Sabtu, 24 Mei 2014

Cerpen Akhir April 2014



Orang-Orang dari Masa Lalu
@tanzalea

Bandung, 2010.
Baru seminggu aku mengenalnya. Lelaki berambut ikal sebahu dengan lesung pipit di sebelah kiri. Itu yang menjadi petanda ingatanku tentangnya. Tak ada yang spesial dari pertemuan kami hari itu. Hanya keasrian taman yang dihuni beragam bunga dan beberapa pasang mata yang sudah siap memanen rindu bersama kekasihnya. Kami bukan sepasang kekasih, hanya dua orang insan yang diciptakan Tuhan untuk melakoni peran utama dalam naskah ini.
“Kamu tahu bagaimana rasanya jomblo?” dia memulai percakapan dengan lugu. Aku menggeleng dan tersenyum. “Seperti bunga mawar di sana.” Matanya berlari ke sudut taman, memapah mataku ke arah mawar yang mekar seorang diri di pojokan. “Lalu, apa maksudnya?” aku ikut lugu. “Kapan kamu putus dengan pacarmu?” Ia tak menjawab soal dariku. Seolah di otaknya sudah tersusun deretan pertanyaan yang harus kujawab tanpa memberi kesempatan padaku untuk melakukan hal serupa. “Sudah lima kali bertanya tentang ini, jawabanku ya tetap sama.” Aku berdehem sambil membenahi poni yang tertiup angin.
Senja begitu mesra membidik percakapan kami. Tapi aku tak pernah tahu, batu jenis apa yang bersarang di kepala lelaki ini. Ia selalu menanyakan hal serupa. Barangkali di otak kirinya hanya ada pertanyaan ‘kapan’, dan di otak kanannya hanya ada pernyataan ‘cinta’.
“Aku ingin menambah teman sebanyak-banyaknya. Apalagi di tempat baru seperti sekarang.” Ujarku. Ia menanggapi dengan menghela nafas, mengangkat bahu dan mematahkan lehernya ke kiri.
“Kalau nanti putus, orang pertama yang kamu beri tahu, harus aku ya.” Nafasku tertahan, mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya.
“Kenapa harus kamu?” Aku terkekeh, meski sudah tahu isi perasaannya, hanya saja waktu tak jua membawaku masuk ke dalam hidupnya. Aku belum bisa menyukai Male seperti kecintaanku pada Arnot. Ini kali kelima ia melontarkan pertanyaan itu. Tapi sudah berulang kali pula ia mendengar jawaban yang serupa dariku. Mulutnya tak pernah jera, seperti mulutku yang belum jera mengatakan, “Tidak tahu!”

Jakarta, 2009.
Sudah rabu ketiga di bulan kedua tahun itu, seorang lelaki berambut mohack, berperawakan tinggi dan kurus, membacakan sebuah puisi untukku. ‘Aku Ingin’ karya Sapardi. Ia bertelanjang dada, berlari-lari mengitari lapangan basket sambil membacakan bait-bait puisi itu dengan lantang. Kali ini di dadanya tertulis namaku, “SYAHLA”.
Seluruh siswa berhamburan keluar kelas, menyaksikan adegan tak terduga di lapangan sekolah. Aku terbelalak di kantin, melihat Ratna, sahabatku, berlari kecil menuju kantin mencoba meraih tubuhku yang tengah asyik meneguk jus jambu di meja belakang. Tanpa melihat keramaian di kantin itu, Ratna berkata lantang “La, Syahla, Arnot baca puisi lagi buat kamu di lapangan. Di dadanya ada nama kamu. SYAHLA!” Teriak Ratna dibarengi sorak sorai penghuni kantin siang itu. Ratna langsung menyadari volume suaranya yang menggema. Dia langsung membungkam mulutnya dengan tangan kanan, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Matanya mendelik kaget, memelototiku yang mematung melihat kecerobohannya. Tanpa pikir panjang, ia menarik lenganku dan membawa tubuh kami keluar dari rasa malu.
Tapi tubuhku terlanjur diguyur malu. Bukan karena tingkah Arnot yang sengaja menulis namaku di dadanya, tapi karena kebingunganku menanggapi reaksi seluruh siswa yang menyaksikan peristiwa itu dan bersorak tak henti-henti. Seolah aku ini adalah objek dari luapan kegelian mereka atas tingkah laku Arnot di lapangan dan juga Ratna di kantin sekolah.
Pipiku merah padam, gerimis di mataku nyaris pecah. Sekali lagi bukan karena Arnot, tapi karena aku malu menghadapi teman-teman di sekolah yang mulai melontarkan kata-kata baru dalam ingatanku. “cie… cie…” Satu kata dengan pengucapan berulang kali itu terus saja menggelayuti kupingku. Rasanya mual mendengar ejekan mereka. Tapi entah kenapa, peristiwa itu tak lantas membuatku membenci Arnot, malah sebaliknya. Aku mencintai Arnot.

Jakarta, 2010.
Sorak sorai seluruh siswa di sekolah kembali bersahutan. Kali ini bukan lagi menyoraki peristiwa konyol yang pernah menimpaku, melainkan menyoraki diri mereka sendiri yang mendapat kabar gembira bahwa angkatanku lulus ujian nasional 100%. Kabar tingkah gila Arnot dan kecerobohan Ratna di sekolah sudah lama mengendap di tanah, setelah setahun lalu aku dan Arnot meresmikan hubungan kami. Seolah rasa malu itu disulap menjadi rasa bangga. Entah karena alasan apa aku malah menyukai lelaki yang sudah bertingkah tak sewajarnya. Aku menyukai Arnot, menyukai puisi-puisinya yang banyak ditujukan padaku, menyukai tingkah konyolnya dalam berapresiasi. Entah mengapa aku selalu menyukainya, apapun yang Arnot lakukan, sekalipun terkesan vulgar dan memalukan. Barangkali Tuhan juga telah bertindak konyol. Ia memangkas habis rasa gengsiku di sekolah. Tuhan lebih mengerti apa yang sebenarnya tertanam dalam jiwaku. Ia Maha membolak-balikkan hati. Maha Menyutradarai.
Setahun ke belakang, aku banyak menghabiskan waktu dengan Arnot. Bahkan jatah waktuku di rumah, hampir setengahnya aku serahkan untuk Arnot. Aku mulai gemar mengoleksi buku-buku fiksi, sepatu gunung, ransel dan jaket tebal untuk pergi muncak. Seolah Arnot menyulapku menjadi perempuan feminim yang tangguh, ia membimbingku berbaur dengan alam. Aku mulai memiliki hobi membaca dan naik gunung, sama sepertinya. Kali itu Arnot mengajariku menulis puisi. Tapi pikiranku mandek, karena puisi adalah karangan pendek yang padat makna. Sementara gaya penulisanku bertele-tele, maka aku memutuskan untuk belajar menulis prosa.
Berawal dari ajakan Arnot ke sebuah toko buku di kencan pertama kami. Seterusnya aku menjadi tak asing dengan hal itu. Kami banyak menghabiskan malam minggu di kedai kopi rempah-rempah dengan fasilitas taman baca di dalamnya. Sesekali kami mampir ke toko buku hanya untuk menghabiskan sebuah bacaan, tanpa membelinya. Kami juga pernah menghabiskan sore di perpustakaan sekolah. Membiarkan penjaga perpus lembur menunggui kami yang tinggal berdua. Saat itu, hanya bersama Arnot aku merasa hidup kembali dan menjadi seorang Syahla dengan kebiasaan baru.


Bekasi, 2009.
            Entah dari mana dia berasal. Dari puluhan temanku di asrama, hanya dialah yang sangat antusias terhadap karyaku. Perempuan yang gemar menutup kepalanya dengan kerudung abu. Dengan sepasang mata sayup yang bertengger di wajah, tak lantas menjadikannya lelah untuk membaca seluruh tulisan yang aku bukukan sendiri. Layaknya manusia tujuh belas tahun yang baru mengenal masa remaja, ia mengaku baru kali ini memiliki teman lelaki sedekat aku. Hidupnya dulu dipenuhi aturan-aturan orangtua. Ia adalah seorang santri di sebuah pesantren ternama di Kota Bekasi. Sejak kecil pendidikannya tak lepas dari ajaran-ajaran pesantren, hingga usianya menginjak tujuh belas tahun. Hanya sejak dua tahun ini ia pindah ke sekolah negeri karena ingin berbaur dengan dunia yang lebih luas, tak sebatas aturan-aturan yang diusung keluarganya di pesantren. Perempuan itu berontak, tapi melalui prestasinya di bidang akademik. Ia mendapat beasiswa dari sekolah negeri. Ia juga mendapat biaya hidup gratis di asrama yang kami tempati. Karena prestasinya itulah, keluarganya membolehkan ia melanjutkan pendidikan di sekolah negeri dan menempati asrama ini.
***
Sore itu tepat di hari sabtu, aku bergegas menuju asrama. Tubuhku kuyup, diguyur hujan yang kebetulan bermukim di kotaku. Tak banyak yang aku bawa, hanya uang receh sepuluh ribu rupiah dan sebuah novel Kahlil Gibran yang aku balut dengan kantong plasik dan kuselipkan di dalam jaket. Langkahku terhenti ketika memasuki pintu asrama. Seorang perempuan seusiaku tengah berdiri mematung di depan pintu, membawa sebuah payung di lengan kirinya, dan lengan kanannya dipenuhi tas-tas yang bergelayut penuh beban. Perempuan itu tampak kebingungan.
Karena penasaran, aku mencoba menyapanya dan bermaksud mengurangi kebingungannya. Tapi tak disangka, perempuan itu tiba-tiba menampar wajahku dan berlari masuk ke lobi asrama. Aku kaget dibuatnya. Tubuhku bergetar, bukan hanya kedinginan karena tubuh yang kuyup, tapi juga karena reaksi yang timbul serentak ketika mendapati tangannya sudah mendarat di pipiku.
Pertemuan yang mengejutkan itu tak lantas membuatku jera untuk berkenalan dengannya. Letak kamar perempuan itu ada di lantai 2, tepat di sudut lift. Aku sering melihatnya ketika lift yang kunaiki singgah di lantai 2. Hanya sesekali tersenyum menyapanya, meskipun tak dibalas dengan senyum ramah, tapi seminggu berpapasan dengannya di dalam lift membuat ia luluh juga.
Rabu sore aku berniat mengunjungi sebuah toko buku di sebrang asrama. Kunaiki lift yang hanya ada satu di asrama itu. Dan Tuhan kembali menulis skenario-Nya yang indah. Aku dipertemukan lagi dengan perempuan itu. Kali ini hanya kami berdua di dalam lift. Aku senang melihat matanya yang sayup. Tak sengaja penglihatanku tertuju pada matanya. Sehingga ia agak risih dan mulai berdehem keras. Aku kaget dan langsung memalingkan pandangan. Perempuan itu lalu mengulurkan tangannya.
“Laila.” ucapnya. Tanpa basa-basi, aku balas sapaan itu dengan meraih jabatan tangannya, “Maleku.” jawabku tegas. Seperti ada yang menggelitik urat nadi, kami pun terkekeh di dalam lift. Akhirnya Laila meminta maaf atas peristiwa pertama kami di depan asrama yang selama ini mengganjal pikirannya karena belum berani menemuiku untuk meminta maaf. Pertemuan hari rabu itupun menjadi awal kedekatan kami. Perempuan itu tak segan padaku. Meski pakaiannya terlihat kuno dan kerudungnya menutupi dada, ia tetap berani bersalaman denganku. Menatap wajahku tegas, dan tertawa bersama denganku menghabiskan hari rabu di toko buku.
***


-to be continued- 
(script writer : Intan Pertiwi)

Sabtu, 17 Mei 2014

My Voice

silahkan bagi yang ingin mengapresiasi polusi suara saya di medsos :)

kunjungi :

Tanza Azalea soundcloud

atau

Intantiwiful youtube

sekadar menyalurkan hobi, selamat mengapresiasi!

Kamis, 24 April 2014

KRISIS LAGU ANAK



oleh Intan Pertiwi

Seiring perkembangan zaman, berkembang pula pola pikir dan tingkah laku manusia di muka bumi. Sama halnya dengan anak-anak. Dengan notabene pikiran yang polos dan serba ikut-ikutan, akhirnya anak-anaklah yang menjadi korban terbesar bagi perkembangan zaman di dunia. Bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, perilaku anak yang mulai mendewasakan diri sebelum waktunya, yang akhirnya berimbas pada hilangnya masa kanak-kanak mereka.
Berbicara ihwal masa kanak-kanak. Dulu, sebelum segerombolan lagu luar negeri beserta boyband dan girlbandnya menghiasi dunia permusikan Indonesia, lagu anak-anak semisal abang tukang baso, naik-naik ke puncak gunung, dan balonku, masih sering berkumandang di mana-mana termasuk di radio maupun televisi yang menjadi media elektronik terfavorit di negeri ini setelah telepon genggam. Berkembangnya teknologi dan fesyen di dunia menjadikan anak-anak kehilangan jati dirinya sejak kecil. Pada tahun 2000-an masa kanak-kanak di dunia sangat ditunjang oleh hiburan-hiburan seni dengan anak-anak sebagai subjeknya. Kita bisa mengingat beberapa tahun ke belakang, banyak artis cilik yang mengembangkan bakatnya di bidang tarik suara dan ekting sesuai porsi usia mereka. Nama-nama seperti Sherina, Marsyanda, Tasya, Tina Toon, Bondan, Derby, dan lain sebagainya pasti tak asing lagi bagi kita yang hidup di era itu. Kini mereka semua sudah menginjak usia dewasa dan pantaslah jika mendapat peran atau lagu sesuai porsi usia mereka saat ini.
Jika melihat tiga tahun ke belakang, ketika k-pop sedang marak-maraknya digencarkan dalam siaran televisi Indonesia, nama-nama pengganti artis-artis cilik di atas pun bermunculan. Herannya, mereka yang sekarang menjad artis cilik tidak berada pada porsi usia mereka, baik itu mengenai pemilihan lagu atau pun perannya dalam ftv-ftv. Mereka justru dituntut mengikuti zaman yang nyatanya cenderung 'ke korea-koreaan'.
Anak-anak di zaman sekarang sulit menerima lagu yang layak untuk usia mereka. Terbukti dengan adanya sinetron-sinetron di tv yang menayangkan kisah cinta anak SMP dengan backsound lagu orang dewasa, seolah menjadi hal yang dibanggakan dan digemari kebanyakan anak-anak negeri kita. Jauh menilik permasalahan tersebut, kita akan dihadapkan pada hilangnya identitas usia kanak-kanak. Jika lagu anak-anak sudah jarang ditemukan di negara kita ini atau bahkan hilang, artinya bangsa kita tengah dilanda krisis, tepatnya krisis lagu anak.
Krisis dalam KBBI merupakan keadaan yang berbahaya, menderita sakit (parah sekali), keadaan yang genting, suram dan menjadi situasi berbahaya. Jika dihadapkan pada eksistensi lagu anak saat ini, maka layak kita sebut sebagai masa krisis, di mana eksistensi lagu anak mulai tergeserkan oleh adanya lagu-lagu orang dewasa yang cenderung memiliki banyak diksi cinta kepada lawan jenis dan dinyanyikan oleh mereka yang usianya masih 'seumur jagung'. Sekaitan dengan itu, muncullah istilah “dewasa sebelum waktunya”. Istilah tersebut secara gamblang merujuk pada anak-anak yang meninggalkan porsi usianya.
Kehilangan identitas tampaknya sudah terjadi hampir di seluruh pelosok Indonesia, baik kampung maupun kota. Hampir seluruh anak-anak sudah terjajah pikiran dan gaya hidupnya oleh pengaruh budaya asing. K-pop merupakan budaya orang korea yang merambah ke Indonesia melalui boyband dan girlband di dunia permusikan. Inilah yang menjadi sumbu terjadinya krisis lagu anak di Indonesia. Lantas, siapakah yang seharusnya melestarikan eksistensi lagu anak-anak demi tercapainya masa kanak-kanak yang sesungguhnya? Siapa lagi kalau bukan kita sebagai warga Indonesia.
Salah satu cara agar lagu anak-anak tetap eksis di Indonesia adalah dengan menghadirkannya pada ajang lomba menyanyi yang mulai bermunculan di televisi untuk usia anak-anak. Dari sanalah, kita bisa mengenal dan mengingat kembali jenis lagu yang pantas dan layak untuk usia anak-anak. Dengan begitu, anak-anak akan sadar usia dan tetap melestarikan lagu anak-anak sesuai masanya. []


*tulisan ini dibuat pada tahun 2013 lalu ketika mengontrak mata kuliah penulisan opini dan editorial di kelas jurnalistik, bersamaan dengan esai yang dimuat Harian Inilah Koran berjudul "Perempuan dan Objek (Karya) Sastra". Tulisan ini sekadar memenuhi tugas akhir semester. Semoga bermanfaat dan tidak disalahgunakan! ^_^

Sabtu, 19 April 2014

Ihwal Nama

Sejak 2013 tahun lalu, tepatnya ketika ASAS tengah sibuk mempersiapkan tour sastra pertama ke Lembang, Wishu dan beberapa kawan ASAS sudah menggembor-gemborkan sebuah nama yang kelak mereka citakan untuk menjadi nama putra kami, tanpa persetujuan saya sebelumnya.
"ASAS Junior", sebuah nama untuk bayi laki-laki, mungkin.

Tapi baiklah, akhirnya saya menyukai nama yang mereka ajukan itu. Toh' tahun lalu pikiran saya masih mengambang perihal nama bayi. Lagipula alasan mereka cukup masuk akal. Wishu yang saat itu menjabat sebagai ketua ASAS dan si jabang bayi yang kelak akan menjadi anggota istimewa sebagai Junior dari ASAS, putra bagi seluruh pengurus dan anggota ASAS, pikir mereka, dan saya setuju. (-_-)

Tahun ini, dengan sebundel bacaan baru yang kami dapat, juga beberapa film dan sejarah yang kami tonton, akhirnya lahirlah beberapa nama yang siap kami lirik.

Yahlamu Syahla' (perempuan)
Yahlamu adalah nama yang Wishu ajukan, sedangkan Syahla' merupakan nama yang saya dapat dari ensiklopedi wanita muslimah, artinya "bermata biru".

Zhafran Muzhaffar (laki-laki)
Zhafran artinya orang yang menang, sedangkan Muzhaffar artinya Yang dapat memenuhi kebutuhannya. 

Nama berikutnya adalah nama yang kami dapatkan bulan-bulan ini. Tepatnya Wishu, ketika dia pulang dari sekretariat bersama (sekber) dan membawa kabar gembira bahwa dirinya menemukan dua buah nama yang layak untuk anak kami kelak.

Abighail Murphy Isfahan, dan
Hanan Khoury Malouf. (laki-laki semua)

Sejauh ini, kami berencana memberi nama Hanan Khoury Malouf pada putra sulung kami nanti. Tapi kami belum ingin memperbincangkannya lagi, karena menurut budaya orang tua kami, "pamali" untuk membicarakannya.

So..
to be continued.
Tunggu saja setelah kelak anak-anak kami lahir ^_^

kira-kira berapa anak ya? (~_~)

Perempuan, Fetus dan Parenting

Pulang dari karawang tanggal 6 april lalu, saya mendapat banyak bekal dari ibu mertua. Ibu meminjami saya sebuah buku berjudul "Miracle at Home" - Keajaiban dalam rumah Berdasarkan Kisah Nyata (cara mudah penerapan teknik parenting untuk mengubah perilaku buruk anak dalam waktu relatif singkat dan mencapai kebahagiaan dalam keluarga) karya Dr.Zulaehah Hidayati. 

Dari buku tersebut banyak yang saya dan suami dapatkan. Belum selesai membacanya sih, baru sebagian, tapi sudah banyak pelajaran yang dibagikan tentang proses mengasuh anak dan memperlakukannya di rumah.

Selain buku parenting, tahun lalu juga ibu memberi sebuah buku berjudul "Ensiklopedi Wanita Muslimah" karya Haya binti Mubarok Al-Bark. Dari buku ini saya juga banyak mendapat wawasan tentang perempuan. Terdiri dari :
- kedudukan wanita sebelum dan sesudah islam
- akidah islam (akidah islam, hasil dan manfaat dari akidah)
- fikih wanita muslimah (thaharah/bersuci; shalat; zakat; puasa; haji dan umrah; nikah)
- akhlak wanita muslimah
- ragam ihwal wanita muslimah
- ibu hamil, merawat bayi dan pola mendidik anak
- pilihan nama-nama anak (anak laki-laki dan anak perempuan)
- doa doa keseharian.

Subhanalloh, betapa mulianya menjadi perempuan. Banyak yang harus saya dan suami pelajari untuk menjadi orang tua. Alhamdulillah, kami menyicil sejak tahun lalu dengan bacaan-bacaan semacam ini, terlepas dari pengalaman yang didapat berdasarkan aktivitas langsung dengan saudara-saudara kami terutama ke empat kakak saya yang sudah berumah tangga dan memiliki anak.

Buku-buku ini sangat membantu kami menambah wawasan. Di samping itu, beruntunglah kami diberi beberapa video parenting dan perkembangan anak dari salah satu dosen di kampus yang mengajar ilmu kebahasaan, terutama proses pemerolehan bahasa anak.

Saya dan suami sesekali rajin menonton youtube tentang proses pembentukan janin, aktivitasnya di dalam perut, proses melahirkan sampai memandikan dan membedong bayi yang baru lahir, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. Dari sekian banyak video tentang bayi di youtube, salah satu yang membuat saya takjub adalah video Keadaan Janin Ketika Al-Quran dibacakan. Menontonnya  membuat hati saya bergetar, merinding dan hampir menitikkan air mata. Entahlah terkesan lebay atau bagaimana, tapi saya senang menyaksikannya. Saya merasa sangat tentram melihat aktivitas janin dalam video tersebut ketika dibacakan al-quran, apalagi posisinya tampak seperti tengah bersujud kepada Allah swt. Ya Allah, saya hampir menangis menontonnya.

Berikut link video tersebut, semoga bermanfaat bagi kita calon orang tua terutama bagi calon ibu :

http://www.youtube.com/watch?v=SayHSDO6wF8

Ada juga beberapa kalimat bermakna yang saya dapat dari sebuah video di youtube :

Jika anak hidup dengan kritikan
ia akan belajar mengutuk
jika anak hidup dengan kekerasan
ia akan belajar melawan
jika anak hidup dengan ejekan
ia akan belajar untuk menjadi pemalu

Jika anak hidup dengan dipermalukan
ia akan belajar merasa bersalah
jika anak hidup dengan toleransi
ia akan belajar bersabar
jika anak hidup dengan dorongan
ia akan belajar percaya

Jika anak hidup dengan pujian
ia akan belajar untuk menghargai
jika anak hidup dengan tindakan yang jujur
ia akan belajar tentang keadilan
jika anak hidup dengan rasa aman
ia akan belajar mempercayai

Jika anak hidup dengan persetujuan
ia akan belajar untuk menghargai dirinya
jika anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan
ia akan belajar untuk menemukan cinta di muka bumi ini.


Sekian, semoga bermanfaat dan memberikan kebaikan bagi kita semua.
Wassalam.

Jumat, 18 April 2014

Thanks to Allah

Terima kasih Tuhan sudah mengirimkan lelaki terbaik setelah ayah dan kakak saya.
Terima kasih sudah menjadikannya pendamping hidup saya selama ini.
Terima kasih sudah menyalurkan kasih sayang-Mu melaluinya.
Terima kasih sudah menjadikannya malaikat di ruangan yang tak luas ini.
Terima kasih sudah menghadirkan kebahagiaan pada saya atas kehadirannya di sisi saya.
Terima kasih sudah menjaga saya melalui tangan dan pelukannya.
Terima kasih sudah menenteramkan hati saya melalui senyum dan canda tawanya.
Terima kasih sudah memberikan semangat hidup bagi kami melalui karya-karyanya.
Terima kasih atas lelaki terbaik ketiga dalam hidup saya.
Jadikan keluarga kami sakinah mawadah warohmah, selalu rukun dan seharmonis malam ini.

Arti Lahir 12 September dan Popular Birthdays

Iseng-iseng membuka laptop dan menelusuri orang-orang yang terlahir di tanggal yang sama dengan saya, yaitu 12 september. Sedikit ditarik kesimpulan, sosok 12 september lebih cenderung berkecimpung di dunia seni, literatur dan olahraga. Beginilah hasilnya :



Anda terlahir 12 September? Yuk, simak sifat, watak dan karakter di hari Anda serta kumpulan tokoh dan selebritis kelahiran September 12!

Watak dan kepribadian orang kelahiran 12 September – beruntung Anda memiliki fikiran cerdas, firasat tajam, mudah mempelajari dan mengerjakan sesuatu. Karir Andapun sepertinya bisa menarik perhatian umum.

Anda seorang pekerja yang sangat rajin, dan Anda tampaknya telah terpengaruh struktur konsep Virgo dan diterapkan ke setiap sudut kehidupan Anda. Tapi jangan sepenuhnya melepaskan kehidupan sosial Anda. Bila Anda sedang mengerjakan sebuah proyek, ada baiknya Anda usahakan selesaikan tiga hari lebih cepat dari jadwal. Jika tidak, kemungkinan orang lain untuk mengambil posisi Anda.

Memiliki sejumlah kelahiran 3 adalah anugrah rahasia dalam menjalin hubungan asmara yang langgeng. Dimana Anda punya harapan dan keinginan khas untuk mengendalikan alur cinta yakni kebahagiaan yang melekat dalam angka 3 dengan orang yang Anda cintai.

Selebritis dan Tokoh Kelahiran 12 September (INDONESIA):
  • Budi Putra (lahir 12 September 1972) – jurnalis teknologi dan penulis Indonesia.
  • Carissa Putri Sulaiman (lahir di Frankfurt, Jerman, 12 September 1984) – pemeran wanita Indonesia.
  • Catharina Leimena (lahir di Bandung, 12 September 1936) – guru vokal bersuara mezzo soprano terkemuka Indonesia.
  • Darussalam (lahir di Bengkulu, 12 September 1920 – 1993) – aktor Indonesia yang sudah main puluhan film pada hampir lima dekade
  • Habel Satya (lahir di Sorong, Papua Barat, Indonesia, 12 September 1987) merupakan pemain sepak bola Indonesia
  • Maya Septha Setiono (lahir di Jakarta, 12 September 1986) – aktris Indonesia.
  • Mr. Dr Soepomo (lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari 1903 – meninggal di Jakarta, 12 September 1958)
  • Muhammad Roby (lahir di Jakarta, 12 September 1985) – pemain sepak bola Indonesia.
  • Nina Shaqi (lahir di Jakarta, 12 September 1983) – pemeran Indonesia.
  • Rahardi Ramelan (lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 12 September 1939) – pernah menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia
  • Thayeb Mohammad Gobel (lahir di Tapa, Bone Bolango, Gorontalo, 12 September 1930 – meninggal 21 Juli 1984 pada umur 53 tahun) – pengusaha
  • Vivi Rahmawati (lahir di Mojokerto, 12 September 1979) – aktris Indonesia.
Selebritis dan Tokoh Kelahiran 12 September (Mancanegara):
  1. Alan Arruda, lahir th 1981 – pemain sepakbola Brazil
  2. Amanda Jenssen, lahir th 1988 – penyanyi (Swedia)
  3. Benjamin McKenzie, lahir th 1978 – aktor Amerika
  4. Bizzy Bone, lahir th 1976 – pemusik rap dari USA
  5. Clayton Richard, lahir th 1983 – pemain base ball dari USA
  6. Darren Campbell, lahir th 1973 – atlet (Inggris)
  7. David Thompson, lahir th 1977 – pemain sepakbola Inggris
  8. Fernando Cesar de Souza, lahir th 1980 – pemain sepakbola Brazil
  9. Grant Denyer, lahir th 1977 – presenter TV (Australia)
  10. James Frey, lahir th 1969 – seorang penulis dari Amerika
  11. James McCartney, lahir th 1977 – musisi (Inggris)
  12. Jason Statham, lahir th 1972 – aktor (Inggris)
  13. Jeff Irwin, lahir th 1977 – seorang musisi dari USA
  14. Jennifer Hudson, lahir th 1981 – artis (America)
  15. Joanne Jackson, lahir th 1986 – perenang (Inggris)
  16. Joe Loeffler, lahir th 1980 – seorang musisi dari Amerika (Chevelle)
  17. Joe Pantoliano, lahir th 1951 – aktor Amerika
  18. John Norwood Fisher, lahir th 1965 – seorang musisi dari USA
  19. Ki-Jana Carter, lahir th 1973 – pemain sepak bola dari USA
  20. Leonard Peltier, lahir th 1944 – aktifis (America)
  21. Ler LaLonde, lahir th 1968 – American guitarist (Primus)
  22. Linda Gray, lahir th 1940 – artis film di Amerika
  23. Louis C.K., lahir th 1967 – seorang pelawak (America)
  24. Marguerite Blais, lahir th 1950 – jurnalis ternama (Canada)
  25. Maria Muldaur, lahir th 1943 – seorang penyanyi dari Amerika
  26. Martin Lapointe, lahir th 1973 – pemain hoki (Canada)
  27. Mathé Altéry, lahir th 1927 – penyanyi Perancis
  28. Michel Drucker, lahir th 1942 – jurnalis ternama (Perancis)
  29. Mickey Lolich, lahir th 1940 – pemain base ball dari USA
  30. Mike Murphy, lahir th 1950 – pemain hoki es (Kanada)
  31. Mylène Farmer, lahir th 1961 – penyanyi Perancis
  32. Nana Ozaki, lahir th 1982 – model (Jepang)
  33. Nathan Bracken, lahir th 1977 – pemain kriket (Australia)
  34. Nathan Larson, lahir th 1970 – seorang musisi dari Amerika (Shudder To Think, Hot One)
  35. Neil Peart, lahir th 1952 – pemain drum (Canada)
  36. Norm Dubé, lahir th 1951 – pemain hoki es (Kanada)
  37. Nuno Valente, lahir th 1974 – pemain sepakbola (Portugal)
  38. Pat Listach, lahir th 1967 – pemain base ball dari USA
  39. Patrick Mower, lahir th 1940 – aktor (Inggris)
  40. Paul F. Tompkins, lahir th 1968 – seorang pelawak (America)
  41. Paul Walker, lahir th 1973 – aktor Amerika
  42. Peter Scolari, lahir th 1955 – aktor Amerika
  43. Rachel Ward, lahir th 1957 – artis (Inggris)
  44. Ricky Rudd, lahir th 1956 – pembalap (America)
  45. Ruben Studdard, lahir th 1978 – seorang penyanyi dari Amerika
  46. Sam Brownback, lahir th 1956 – seorang politisi dari Amerika
  47. Scott Brown, lahir th 1959 – seorang politisi dari Amerika
  48. Sean Burroughs, lahir th 1980 – pemain base ball dari USA
  49. September, lahir th 1984 – penyanyi (Swedia)
  50. Sidney, lahir th 1972 – pemain sepakbola Brazil