Selasa, 17 Juli 2012

Dear, Mom

yang kulihat,
jarak kian membengkak dan meracau perasaannya. 
semula terasa tentram, 
lalu menjelma penyakit yang mematikan. 
sejurus waktu, 
hadirlah siluet tubuhnya di selasar kamarku. 
ia tengah melepas air mata yang membungkam di sudut bibirnya.
perlahan ia memasung tangis menjadi gerimis yang kelamaan reda.
sementara aku masih mengemas waktu 
untuk membelikannya ramuan pengobat rindu.

Senin, 04 Juni 2012

Ntan's Performance (my youtube)

https://www.youtube.com/watch?v=t4KRn64NbDY&feature=BFa&list=ULHIsKhkfLSDc

https://www.youtube.com/watch?v=WAn4G0YN7rI&feature=channel&list=UL

https://www.youtube.com/watch?v=HIsKhkfLSDc&feature=BFa&list=ULWAn4G0YN7rI

https://www.youtube.com/watch?v=6FteON4EWy4&feature=BFa&list=ULWAn4G0YN7rI

Surat Untuk Ayah di Surga


Selamat malam Ayah, apa kabarmu di sana?
Semoga setelah resmi menetap di sana sejak 14 februari yang lalu, penyakitmu sudah disembuhkan oleh-Nya ya Yah. Amiiin J

Heeem,
Ayah bolehkah aku bercerita padamu?
Ya, tentang siapa lagi jika bukan tentangnya?

Ayah, sudah hampir setahun kami menjalin hubungan spesial.
Ia berasal dari keluarga yang agamis.
Aku cukup sulit menyesuaikan diri dengan mereka.
Padahal dulu ayah pernah memasukkan aku ke dalam madrasah dan cukup banyak prestasi di bidang agama yang kuperoleh di madrasah tersebut.
Bahkan tak jarang pula aku memperlihatkan buku rapotku yang kau tanda tangani dengan rasa bangga.

Yah, apakah aku masih belum terlihat sholehah?
Iya. Aku tahu dulu ayah pernah menegurku ketika aku bangun kesiangan dan hampir melalaikan ibadah salat subuhku.
Aku ingat itu.
Tapi Yah, itu bukan tolak ukur keimanankukan?
Semua ini semakin menekan batinku.

Di mata ayah dan ibu, mungkin ketaatan agamaku sudah cukup baik.
Tapi sepertinya berbeda di mata mereka, Yah.
Aku bukanlah jebolan pesantren ataupun persatuan-persatuan Islam yang ada di negeri ini.
Aku hanya lulusan sekolah umum milik pemerintah yang hanya mempelajari ilmu pengetahuan secara umum dan tidak terlalu membeberkan masalah keagamaan hingga sedetail mungkin.

Yah, aku boleh minder tidak?
Bukan, bukan karena aku baru memantapkan diri untuk memakai kerudung.
Tapi karena wanita-wanita yang pernah singgah di hati priaku saat ini.
Mereka semua berasal dari keluarga yang agamis, luar biasa kentalnya.
Bahkan menurutku, jika ada acara tv yang menyelenggarakan pemilihan menantu terbaik di keluarga priaku, mungkin aku adalah peserta yang akan tereliminasi paling pertama. Huuuh…L

Ayah, kadang aku memiliki keinginan untuk cepat-cepat tinggal bersamamu.
Di sana mungkin aku tak akan kebingungan untuk menyesuaikan diri atau bahkan mengubah penampilan yang sebenarnya masih menjadi topeng dari dalam diriku ini.
Aku ingin tetap menjadi diriku  yang apa adanya Yah, tapi sulit.
Aku selalu dibayang-bayangi rupa wanita-wanita itu.
Aku sedih Yah.
Andaaaaai saja mereka tahu bahwa dulu aku juga tak kalah religinya dengan mereka.

Ayah tahukan aku dulu mendapatkan juara umum di pengajian Al-Falah?
Iya, aku mendapat penghargaan untuk langsung bergabung di kelas senior yang isinya adalah kakak-kakak tingkatku, bukan sebayaku.
Padahal seharusnyakan aku masih duduk di kelas junior. Tapi mungkin karena prestasi yang agak membanggakan maka pihak ustad maupun ustadzah mengangkatku ke kelas senior, dan alhamulillah aku malah berhasil meraih rangking pertama di kelas itu.
Iya Ayah, itu karena aku sangat menikmati pelajaran-pelajaran di kelas senior itu.
Mulai dari pelajaran Aqidah Ahlak, Ilmu Fiqih, Ilmu Tajwid, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Bahasa Arab, bahkan sampai Bahasa Inggrisnya juga.
Ya, aku begitu menikmatinya karena semua itu tak banyak kudapatkan dari sekolah umum milik pemerintah yang ayah sekolahkan (SD, SMP, SMA).

Naaah, ayah juga ingatkan bahwa aku  mendapat rangking kedua Qiro (membaca Al-Quran) tingkat Umum? Sehingga aku dinobatkan menjadi juara umum di pengajian tersebut?
Eem… Dan satu lagi, aku selalu memenangkan lomba cerdas cermat yang diadakan pengajian itu seusai kuliah shubuh pada bulan Ramadhan.
Iyaaaa Ayah, aku juga ingat bahwa aku pernah bergabung dengan tim Qasidah di sana, dan dengan bangganya ayah maupun ibu pernah ikut menonton penampilanku menjadi vokalis di grup Qasidah itukan? Hehe..(^.^)
Iya ayah, Qasidah yang itu, yang sering kubeli kaset CDnya bersama ibu di pasar.
Ya benar, Qasidah-qasidah yang jika tidak salah di antaranya berjudul Jilbab Putih, Mataharinya Dunia, Kota Santri, Dunia Fanna, dan lain-lain.
Tentu saja aku masih mengingatnya Yah, dan aku senang sekali jika membayangkan hal itu lagi. Hahaha. Engkau dan ibupun demikian kan Yah? ;’)
… (‘v’)
… 
… (‘o’)
… (‘.’)
… (-.-)
Tapi,
.. tapi sekarang, Yah.
Sekarang aku terlampau jauh kasta imannya dibandingkan dengan keluarga priaku itu atau bahkan wanita-wanita yang sangat akhwat itu.
Aku sangat minder Yah, aku tidak kuat lagi menghadapi semua ini.
Jika bukan karena rasa sayang dan cinta yang begitu besar pada priaku yang sudah banyak memotivasi dan mengubah penampilanku menjadi lebih baik ini, mungkin aku sudah mengundurkan diri sebelum seleksi alam itu terjadi.
Mungkin aku juga sudah musnah menjadi bulan-bulanan mereka yang jaraknya lebih maju, bahkan sangat jauh di depanku.

Iya, Ayah.
Wanita-wanita itu..

Mereka hanya tinggal berjalan dengan santai menuju gerbang rumah priaku.
Sementara aku?
Aku masih harus jatuh bangun lebih dulu demi mencapai prinsip keluarga itu. L

Haaaaah…

Ayah, aku sangat lelah.
Di saat jiwaku serapuh ini, aku jadi sangat merindukanmu.
Merindukan saat-saat bersama dengan ibu di ruang tamu, menceritakan peristiwa dan pengalaman-pengalaman baruku, bernyanyi dan menari-nari di depan tv, atau sekedar berbagi cerita mengenai masa mudamu bersama ibu.

Pokoknya aku sayang Ayah dan Ibu..! (^.^)

Doakan anakmu ini ya, Yah.
Aku sedang rapuh…
Sangat rapuh… (‘o’)

(-.-)
(.’’) (‘’.)

Sudah dulu ya Yah.
Aku harus istirahat, begitupun dengan Ayah kan?
Jaga diri Ayah baik-baik di sana ya.
Jangan lupa makan dan istirahat secukupnya.
Salam hangatku untuk-Nya yang selalu setia menemaniku sejak aku kecil hingga sedewasa ini.
Kinipun DIA sudah rela menjelma dirimu bagiku untuk sementara waktu.
Selama nafasku masih berhembus di dunia ini,
juga selama engkau masih menghitung laba dan rugi segala sesuatunya di tempatmu yang baru itu.

Aku cinta kalian semua.
<3 ayah dan ibu  <3

Salam rinduku yang terdalam.
-      bungsumu : Permata Tanah Air J

Selasa, 29 Mei 2012

Membaca Puisi


foto : 
Anggota 122ribu ASAS UPI angkatan 2010
(dari kanan : Roby, Zulfa, Willy, Wishu, Keny, Latief, dan Rio)


1. Membaca puisi sebagai Apresiasi Puisi
Secara makna leksikal, apresiasi (appreciation) mengacu pada pengertian pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan yang memberikan penilaian (Hornby dalam Sayuti, 1985:2002). Sementara itu, Effendi (1973: 18) menyatakan bahwa apresiasi sastra adalah menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.
Pada dasarnya, kegiatan membaca puisi merupakan upaya apresiasi puisi. Secara tidak langsung, bahwa dalam membaca puisi, pembaca akan berusaha mengenali, memahami, menggairahi, memberi pengertian, memberi penghargaan, membuat berpikir kritis, dan memiliki kepekaan rasa. Semua aspek dalam karya sastra dipahami, dihargai bagaimana persajakannya, irama, citra, diksi, gaya bahasa, dan apa saja yang dikemukakan oleh media. Pembaca akan berusaha untuk menerjemahkan bait perbait untuk merangkai makna dari makna puisi yang hendak disampaikan pengarang. Pembaca memberi apresiasi, tafsiran, interpretasi terhadap teks yang dibacanya Setelah diperoleh pemahaman yang dipandang cukup, pembaca dapat membaca puisi.
Karena kata “membacakan” mengandung makna benefaktif, yaitu melakukan sesuatu pekerjaan untuk orang lain, maka penyampaian bentuk yang mencerminkan isi harus dilakukan dengan total agar apresiasi pembaca terhadap makna dalam puisi dapat tersampaikan dengan baik kepada pendengar. Makna yang telah didapatkan dari hasil apresiasi diungkapkan kembali melalui kegiatan membaca puisi. Dapat pula dikatakan sebagai suatu kegiatan transformasi dari apresiasi pembaca dengan karakter pembacaannya, termasuk ekspresi terhadap penonton.

2. Faktor-faktor Penting dalam Membaca puisi
Setiap bentuk dan gaya baca puisi selalu menuntut adanya ekspresi wajah, gerakan kepala, gerakan tangan, dan gerakan badan. Keempat ekspresi dan gerakan tersebut harus memperhatikan (1) jenis acara: pertunjukkan, pembuka acara resmi, performance-art, dll, (2) pencarian jenis puisi yang cocok dengan tema: perenungan, perjuangan, pemberontakan, perdamaian, ketuhanan, percintaan, kasih sayang, dendam, keadilan, kemanusiaan, dll, (3) pemahaman puisi yang utuh, (4) pemilihan bentuk dan gaya baca puisi, (5) tempat acara: indoor atau outdoor, (6) audien, (7) kualitas komunikasi, (8) totalitas performansi: penghayatan, ekspresi, (9) kualitas vokal, (10) kesesuaian gerak, dan (11) jika menggunakan bentuk dan gaya teaterikal, harus memperhatikan (a) pemilihan kostum yang tepat, (b) penggunaan properti yang efektif dan efisien, (c) setting yang sesuai dan mendukung tema puisi, (d) musik yang sebagai musik pengiring puisi atau sebagai musikalisasi puisi

3. Bentuk dan Gaya dalam Membaca puisi
                Suwignyo (2005) mengemukakan bahwa bentuk dan gaya baca puisi dapat dibedakan mejadi tiga, yaitu (1) bentuk dan gaya baca puisi secara poetry reading, (2) bentuk dan gaya baca puisi secara deklamatoris, dan (3) bentuk dan gaya baca puisi secara teaterikal.

3.1.  Bentuk dan Gaya Baca Puisi secara Poetry Reading
Ciri khas dari bentuk dan gaya baca puisi ini adalah diperkenankannya pembaca membawa teks puisi. Adapaun posisi dalam bentuk dan gaya baca puisi ini dapat dilakukan dengan (1) berdiri, (2) duduk, dan (3) berdiri, duduk, dan bergerak.
Jika pembaca memilih bentuk dan gaya baca dengan posisi berdiri, maka pesan puisi disampaikan melalui gerakan badan, kepala, wajah, dan tangan. Intonasi baca seperti keras lemah, cepat lambat, tinggi rendah dilakukan dengan cara sederhana. Bentuk dan gaya baca puisi ini relatif mudah dilakukan.
Jika pembaca memilih bentuk dan gaya baca dengan posisi duduk, maka pesan puisi disampaikan melalui (1) gerakan-gerakan kepala: mengenadah, menunduk menoleh, (2) gerakan raut wajah: mengerutkan dahi, mengangkat alis, (3) gerakan mata: membelakak, meredup, memejam, (4) gerakan bibir: tersenyum, mengatup, melongo, dan (5) gerakan tangan, bahu, dan badan, dilakukan seperlunya. Sedangkan intonasi baca dilakukan dengan cara (1) membaca dengan keras kata-kata tertentu, (2) membaca dengan lambat katakata tertentu, dan (3) membaca dengan nada tinggi kata-kata tertentu.
Jika pembaca memilih bentuk dan gaya baca puisi duduk, berdiri, dan bergerak, maka yang harus dilakukan pada posisi duduk adalah (1) memilih sikap duduk dengan santai, (2) arah dan pandangan mata dilakukan secara bervariasi, dan (3) melakukan gerakan tangan dilakuakan dengan seperlunya. Sedang yang dilakukan pada saat berdiri adalah (1) mengambil sikap santai, (2) gerakan tangan, gerakan bahu, dan posisi berdiri dilakukan dengan bebas, dan (3) ekspresi wajah: kerutan dahi, gerakan mata, senyuman dilakukan dengan wajar. Yang dilakukan pada saat bergerak adalah (1) melakukan dengan tenang dan terkendali, dan (2) menghindari gerakan-gerakan yang berlebihan. Intonasi baca dilakukan dengan cara (1) membaca dengan keras kata-kata tertentu, (2) membaca dengan lambat katakata tertentu, dan (3) membaca dengan nada tinggi kata-kata tertentu.

3.2. Bentuk dan Gaya Baca Puisi secara Deklamatoris
Ciri khas dari bentuk dan gaya baca puisi seacra deklamatoris adalah lepasnya teks puisi dari pembaca. Jadi, sebelum mendeklamasikan puisi, teks puisi harus dihapalkan. Bentuk dan gaya baca puisi ini dapat dilakukan dengan posisi (1) berdiri, (2) duduk, dan (3) berdiri, duduk, dan bergerak.
Jika deklamator memilih bentuk dan gaya baca dengan posisi berdiri, maka pesan puisi disampaikan melalui (1) gerakan-gerakan tangan: mengepal, menunjuk, mengangkat kedua tangan, (2) gerakan-gerakan kepala: melihat ke bawah, atas, samping kanan, samping kiri, serong, (3) gerakan-gerakan mata: membelalak, meredup, memejam, (4) gerakan-gerakan bibir: tersenyumm, mengatup, melongo, (5) gerakan-gerakan tangan, bahu, badan, dan raut muka dilakukan dengan total. Intonasi baca dilakukan dengan cara (1) membaca dengan keras kata-kata tertentu, (2) membaca dengan lambat kata-kata tertentu, (3) membaca dengan nada tinggi kata-kata tertentu.
Jika deklamator memilih bentuk dan gaya dengan posisi duduk, berdiri, dan bergerak, maka yang dilakukan pada posisi duduk adalah (1) memilih posisi duduk dengan santai, kaki agak ditekuk, posisi mriing dan badan agak membungkuk, Dan (2) arah dan pandangan mata dilakukan bervariasi: menatap dan menunduk. Sedang yang dilakukan pada posisi berdiri (1) mengambil sikap tegak dengan wajah menengadah, tangan menunjuk, dan (2) wajah berseri-seri dan bibir tersenyum. Yang dilakukan pada saat bergerak (1) melakukan dengan tenang dan bertenaga, dan (2) kaki dilangkahkan dengan pelan dan tidak tergesa-gesa. Intonasi dilakukan dengan cara (1) membaca dengan keras kata-kata tertentu, (2) membaca dengan lambat kata-kata tertentu, dan (3) membaca dengan nada tinggi kata-kata tertentu.

3.3. Bentuk dan Gaya Baca Puisi secara Teaterikal
                Ciri khas bentuk dan gaya baca puisi teaterikal bertumpu pada totalitas ekspresi, pemakaian unsur pendukung, misal kostum, properti, setting, musik, dll., meskipun masih terikat oleh teks puisi/tidak. Bentuk dan gaya baca puisi secara teaterikal lebih rumit daripada poetry reading maupun deklamatoris. Puisi yang sederhana apabila dibawakan dengan ekspresi akan sangat memesona.
                Ekspresi jiwa puisi ditampakkan pada perubahan tatapan mata dan sosot mata. Gerakan kepala, bahu, tangan, kaki, dan badan harus dimaksimalkan. Potensi teks puisi dan potensi diri pembaca puisi harus disinergikan. Pembaca dapat menggunakan efek-efek bunyi seperti dengung, gumam, dan sengau diekspresikan dengan total. Lakuan-lakukan pembaca seperti menunduk, mengangkat tangan, membungkuk, berjongkok, dan berdiri bebas diekspresikan sesuai dengan motivasi dalam puisi. Aktualisasi jiwa puisi harus menyatu dengan aktualisasi diri pembaca.
Inilah bentuk dari gaya baca puisi yang paling menantang untuk dilakukan.

Senin, 28 Mei 2012

Make-up Karakter

Alhamdulillah.. akhirnya lulus ujian Keaktoran, berikutnya saya sedang diuji tingkat Kepenataan dan salah satunya saya mengambil lahan Penata Make-up. Semoga lulus sehingga berikutnya bisa naik tingkat Ujian Penyutradaraan. Amiiin... :)





















Minggu, 27 Mei 2012

Memoriam of Jabang Tutuka

MASA-MASA MENUJU KARANTINA TEATER LAKON























Untuk Lelakiku


untuk Suamiku
- lelakiku : WM :)

 Aku menuang doa pada tiap gelas kopi yang kau teguk.
pada tiap butir nasi yang kau makan.
juga pada lipatan-lipatan koran yang tak pernah bosan untuk kau baca.

Aku menuang rindu pada ringsek lengan kemeja yang kau kenakan.
pada kusut rambut yang mulai semrawut.
juga pada kepulan asap rokok yang selalu kau sulut.


Puisi Usang (1)


 Lagi-lagi aku mulai berlagak bodoh.
Ada yang kembali hadir dan membawaku pulang ke tempat ini.
Tempat yang tak luas dan penat oleh katakata.
Lagi-lagi aku memutuskan untuk kembali ke meja kerjaku ini.
Mengukir jejak-jejak yang kulewati seorang diri. Aku haus katakata,
ketika mendapati sebongkah bara yang kusulut sendiri dalam hati.
Aku rindu pada mesin tik yang usang.
Pada segelimet kegelisahan yang biasa kutuang dalam seberkas tulisan.
Setelah ini, aku ingin tenang.

Puisi Usang (2)

bahkan untuk hari terakhirpun terasa hambar,
lebih hambar dari pertemuan singkat yang kita sempatkan.
ada saatnya kita harus menyudahi ketidaksehatan ini.
ketika salasatu dari kita merasakan rindu yang selalu basah
; rindu yang menganak sungai setiap malam hingga pagi menjelang.

Pekan Sunyi


Senja semakin menenggelamkan kebisingan di lantai ini.
pintupintu kamar yang tertutup rapi,
lampulampu bohlam yang telah membisu,
dan sudutsudut ruangan yang menganga haru.
Riak air dari mulut keranpun tak terdengar lagi.
Pekikkan garpu, sendok, piring, dan gelasgelas dari dapurpun mulai terisolasi.


- Intan Pertiwi