kadang ada saja ortu yang menanyakan atau menitipkan sesuatu untuk disampaikan pada anaknya.

Beruntunglah lokasi sekolah tempat saya mengajar itu begitu dekat, ada di belakang rumah. Jd tinggal buka pintu doraemon di rumah, saya langsung masuk ke area sekolah. Hehe.

Itulah juga yg menjadi penyebab kenapa saya mau bekerja di sekolah tersebut. Mengingat kondisi anak2 yg masih butuh perhatian saya, akhirnya faktor jarak lah yg paling utama dalam mengambil keputusan untuk bekerja.

[6] Guru yang mengajar di preschool Syahla adalah adik ipar saya. Hehe. Jadi doi sudah kenal kalau bibi/tantenya itu yang mengajari dan menemaninya bermain sambil belajar selama bunda bekerja.

Waktu belajar dimulai pukul 7.30 sampai pukul 11 siang. Setelahnya, akan ada beberapa orangtua yg menjemput anaknya (selesai preschool), dan anak lainnya (masuk ke daycare) akan menetap di sana sampai sore hari ketika orangtuanya selesai bekerja.

Alhamdulillah... Sejauh ini Hanan cukup merasa nyaman karena di sana ada kakaknya, jd mungkin tidak begitu merasa 'ditinggalkan' oleh saya karena ia masih bersama dgn orang terdekatnya yaitu Syahla. Meski keduanya sering berebut mainan.. Tp sebentar saja juga sudah baikan lagi. Aamiin.. -_-

Tapi andai bisa berucap, mungkin mereka sebenarnya tidak mau ditinggalkan lama2 oleh saya yg bekerja. Yaa.. Semoga saja diberi jalan terbaik untuk semua pilihan ini.

[7] Jarak preschool/daycare dengan rumah kami yang sangat sangat dekat, karena masih berada di dalam perumahan yang kami tempati. Hanya berkisar 4-5 rumah. Apalagi kepala sekolahnya adalah adik ipar saya itu, dia kuliah di jurusan PAUD. Jadi makin yakin. :')

Sebenarnya begini. Banyak peristiwa yg hendak saya rekam dalam berbagai tulisan di blog ini. Hanya saja, untuk memindahkannya ke dalam tulisan, butuh waktu dan mood yang stabil dalam melakukannya.

Seperti malam ini. Saya sedang ada mood untuk mengetik banyak-banyak di ponsel saya.

Yap! Tulisan saya sekarang bermula dan tersimpan dalam telepon genggam. Aplikasi Blogger yg memudahkannya, karena Laptop sudah tak bisa diselamatkan lagi. Oke, ini cukup membantu. :(

Lanjut cerita.
Dulu ketika memasuki tahun ajaran baru 2017, mertua menawari saya menjadi kepsek di preschool and daycare tersebut. Tapi saya menolak dengan alasan, bukan bidang saya..... :S

Sempat terjadi perdebatan sengit antara kami sekeluarga. Memang, baiknya, saya bisa menjadi kepsek sekaligus menemani anak2 saya bermain dan belajar di sana. Tapi saya 'kekeuh' tidak mau, lantaran saya merasa bukan ahlinya dan tdk ada minat di bidang itu.

Ya, pola pengasuhan anak di rumah dengan di tempat preschool atau daycare semacam itu kan pasti berbeda. Harus punya ilmu dan pengalaman yang mumpuni. Saya takut salah mendidik anak orang :'(

Apalagi masamasa emas (golden age) seusia mereka. Kalau anak saya sih, yaaa bisa saja karena saya orangtua kandungnya. Tp kalau anak orang? Hehe.

Memang saya juga mendidik anak orang lain di sekolah dasar, tp alhamdulillah kan sesuai dgn ilmu yg sudah saya geluti yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Pun jua anak2di SD yang saya ajar, usianya sudah lebih besar, sudah cepat tanggap dan lebih mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya.

Kalau mendidik batita dan balita bisa semudah dan semendadak itu, mungkin di dunia ini tidak ada jurusan pendidikan anak usia dini yang memang khusus mengajari anak2 sesuai usia pertumbuhannya. Dan tidak ada seminar parenting atau pola asuh masamasa golden age anak.

Beda pasti antara keikhlasan dan bahasa tubuhnya ketika mengasuh dan mendidik mereka... :D

Apalagi daycare itu bisa dikatakan seharian full. Menunggu orangtua mereka datang sore hari pulang dari bekerja, barulah mereka dijemput. Berarti sang anak dititip seharian di sekolah dan artinya apa2 yg harus ditanamkan di sekolah, harus benar2 baik dan seharusnya langsung diberikan oleh ahlinya, karena anak2 di usia itu mudah sekali menyerap dan mencontoh sikap juga bahasa tubuh kita tanpa mereka klasifikasi baik atau buruknya.

Menjadi ibu bagi anak2 yg lahir dari rahim saya pun bukan hal yg mudah, apalagi menjadi ibu bagi anak2 orang lain, agaknya perlu belajar menyiapkan lagi mental dan pola asuhnya.

Nah, itulah mengapa lahirnya tulisan ini. Berangkat dari gejolak batin saya yang dari dulu sebenarnya sudah mengusung kata tidak setuju terhadap adanya "daycare". Kasian anak2 kita, Mak! :(

Hal itu akan dipahami lebih dalam jika kamu pernah bertemu dengan seorang wanita yg sudah menikah belasan tahun namun belum jua dikarunia anak.

"Hai.. Kamu wanita karir ya? Anak-anakmu dititip ke daycare? Ya Allah, aku yg sudah nikah belasan tahun ini belum juga dikarunia anak, kok kamu dan ibu2 lain yg sudah dapat amanah, malah menitipkannya ke tempat penitipan anak?"

Jleeeebbbbb!!!! :'( :'(

Menyakitkan....

Iya.. Dari awal nitipin Syahla dan Hanan ke daycare juga bukan merupakan keputusan yg mudah. Apalagi kerinduan saya akan kehadiran bocahbocah di setiap waktunya.

Dulu kalau saya ngajar, salahsatu dari mereka selalu saya bawa. Tp lamalama mungkin jd agak menghambat pembelajaran di kelas, karena fokus siswa adalah ke anak saya, bukan ke materi yg saya sampaikan.

Akhirnya, dibuatlah keputusan untuk berhenti mengajar karena fokus mau main dan belajar bareng Syahla & Hanan di rumah.

Tapi kenyataan tak semudah ucapan dan niatan yg hendak dicapai. Beberapa guru mendatangi saya dan menawarkan gaji dua kali lipat dr sebelumnya. Demi apa? Supaya saya gak jadi berhenti mengajar, karena mungkin belum ada guru penggantinya.

Lah kok saya malah mau tetap bekerja dan tergiur dgn tawaran tersebut?

Ke - 7 alasan yang sudah saya jabarkan di atas adalah pemicu keputusan saya hingga akhirnya bersedia menitipkan Syahla Hanan di daycare mertua saya, dan melanjutkan perjuangan saya bekerja sebagai guru di sekolah yang sudah saya tempati selama 3 tahun terakhir itu.

Oke. Saya kira cukup.

Sebuah pelajaran yang ingin saya sampaikan adalah,

Untukmu para wanita yang sekarang sudah memiliki anak atau baru dikaruniai anak atau sebentar lagi akan mempunyai anak, nikmati saja dulu prosesnya. Luar biasa sekali menahan gejolak amarah, kesal, dan bahkan lelah yang berkecamuk dalam kepala ketika mengasuh anak2 kita. Tapi itu tidak akan lama. Karena usia anak-anak kita akan bertambah. Mereka akan memasuki usia sekolah dan menemukan teman2 barunya. Kita akan sulit lagi meminta waktu bermain dengannya. Kita akan sulit untuk memeluknya erat2 karena mereka akan tumbuh besar dan memiliki dunianya sendiri.

Jaga baik-baik anak kita. Semoga tulisan ini bisa membantu para orangtua yang berniat menitipkan anaknya ke daycare.

Jika tdk ada faktor2 penyebab di atas, lebih baik tdk usah dititipkan ya. Kasihan anak2 akan merasa ditinggalkan, terabaikan dr dunia orangtuanya. Mereka merasa jauh dan tdk terangkul lagi.

So, ayah/bunda pikirkan lagi. Kecuali kalau keadaannya kayak pengalaman saya di atas. Mungkin masih bisa diterima, tp harus sering dikunjungi supaya mereka tetap merasa orangtuanya ada mengawasi dan menjaga mereka dr jauh.. :D

Saya juga, niatnya.. Hanya setahun ini saja. Setelah tahun ajaran ini berlalu, Insya Allah mau ngikut suami ke Bandung dan menetap di sana. Pastinya mengasuh anak2 seharian full lagi. Oh.. Senangnya... Aamiin allohumma aamiin.. :D :D

Karena pada akhirnya lelah juga kalau LDR-an pasca menikah dan punya anak. Mereka butuh sosok ayah setiap harinya. Keputusan pindah harus segera diambil. Semoga diberi kelancaran dan segala yg terbaik untuk kami. Aamiin..

Semoga ada rezeki lebih untuk menebus niatan tersebut.
Toh banyak ulama yang mengatakan bahwa anak2 kita ternyata sudah punya rezekinya masing2. Jadi kita sebagai orangtua hanya perlu mendidiknya menjadi anak yang sholeh/sholehah. Itulah yg paling utama, sholeh/sholehah, selanjutnya pintar dan cerdas jadi nilai tambahan yg otomatis akan mengikuti di belakangnya.

Biidznillah....

Masyaa Allah, tak terasa, semuanya mengalir begitu saja. Sudah seperti ustadzah belum ini ya? Hahaha.

Oke.

Allohumma yassir walatu'assir..

Sekian dan terimakasih.
Salam.

Sabtu, 10 September 2016

Kondisi Kulit Bayi Keduaku

Senin 28 maret 2016 pukul 03.00 wib, di sebuah rumah bersalin milik seorang bidan desa yang kebetulan adalah tante dari suamiku ini ramai dikunjungi beberapa sanak saudara kami.

Yap! Saya berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang merupakan anak kedua kami. Di usia kakaknya yang belum genap 2 tahun, doi sudah dikaruniai adik bayi. Hah? Huhu. Begitulah kiranya Tuhan senang menitipkan amanah kepada saya dan suami. Uwow (positif thinking sajaaa).

Anak kedua saya ini merupakan bayi yang kami tunggu-tunggu karena alhamdulillah berjenis kelamin laki-laki. Sepasang dengan si sulung yang merupakan anak perempuan. So.. Sepertinya saya tidak akan hamil lagi dalam waktu dekat, karena sudah sepasang. Hihi. Cukup dululah. ^^

Baik, kembali ke cerita.
Dulu.. Ketika my first baby, Yahlamu Syahla Mikhaila terlahir ke dunia, doi tampak begitu bersih dan menggemaskan karena terlihat cabi. Sementara anak keduaku ini tampak begitu kebalikan dari yang pertama.

Betapa tidak?
Hanan, my baby boy, berkulit hitam kemerahan (meski dulu syahla juga begitu, tapi seiring beberapa bulan, kulitnya mulai memutih). Kata orang-orang sih, kalau ketika bayi berkulit hitam kemerahan, nanti besarnya akan berkulit putih. Dan begitulah yang terjadi pada syahla.

Kalau hanan? Nggak tuh. Huhu :'(

Jadi ketika hanan lahir, dia nggak bersih. Kulitnya seperti melepuh atau you know kalau telapak tangan kita kelamaan nyuci atau berendam dalam air? Terlihat kan keriput-keriput gitu? Mudah sobek ya.. Karena tampak putih keriput-keriting seperti mie rebus yang kelamaan didiamkan (bahasa gaulnya "beukah").

Begitulah yang terjadi pada kulit hanan saat lahir. Kepalanya biang keringat, merah dan ada bintik-bintik berisi cairan bening yang kecil-kecil.
Tubuh hanan pun terlihat kurus, tapi dia lebih panjang dari kakaknya. Beda cuma 1 senti sih. Hihi.

Pada akhirnya saya berprediksi..
Apakah ini semua karena selama kehamilan hanan, saya jarang mengonsumsi air kelapa muda dan susu kedelai?

Sewaktu hamil syahla, saya sangat rajin meminum kedua itu. Tapi saat hanan, tidak begitu sering. Bahkan sangat jarang ketemu dua minuman tersebut. Ckck.

Saya lebih sering minum kopi. Omaygaaat.. "Pantesan si hanan hideung jiga cai kopi." Hahaha.

Begitulah kira-kira.

Sampai seminggu hanan tak urungnya berganti kulit. Setiap habis mandi, kulitnya ikut luntur seperti sisik ular yang mulai pudar. Atau seperti daki keringat kita. Bedanya daki ini berwarna putih, warna kulit yang tergesek sobek.

Saya begitu kasihan melihat kondisi hanan. Apalagi ditambah biang keringat yang mulai merajah ke sekujur tubuhnya. Benar-benar aneh! Kenapa dengan anak keduaku ini? Kok bedaaa... ~~~~

Selama kurang lebih tiga hari kami tinggal di rumah saudara kami yang merupakan bidan itu. Kebetulan letaknya yang di desa, sangat memudahkan kami untuk bertemu hal-hal tahayul di luar logika.

Kenapa?

Yaa... Beberapa saudara menduga, bayi kami dirasuki roh nenek keluarga di sana. Makanya bayinya nangis terus. Kemerahan badannya dan ganti kulit.
(OMG.. Bayiku cuma kurang minum asi, jadi dia nangis terus dan badannya mulai panas).
Gimana nggak kurang asi? Wong pas lahir nggak dibiarkan nyusu lama denganku.. :'(

Malah disuruhnya minum susu formula (katanya dulu juga mereka gitu, pas pertama bayi lahir biar nggak dehidrasi ditambah susu formula).

Laah.. Saya pernah ngelahirin syahla atulah.. Ada pengalaman setidaknya, minimal pun itu.

Saya yang stres menghadapi pro-kontra pendapat orang-orang di sana, juga mengakibatkan nggak lancarnya asi yang keluar. Yapyap, menjadi busui itu harus relaks.. supaya asinya deras, nggak tersumbat karena stres pikiran :(

Apalagi saya dan suami sampai lupa kalau harus mengompres PD dengan washlap yang sudah direndam air hangat (supaya asi mengalir keluar). Kenapa sampai lupa dengan proses itu ya? Apalagi di sana tidak ada yang mengingatkan, bidan pun tidak.. :'(

Padahal Asi juga akan keluar kalau sering disusui ke bayi loh. Kalau bayinya minum sufor, jarang nyusu, nggak ada yang merangsang si asi untuk keluar dong.  Huhu *so sad jadinya melihat kenyataan seperti ini*

Untungnya ada sepupu suami yang juga berprofesi sebagai bidan. Kali ini sarannya sesuai dengan apa yang dilakukan bidanku dulu sewaktu melahirkan syahla. Masuk akal dan lebih kekinian (nggak tahayul atau pamali-pamalian lagi, yang bikin kepala jadi stres) hehe.

Begitulah peliknya melahirkan di sana. Tapi sebenarnya ada senangnya juga sih. Berkat melahirkan di sana, persalinan saya total tanpa jahitan, alias normal dan lancar. Beda dengan sewaktu melahirkn syahla yang penuh perjuangan menahan sakit jahitan. Syukurlah masih ada sisi baiknya ya. Terima kasih keluargaku... :')

Akhirnya sepulang kami ke rumah mertua yang letaknya di kota, saya dan suami tak urung mencari di gugel tentang keanehan kulit hanan ini.

Ternyata banyak juga bayi yang mengalami hal serupa. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan bahwa bayi dengan kondisi demikian sepatutnya tidak mandi dengan sabun, barangkali sensitif timbul dari sabunnya. Kemudian ada juga yang berpendapat, karena cuaca yang ekstrim. Ada juga yang menyarankan dioles pakai minyak lentik yang terbuat dari kelapa, baiknya buat sendiri. Pada pengobatan tradisional ini, gunakan minyak lentik sehabis mandi, dibalur dan oles-oles, sedikit gosok-gosok untuk mempermudah melepas kulit-kulit yang berganti.

Berhasil tidak?

Berhasil sih, ganti kulitnya mulai agak hilang. Tapi.... Malah jadi bintik-bintik merah. Ya ampun.. *tepok jidat lagi*

Pasti karena kulit hanan sensitif. Saya baca lagi di gugel, jangan pakai baby oil untuk kulit semacam ini. Saya nggak pake kok~ berarti ini murni karena minyak lentik yang nambah deretan bintik-bintik merah hanan.

Akhirnya seminggu pun berlalu bertepatan dengan aqikah Hanan Khoury Malouf dan sunnah mencukur rambut setelah 7 hari bayi terlahir plus tali pusarnya lepas sempurna.

Di waktu bersamaan dengan saya yang terserang penyakit belspalsy ->> baca selengkapnya di PASCA MELAHIRKAN
Saya juga disibukkan dengan urusan penyembuhan kulit hanan.

Akhirnya si suami kembali searching ke mbah gugel. Didapati beberapa nama salep untuk penyakit kulit serupa hanan.

Kalau syahla termasuk bayi Mefurosan yang merupakan salep rekomendasi dari kakak ipar saya di Cicalengka Bandung , lain dengan hanan yang menemukan salep kulit baru! Yap, Salep Betason-N. Akhirnya dibelilah salep tersebut.

Selama beberapa hari menggunakan salep itu, alhamdulillah.. Kulit hanan bersih dari ganti kulit maupun bintik-bintik merah berisi cairan bening. Yeay! Alhamdulillah.... 😘😘😘😘

Sebetulnya kalau ganti kulit sih memang wajar terjadi pada bayi yang baru lahir. Lama kelamaan juga akan hilang dengan sendirinya. Hanya bagaimana kita sebagai orangtua mesti tekun dan sabar dalam menyikapi serta berhati-hati pada tiap proses pelepasan kulit lama menjadi kulit mulus yang baru itu.

Anw, thanks yaa mbah gugel! Kamu sangat membantu. Hihi.
Tapi saya tidak menyarankan anda semua yang mengalami hal serupa dengan anak saya untuk mengikuti langkah-langkah kami di atas ya!

Baiknya kalau tidak mau ambil resiko yang sangat rentan, periksakan saja dulu ke dokter.
Kalau saya dan suami sih mengikuti aliran tradisional dulu, setelahnya searching ke gugel. Kalau tidak didapati kesembuhan yang total, barulah jalan terakhirnya adalah DOKTER.

Kebetulan juga selama ini penyakit-penyakit yang hinggapnya merupakan penyakit ringan (tapi cukup membandel sih) hehe. Kalau sudah masuk penyakit kronis, saya nggak berani ambil bagian ini lagi. Buru-buru kita bawa ke tangan ahli saja. Betul? :D

Baiklah, sekian sharing pengalamannya ya! Semoga kulit kita tetap sehat meski cuaca Indonesia makin semrawut.  :'(

Salam hangat!
• mother of two •

Jumat, 09 September 2016

Syahla Mimisan? Gejala DBD kah?

Serius? (´・_・`)
Sekadar sharing pengalaman ya!
Selama seminggu kemarin syahla sakit loh! (╯︵╰,)
Tiga hari pertama doi terserang batuk pilek (efek kalau diajak ke sekolah dikasih permen + coklat mulu sama siswa, alhasil tumbang juga). 
Hari berikutnya selepas tidur siang, badannya mendadak demam & biang keringat makin menjadijadi merahnya. Tibatiba doi jadi pemurung, pendiem & nggak selebay biasanya. 
Ternyata pas saya cek, dinding dalam mulut ada benjolan kecil semacam sariawan.
Pantesan doi sering masukin tangan ke dalam mulut (kayak nahan sakit gitu), terus juga sering bau mulut. Karena kering mungkin ya, jadi suka kukasih minum biar nggak dehidrasi.
Kulit badannya terserang biang keringat yang membandel; nggak sembuh-sembuh, sampai bintik merahnya makin banyak!
Karawang oh Karawang panasnyaa...
Malam hari kalau batuknya nyesek banget, kadang-kadang bisa sampai muntah. Di sini syahla keliatan droooop banget! Kantong matanya hitam karena batuk ngeganggu tidurnya.
Obat andalan syahla selama batuk adalah baby's cough syrup. Terus kalau demam, minum sanmol pake takaran anak-anak.
Tapi saya terlanjur panik, karena panasnya syahla nggak turun-turun sampai sore. Padahal baru aja minum sanmol.
Malamnya saya berniat bawa doi ke dokter. Kami udah siap-siap untuk berangkat.
Tapi, pas kami udah tinggal caww....
*jreng-jreng*
Saya cek badannya lagi, suhu tubuh doi udah stabil, nggak panas.
Pas ditanya, "syahla sakit?" doi jawab ~enggak. 
Syahla udah mulai jalan ke sana ke mari, agak mendingan dari sebelumnya. Saya pun mengurungkan niat ke dokter. Toh syahla udah mulai ceria lagi.
Esoknya demam doi udah reda. Batuk pilek pun mulai jarang. Akhirnya saya menyangka kalau doi sudah benar-benar pulih. 
Sampai suatu siang, saya pulang dari sekolah. Kakeknya bilang kalau syahla keluar mimisan. Di situlah saya benar-benar nyesel sempat baca artikel tentang gejala DBD pada anak, yang sebagian besar opsinya ada di diri syahla saat itu.
Apalagi opsi terakhir. Keluar mimisan! Sontak, langsung beneran pergi ke dokter hari itu juga.
Tapi... Begitulah ternyata tabiatnya syahla.... (-_-)
Sesampainya di dokter, doi keliatan segar banget! Jalan bolak balik, nggak mau diem, lari-larian, narik-narik kerudung saya, narik-narik baju sambil cengengesan, terus loncat-loncat nggak karuan.
Sesekali doi nyamperin ibu-ibu yang lagi gendong bayi, terus doi nyamperin saya lagi dan bilang kalau bayinya nangis. Saya balas, "iya.. bayinya lagi sakit. Syahla kemarin juga sakit ya kayak dede bayi itu?"
Doi melengos dan lanjut jalan lagi nyamperin anak kecil laki-laki yang sepertinya mau periksa juga bareng ibunya. Doi bilang ke saya, "mau ke aa, mau ke aa.." sambil senyum dan nunjuk anak laki-laki itu.
Ckck. What happen with u, Syahla?
Oemji.. Beneran ibu-ibu di depan kursi kami yang keheranan dari tadi langsung nanya,
"anaknya sakit apa teh?" nnngggg.. 
pas saya tanya ke doi,
"syahla udah sembuh ya?"
Doi langsung jawab ~iya...  (-_-")

Saya langsung bilang ke ibu itu, 
"kemarin batuk pilek dan demam, tadi siang mimisan. Terus keluar bintik-bintik kayak biang keringat di bagian tertentu."

Ibu-ibu itu langsung nyambar, 
"oh, itu sih panas dalam mungkin teh," ujarnya sambil tertawa kecil dan langsung saya balas dengan senyum bingung. 

Panas dalam? Sepertinya betul juga sih, lagipula sekarang udah keliatan membaik dan pecicilannya syahla udah keluar..!
Nggak mungkin cancel kan, karena udah terlanjur daftar dan tinggal nunggu dipanggil dokter. Ya udah sih, periksain aja daripada penasaran sama penyakitnya kemarin-kemarin.. 
(skip skip skip) 
Sepulang dari dokter, langsung diwawancarai penduduk satu rumah  sampai bapaknya dari jakarta nelponin terus tapi nggak keangkat-angkat karena saya sibuk ngobrol and cerita 
Hmmm... Gitu deeeh, Syahla cuma nyaris terserang "tampak", tapi belum keluar semuanya. Dokter cuma bilang gitu.
Kalau mimisannya, dok? ~Cuma dikasih vitamin juga beres.
Kalau bintik2nya? Nih, sampai keliatan kayak ada cairan di dalam bintiknya. Dokter bilang ~airnya nggak cocok.
Pake air apa? (Air pam!) Oh iya, jelek itu, ngerusak kulit! *Singkat dan selesai periksanya*  Ckck.
Nggak seru ah penyakitnya.. 
Yaah.. Selesai juga deh ceritanya  Alhamdulillah sih tapinya ^,^
Btw, ciri suhu tubuh syahla sudah normal dan sehat kembali adalah doi mulai bertingkah lebay, tapi i think doi cerdas deh. Suka nggak bisa diem. Meski kadang menyebalkan, tapi ngangenin banget deh ini bocah.. 
Selama syahla sakit, sekelebat ingatan tentang amarah saya, kesalnya saya pas dia suka bikin onar atau sekadar numpah-numpahin apapun itu, mendadak lenyap seutuhnya. Berubah jadi penyesalan tak terkira,
"kenapa kemarin-kemarin saya sempat marah ke dia pas dia nyobek-nyobek buku, numpahin air dari gelas, ngejailin adiknya sampai pernah tidur di perut adiknya yang masih bayi sambil cengengesan, dan lain lain yang bikin naik pitam. Padahal ini kan usia emasnya, lagi aktif-aktifnya bertingkah. Kenapa coba mesti marah?" Ckck.
~Duuh memang penyesalan selalu datang belakangan.
Akhirnya rasa kangen terhadap tingkah konyol syahla itu benar-benar nggak terbendung saat melihat si anak tertidur lunglai di atas kasur, nggak seceria biasanya, pasif! dan kantung mata yang menimbun kelelahan menahan rasa sakit.
Pada hakikatnya semua ini jadi alasan kenapa kita (as a mom) mesti sabar dan ikhlas.... Memang lagi masanya anak seaktif ini. Please intan, think deeply before doing something!
Memang kadang lebih sering reaksioner menghadapi tingkah anak. Harusnya nggak gitu! Pelan-pelan, anak pasti ngerti dan nurut... :')
Oke, mulai sekarang dicoba lagi ya lebih sabar dan ikhlas.. :')
Siiiip!
Ini bukan kali pertama syahla sakit loh. Udah sering doi sakit-sakitan, tapi ringan, nggak separah sekarang sampai keluar mimisan segala ಠ_ಠ
Memang sebetulnya dari dulu syahla itu bayi anti dokter bangeeet... Karena tiap mau ke dokter pasti saya dan suami selalu nunda,
"kita liat besok, kalau masih sakit, baru ke dokter!"
tahu-tahu besoknya udah sembuh pakai obat-obatan tradisional. Gitu weh teruss..  Dan.. Terbukti kan di penyakitnya yang sekarang ini!  Syukurlah.. 
Syukurlah.. Syahla bayi hemat biaya!  karena saat ini babehnya di Jakarta dan emaknya panik setelah baca artikel DBD, akhirnya ke dokter juga kita Laaa...
Tapi saya jadi tahu setelah konsul ke dokter tentang bintik-bintik merah yang menyerang doi, hanan, bahkan saya juga. 
Yap! karena faktor air dan cuaca,  bukan faktor makanan kan.. Dulu tinggal di sumedang juga makannya sama kok kayak di sini, tapi nggak bintik-bintik, karena cuacanya dingin, pake air gunung mandinya, bersih dan alami. Nggak ada kaitannya dengan makanan.  Duuh jadi kangen tanjungsari-sumedang 
Sudahlah ~ Sekian sharing pengalaman mahmud hari ini.
Bye!
Semoga kita semua selalu sehat yaaaa!
Aamiin.. 
Semoga aja setelah memposting ini, nggak ada tanda-tanda kemunculan penyakit baru lagi di tubuh kami!
SEMBUH SEMBUH SEHAT SEHAT!
Aamiin.. 
~~~~~~  Baca cerita lengkapnya di instagram saya juga yaaa [@intanpertiwi92] bonus foto syahla juga loooh.. :D 

Selasa, 19 Juli 2016

Fulltime Mommy (housewife)

Dengarkan,
seseorang mengetuk pintu dari jeruji hati yang digembok rapi.
Siapa ia?
Dua pasang kaki mungil yang berkeliaran di selasar kepala.
Sesekali merayap ke mata dan bergelayut menyedot mendung tak terkira.

Sudahkah kau memeluk ia?
Nyaris seutuhnya, namun terlepas sebagian.
Sisasisa waktu kuperbaiki dengan seksama
berharap kaki-kaki mungil kembali melebarkan sudut di bibirnya.

Tak ada yang siasia.
Hanya menunggu saat yang tepat untuk melepas sepersatu catatan penting di kepala.
Termasuk sebagian cita yang tertunda untuk sementara.

[Bersabarlah. Akan ada waktunya.]

Juli, 2016.

Selasa, 12 April 2016

Bel's Palsy pasca Melahirkan

Bersyukur sekali, tertanggal 28 maret 2016 pukul 3 pagi saya berhasil melahirkan seorang bayi lakilaki di Karawang dengan berat 3kg dan panjang 51cm. Alhamdulillah, saya merasakan kenikmatan yang luar biasa pasca melahirkan kali ini. Saya berhasil melahirkan normal tanpa jahitan.

Terdengar biasa mungkin bagi beberapa orang, but i'm so happy cos of it. Betapa tidak? Dengan melahirkan secara normal tanpa jahitan, cukup sehari-dua hari, tubuh kita bisa kembali bersinergi dengan lingkungan. I mean, kembali beraktifitas layaknya orang-orang yang tak habis melahirkan. 😊😊😊

Hari pertama pasca melahirkan, yang terbesit dalam kepala saya adalah kondisi syahla, my first kiddo. Saya khawatir dia belum menerima kehadiran makhluk mungil baru di dalam rumah. And then, terbukti, doi begitu rewel mengetahui induknya menggendong dan menyusui manusia lain di luar dirinya.

Oke, beralih topik. Pasca melahirkan, saya terserang penyakit aneh semacam stroke ringan. Padahal tensi darah saya normal. Well, dokter akupuntur bilang, saya terserang bel's palsy. Penyakit radang saraf di hanya sebagian wajah yakni sebelah kiri. Perlahan saya kesulitan membuka mulut dan mengunyah, lidah bagian kiri terasa mati rasa layaknya kaki kesemutan.
Hari berikutnya mata sebelah kiri saya mulai redup dan fungsi kedipannya sangat melamban, sehingga tak simetris dengan aktifitas mata sebelah kanan. Di sini saya mulai pusing kalau berkedip, karena tak serentaknya kelopak mata ketika menutup.

Selanjutnya beralih ke hidung , pipi dan alis. Semua mulai berkurang fungsinya. Hidung hanya bisa diangkat sebelah kanan, sedang lubang kiri tetap diam. Seolah ototnya tak ikut tertarik. Alis pun demikian, tak bisa dinaik-turunkan seperti biasa. Kemudian bibir. Saya hanya bisa senyum sebelah yaitu menarik ujung bibir sebelah kanan, sedang yang kiri tetap diam. Di sinilah saya mulai merasa tak nyaman.

Pasca melahirkan, pasti banyak sanak saudara yang datang menjenguk. Karena itulah saya mulai panik. Bibir saya hanya bisa ditarik sebelah, sehingga terkesan angkuh ketika senyum dan menurut saya itu sangat tak sopan jika terlihat oleh orang-orang yang datang berkunjung. Saya seolah tak senang. Jadi saya putuskan untuk pergi berobat.

Pengobatan pertama, saya dan suami mencari tahu penyebab terjadinya bels palsy dari internet. Banyak kemungkinan yang membuat saya pasrah kalau-kalau penyakit ini akan tetap bersarang di wajah saya. Kepanikan menjalar ke keluarga di rumah maupun keluarga saya di Cirebon.

Akhirnya ibu mertua mengantar saya berobat ke dokter akupuntur yang memakan biaya hingga 300ribuan itu, pada sekali pengobatan. Dan dokter itu menyarankan saya melewati 5-10 kali pengobatan. Wewww!!! Kebayang mahalnya bukan main -,-  Pasca akupuntur, saya belum mendapati perubahan secara signifikan dalam wajah. Semuanya tampak biasa-biasa saja. Barangkali butuh proses yang lama, sesuai yang dikatakan oleh dokter tersebut.

Malam harinya, beberapa kerabat suami menganjurkan saya pijat saraf. Kami pun diantar ke sebuah rumah pijat. Di sana ada seorang lelaki tua tapi masih tampak kuat dan bersemangat. Ia adalah abah R. Beliau memijat saya dari kepala sampai pundak. Bagian kepala dan wajah terasa diremas-remas dan terguncang heboh ketika dipijat. Saya merasa geli dan ingin tertawa ketika kepala saya seperti oleng ke sana ke mari menerima pijatan-pijatan fantastik dari si abah. Tapi itu semua terasa nikmat. Saya merasa lebih segar pasca pemijatan.

Sebelum beranjak pulang, abah R memberi saya tiga galon kecil berisi kangen water dan cairan yang disemprotkan. Katanya, saya harus minum sebanyak satu gelas tiap pagi, siang, sore dan malam. Lalu semprotkan cairan itu ke belakang telinga yang terasa ada sebuah benjolan kecil. Pijat-pijat bagian itu tiga jam sekali.

Baru sekali pemijatan ke abah R. Saya dan keluarga merasa puas dan yakin kalau penyakit ini bisa sembuh. Abah R sangat mahir memijat. Beliau sangat hafal tiap-tiap saraf yang terasa sakit di kepala saya. Beliau pijat dengan tenang sambil sesekali memberi ceramah tentang saraf-saraf dalam tubuh. Suami saya ada di sana ketika saya dipijat. Dia tak hentinya bertanya tentang proses pemijatan yang membuat abah R tambah bersemangat mengguncang isi kepala saya hingga segar kembali.

Yang saya yakini dari pemijatan itu adalah, abah R mampu menyebutkan penyebab penyebab terjadinya penyakit itu. Jadi, semua itu bersumber dari maagh yang sudah lama saya derita. Kemudian lari ke kepala, jadilah migran di kepala bagian kiri. Di sinilah saya sangat yakin. Saya memang mengalaminya selama masa kehamilan tua. Migran membuat saya susah tidur karena menahan rasa sakit yang tak kunjung reda. Berikutnya beliau menceritakan tentang kipas angin, ac, atau angin malam yang tak baik untuk tubuh. Semua itu bisa jadi penyebab penyakit yang baru kali pertama saya alami ini. Kalau menyoal angin, saya dan suami sudah mengetahuinya dari internet dan dokter akupuntur pun sudah menjelaskan detail tentang itu (persis seperti info yang saya dapat dari gugel).

Akhirnya saya pun kembali ke rumah dengan wajah sumringah. Seminggu kemudian setelah melakukan pemijatan rutin secara mandiri dan minum air yang dibeli dari rumah pijat itu, akhirnya sedikit demi sedikit bibir kiri saya bisa ditarik. Malam berikutnya saya kembali pijat ke abah R. Kali ini bagian pundak dan lengan sebelah kiri. Terasa tegang awalnya, namun lentur kembali setelah dipijat. Dan tangan kiri saya seolah tak ada beban.

Dua minggu berlalu dan seluruh indra bagian kiri wajah saya mulai pulih. Saya bisa mengangkat alis dengan serempak. Hidung pun terangkat dua-duanya. Bibir tertarik ke ujung masing-masing, sehingga saya bisa tersenyum normal kembali. Mata saya bisa berkedip dengan serempak, terutama ketika mandi, saya sudah tak perlu menutup mata sebelah kiri dengan tangan saya, karena sekarang kelopak mata saya sudah bisa menutup dengan sendirinya. Sempat resah karena ketika bels palsy, mata sebelah kiri tak bisa mengedip secara spontan ketika air mengalir dari ujung kepala saya (red:sewaktu mandi). Akibatnya mata saya menjadi perih dan merah tiap usai mandi karena kelopak mata tak berfungsi normal.

Itu sedikit cerita kondisi saya pasca melahirkan. Sebenarnya di sini sangat banyak yang ingin saya ceritakan, terutama menyoal anak-anak. Banyak yang ingin saya ceritakan tentang syahla dan adik barunya ketika terlahir ke dunia.

Betapa hebatnya seorang wanita dan mulianya ia ketika berjuang mempertahankan nyawa dalam perutnya, hingga si jabang bayi benar-benar terlahir ke dunia. Ini yang disebut surga ada di telapak kaki ibu. Memang benar, perjuangan seorang ibu tak dapat dibalas dengan bayaran uang. Hanya doadoa dan kebahagiaan yang perlu dilestarikan untuknya. Selalu ingin melihat ibu tersenyum tanpa beban, mendengar semua nasihat baiknya dengan seksama tanpa membantah, semuanya demi kebahagiaan ibu. ❤❤❤

Cerita seputar perjuangan seorang ibu ketika melahirkan dan "how to be a good mother of two" (yang berkaca dari pengalaman hidup saya), akan ditulis dalam catatan lain setelah ini. Tunggu saja ya. Segera meluncur! [] 😊😊😊

Sabtu, 12 September 2015

Throwback

"Yang paling menyebalkan dari sebuah kenangan adalah membiarkannya bebas memperhatikanmu dari jauh. Bersiap kembali, jika memang dibutuhkan. Atau sekadar bertegur sapa, bahwa dirinya masih mengingatmu lamat-lamat."

How come?


('Sept.12)

Jumat, 28 Agustus 2015

Move and Grow (!)

Perempuan ini becermin;

Di dalam sana, tubuhnya semakin terlihat anggun dengan longdress menjuntai menutupi mata kaki, juga sepasang kaos kaki panjang berwarna hitam -kadang krem-

Ia merasa bahagia bisa berpindah dari sebuah tubuh yang dulunya tak pernah malumalu mengumbar rambut coklatnya, juga betis yang nyaris berotot karena sibuk latihan barisberbaris dan olahraga.

Ia merasa bahagia, tubuhnya berkembang ke arah yang lebih baik.

2010 - perempuan itu bermata sayu dengan rambut tergerai sebahu. Poni yang terjepit di sebelah kanan -kadang juga kiri- adalah ke-khas-an darinya.  Kemeja pendek dengan celana jeans gelap yang meliuk jelas -memancarkan lekuk tubuh berukuran sedang-

2011 - ia berpakaian etnik, dengan rok tunik dan tas gendong yang setia bersandar di punggungnya. Sepatunya bertalitemali, meski bukan sepatu ket, melainkan sepatu plastik juga kulit yang penuh ikatan membelit.

2012 - rambutnya tersembunyi dalam balutan kerudung. Tubuhnya mulai bersinergi dengan akal dan nurani. "Bukankah sudah waktunya untuk setia?" Ya, akhirnya perempuan itu setia mengenakan tudung di kepalanya. Meski jeans ketat dengan sobekan di lutut masih membelit kakinya.

2013 - ia masih mengenakan tudung di kepalanya, dengan panjang sedada -namun tak menutupinya. Celananya mulai berganti model. Kini ia lebih sering memakai kostum berbahan kain. Ya, perempuan itu mulai menyadari tubuhnya berada di fase mana. Ia mulai mengganti seluruh celana jeans yang nyaris tercabikcabik itu, dengan celana bahan berukuran longgar, kadang rok sepan, kadang juga rok yang menjuntai luas mirip rok cinderella.

2014 - tudungnya masih setia di kepala, masih berukuran sedada -kadang melebihi, namun tak sering. Ia mengklasifikasi bajubajunya -baju berkancing adalah favoritnya saat itu- sementara celana dan rok masih silih berganti menguasai jenjang kakinya.

2015 - tubuhnya berpindah dari satu fase ke fase berikutnya. Ia tersadar, betapa hijab adalah kewajiban seorang perempuan untuk mengenakannya. Kini -di tahun ini - tepatnya bulan juli - ia tumbuh dan berkembang ke fase yang lebih serius. Fase yang bukan mengutamakan fesyen atau kecantikan dari pakaian, melainkan "inner beauty" yang benarbenar dihadirkan dan tak mencolok penampilan. Keimanan dan ketakwaan seorang perempuan -ia masih belajar, sama seperti perempuan awam lainnya yang ingin berkomitmen dengan tubuhnya. Ia mulai terbiasa dengan rok menjuntai menutupi mata kaki, kaos kaki hitam menutupi telapak kaki, manset tangan menutupi pergelangan, baju tak ketat yang panjangnya melebihi paha, dan tentunya tudung yang menjuntai menutupi dada bahkan perutnya.

Ia bahagia, tubuhnya bermetamorfosa.
Ia bahagia, lingkungannya dapat menjamah akal dan pikiran untuk kembali ke aqidah dan akhlak yang Tuhan inginkan.

Ia bahagia, masa kecilnya kembali ke hadapan. Impian dan seluruh asa yang mulai menampakkan wujudnya.

Terimakasih, segalanya terbayar sudah.
Mimpimimpi masa kecil -harapan untuk mondok pesantren di Jawa, harapan untuk menutup aurat dari ujung rambut hingga kaki sejak sekolah dasar, harapan dan mimpimimpi yang sempat dibabat habis oleh orang tersayang di sana- segalanya mulai terasa nyaman untuk dilakoni saat ini. Meski tak persis berada di tempattempat yang diimpikan itu, namun sejatinya Tuhan sudah bijak dan berbaik hati untuk memberikan rasa yang sama dengan segala harapanharapan itu. Sepertinya Tuhan menawarkan kebahagiaan yang harus selalu dijemput dan diciptakan oleh diri kita masingmasing.

Thanks to Alloh.
Alhamdulillah... semoga selalu menjadi pribadi yang lebih baik di tengah maraknya fesyen yang berkelebat.

Saat oranglain berkamuflase dengan lingkungannya kini -ada yang menjadi lebih buruk; roknya tergeser oleh celana, bajunya hanya sepaha dan tudungnya tak melebihi dada- semoga ia kembali menjadi dirinya yang dulu; yang cerminannya sudah menyerap dalam tubuhku.

Semoga selalu sempat berdoa untuk keselamatan diri sendiri, juga oranglain. ❤❤❤

Jumat, 07 Agustus 2015

Hijrah

Beginilah tubuh kami berpindah tempat dari tahun ke tahun.

Kita tak pernah tahu, di usia ke berapa, kita mampu meraih mimpi yang hakiki.

Memangnya segala mimpi itu hakiki ya?
Tidak juga. Tapi berusaha menggapainya, why not?

Setelah menjalani tugas menjadi seorang guru atau pengajar atau mungkin pendidik juga, saya berkesimpulan bahwa passion dalam diri saya bukan berada di wilayah ini (red:wilayah pengajaran di kelas). Entah mengapa, seolah ruh saya tidak nyaman berada di posisi ini. Lantas apa passion saya? Bingung, saya juga masih merabanya.

Padahal suasana kelas dan sekolah sudah cukup bersahabat, murid-murid sudah segan dan menyenangi pelajaran bahasa indonesia, tapi jauh di dalam kepala saya.. Seseorang meneriaki otak saya hingga nyaris pecah.

Siapa yang berteriak?
Diri saya dari sisi yang lain.

Mau jadi apa dong si saya ini?

Penulis? Nggak deh kayaknya, cuma tulisan ringan yang belum punya ruh. (Tapi masih dipertimbangkan sejauh mata memandang).

Pebisnis? Bukannya dari awal memang cuma pelarian saja ya, sebagai pengisi kekosongan? Heeum, maybe kalau sudah mentok, larinya jadi tukang dagang.
Hehe.

Guru? Sedang dijalani, tapi belum sepenuhnya dari hati. (Mungkin efek masih punya baby yang kudu diurus di dalam rumah & belum rela bepergian lamalama tanpa si baby ini).
Waw, apa kabar anak kedua nanti? Yeay! Bakal mengeram dalam rumah lagi nih kayaknya.

Atau mungkin saya minat berkuliah lagi dan menjadi dosen?
Option pertama setuju, option kedua belum tahu karena masih seputar belajar mengajar. Yap, saya mau belajarnya saja tapi masih belum 'klop' dengan kegiatan mengajarnya. Padahal niat saya menjadi guru 'harusnya' adalah untuk mengamalkan ilmu. Mungkin belum sepenuhnya diniatkan dari hati nurani, ya.

Tapi ternyata lebih asik mengurus anak di rumah loh (red: ibu rumah tangga). Capeknya terlihat, hasilnya pun terlihat, bahagianya tiada dua, pahalanya berlipatlipat. Hihi. Tibatiba muncul celetukan, "mendidik anak sendiri saja dulu sebelum si kamu mendidik anak orang lain." Yes!

Entah karena kelamaan vakum berkarir dengan dunia luar atau karena memang belum menemukan passion.

Apalagi tahun ini jadi tantangan terheboh juga, sih. Meninggalkan bayi di rumah untuk pergi mengamalkan ilmu menjadi guru sekaligus pelatih ekskur Teater di sebuah sekolah islam. Heuheu. Semoga Syahla lekas tumbuh dan berkembang, supaya bisa ikut bunda ke sekolah tanpa digendong terus menerus. Jadi bunda nggak khawatir dengan kondisi kamu :D

Supaya suatu saat bunda rela bepergian tanpa Syahla, karena Syahla sudah bisa main sendiri nantinya dan nggak merepotkan orang lain lagi.

Oh iya, Syahla sedang bersiap menjadi kakak ^_^ Sebentar lagi saya menuju status "mother of two". Dengan demikian, Syahla nggak akan kesepian lagi karena nanti punya adik yang usianya berdekatan. Horeee! *semoga akur dan nggak ributributmulu*

terka menerka...

Kirakira setelah melahirkan, saya berhenti mengajar atau lanjut ya?
Lalu.. kami masih akan tinggal di Karawang atau pindah rumah ke kota lain, atau justru kembali ke Tanjungsari?
Siapa tahu lolos beasiswa luar negeri. Aamiin..

Heu, segala kemungkinan bisa terjadi tanpa didugaduga.

Tak sabar menanti deretan hari esok yang penuh misteri.

Bismillah. Rela melakoni bidang yang sedang digeluti saja dulu-lah, setelahnya, siapa yang tahu? *singsingkan lengan* ~,~

Selamat berhijrah!