Pada suatu hari, hiduplah sebuah
keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang
anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat
memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.
Besar harapan malin dan ibunya, suatu
hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat
untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata
ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang
dan ibunya.
Setelah Malin Kundang beranjak dewasa,
ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya
ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal
dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.
Selama berada di kapal, Malin Kundang
banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah
berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada
teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam
hal perkapalan.
Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai
dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin
Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang
berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal
dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin
Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena
ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang
tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah
laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai.
Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang
terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong
oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian
yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur.
Dengan keuletan dan kegigihannya
dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil
menjadi seorang yang kaya raya. Ia
memiliki banyak kapal dagang dengan anak
buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin
Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan
istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak
buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari
menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan.
Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin
kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia
disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan
kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah
Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama
tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi
Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku",
kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali
ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju
compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang.
"Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku
agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar
pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat
marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya
yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh
Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu".
Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang
menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan
menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
|
Kamis, 27 Desember 2012
MALIN KUNDANG
TIMUN MAS
Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama
mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni
tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar
bisa membantunya bekerja.
Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk
mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat
besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau
mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni.
“Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia
untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak
mempunyai anak”.
Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya
anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun.
Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun.
Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan
mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah
usianya enam tahun”.
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat
lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian
mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang
sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.
Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok
Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya
bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.
Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk
menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun
emas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun
lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa
pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu
tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa
si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam
mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui
petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk
segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian
bercerita tentang maksud kedatangannya.
Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan
kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per
satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa.
Kemudian timun meas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang
petapa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji.
“Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”,
teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku
ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang
kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan
akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun emas?”, teriak si raksasa.
Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar
dari tempat sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau
bisa!!!”, teriak timun emas.
Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai
melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang
mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun
tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas
juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong
kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat
tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu
tersebut si raksasa terus mengejar.
Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang
berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu
dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan
terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa
tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.Timun Emas mengucap syukur
kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya
Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.
Rabu, 26 Desember 2012
Begitu Melankolisnya Lagu Fatwa Pujangga by Rendy Ahmad (Arai Sang Pemimpi)
sejak minggu, 23 desember 2012 yang lalu saya memutuskan untuk mudik ke rumah di cirebon karena memang sedang libur kuliah alias pekan sunyi sebelum kegiatan UAS berlangsung awal januari 2013 nanti.
sesampainya di rumah, pemandangan baru mulai tertata di sekeliling rumah.
sebuah toko air isi ulang menjadi tetangga baru toko pakaian milik ibu.
yaa.. sejak kepulangan ayah ke rumah Tuhan,
ibu berhasil menyewakan bagian depan rumah kami kepada penjual air mineral,
sehingga tampak lebih ramai dari biasanya.
dan kini aku tahu, ibu tak kesepian lagi *semoga :)
- di rumah -
setiap malam tiba, ibu menyalakan handphone-nya dan memutar lagulagu terbaru yang diberikan oleh kakak lelaki saya satu-satunya yang kini menetap di cicalengka- bandung.
tret.. trot.. tret.. trot...
jreng, jreng, jreng, jreng...
hehehe
sederet lagu yang sedikit demi sedikit mulai saya ingat dan pernah saya dengar sejak kecil karena biasa ibu nyanyikan sewaktu saya masih sekolah dasar dan tinggal di rumah.
sederet lagu yang biasa di-karaoke-kan ibu dan kakak perempuan saya acapkali waktu senggang.
di antaranya..
- Bengawan Solo - Hetty Koes Endang
- Simalakama - Rama Aiphama
- Kota Solo - Hetty Koes Endang
- Tenda Biru - Desi Ratnasari
- Tuhan - Bimbo
- Sajadah Panjang - Bimbo
- Ada Anak Bertanya pada Bapaknya - Bimbo
- Warung Pojok - Sri Dian Pertiwi & Mus Mulyadi
- Fatwa Pujangga - versi Rama Aiphama & versi Said Effendi
- Bunga Seroja - Rama Aiphama
- Sebiduk di Sungai Musi - Alfian
- Bunga Nirwana - Dlloyd
- Dinda Bestari - Rama Aiphama
dan...masih banyak lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan secara utuh di sini, hehe :D
(^_^)
lagulagunya nice banget..
nostalgiaan orang tua gitu.
tapi jujur, saya memang suka lagulagu nostalgia garagara si ibu sering muterin lagulagu lawas tersebut di rumah.
***
seeeekkkkiiiiiiiiiiiiiiiip..........
putar lagu berikutnya...
jreeeeng...
sebuah lagu yang mengembalikan ingatan saya pada sebuah film lama yang sangat saya sukai :D
film "SANG PEMIMPI"
yaa... sebuah lagu yang dinyanyikan oleh aktor idola saya - Rendy Ahmad (sebagai Arai)
LAGU "Fatwa Pujangga"
(^_*)
di handphone ibu terdapat dua versi yaitu versi Rama Aiphama dengan musik dan nada yang lebih nge - beat, lalu satu lagi versi Said Effendi dengan musik dan nada yang lebih mellow.
sejurus waktu, ingatan saya kembali ke masamasa nonton film Sang Pemimpi.
lagu yang sengaja Rendy Arai Ahmad nyanyikan untuk gadis berkerudung merah (diperankan oleh Maudy Ayunda).
akhirnya setelah memutar otak, saya pun memutuskan untuk men - download lagu Fatwa Pujangga versi Rendy Arai Ahmad beserta videonya dari youtube..
berbagi link - nya ::
1. http://www.4shared.com/mp3/Bfft-lEW/Rendy_Arai_Ahmad_-_Fatwa_Pujan.html
2. http://www.youtube.com/watch?v=lHwb-_fdZzY
hihihi.. *segitunya.. :')
alhasil, lagunya lebih melankolis dari dua versi penyanyi sebelumnya,
dan lagu tersebut menambah kekaguman saya pada tokoh Arai di film Sang Pemimpi buah karya Andrea Hirata itu (novel).. hehehe.
(^_^)
hmm...
enough.. just it!
sekian dan terima kasih kepada My Beloved Mother sudah mengembalikan ingatan saya ke beberapa tahun lalu.. :D
Selasa, 25 Desember 2012
a little story
Sejak
kecil sebenarnya aku lebih suka bergaya di depan kaca, atau kadang menunjukan
bakat fashion show – ku di depan keluarga. Dengan memakai dress mini,
atau sekedar handuk acapkali selesai mandi, pasti aku langsung bergaya dan
berjalan lenggak-lenggok bak seorang model menuju kamarku. Itu aku lakukan
sejak usiaku berkisar 5-6 tahun. Ketika itu aku masih menduduki taman
kanak-kanak.
Di
rumah (cirebon) bahkan sampai saat ini masih bertumpukan seberkas CD lagu-lagu
India yang dulu sengaja kubeli karena kegemaranku menonton film India di tv.
Kini jarang kutemui film India di channel-channel
televisi, mungkin karena sudah tersingkirkan dengan banyaknya film maupun
acara-acara di Indonesia yang harus tayang, sehingga film luarpun berkurang
porsinya.
Semakin hari, aku semakin menyukai musik-musik India. Tarian-tariannya pun mulai handal kugerakkan, liriklirik lagunya mulai hafal kunyanyikan, karena alat inderaku bersedia menampung kilasan gerak-gerik artis India yang menari dan bernyanyi saat musik terlantun.
Entah mengapa aku jadi pandai menari dan justru tertarik pada dunia tarian. Hal itupun menjadi sebuah prestasi perdanaku ketika duduk di bangku Taman Kanak-kanak.
Aku meraih juara terbaik dalam lomba yang tidak sengaja diadakan di TK – ku ( TK Al-Hikmah Cirebon).
Semakin hari, aku semakin menyukai musik-musik India. Tarian-tariannya pun mulai handal kugerakkan, liriklirik lagunya mulai hafal kunyanyikan, karena alat inderaku bersedia menampung kilasan gerak-gerik artis India yang menari dan bernyanyi saat musik terlantun.
Entah mengapa aku jadi pandai menari dan justru tertarik pada dunia tarian. Hal itupun menjadi sebuah prestasi perdanaku ketika duduk di bangku Taman Kanak-kanak.
Aku meraih juara terbaik dalam lomba yang tidak sengaja diadakan di TK – ku ( TK Al-Hikmah Cirebon).
Ketika itu guruguru kami tidak memberitahukan bahwa ada lomba di sekolah. Mereka hanya menyuruh kami berkumpul dan berdiri dalam satu ruangan luas dengan tape yang mulai memutarkan lagulagu nge - beat. Di sana berkumpullah semua murid TK Al-Hikmah mulai dari kelas nol kecil sampai kelas nol besar.
Setelah itu salah satu guru kami memberi aba-aba agar kami mulai menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama musik. Dengan hanya memerintahkan kami untuk mulai menari, kami pun melenggak-lenggok sesuka hati. Kami hanya tahu bahwa hari itu adalah hari free pelajaran, dan digantikan dengan hiburan kami menari-nari sepuasnya mengikuti irama musik yang diputar guru kami.
Esoknya, sebelum memulai pelajaran, guruku yang menjadi wali kelasku saat itu mengumumkan sebuah informasi tentang kegiatan kemarin.
Ternyata...
kegiatan menari kemarin dilombakan tanpa sepengetahuan kami,
dan terpilihlah aku sebagai juara favorit guruguru.
Akhirnya akupun mendapat sebuah bingkisan sebagai hadiah penari terbaik, dan setelah kubuka, bingkisan itu berisi sebuah kaos bergambar kartun tweete dengan bertuliskan pemenang lomba menari TK Al-Hikmah. Akupun sangat terkejut dan bahagia.
Sepulangnya di rumah, aku memberitahukan hal itu pada ibu, dan ibu langsung tertawa merespon ceritaku. Aku senang dan semakin suka menari karena prestasi yang kuraih ketika itu menambah motivasiku untuk menjadi penari. Kini kaos yang menjadi hadiah pertamaku itu entah berada di mana, karena sudah hampir 14 tahun aku tak memakainya lantaran tubuhku yang semakin besar.
Beranjak
ke masamasa sekolah dasar. Aku agak lupa memastikan usiaku, mungkin ketika aku
masih duduk di bangku kelas 3 atau 4 SD.
Sebuah madrasah di daerah tempat tinggalku mengadakan lomba membaca puisi tingkat pelajar. Lomba tersebut tidak dibatasi berapa usia pelajarnya, yang merasa dirinya pelajar, maka boleh mengikuti lomba tersebut.
Entah ada angin apa, tibatiba kakakku yang kini menjadi guru bahasa inggris (Lena Rosyana) menyuruhku untuk ikut lomba tersebut, dan ia berjanji akan melatihku membaca puisi. Saat itu kepolosan membawaku untuk menerima tawaran kakakku itu.
Dengan modal seadanya, aku pun mengikuti lomba tersebut. Aku masih ingat judul puisi yang kubacakan ketika lomba, yaitu..
"Kupu-kupu"
Entah karya siapa, aku lupa. Tapi ada satu yang sangat kuingat. Lomba itu diikuti oleh sebagian besar seniorku di sekolah agama, dan aku adalah peserta termuda di sana.
Temanteman sebayaku tidak berminat mengikuti lomba tersebut, akhirnya rasa minder pun hampir menjelajahi pikiranku. Namun, aku terlanjur mendaftarkan diri di lomba tersebut. Sehingga mau tak mau aku harus tetap mengikutinya, setidaknya bisa menunjukkan hasil latihan bersama kakakku.
Sebuah madrasah di daerah tempat tinggalku mengadakan lomba membaca puisi tingkat pelajar. Lomba tersebut tidak dibatasi berapa usia pelajarnya, yang merasa dirinya pelajar, maka boleh mengikuti lomba tersebut.
Entah ada angin apa, tibatiba kakakku yang kini menjadi guru bahasa inggris (Lena Rosyana) menyuruhku untuk ikut lomba tersebut, dan ia berjanji akan melatihku membaca puisi. Saat itu kepolosan membawaku untuk menerima tawaran kakakku itu.
Dengan modal seadanya, aku pun mengikuti lomba tersebut. Aku masih ingat judul puisi yang kubacakan ketika lomba, yaitu..
"Kupu-kupu"
Entah karya siapa, aku lupa. Tapi ada satu yang sangat kuingat. Lomba itu diikuti oleh sebagian besar seniorku di sekolah agama, dan aku adalah peserta termuda di sana.
Temanteman sebayaku tidak berminat mengikuti lomba tersebut, akhirnya rasa minder pun hampir menjelajahi pikiranku. Namun, aku terlanjur mendaftarkan diri di lomba tersebut. Sehingga mau tak mau aku harus tetap mengikutinya, setidaknya bisa menunjukkan hasil latihan bersama kakakku.
Di penghujung acara, para pemenang lomba pun diumumkan. Alhasil, aku meraih juara harapan pertama pada lomba itu, dan tiga orang peraih juara inti adalah senior yang usianya jauh di atasku, kisaran usia SMP. Aku senang sekali, setidaknya aku mendapat piagam penghargaan dan bingkisan buku beserta alat tulisnya. Kakakku pun sangat bangga mengetahuinya.
“siapa dulu pelatihnya?” ujarnya sombong.
Duduk
di bangku kelas 5 – 6 SD, gairah menariku mulai sedikit terkikis karena
prestasi di bidang akademik yang menuntutku menjadi juara kelas.
Aku terlanjur meraih ranking pertama berturut-turut sejak kelas 1 sampai
6 SD (Tuhan yang mencerdaskanku dan mengatur segalanya), maka dari itu prestasi tersebut aku kembangkan agar bisa lulus ujian
nasional dengan hasil terbaik.
Saat duduk di bangku kelas 5 SD itulah aku diajar oleh seorang guru bahasa Indonesia yang sangat komunikatif dan juga ekspresif. Caranya mengajar tidak membuat kami merasa jenuh. Kami justru senang ketika pelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Aku masih ingat nama guru favorit kami itu, ‘Ibu Ida’ guru bahasa Indonesia di SDN1 Pabuaran Kidul. Guru kedua yang sangat dekat denganku setelah ‘Ibu Ikeu’ wali kelasku.
Ibu Ida mengajarkan bahasa dengan gaya dan kemasan yang menarik. Kami diajarkan membaca puisi, cerita, pidato, berita, dan lainnya dengan ekspresi yang sesuai, dan nada juga tempo yang teratur.
Alhasil,
aku menjadi perwakilan sekolah dasarku untuk mengikuti lomba membaca puisi antar-sekolah di tingkat kecamatan. Aku pun meraih juara kedua. Mungkin karena aku agak kesulitan membaca puisi yang dilombakan dalam bahasa sunda.
Puisi karya Hikmat Sadkar berjudul Tanah Sunda
dan
Sangkuriang karya Beni Setia.
Dua puisi yang menggunakan bahasa sunda dan aku berhasil membacakannya di depan umum meskipun diawal latihan aku agak kesulitan memaknai isinya.
Aku tetap bangga meraih juara kedua, tapi terlintas sedikit rasa kecewa dibenakku ketika mengetahui bahwa yang mendapat juara pertama akan diikutkan dalam lomba membaca puisi tingkat kabupaten dan mewakili kecamatan tersebut.
Tapi beruntunglah temanku bernama ‘Lilih’, dia berhasil membawa nama baik sekolahku karena meraih juara pertama lomba mendongeng dalam bahasa sunda dan akan mewakili kecamatan kami untuk mengikuti lomba di kabupaten.
Dongeng yang berjudul ‘Sakadang Kuya jeung Sakadang Maung’ mampu menghantarkannya ke tingkat kabupaten. Ternyata ‘Lilih’ pun meraih juara kedua lomba mendongeng di tingkat kabupaten Cirebon. Sebuah kebanggaan besar bagi kami dan sekolah kami.
Saat duduk di bangku kelas 5 SD itulah aku diajar oleh seorang guru bahasa Indonesia yang sangat komunikatif dan juga ekspresif. Caranya mengajar tidak membuat kami merasa jenuh. Kami justru senang ketika pelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Aku masih ingat nama guru favorit kami itu, ‘Ibu Ida’ guru bahasa Indonesia di SDN1 Pabuaran Kidul. Guru kedua yang sangat dekat denganku setelah ‘Ibu Ikeu’ wali kelasku.
Ibu Ida mengajarkan bahasa dengan gaya dan kemasan yang menarik. Kami diajarkan membaca puisi, cerita, pidato, berita, dan lainnya dengan ekspresi yang sesuai, dan nada juga tempo yang teratur.
Alhasil,
aku menjadi perwakilan sekolah dasarku untuk mengikuti lomba membaca puisi antar-sekolah di tingkat kecamatan. Aku pun meraih juara kedua. Mungkin karena aku agak kesulitan membaca puisi yang dilombakan dalam bahasa sunda.
Puisi karya Hikmat Sadkar berjudul Tanah Sunda
dan
Sangkuriang karya Beni Setia.
Dua puisi yang menggunakan bahasa sunda dan aku berhasil membacakannya di depan umum meskipun diawal latihan aku agak kesulitan memaknai isinya.
Aku tetap bangga meraih juara kedua, tapi terlintas sedikit rasa kecewa dibenakku ketika mengetahui bahwa yang mendapat juara pertama akan diikutkan dalam lomba membaca puisi tingkat kabupaten dan mewakili kecamatan tersebut.
Tapi beruntunglah temanku bernama ‘Lilih’, dia berhasil membawa nama baik sekolahku karena meraih juara pertama lomba mendongeng dalam bahasa sunda dan akan mewakili kecamatan kami untuk mengikuti lomba di kabupaten.
Dongeng yang berjudul ‘Sakadang Kuya jeung Sakadang Maung’ mampu menghantarkannya ke tingkat kabupaten. Ternyata ‘Lilih’ pun meraih juara kedua lomba mendongeng di tingkat kabupaten Cirebon. Sebuah kebanggaan besar bagi kami dan sekolah kami.
Duduk di bangku kelas 5 SD, banyak hal yang ingin selalu aku ingat. Di samping
buku diary (harian) yang sudah gemar
kutulis sejak duduk di bangku kelas 3 SD, aku pun menuliskan ceritacerita
imajinasiku dalam sebuah buku tulis bersampul putih yang sengaja kubuat dan
kuberi judul “NOVEL”, buku itu aku
beri makan hingga aku duduk di bangku SMP.
Skip....skip.....skip....
SMP ---> SMA ---> KULIAH
SMP ---> SMA ---> KULIAH
(beberapa tahun kemudian...)
Tahun
2012 bulan Agustus lalu, aku mudik ke cirebon, sebuah kamar dengan suasana
berbeda kudapati ketika pulang ke rumah. Ternyata ibu mengganti tata letak barang
di dalam kamar. Aku pun membuka sebuah lemari berisi tumpukan dan jejeran buku
yang pernah kubeli dan kubaca sejak kecil.
Di sana kutemukan sebuah buku yang mengembalikan ingatanku ke beberapa tahun silam. Sebuah buku dengan sampul yang tidak berwarna putih lagi dan agak usang, kutemukan di antara tumpukan buku pelajaranku ketika SMP. Buku bertuliskan “NOVEL” itu aku buka dan kubaca kembali.
Di sana kutemukan sebuah buku yang mengembalikan ingatanku ke beberapa tahun silam. Sebuah buku dengan sampul yang tidak berwarna putih lagi dan agak usang, kutemukan di antara tumpukan buku pelajaranku ketika SMP. Buku bertuliskan “NOVEL” itu aku buka dan kubaca kembali.
Sejurus
waktu, gelak tawaku pecah. Aku langsung merasa geli akan isi dari buku itu. Kumpulan
cerita pendek yang mengisahkan perjalanan persahabatan dan cinta masa kecilku (cimon)
dengan jelas tergambarkan dalam sudut pandang orang ketiga. Benar-benar takjub
dan masih belum mempercayainya.
Tapi ada satu yang membuat mataku geli sehingga menggelitik organ tubuhku lainnya. Buku itu berjudul NOVEL akan tetapi di dalamnya justru berisi kumpulan cerita pendek roman picisan dengan variasi judul masingmasing di tiap cerita. – Hahaha – salah tafsir nama..
Tapi ada satu yang membuat mataku geli sehingga menggelitik organ tubuhku lainnya. Buku itu berjudul NOVEL akan tetapi di dalamnya justru berisi kumpulan cerita pendek roman picisan dengan variasi judul masingmasing di tiap cerita. – Hahaha – salah tafsir nama..
Sedikit aku dokumentasikan bentuknya ::




Ini
sepenggal catatan masa kecilku yang berhasil kubuat sebagai alarm memoar masa
silam. Meskipun masih ber-genre cerita populer (nge-pop) tapi setidaknya keinginanku untuk menulis cerita tanpa kusadari sudah tertanam sejak sekolah dasar.
Berawal
dari menari,
membaca puisi,
menulis pengalaman yang dijadikan cerita,
dan satu lagi yang belum sempat kuceritakan dalam catatan ini...
‘menyanyi’ ,
sebuah hobi yang terlesap di antara ketiga hal itu.
membaca puisi,
menulis pengalaman yang dijadikan cerita,
dan satu lagi yang belum sempat kuceritakan dalam catatan ini...
‘menyanyi’ ,
sebuah hobi yang terlesap di antara ketiga hal itu.
Semuanya berkembang dan menyatu dalam jiwaku karena seorang wanita yang melatih kemampuanku sejak kecil. Aku adalah penggemar beratnya. Sampai kapanpun wanita itu adalah segalanya bagiku. Dia bukanlah kakakku yang melatihku membaca puisi, bukan pula guruguruku yang mengajari aku membaca dan berhitung, melainkan seorang wanita yang selalu menemani harihariku di rumah, yang menjelma malaikat dan mampu menjadi siapapun bagi perkembanganku.
(foto kedua orangtuaku zaman dulu)
Yaaa...
===== >>>> IBU
(',')
Beliau yang menambah kecintaanku pada kegiatan ‘menyanyi dan bercerita (mendongeng)’.
===== >>>> IBU
(',')
Beliau yang menambah kecintaanku pada kegiatan ‘menyanyi dan bercerita (mendongeng)’.
Sejak kecil, acapkali langit menutup diri, ibuku selalu mendongengkan ceritacerita legenda dan asal mula suatu tempat. Semisal cerita sangkuriang, danau toba, malin kundang, dan lainnya. Tak lupa ia selalu menyisipkan sebuah lagu yang berkaitan dengan cerita yang akan diceritakannya padaku menjelang tidur.
Sebuah
lagu anakanak dalam bahasa sunda, penghantar cerita anakanak yang ia ceritakan
padaku ::
abdi teh ayeuna
gaduh hiji boneka
teu kinten saena
sareng lucuna
ku abdi dierokkan,
erokna sae pisan
cik mangga tingali
boneka abdi
(^_^)
Sebuah lagu penghantar cerita Sangkuriang yang kini masih terekam dalam memoarku ::
nun dupa mengalun buka
tabir purbakala
riwayat priangan
ibu yang menanggung malang
dipercinta
oleh putra sangkuriang sakti
walau
mengetahui itu ibunda sejati
agar dapat
berlabuh di gelap malam
diminta menyiapkan
telaga dan perahu semalam
nun di
timur fajar tiba sebelum waktunya
sangkuriang
putra tak menepati janjinya.
....dan....
masih banyak lagu lainnya yang menjadi gawang kecintaanku pada menyanyi dan mungkin belum sempat aku tuliskan liriknya dalam catatan ini..
masih banyak lagu lainnya yang menjadi gawang kecintaanku pada menyanyi dan mungkin belum sempat aku tuliskan liriknya dalam catatan ini..
***
“IBU”
adalah pembimbing setia dalam catatan masa kecilku,
hingga kini..
selama ia dan aku masih bernafas.
Sebuah niatan tumbuh untuk menuliskan riwayat hidupnya dalam seberkas karyaku kelak.
** Mom... u’re my everything ** []
Kamis, 22 November 2012
and forever.. i will always love you
" mengapa cemburu lebih dulu sampai melebihi bayanganku? "
meskipun aku tahu, saat ini - posesif - adalah penyakit yang sering menggerogoti pikiran dan perasaanku.
aku tak pernah tahu tentang suratan takdir yang telah dituliskan Tuhan.
saat ini, aku sedang menjalaninya tanpa perlu menyesali segala keputusan yang telah aku ambil.
apapun itu, yaa.. inilah adanya.
sesuatu yang telah aku pertimbangkan masakmasak.
semoga tetap menjadi sesuatu yang abadi, seperti awan yang kekal mengambang di permukaan langit.
sudah hampir genap dua tahun hubungan ini diresmikan.
entah siapa yang lebih dulu meresmikannya, dia.. atau justru aku?
kami hanya berhubungan melalui bahasa tubuh, tanpa perlu mengucapkan peresmian yang sakral sebagai ungkapan pemastian status kami.
ini baru kualami pertama kali seumur hidupku.
cinta yang bermula dari ketidaksengajaan, dan semoga tidak berakhir dengan tidak sengaja pula.
aku mencintainya juga menyayanginya, lelakiku - yang biasa kusebutsebut sebagai seorang malaikat.
aku tak pernah mau meresmikan hubungan kami - pada awalnya. sama seperti ketidakmauanku meresmikan blog ini sebagai buku harianku. namun itu di luar dugaanku. kami menjalin hubungan spesial, lebih dari dua sejoli yang saling berbagi isi hati. kami mulai segan melakukan apapun bersama. sehingga terjadilah sebuah waktu di mana aku harus memutuskan hubunganku dengan lelaki lain yang lebih dulu memboyong hatiku. akhirnya sama sepertiku. ia pun begitu, memutuskan untuk segera melupakan masa lalunya yang dulu sangat sulit untuk dilupakan karena cintanya yang masih bertengger di wajah elok wanita itu..
well, yang lalu biarlah memudar di belukar awan dan tertimbun di jejakjejak aspal.
seperti katanya :
" kini hanya ada kau dan aku "
" kini hanya kau dan juga karyaku "
perkataan yang semakin menguatkan benteng hubungan kami dan keyakinanku terhadap keseriusannya.
hal ini tidak aku simpulkan sendiri.
tepat sekitar tiga bulan yang lalu, aku mendapat kabar burung dari mantan kekasihnya,
" semoga kalian bahagia. Yorrick sangat mencintaimu. Carroline.. kau adalah wanita yang tepat untuknya, karena aku melihat keseriusan itu di tingkah laku Yorrick sebelum memutuskan hubungan kami. " - ucap Chaterine padaku - kabar ini kudengar dari burungburung yang sempat bermukim di pohon yang terletak tepat sebelah kanan jendela kamarku.
aku senang mendengarnya, maka dari itu akan kupertahankan dia.
meskipun aku tahu, saat ini - posesif - adalah penyakit yang sering menggerogoti pikiran dan perasaanku.
posesif = segala yang berlebihan tentang perasaan ini terhadapnya.
aku takut, tapi aku masih kuat melangkahkan kaki untuk sampai di singgasananya.
aku akan membuang arloji lamanya bersama Chaterine, dan akan kubelikan Yorrick arloji baru sebagai penguat memoar waktu atau ingatan kami tentang segala yang kami lalui bersama.
kini Yorrick semakin pandai meramu kata juga mengemas perilakunya dengan baik supaya aku tetap terjaga dalam pikiran dan perasaanku ini.
yaa... Yorrick saat ini berbeda dengan Yorrick terdahulu.
aku mencintaimu, Yorrick.. :)
and forever... i will always love you..
Rabu, 07 November 2012
PATOS
- - buat Irma Nurfa
ada yang mesti kau padamkan
ketika senyum telah dingin di wajah ranummu
dan rumah tak lagi menjadi penawar rasa rindu
kau hanya bertumpu pada kaki yang mulai layu
aku menemukanmu bisu di bibir jalan
serupa arca di museum penghabisan
ketika langit bersemayamkan senja yang memudar
aku tahu, kini rumahmu
tak sebising dulu
padahal kita masih asyik menimang masa silam
kemarilah Kak,
kubelikan arloji baru untukmu
dengan jarum jam yang tak lagi memutar memoar lalu
dengan segugus arpus yang mampu menopang jemu.
kemarilah,
bersama siluet penyulut rindu.
meaning of jealous?
sudah lama tak bersua dengan blog ini.
rindu? ya, tentu.
dear.. diamond..
ada yang ingin aku ceritakan.
sedikit menyentuh ranah curahan hati.
ini tentang seberkas jemu yang mulai merunjam sekerlip mataku.
kau tahu,
apa itu cemburu?
aku tak pernah berani menerjemahkan makna cemburu. tapi tak kusangka bahwa dengan sendirinya ia mampu hadir di tiap ruang gerakku bersamanya.
aku selalu mewaspadai hal ini. namun kewaspadaan itu tak sekedar menjadi acuan untuk tidak merasakannya, melainkan kukemas pula dalam balutan kemesraan.
"cemburu yang mesra."
cemburu yang akhirnya tidak menjatuhkanku pada sifat ambisius ataupun posesif.
cemburu yang sehat.
cemburu yang sewajarnya terjadi pada tiap pasang insan.
cemburu...
cemburu?
yes, any time 'jealous' can killing me.. slowly..
entah mengapa baru kali ini aku merasakannya lagi.
cemburu yang berlebihan.
cemburu yang dulu tak pernah menjajah pikiran dan perasaanku hingga selayu ini.
kini ia hadir kembali dengan senyum menyeringai.
seolah membawa segugus kebengisan dan pertengkaran masa silam.
cemburu..
serupa nenek sihir yang mengudara di pojokpojok arteri
sambil membisikkan sebundel pertengkaran
ia berlabuh di belukar awan, hingga terjadilah hujan yang berkepanjangan.
cemburu?
i don't understand about it,
but i have felt..
- ('_') -
rindu? ya, tentu.
dear.. diamond..
ada yang ingin aku ceritakan.
sedikit menyentuh ranah curahan hati.
ini tentang seberkas jemu yang mulai merunjam sekerlip mataku.
kau tahu,
apa itu cemburu?
aku tak pernah berani menerjemahkan makna cemburu. tapi tak kusangka bahwa dengan sendirinya ia mampu hadir di tiap ruang gerakku bersamanya.
aku selalu mewaspadai hal ini. namun kewaspadaan itu tak sekedar menjadi acuan untuk tidak merasakannya, melainkan kukemas pula dalam balutan kemesraan.
"cemburu yang mesra."
cemburu yang akhirnya tidak menjatuhkanku pada sifat ambisius ataupun posesif.
cemburu yang sehat.
cemburu yang sewajarnya terjadi pada tiap pasang insan.
cemburu...
cemburu?
yes, any time 'jealous' can killing me.. slowly..
entah mengapa baru kali ini aku merasakannya lagi.
cemburu yang berlebihan.
cemburu yang dulu tak pernah menjajah pikiran dan perasaanku hingga selayu ini.
kini ia hadir kembali dengan senyum menyeringai.
seolah membawa segugus kebengisan dan pertengkaran masa silam.
cemburu..
serupa nenek sihir yang mengudara di pojokpojok arteri
sambil membisikkan sebundel pertengkaran
ia berlabuh di belukar awan, hingga terjadilah hujan yang berkepanjangan.
cemburu?
i don't understand about it,
but i have felt..
- ('_') -
Rabu, 03 Oktober 2012
all about Diamond
all about me…
“INTAN PERTIWI”
life is struggle
and struggle needs sacrifice
and every sacrifice is worship
Intan, begitulah
orang-orang biasa menyapanya. Perempuan yang lahir di Cirebon pada tanggal 12
September 1992 ini mempunyai nama lengkap Intan Pertiwi. Sejak lahir sampai
duduk di bangku SMA, Intan memang sudah tinggal di Cirebon. Namun, saat ini ia
tinggal di tempat kos-kosannya yang terletak di Jalan Cilimus no.103 rt.07 rw.06 Kelurahan Isola
Kecamatan Sukasari Bandung. Letaknya tak jauh dari tempat kuliahnya sekarang. Perempuan
yang memiliki hobi bernyanyi ini ternyata masih duduk di bangku kuliah. Selain bernyanyi, Intan
juga mempunyai hobi membaca dan menulis berbagai bentuk karya tulis ataupun
karya sastra. Saat ini Intan mengambil
kuliah pada jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan salah satu progam study di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni yang
ada di Universitas Pendidikan Indonesia Kota
Bandung, tepatnya pada tahun
2010 lalu. Sebelumnya ia telah mengunyah bangku pendidikan di TK Al-Hikmah Pabuaran Kidul dan lulus tahun 1998, lalu berlanjut ke SD
Negeri 1 Pabuaran Kidul dan
lulus pada tahun 2004, kemudian di SMP Negeri 1 Ciledug lulus tahun 2007, dan
juga di SMA Negeri 1 Lemahabang yang lulus pada tahun 2010.
Perempuan yang sekarang masih menduduki kelas
Pendidikan B ini masuk ke UPI melalui jalur beasiswa bidikmisi yang
diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Untuk meraih beasiswa tersebut, ia
pun melampirkan beberapa sertifikat ataupun piagam penghargaan yang pernah ia
dapatkan berkat prestasinya selama itu.
Intan pernah meraih juara pertama pada lomba membaca naskah berita se-kabupaten
Cirebon. Ia juga pernah meraih juara ketiga
lomba menulis karya tulis ilmiah yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten
Cirebon. Selain prestasi yang diraih dari cabang Bahasa dan Sastra Indonesia,
ia juga pernah mengikuti lomba menyanyi solo se-Kabupaten Cirebon dan meraih
juara ketiga. Intan juga pernah menjadi perwakilan kabupaten Cirebon dalam
mengikuti lomba mengarang esai berbahasa
sunda tingkat Provinsi se-Jawa Barat yang diadakan di kota Tasikmalaya. Di luar bidang bahasa Indonesia, Intan yang sejak kecil
menyukai mata pelajaran bahasa inggris itupun menuangkan kemahirannya
beretorika dengan mengikuti ajang lomba pidato bahasa inggris, dan pernah dua
kali berturut-turut menjadi juara pertama dalam lomba pidato bahasa inggris di
SMA-nya.
Dalam
menggeluti kegiatan, Intan adalah seorang perempuan yang hanya mampu
memfokuskan diri pada satu hal yang sedang digarapnya. Perempuan yang memiliki
tinggi badan sekitar 157cm ini mengaku bahwa dirinya sudah aktif berorganisasi
sejak sekolah dasar. Keaktivannya itu berhasil mengangkatnya menjadi pratama
putri dalam organisasi pramuka sekaligus menjadi murid teladan di sekolah
dasarnya. Menduduki masa-masa SMP, hasrat berorganisasinya semakin tinggi. Ia
pun menyalurkan aktivitasnya ke dalam organisasi inti atau OSIS di SMP
tersebut, dan menduduki jabatan sebagai wakil ketua OSIS. Selain mengikuti
organisasi intra sekolah, Intanpun mengikuti organisasi ekstra. Ia termasuk ke
dalam pasukan pengibar bendera (paskibra) di SMP-nya dan diangkat sebagai wakil
Ibu Lurah. Di bidang olahraga, ia pun mengikuti organisasi basket di SMP-nya tersebut.
Beranjak ke masa-masa SMA, perempuan yang memiliki berat badan 45kg ini
meneruskan bakat berorganisasinya dengan mengikuti kembali OSIS,
ekstrakurikuler Paskibra dan juga basket di SMA-nya. Ia berhasil menduduki
jabatan sebagai bendahara satu dalam OSIS dan menjadi pengemban putri sekaligus
komandan pengibar bendera (Dankibar) di paskibra SMA-nya.
Berbicara
seputar hobi atau kegemaran, Intan sangat suka menyanyi dan memainkan alat
musik kesayangannya ‘gitar’. Prestasinya itu ia tuangkan dalam berbagai bentuk.
Mulai dari mengikuti ajang-ajang lomba menyanyi baik itu solo ataupun band, tak jarang pula ia diikutsertakan
dalam garapan teater sebagai pemusik ataupun penyanyi musik teater. Selain
menyanyi dan bermusik, Intan juga gemar membaca dan menulis. Sejak kecil ia
sering membeli majalah anak-anak semisal majalah Bobo dan Ino. Tak jarang Intan
juga mengirimkan buah karyanya berupa puisi ataupun saran-saran pembaca di
majalah anak-anak tersebut, dan dimuatlah di sana.
Jika
dikaitkan dengan kegemarannya itu, maka kini ia semakin membulatkan tekadnya
untuk menguatkan hobinya agar terus berkembang dan bisa bermanfaat untuknya.
Intan mulai mencoba mengembangkan bakatnya di bidang kepenulisan melalui
konsentrasi jurusan di kampusnya. Ia mengambil kelas jurnalistik sebagai
konsentrasinya di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia itu. Segala
bentuk tulisan semisal puisi, esai, artikel ataupun cerpen sering dilahapnya.
Maka ia semakin yakin dengan kemampuannya di bidang jurnalistik.
“Salah satu kunci kesuksesan menulis adalah dengan membaca.” Kata-kata itulah yang terpatri di kepala perempuan
bermata sayu ini. Menulis puisi dan cerpen adalah sebagian jurus terjitunya
dalam meluapkan emosi di pikiran juga hatinya. Karena itulah, beberapa karyanya
telah dimuat dalam antologi situ waktu.
Sementara hobi menyanyi ia salurkan dengan
bergabung dalam tim musikalisasi puisi di kelasnya yang bertengger dengan nama
Bahtera Gaib. Kadang suaranya tersebut dijadikan backsound sebuah pertunjukan, entah itu teater ataupun dramatisasi
puisi di kampusnya. Sejak duduk di bangku SMP sampai SMA, Intan selalu diikutseratakan oleh guru-gururnya untuk mengisi acara yang berlangsung di sekolahnya tersebut yaitu dengan bernyanyi pada tiap kegiatan yang diadakan oleh pihak sekolah. Ketika duduk di bangku SMA lah akhirnya Intan diangkat menjadi vokalis band sekolahnya. Di luar itu, ia juga menjadi vokalis band yang digawangi oleh beberapa teman dekatnya, band tersebut bernama New Version Warrior (NVW Band).
Perempuan yang saat ini aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lakon
dan juga Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI ini berharap
bahwa ia dapat menyelesaikan kuliahnya maksimal dalam jangka waktu empat tahun
dengan hasil yang sangat memuaskan. Ia
juga berharap apa yang ia cita-citakan dapat tercapai dengan mudah dan lancar.
Motto hidupnya adalah “life is struggle and struggle needs sacrifice and every sacrifice is
worship”
--> created by Intan Pertiwi <-- d'_'b
Kamis, 13 September 2012
enam angsa mencari cinta
oleh
aku tak pernah menyangka bahwa cinta akan begini jadinya.
serupa kawanan burung yang berpisah mencari mangsa dan bersua lagi pada waktu senja.
aku jatuh cinta, seperti bocah SD yang menemukan cinta monyet-nya.
kali ini aku merasakan itu lagi. sesuatu yang sudah terkubur kian lama dalam jiwa.
"aku mencintaimu, berulang kali dan terulang lagi - kini."
sudah lewat setahun persahabatan dengan lima ekor angsa putih (sebutan karibku) itu terjalin - kelompok bermain dan belajar di kelas. saat ini kami sudah menduduki semester tiga. persahabatan kami begitu erat karena letak kursi kelas yang selalu menyodorkan ruang sempit, sehingga kami dipertemukan dalam satu jajar kursi acapkali perkuliahan berlangsung. itu di luar dugaan dan rencana kami, tapi mungkin adalah rencana Tuhan yang membiarkan kami duduk berdampingan lagi.
aku dan Nauril seorang wanita cantik yang kutemukan tergeletak (kayak barang, haha - maaf, bukan itu) ketika awal masuk perkuliahan dan mengajakku berbincang juga duduk berdekatan sebagai salam pengawal persahabatan. kami berdua adalah orang tercantik di kelompok ini. kelompok yang menurutku cerminan negara Indonesia. "bhinneka tunggal ika" (berbeda-beda tapi tetap satu jua).
Nauril adalah wanita modis - setelan wanita karir. ya, seorang wanita yang tampak dewasa sebelum waktunya. tapi itulah Nauril yang selalu berpakaian serba satu warna dari ujung kaki hingga kepala. this is her style. - dan kami memakluminya.
empat lainnya adalah lelaki so keren dengan unic style masing-masing.
Satyo, lelaki berperawakan ideal namun tidak terlalu tinggi - bukan pendek pula. (Sedang-lah). ia adalah lelaki pertama yang kuangkat sebagai abangku di kelompok ini. ia biasa mengenakan kemeja rapi lengkap dengan sepatu pantofel bak seorang Lurah, sehingga tak ayal aku menganggapnya seperti kakakku sendiri karena penampilannya yang tampak dewasa itu. namun, ia adalah lelaki tergalau di kelompok ini. kehidupannya seputar cinta, perjalanan, dan rasa sakit. itulah dia. abangku yang juga dicintai oleh sahabatku - Nauril.
kehidupan tak selamanya menjanjikan cinta sejati, begitulah yang dialami oleh sahabatku berikutnya. Yanuar, seorang lelaki berperawakan agak gemuk dengan tinggi badan standar mahasiswa Indonesia (SMI). Ia adalah lelaki kedua yang kutemukan tergopoh-gopoh mencari keadilan. ya, seorang lelaki yang amat mencintai musik dan cinta sejatinya. Yanu adalah seorang pemusik yang cukup handal, selalu berhasil dalam bidang musik yang digelutinya, namun selalu gagal dalam mencari tulang rusuknya. (heeem -,-) *miris
ada kalanya, sesekali kita tidak terlalu monoton atau terpaku dengan tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar kita di kelas. ya, sesekali bolehlah kita berbelok ke hiburan yang lebih menarik daripada tugas kuliah. sama seperti Randu. lelaki yang begitu monoton karena hidupnya yang terlalu sesuai jalur. padahal dengan begitu ia takkan mendapatkan pengalaman yang menarik. Randu adalah lelaki yang paling rajin dalam hal belajar, apalagi untuk mengadili tugas-tugas kampus. ia layaknya jam wekker kami - alarmnya berbunyi untuk mengingatkan kami akan tugas-tugas kampus dan mengembalikan kami ke jalan yang benar - lurus.
lelaki religius yang pintar, namun gagal dalam hal cinta. entahlah, Tuhan mempertemukan kami dalam keadaan single - tak bertuan - tak berpenghuni. sehingga dalam otak dan hati kami hanya terpatri nama kelompok "enam ekor angsa gagal dicinta" *lebih miris dari kemirisan pertama yang kusebutkan di awal.
terakhir..
lelaki ini.
siapa dia?
lelaki yang pertama kali membuat degup hati Nauril dan aku menjadi berolahraga acapkali bertemu dan mendapat senyum hangat darinya.
Adam.
"perfect" - menurutku tapi tidak diiyakan oleh Nauril.
heem.. lelaki bernampilan modis, style anak band namun rajin beribadah pada Tuhannya.
waaaah..amazing!
Adam adalah lelaki berikutnya yang berlabuh di kelompok miris ini. entah mengapa ia berani mempertaruhkan ketampanannya dengan bergabung ke kelompok ini. (hahaha)
ia lelaki yang sangat baik , namun wajahnya terlihat cuek dan jutek. kecuali jika kita sudah menyapanya, ia akan balik menyapa dan menjadi orang yang mengasyikkan. ia mencintai musik, sama seperti yang dicintai oleh Yanuar. kehidupannya seputar musik, cinta, dan rasa 'gengsi'.
aku tak pernah menyangka bahwa anggapan pertamaku tentang Adam yang begitu perfect itu ternyata ditangkis oleh rasa gengsinya yang tinggi - menurutku (lagi).
kegengsian ini muncul bukan karena derajat, harta, kekayaan, atau apapun yang berujung pada pikiran jahat seseorang.
melainkan karena "cinta"
CINTA yang mengembalikanku pada ingatan tentangnya, tentang persahabatan erat kami, tentang rasa gengsi yang muncul karena saling menutup hati.
CINTA yang bermula ketika "janji sahabat" itu disenandungkan dalam liuk gerak kami sehari-hari.
CINTA yang berujung pada keacuhan dalam persahabatan karena telah ditemukan oleh pemiliknya.
Inilah,
sepenggal cinta yang aku suguhkan dalam bentuk persahabatan.
cinta yang takkan pernah mati, karena hanya kami yang mematikannya selain Tuhan.
- bersambung -
Langganan:
Postingan (Atom)








