Selasa, 19 Juli 2016

Fulltime Mommy (housewife)

Dengarkan,
seseorang mengetuk pintu dari jeruji hati yang digembok rapi.
Siapa ia?
Dua pasang kaki mungil yang berkeliaran di selasar kepala.
Sesekali merayap ke mata dan bergelayut menyedot mendung tak terkira.

Sudahkah kau memeluk ia?
Nyaris seutuhnya, namun terlepas sebagian.
Sisasisa waktu kuperbaiki dengan seksama
berharap kaki-kaki mungil kembali melebarkan sudut di bibirnya.

Tak ada yang siasia.
Hanya menunggu saat yang tepat untuk melepas sepersatu catatan penting di kepala.
Termasuk sebagian cita yang tertunda untuk sementara.

[Bersabarlah. Akan ada waktunya.]

Juli, 2016.

Selasa, 12 April 2016

Bel's Palsy pasca Melahirkan

Bersyukur sekali, tertanggal 28 maret 2016 pukul 3 pagi saya berhasil melahirkan seorang bayi lakilaki di Karawang dengan berat 3kg dan panjang 51cm. Alhamdulillah, saya merasakan kenikmatan yang luar biasa pasca melahirkan kali ini. Saya berhasil melahirkan normal tanpa jahitan.

Terdengar biasa mungkin bagi beberapa orang, but i'm so happy cos of it. Betapa tidak? Dengan melahirkan secara normal tanpa jahitan, cukup sehari-dua hari, tubuh kita bisa kembali bersinergi dengan lingkungan. I mean, kembali beraktifitas layaknya orang-orang yang tak habis melahirkan. 😊😊😊

Hari pertama pasca melahirkan, yang terbesit dalam kepala saya adalah kondisi syahla, my first kiddo. Saya khawatir dia belum menerima kehadiran makhluk mungil baru di dalam rumah. And then, terbukti, doi begitu rewel mengetahui induknya menggendong dan menyusui manusia lain di luar dirinya.

Oke, beralih topik. Pasca melahirkan, saya terserang penyakit aneh semacam stroke ringan. Padahal tensi darah saya normal. Well, dokter akupuntur bilang, saya terserang bel's palsy. Penyakit radang saraf di hanya sebagian wajah yakni sebelah kiri. Perlahan saya kesulitan membuka mulut dan mengunyah, lidah bagian kiri terasa mati rasa layaknya kaki kesemutan.
Hari berikutnya mata sebelah kiri saya mulai redup dan fungsi kedipannya sangat melamban, sehingga tak simetris dengan aktifitas mata sebelah kanan. Di sini saya mulai pusing kalau berkedip, karena tak serentaknya kelopak mata ketika menutup.

Selanjutnya beralih ke hidung , pipi dan alis. Semua mulai berkurang fungsinya. Hidung hanya bisa diangkat sebelah kanan, sedang lubang kiri tetap diam. Seolah ototnya tak ikut tertarik. Alis pun demikian, tak bisa dinaik-turunkan seperti biasa. Kemudian bibir. Saya hanya bisa senyum sebelah yaitu menarik ujung bibir sebelah kanan, sedang yang kiri tetap diam. Di sinilah saya mulai merasa tak nyaman.

Pasca melahirkan, pasti banyak sanak saudara yang datang menjenguk. Karena itulah saya mulai panik. Bibir saya hanya bisa ditarik sebelah, sehingga terkesan angkuh ketika senyum dan menurut saya itu sangat tak sopan jika terlihat oleh orang-orang yang datang berkunjung. Saya seolah tak senang. Jadi saya putuskan untuk pergi berobat.

Pengobatan pertama, saya dan suami mencari tahu penyebab terjadinya bels palsy dari internet. Banyak kemungkinan yang membuat saya pasrah kalau-kalau penyakit ini akan tetap bersarang di wajah saya. Kepanikan menjalar ke keluarga di rumah maupun keluarga saya di Cirebon.

Akhirnya ibu mertua mengantar saya berobat ke dokter akupuntur yang memakan biaya hingga 300ribuan itu, pada sekali pengobatan. Dan dokter itu menyarankan saya melewati 5-10 kali pengobatan. Wewww!!! Kebayang mahalnya bukan main -,-  Pasca akupuntur, saya belum mendapati perubahan secara signifikan dalam wajah. Semuanya tampak biasa-biasa saja. Barangkali butuh proses yang lama, sesuai yang dikatakan oleh dokter tersebut.

Malam harinya, beberapa kerabat suami menganjurkan saya pijat saraf. Kami pun diantar ke sebuah rumah pijat. Di sana ada seorang lelaki tua tapi masih tampak kuat dan bersemangat. Ia adalah abah R. Beliau memijat saya dari kepala sampai pundak. Bagian kepala dan wajah terasa diremas-remas dan terguncang heboh ketika dipijat. Saya merasa geli dan ingin tertawa ketika kepala saya seperti oleng ke sana ke mari menerima pijatan-pijatan fantastik dari si abah. Tapi itu semua terasa nikmat. Saya merasa lebih segar pasca pemijatan.

Sebelum beranjak pulang, abah R memberi saya tiga galon kecil berisi kangen water dan cairan yang disemprotkan. Katanya, saya harus minum sebanyak satu gelas tiap pagi, siang, sore dan malam. Lalu semprotkan cairan itu ke belakang telinga yang terasa ada sebuah benjolan kecil. Pijat-pijat bagian itu tiga jam sekali.

Baru sekali pemijatan ke abah R. Saya dan keluarga merasa puas dan yakin kalau penyakit ini bisa sembuh. Abah R sangat mahir memijat. Beliau sangat hafal tiap-tiap saraf yang terasa sakit di kepala saya. Beliau pijat dengan tenang sambil sesekali memberi ceramah tentang saraf-saraf dalam tubuh. Suami saya ada di sana ketika saya dipijat. Dia tak hentinya bertanya tentang proses pemijatan yang membuat abah R tambah bersemangat mengguncang isi kepala saya hingga segar kembali.

Yang saya yakini dari pemijatan itu adalah, abah R mampu menyebutkan penyebab penyebab terjadinya penyakit itu. Jadi, semua itu bersumber dari maagh yang sudah lama saya derita. Kemudian lari ke kepala, jadilah migran di kepala bagian kiri. Di sinilah saya sangat yakin. Saya memang mengalaminya selama masa kehamilan tua. Migran membuat saya susah tidur karena menahan rasa sakit yang tak kunjung reda. Berikutnya beliau menceritakan tentang kipas angin, ac, atau angin malam yang tak baik untuk tubuh. Semua itu bisa jadi penyebab penyakit yang baru kali pertama saya alami ini. Kalau menyoal angin, saya dan suami sudah mengetahuinya dari internet dan dokter akupuntur pun sudah menjelaskan detail tentang itu (persis seperti info yang saya dapat dari gugel).

Akhirnya saya pun kembali ke rumah dengan wajah sumringah. Seminggu kemudian setelah melakukan pemijatan rutin secara mandiri dan minum air yang dibeli dari rumah pijat itu, akhirnya sedikit demi sedikit bibir kiri saya bisa ditarik. Malam berikutnya saya kembali pijat ke abah R. Kali ini bagian pundak dan lengan sebelah kiri. Terasa tegang awalnya, namun lentur kembali setelah dipijat. Dan tangan kiri saya seolah tak ada beban.

Dua minggu berlalu dan seluruh indra bagian kiri wajah saya mulai pulih. Saya bisa mengangkat alis dengan serempak. Hidung pun terangkat dua-duanya. Bibir tertarik ke ujung masing-masing, sehingga saya bisa tersenyum normal kembali. Mata saya bisa berkedip dengan serempak, terutama ketika mandi, saya sudah tak perlu menutup mata sebelah kiri dengan tangan saya, karena sekarang kelopak mata saya sudah bisa menutup dengan sendirinya. Sempat resah karena ketika bels palsy, mata sebelah kiri tak bisa mengedip secara spontan ketika air mengalir dari ujung kepala saya (red:sewaktu mandi). Akibatnya mata saya menjadi perih dan merah tiap usai mandi karena kelopak mata tak berfungsi normal.

Itu sedikit cerita kondisi saya pasca melahirkan. Sebenarnya di sini sangat banyak yang ingin saya ceritakan, terutama menyoal anak-anak. Banyak yang ingin saya ceritakan tentang syahla dan adik barunya ketika terlahir ke dunia.

Betapa hebatnya seorang wanita dan mulianya ia ketika berjuang mempertahankan nyawa dalam perutnya, hingga si jabang bayi benar-benar terlahir ke dunia. Ini yang disebut surga ada di telapak kaki ibu. Memang benar, perjuangan seorang ibu tak dapat dibalas dengan bayaran uang. Hanya doadoa dan kebahagiaan yang perlu dilestarikan untuknya. Selalu ingin melihat ibu tersenyum tanpa beban, mendengar semua nasihat baiknya dengan seksama tanpa membantah, semuanya demi kebahagiaan ibu. ❤❤❤

Cerita seputar perjuangan seorang ibu ketika melahirkan dan "how to be a good mother of two" (yang berkaca dari pengalaman hidup saya), akan ditulis dalam catatan lain setelah ini. Tunggu saja ya. Segera meluncur! [] 😊😊😊

Sabtu, 12 September 2015

Throwback

"Yang paling menyebalkan dari sebuah kenangan adalah membiarkannya bebas memperhatikanmu dari jauh. Bersiap kembali, jika memang dibutuhkan. Atau sekadar bertegur sapa, bahwa dirinya masih mengingatmu lamat-lamat."

How come?


('Sept.12)

Jumat, 28 Agustus 2015

Move and Grow (!)

Perempuan ini becermin;

Di dalam sana, tubuhnya semakin terlihat anggun dengan longdress menjuntai menutupi mata kaki, juga sepasang kaos kaki panjang berwarna hitam -kadang krem-

Ia merasa bahagia bisa berpindah dari sebuah tubuh yang dulunya tak pernah malumalu mengumbar rambut coklatnya, juga betis yang nyaris berotot karena sibuk latihan barisberbaris dan olahraga.

Ia merasa bahagia, tubuhnya berkembang ke arah yang lebih baik.

2010 - perempuan itu bermata sayu dengan rambut tergerai sebahu. Poni yang terjepit di sebelah kanan -kadang juga kiri- adalah ke-khas-an darinya.  Kemeja pendek dengan celana jeans gelap yang meliuk jelas -memancarkan lekuk tubuh berukuran sedang-

2011 - ia berpakaian etnik, dengan rok tunik dan tas gendong yang setia bersandar di punggungnya. Sepatunya bertalitemali, meski bukan sepatu ket, melainkan sepatu plastik juga kulit yang penuh ikatan membelit.

2012 - rambutnya tersembunyi dalam balutan kerudung. Tubuhnya mulai bersinergi dengan akal dan nurani. "Bukankah sudah waktunya untuk setia?" Ya, akhirnya perempuan itu setia mengenakan tudung di kepalanya. Meski jeans ketat dengan sobekan di lutut masih membelit kakinya.

2013 - ia masih mengenakan tudung di kepalanya, dengan panjang sedada -namun tak menutupinya. Celananya mulai berganti model. Kini ia lebih sering memakai kostum berbahan kain. Ya, perempuan itu mulai menyadari tubuhnya berada di fase mana. Ia mulai mengganti seluruh celana jeans yang nyaris tercabikcabik itu, dengan celana bahan berukuran longgar, kadang rok sepan, kadang juga rok yang menjuntai luas mirip rok cinderella.

2014 - tudungnya masih setia di kepala, masih berukuran sedada -kadang melebihi, namun tak sering. Ia mengklasifikasi bajubajunya -baju berkancing adalah favoritnya saat itu- sementara celana dan rok masih silih berganti menguasai jenjang kakinya.

2015 - tubuhnya berpindah dari satu fase ke fase berikutnya. Ia tersadar, betapa hijab adalah kewajiban seorang perempuan untuk mengenakannya. Kini -di tahun ini - tepatnya bulan juli - ia tumbuh dan berkembang ke fase yang lebih serius. Fase yang bukan mengutamakan fesyen atau kecantikan dari pakaian, melainkan "inner beauty" yang benarbenar dihadirkan dan tak mencolok penampilan. Keimanan dan ketakwaan seorang perempuan -ia masih belajar, sama seperti perempuan awam lainnya yang ingin berkomitmen dengan tubuhnya. Ia mulai terbiasa dengan rok menjuntai menutupi mata kaki, kaos kaki hitam menutupi telapak kaki, manset tangan menutupi pergelangan, baju tak ketat yang panjangnya melebihi paha, dan tentunya tudung yang menjuntai menutupi dada bahkan perutnya.

Ia bahagia, tubuhnya bermetamorfosa.
Ia bahagia, lingkungannya dapat menjamah akal dan pikiran untuk kembali ke aqidah dan akhlak yang Tuhan inginkan.

Ia bahagia, masa kecilnya kembali ke hadapan. Impian dan seluruh asa yang mulai menampakkan wujudnya.

Terimakasih, segalanya terbayar sudah.
Mimpimimpi masa kecil -harapan untuk mondok pesantren di Jawa, harapan untuk menutup aurat dari ujung rambut hingga kaki sejak sekolah dasar, harapan dan mimpimimpi yang sempat dibabat habis oleh orang tersayang di sana- segalanya mulai terasa nyaman untuk dilakoni saat ini. Meski tak persis berada di tempattempat yang diimpikan itu, namun sejatinya Tuhan sudah bijak dan berbaik hati untuk memberikan rasa yang sama dengan segala harapanharapan itu. Sepertinya Tuhan menawarkan kebahagiaan yang harus selalu dijemput dan diciptakan oleh diri kita masingmasing.

Thanks to Alloh.
Alhamdulillah... semoga selalu menjadi pribadi yang lebih baik di tengah maraknya fesyen yang berkelebat.

Saat oranglain berkamuflase dengan lingkungannya kini -ada yang menjadi lebih buruk; roknya tergeser oleh celana, bajunya hanya sepaha dan tudungnya tak melebihi dada- semoga ia kembali menjadi dirinya yang dulu; yang cerminannya sudah menyerap dalam tubuhku.

Semoga selalu sempat berdoa untuk keselamatan diri sendiri, juga oranglain. ❤❤❤

Jumat, 07 Agustus 2015

Hijrah

Beginilah tubuh kami berpindah tempat dari tahun ke tahun.

Kita tak pernah tahu, di usia ke berapa, kita mampu meraih mimpi yang hakiki.

Memangnya segala mimpi itu hakiki ya?
Tidak juga. Tapi berusaha menggapainya, why not?

Setelah menjalani tugas menjadi seorang guru atau pengajar atau mungkin pendidik juga, saya berkesimpulan bahwa passion dalam diri saya bukan berada di wilayah ini (red:wilayah pengajaran di kelas). Entah mengapa, seolah ruh saya tidak nyaman berada di posisi ini. Lantas apa passion saya? Bingung, saya juga masih merabanya.

Padahal suasana kelas dan sekolah sudah cukup bersahabat, murid-murid sudah segan dan menyenangi pelajaran bahasa indonesia, tapi jauh di dalam kepala saya.. Seseorang meneriaki otak saya hingga nyaris pecah.

Siapa yang berteriak?
Diri saya dari sisi yang lain.

Mau jadi apa dong si saya ini?

Penulis? Nggak deh kayaknya, cuma tulisan ringan yang belum punya ruh. (Tapi masih dipertimbangkan sejauh mata memandang).

Pebisnis? Bukannya dari awal memang cuma pelarian saja ya, sebagai pengisi kekosongan? Heeum, maybe kalau sudah mentok, larinya jadi tukang dagang.
Hehe.

Guru? Sedang dijalani, tapi belum sepenuhnya dari hati. (Mungkin efek masih punya baby yang kudu diurus di dalam rumah & belum rela bepergian lamalama tanpa si baby ini).
Waw, apa kabar anak kedua nanti? Yeay! Bakal mengeram dalam rumah lagi nih kayaknya.

Atau mungkin saya minat berkuliah lagi dan menjadi dosen?
Option pertama setuju, option kedua belum tahu karena masih seputar belajar mengajar. Yap, saya mau belajarnya saja tapi masih belum 'klop' dengan kegiatan mengajarnya. Padahal niat saya menjadi guru 'harusnya' adalah untuk mengamalkan ilmu. Mungkin belum sepenuhnya diniatkan dari hati nurani, ya.

Tapi ternyata lebih asik mengurus anak di rumah loh (red: ibu rumah tangga). Capeknya terlihat, hasilnya pun terlihat, bahagianya tiada dua, pahalanya berlipatlipat. Hihi. Tibatiba muncul celetukan, "mendidik anak sendiri saja dulu sebelum si kamu mendidik anak orang lain." Yes!

Entah karena kelamaan vakum berkarir dengan dunia luar atau karena memang belum menemukan passion.

Apalagi tahun ini jadi tantangan terheboh juga, sih. Meninggalkan bayi di rumah untuk pergi mengamalkan ilmu menjadi guru sekaligus pelatih ekskur Teater di sebuah sekolah islam. Heuheu. Semoga Syahla lekas tumbuh dan berkembang, supaya bisa ikut bunda ke sekolah tanpa digendong terus menerus. Jadi bunda nggak khawatir dengan kondisi kamu :D

Supaya suatu saat bunda rela bepergian tanpa Syahla, karena Syahla sudah bisa main sendiri nantinya dan nggak merepotkan orang lain lagi.

Oh iya, Syahla sedang bersiap menjadi kakak ^_^ Sebentar lagi saya menuju status "mother of two". Dengan demikian, Syahla nggak akan kesepian lagi karena nanti punya adik yang usianya berdekatan. Horeee! *semoga akur dan nggak ributributmulu*

terka menerka...

Kirakira setelah melahirkan, saya berhenti mengajar atau lanjut ya?
Lalu.. kami masih akan tinggal di Karawang atau pindah rumah ke kota lain, atau justru kembali ke Tanjungsari?
Siapa tahu lolos beasiswa luar negeri. Aamiin..

Heu, segala kemungkinan bisa terjadi tanpa didugaduga.

Tak sabar menanti deretan hari esok yang penuh misteri.

Bismillah. Rela melakoni bidang yang sedang digeluti saja dulu-lah, setelahnya, siapa yang tahu? *singsingkan lengan* ~,~

Selamat berhijrah!

Kamis, 23 Juli 2015

Welcome

Hai... mulai hari senin kami jadi orang karawang yang benarbenar menetap di karawang.

Wowww....

Selamat datang di dunia pendidikan!

Masih ada dua sampai tiga hari lagi menikmati suasana tanjungsari dan bandung.

Bandung... Besok kami datang! Bersiap, packing dan sebagainya. Oh God, saya akan kembali jadi manusia kecoklatan karena panasnya mirip panas di kampung halaman. Heuheu.

Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan jalan yang terbaik untuk keluarga kami ini. Aamiin.

Minggu, 19 Juli 2015

Sometime

Kadang kau butuh seseorang yang mau mendengar ceritamu, keluhanmu bahkan sampai ocehan tak berguna. Seseorang yang ketika diajak bicara bukan menganggap lawan bicaranya itu sebagai saingan yang mesti dikomentari pendapatnya, mesti dikoreksi tiap tuturkatanya, bahkan selalu dianggap salah dalam berucap. Seseorang yang mau mendengarkanmu dengan pikiran suci dan selalu berprasangka baik di awal tuturan. Tak meremehkan ucapanmu barang sehuruf-pun.

Kadang menjadi orang yang berpikir itu sangat melelahkan. Bahkan lawan bicara kita pun sudah berpikir lebih dulu untuk menyiapkan kalimatkalimat, jawaban, respon dan atau komentarkomentar atas ucapan kita yang mungkin belum juga selesai disampaikan ketika itu.

Oh, God.

I think, i need someone.

Yes, i need.
He isn't my husband.

Maybe..... you.

Rabu, 08 Juli 2015

Menggenapi Usia

Kau tahu La, tubuh kita kuyup diguyur waktu...
Sejam lalu kita baru saja selesai menggenapkan usiamu.
Beberapa rekan dan sahabat datang mengunjungimu.
Bukankah kau bahagia dengan hal itu?

La, hidup tak sekadar menjalani hari demi hari sesuai langkah kaki maupun mimpimimpi di kepala,
hidup di kedalaman arti yang lebih rinci membawamu pada fase perubahan apapun.

Selalu bijak menghadapi hidup yang runyam ini, nak. Karena hidup tak sebercanda tingkah ayahmu.

Hidup untuk hidup.

Semoga tak ada sesal yang kembali berkelebat di deret usiamu kelak.

Selamat tanggal 8, La!
Mengulang tanggal di setiap bulannya, kemudian bersiap menghadapi fase berikutnya yang (mungkin) sangat kau nantikan.

Love you, dear!
Happy cakeday! :')

Senin, 06 Juli 2015

Kenang-Kenangan #1

Siang itu aku dipanggil oleh Pak Heru, guru biologi di sekolah yang juga menjabat sebagai pembina osis. Tahun 2009 aku demisioner dari osis, menduduki jabatan sebagai bendahara 1. Meski pada pemilihan suara, aku mendapat posisi terbanyak kedua, namun akhirnya aku ditempatkan sebagai bendahara, bukan wakil ketua. Tersebab dari kelima orang kandidat, tak ada yang berpengalaman memegang uang osis (tahun sebelumnya - 2007 aku menjabat sebagai bendahara 2 di osis saat baru masuk SMA kelas 10). Akhirnya aku pun rela ditugaskan kembali menjadi bendahara osis periode 2008-2009 saat menduduki kelas 11ipa3.

Kembali ke pemanggilan itu, tanpa banyak bicara Pak Heru memberi selembar surat edaran dari dinas kabupaten cirebon. Setelah membaca, akhirnya aku tahu kalau Pak Heru memintaku untuk menjadi perwakilan sekolah dalam ajang solo vokal putri tingkat kabupaten. Tak hanya sendiri, di ajang tersebut ada juga kategori laki-laki.

Tanpa kuduga, Pak Heru menyebut sebuah nama yang membuat kepalaku limbung. Laki-laki berinisial R. Di tulisan ini aku akan menyebutnya "Er".

Tak ada masalah dengan Er, hanya sebuah rasa yang membentur kepalaku untuk kembali mengingatnya.

Siapa Er?

Tak banyak yang tahu bagaimana perasaan kami tumbuh begitu saja. Perasaan yang tak pernah sampai pada tempatnya. Hingga aku memutuskan untuk menyudahi penantian yang sia-sia.

Baiklah, kembali ke pemanggilan itu. Beberapa saat setelah duduk di ruang TU, Er datang menghampiri kami. Ia mengetuk pintu dan melempar senyum pada kami. Bergegas tubuhnya sudah berpindah di sampingku.

Pak Heru memulai percakapan, meminta kami untuk hadir pada technical meeting di Sumber tanpa ditemani oleh dirinya ataupun guru yang lain karena hari itu bentrok dengan rapat guru-guru di sekolah. Er setuju dan mengusulkan untuk mengendarai motor ke tempat TM yang diperkirakan memakan waktu 45 menit dari sekolah. TM dilaksanakan entah berapa hari setelah pertemuan tersebut, yang pasti tak berselang lama.

Hari technical meeting tiba. Aku dan Er pergi ke Sumber menunggangi motor. Saat itu statusku memang sedang tak terikat pada siapapun karena hubunganku dengan Dee kandas menjelang kenaikan kelas 12. Maksudku, aku tak bisa menerima masa lalu Dee. Entahlah, aku begitu pemilih. Barangkali juga karena hatiku masih terikat pada Er, lelaki yang pertama kali membuatku nyaman di sekolah saat mengikuti tes seleksi pengurus osis di kelas 10.

Lelaki yang punya hobi sama denganku -menulispuisi. Lelaki yang punya ketertarikan yang sama -senidanmusik. Lelaki berjiwa seni dengan sekelumit cinta pada dunia kesenian. Lelaki yang aktif bergiat di Paskibra (pasukan pengibar bendera). Ia bisa membagi kecintaan pada dunia seni, olahraga maupun barisberbaris. Pun denganku. Jadi tak ada alasan untuk tidak tertarik padanya karena sederet keserasian yang ditakdirkan Tuhan.

Saat itu aku sedang jomblo dan menikmati masa lajang di usia remaja. Vakum dari dunia percintaan, aku memutuskan untuk menjalin persahabatan dengan beberapa orang lakilaki maupun perempuan. Hingga aku tak sadar, banyak lelaki yang nyaris patah hati karena terlalu percaya diri mendekatiku (baiklah, abaikan yang satu ini).

Aku tahu, Er sudah memiliki kekasih. Sebenarnya aku ingin menceritakan kronologi cerita ini dari awal, agar para pembaca bisa mengaitkan perasaan tokoh-tokoh dalam masalah ini. Tapi sudahlah, terlalu sesumbar. Barangkali bisa kalian temukan di cerpen berjudul "Feeling Guilty" yang sengaja kutulis untuk persyaratan diklat asas beberapa tahun lalu.

Well, karena alasan perintah dari sekolah, akhirnya tak ada masalah mengenai pemberangkatan ini. Kekasih Er bernama Fat. Kami bertiga (berempat dengan Dee -dulunya) termasuk teman dekat yang bergiat di osis maupun paskibra. Tak ayal, kedekatan kami berempat mulanya karena jabatan di paskibra. Aku dan Dee dipasangkan menjadi pengemban putra dan putri (bertanggungjawab atas satu angkatan), sedangkan Fat dan Er dipasangkan menjadi Bapak dan Ibu lurah (bertanggungjawab atas satu kepengurusan).

Teman-teman di sekolah juga sudah tahu kalau aku dan Er dekat karena Er memanggilku adik dan aku memanggilnya kakak. Namun jauh sebelum eratnya sebutan kakak-beradik itu, kami memang pernah mengikat hati. Sekadar mengikat dan meyakini bahwa ada rasa yang lain di antara kami berdua. Segalanya tampak biasa saja di depan orang-orang, barangkali karena semua hanya melihatnya dari kacamata depan saja, mereka tidak melihat jauh ke dalamnya.

Kedekatan kamipun direstui oleh seorang guru perempuan yang sudah kuanggap sebagai second mother. Aku menyebutnya Bunda. Tapi tetap, kami tak bisa mengikat hati di depan banyak orang. Kami hanya dekat sebagai sahabat, tak lebih. Barangkali cuma Bunda yang mengetahui perasaan kami satu sama lain. Itu pun Bunda ketahui ketika aku dan Er mengikuti lomba menyanyi solo di dinas kabupaten.

Bunda yang mengantar kami ke sana saat hari perlombaan. Bunda pula yang mendengar segala curahan hati kami masing-masing, hingga ia menganggap bahwa aku dan Er saling menyukai tapi tak bisa mengikat hati. Entah apa sebabnya, Bunda juga tak punya solusi.

Menuju perlombaan menyanyi, aku dan Er menyiapkan kostum sebaik mungkin. Er bahkan mengantarku membeli sepatu untuk kebaya yang akan kukenakan nanti. Hari itu Er pertama kali berkunjung ke rumahku.

Seusai membeli sepatu, Er mengobrol dengan ambu dan abah. Kami semua tampak akrab. Apalagi Er dan aku akan menyanyikan lagu lawas yang sangat dikenal ambuku. Er sampai berlatih menyanyikan lagu "Selendang Sutera" bersama ambu, karena beliau sangat hafal lagu tersebut. Aku juga tak kalah saing, ikut berlatih menyanyikan lagu "Pantang Mundur". Semuanya terdengar syahdu, ditambah suara ambu yang merdu.

Beberapa saat sebelum sampai di rumah, Er membelikanku eskrim. Ya, dia memang tahu kalau perempuan bermata sayu ini adalah maniak eskrim. Akhirnya dia membelikan beberapa eskrim untuk keluargaku juga. Bahkan Er sengaja membukakan cangkang eskrim untuk abah. Kedekatanpun terjalin di antara keduanya.

Begitulah, pertemuan singkat dengan Er yang menimbulkan kesan baik di mata keluargaku. Hingga aku benar-benar takut menghadapinya.

Bagaimana tidak?
Aku bepergian dengan seorang lelaki yang sudah tak sendiri. Membeli sepatu, bahkan makan eskrim bersama. Aku merasa janggal dengan keadaan itu, aku takut perasaan silam kembali muncul. Aku takut akan ada permasalahan yang timbul. Ya, aku takut menyulut pertengkaran antara Er dan Fat.

Berpindah dari ketakutanku dan kewaspadaan untuk tidak terlalu "baper", akhirnya aku berusaha santai menjalaninya. Sampai perlombaan itu benarbenar selesai dan aku tak akan dipersatukan lagi dengan Er.

Entah tanggal berapa saat itu. Aku lupa mengingatnya.

###
*tobecontinued*

Kamis, 02 Juli 2015

Setengah Sadar

Saya baru saja mengirim aplikasi lamaran pekerjaan ke email kepala SDIT Lampu Iman di Karawang. Well, itu rekomendasi dari Ibu (mertua saya). Dari kemarin kami ngobrol via whatsapp, Ibu tahu kalau saya kelewat jenuh diam di rumah dan ingin segera mengajar. Beliau merekomendasikan saya untuk ngajar di sekolah tersebut. Alasannya, Syahla tidak perlu masuk daycare karena bisa dititipkan ke Abi. Selain itu, karena jarak sekolah dan rumah Ibu yang sangat dekat. Selain itu lagi.. karena di sana ada adik ipar saya yang masih bersekolah, namanya Nisa. Doi tahun ini naik ke kelas tiga. Ibu sangat berharap kalau saya ingin kerja, lebih baik kami tinggal di Karawang supaya bisa dekat dengan keluarga suami dan Syahla tetap terpantau.

Pertengahan bulan kemarin, saya juga memasukkan aplikasi ke Temasek International School di Bandung. But, saya nggak yakin bakal lolos di sana karena berbagai macam hal. Saya masih takut buat nitipin Syahla ke daycare. Sebetulnya lebih condong buat ngajar di Bandung sih, karena suami juga domisili kerjaannya di Bandung. Mungkin rumah di tanjungsari mau kami jual (itupun kalau laku sesuai dengan harga yang kami pasang). Tapi semuanya bentrok di batin seorang ibu yang nggak bisa jauh berlamalama dari bayi mungilnya. Saya juga masih belum rela dan belum sepenuhnya tega-yakin-percaya buat nyerahin Syahla ke tangan oranglain. Huhu.

Duuuh, jadi dugdugser sendiri. Banyak keraguan buat masukin aplikasi ke berbagai lowker. Aslinya.. Belum rela ninggalin Syahla barang limamenit bahkan berjam-jam :(

Entahlah, tapi sayanya juga pengen ngajar nih. Mumpung materi penguasaan kelas dan teknik pengajarannya masih nempel erat di kepala, takutnya kelamaan di rumah malah bikin tumpul.

Baca? Nulis?
Udah... tapi tetep, pengen bersosialisasi di dunia luar.

Kubu pertahanan otak dan batin saya mulai 'sengklek' dan 'bengkok'. Saya nggak bisa milih mana yang lebih baik. Memang benar-benar kudu solat istikhoroh sesuai saran ibu :') *efek ngobrol panjanglebar sama ibu mertua di whatsapp*

Dari segala kemungkinan, saya lebih milih untuk tetep tinggal serumah dengan suami dan Syahla *di manapun itu nantinya*. Karena bagaimanapun, hidup berumah tangga lebih asik kalau tinggal mandiri dalam sebuah rumah.

Ehya, tetangga di rumah ini juga udah mulai asik *saya dan suami makin ragu buat pindah rumah* ah!

Yaaah, Insya Alloh ada jalan yang terbaik dari segala pilihan ini. Bismillah aja.

Sambil nunggu acc lamaran, mending baca-tulis dan jualan online dulu gih! *ujar batin saya* tibatiba semuanya ditinggalkan setelah melihat tingkah lucu Syahla. ~saya mah gini orangnya.

Selamat tidur!