Kamis, 17 April 2014

3 Puisi Berlabuh di Harian Indopos Jakarta (Sabtu, 5/4/2014)



Mengiris Bawang


Ibu pernah mengajari aku mengiris bawang
lapis demi lapis
membuatku basah dan kesepian.

Ibu pernah berkata,
“bawang bisa menyembunyikan kesakitan,
tanpa perlu memaksanya hilang.”

seandainya ibu tahu,
sepi tak pernah bisa diiris apalagi dibagi.
seperti bawang-bawang itu, gemar melucuti mataku.

akhir-akhir ini aku gemar mengiris bawang
setiap irisan adalah hujan yang berkeroyokan
menggugurkan kegelisahan
menimangnya menjelma lautan.

seandainya ibu tahu
mengiris bawang seperti menghimpun luka,
barangkali di ruang belakang
ia akan berhenti mengiris bawang dan merasa tak kesepian.


2013.




Menjahit Ayah
  : Bu

kau ajari aku menjahit baju
helai demi helai
seperti menginginkan senyum
dari bibirmu yang ranum.

sesekali kau memintaku menjahit kenangan,
seperti menyusun adegan lalu pada sebundel pakaian,
kau ajari aku menjahit sepersatu sobekan
membordilnya dengan kecupan.

kemarin kau gemar menjahit luka.
beberapa lubang di setiap pakaian,
kau jahit jadi kebahagiaan.

kini, di hadapan tubuhku
kau ajari aku menjahit masa lalu,
menutupnya dengan kain baru,
seperti menjahit ingatan lama, agar tak rusak di kepala.

kau kembali menjahit pakaian
helai demi helai
kembali menginginkan kebahagiaan
dari sakit yang ditinggalkan.


2013.




Mengunjungi Makam
  : Bah

kau tak pernah tahu
berapa lama tubuhmu rebah dalam pusara
seperti kereta kencana tanpa stasiun,
rohmu berkelindan menyusuri belukar awan.

sudah kali kedua aku menitipkan rindu pada gundukan tanahmu,
bungabunga basah adalah doa yang mengaliri denyutmu
mendegupkan nadi yang telah mati
menjawab ketukan pintu yang ganjil di malam hari.

sesekali wajahmu menggelayut di kerlip mataku,
sesudut senyum berbinar pada kelopak kamboja yang memayungimu,
hujan turun serempak menebus dosadosamu.

Bah, betapa Tuhan sudah rindu memelukmu,
sebelum skenario itu hilang
kau lebih dulu menyusun adegan perpisahan
pada sepotong malam yang melarutkan nyeri dadamu. 

kita tahu, nasib tak bisa dipesan
lalu seseorang datang mengantarkannya
serupa makanan cepat saji yang ada di korankoran.

sebab nasib lebih dulu tiba,
sebelum kenangan subur di mana-mana.


2013.



  
Penulis :
Intan Pertiwi, lahir di Cirebon 12 September 1992. Beberapa puisinya tergabung dalam antologi bersama. Saat ini aktif bergiat dalam Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI Bandung. 







Senin, 31 Maret 2014

Yang Lalu Biarlah Berlalu, Kita Abadi.

Saya tak pernah tahu, alasan apa yang melatarbelakangi perempuan itu mengirimi banyak batu terjal ke dalam hubungan kami. Sejak masa-masa pendekatan saya dan suami, sampai setelah menggelar resepsi pernikahan, ia mengirim lagi bencana yang sama. Entah karena ia masih dendam terhadap kesetiaan kami berdua, atau ia masih menyukai lelaki yang meminang saya ini. Di depan ia tampak baik-baik saja, tapi di belakang, ia menampar saya perlahan-lahan.
Suami saya pernah mengatakan bahwa ia sudah tak peduli dengan masa lalu kami, baik masa laluku maupun masa lalu dirinya, sambil mengecup kening dan kedua pipiku mesra. Ia mengingatkanku untuk mengabaikan perilaku-perilaku yang ditunjukan perempuan itu, karena ucapan dan tulisannya hanya memperkeruh keharmonisan kami, menyulut kemarahan kami dan saya kembali menjadi tidak dewasa ketika cemburu.
Tapi sekarang saya paham apa yang suami saya katakan. Tiap orang memiliki masa lalu, entah suka ataupun duka, tapi jangan pernah membangunkannya lagi, karena bisa menghambat masa depan kita. Saya mengerti, suami saya sudah melupakan perempuan itu sejak kami resmi berpacaran, hanya saya sajalah yang terus mengorek-ngorek isi masa lalu mereka sehingga saya sendiri yang akan jatuh sakit atau tersulut api karena sikap keingintahuan saya yang berlebihan.
Suami sayapun pernah berkata, ia amat cemburu dengan masa lalu saya yang hampir mirip dengan masa lalunya. Tapi ia tak pernah melakukan tindakan-tindakan yang bisa memicu rasa sakitnya karena mengetahui segala bentuk kisah masa lalu saya. Itulah sikap yang ia tunjukan, ia tak pernah ingin tahu dengan masa lalu saya, karena ia tak ingin sakit atau bahkan membuat hubungan kami jadi tak baik. Ia pecemburu, tapi berusaha “cuek” menanggapinya, itulah yang ia lakukan sehingga hubungan kami tetap harmonis tanpa beban masa lalu.
Kami mengerti, Tuhan mempersatukan kami dengan salah satu alasan untuk saling melengkapi. Kami bahagia dengan alur yang Tuhan sajikan saat ini terhadap kami. Tinggal bagaimana kami bisa mempertahankan keharmonisan rumah tangga ini dengan sesekali mengacuhkan hal-hal yang berpotensi menyulut amarah kami. 
Masa lalu biarlah menjadi debu, perlahan tersapu waktu. [*]


Senin, 24 Maret 2014

Suatu Hari

Hari itu (jumat, 21 maret 2014) Wishu mengajak saya menemaninya nonton teater. Katanya ada tugas pengganti presensi kajian drama, yaitu membuat resensi pertunjukan Kereta Kencana. Sebagai sebagai sebagainya dia, yaaa saya harus ikut untuk menyemangati tugasnya, lagipula butuh refreshing setelah lelah membuat LPJ Bendahara ASAS. Akhirnya siang itu sebelum nonton teater, datang seseorang berambut gondrong ke kosan Wishu. Dengan jeans bolong-bolong di lutut dan sepatu khas rock and roll-nya, dia naik ke tangga dan berhadapan langsung dengan saya. Agak terkejut saya menebak-nebak penampilannya. And then.. what the jreng to the jreng... ternyata dia adalah Jambrong. Kalau tulisan alaynya maybe begini >>
"Zambronkz atau Zambronx" hehe. *pernah alay*
Yap, nama aslinya Anjar Rahman, teman satu pesantren dengan suami saya yang berasal dari UIN itu datang mengunjungi kami. Memang sebelumnya sudah janji bertemu dengan Wishu untuk melepas rindu (halah), tapi kebetulan berbarengan dengan hari menonton teater, jadi Wishu mengajaknya juga untuk ikut bersama kami.
Karena mengejar jam malam untuk menonton, maka siang sampai sore itu kami habiskan untuk berbincang-bincang di kosan. Setelah mencurahkan berbagai kenangan di ruang itu sampai-sampai energi dan kotak tertawa di tubuh kami habis, kami pun memutuskan untuk merevilnya dengan makan bakso wader. (bakso favorit mahasiswa UPI).
Sore itu tepat ba'da ashar kami makan bakso di sana. Beberapa menit makan dan tak melepas gurauan-gurauan iseng kami, akhirnya percakapan Wishu dan Anjar sampai pada niat mereka untuk menghubungi satu rekan pesantren mereka lagi yang juga berkuliah di UPI. Dia adalah....what the jreng to the jreng... "Cimeng or Cimenk or Cimenx." ( whatever ~_~ ).
Baru saja Anjar berniat mengirimi Cimeng alias Fajar sms, ternyata doi yang dituju sudah lebih dulu membaca pikiran kami dari jauh. Handphone Wishu berdering, hadir sebuah pesan dari nomor baru yang tak ia kenali. And then setelah dibuka, terbacalah sebuah kalimat,

"Di mana bel? Cimeng."

Guys, kalian luar biasa!
Insting dan intuisi sabahatnya kuat banget, kalau kata Keenan di Film Perahu Kertas sih,, "tadi lupa matiin radarnya." so... rencana semakin matang deh.
Kami pun mengajak Fajar menonton teater juga, dan kebetulan dia bersedia ikut dengan kami.
Pukul setengah 6 kami bertemu Fajar di kosan Wishu. Akhirnya semua sudah berkumpul dan ba’da maghrib kami menuju kampus untuk menemui adik tingkat kami yang mengoordinir tiket pertunjukan itu. Setelah membeli empat tiket, kami pun bersiap go to gedung kesenian Rumentang Siang (kata dosennya, pertunjukan Kereta Kencana ada di tempat itu).
Dengan bermodalkan kepedean untuk berangkat lebih dini, padalah teaternya baru open get pukul 19.30, kami pun berangkat berempat menunggangi 3 sepeda motor. Tentunya saya dengan suami, sementara Anjar dan Fajar membawa bebeknya masing-masing. Setelah melahap perjalanan cukup jauh, kami pun sampai di rumsi (singkat).
Melihat arloji masih berputar di angka 7, dan penghuni di depan gedung rumsi masih tampak limit, hanya ada dua orang satpam dan beberapa remaja yang berlalu lalang di sana, akhirnya kami pun memutuskan untuk ngopdar (alias ngopi darat) terlebih dahulu. Setelah keluar dari parkiran rumsi dan berjalan menyusuri Baranang Siang yang lengang, akhirnya kami pun menemukan sebuah tempat untuk ngopdar. Wishu memesan empek-empek telor dan kopi hitam *mendadak pengen nyanyi*, Anjar memesan empek-empek bakso, Fajar memesan white kopi, sementara saya si perempuan penikmat kopi yang mulai terjangkit maagh beberapa bulan lalu memutuskan untuk memesan jus alpukat *cari aman* padahal saya ngiler ngeliat orang-orang minum kopi. Oh God… GWS for me! -_-
Menunggu waktu setengah jam ternyata tak begitu lama karena kami menghadirkan obrolan yang padat di sana. Setelah 30 menit berlalu, kami pun memutuskan untuk menuju rumsi kembali, tentu dengan alarm kata-kata yang saya lontarkan, jika tidak, obrolan itu akan berlangsung lebih lama lagi dan kami akan lupa bahwa di tangan kami ada 4 tiket nonton teater yang harus segera dihadiri.
Dari kejauhan, tampak parkiran rumsi masih belum penuh kendaraan. Kami pun bergegas masuk ke dalam gerbang. Ternyata benar, suasana serupa masih terlihat di sana. Gedung rumsi yang masih lengang tak banyak penghuni maupun orang yang memarkirkan kendaraannya. Hal itupun membuat kami penasaran, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 wib, tapi suasana di rumsi tampak seperti tak ada kegiatan pertunjukan. Wishu pun menghampiri satpam dan lekas menanyakan pertunjukan Kereta Kencana yang diperintah oleh dosennya itu. Dengan agak bingung, satpam menjawab, “malam ini tidak ada pertunjukan, dikira aa-aa dan teteh ini mau latihan teater, jadi markir motor di sini.”
What the ziiiiiing…
Akhirnya Fajar pun unjuk gigi, “di tiketnya sih, pertunjukannya di IFI.”
Tangan saya langsung menghambur ke dalam tas dan merogohi isinya untuk menemukan tiket saya. Penasaran, saya pun langsung membaca tiket itu. Daaaan, benar saja! Ternyata pertunjukannya bukan di gedung rumsi melainkan di IFI depan BEC.
Oh God (again)…!
Kami berempat langsung tancap gas dan meninggalkan rumsi juga satpam yang mungkin terkekeh melihat tingkah konyol kami karena salah alamat. Entah Cimeng atau Jambrong, tiba-tiba seorang dari mereka menyeletuk, “akhirnya kita salah alamat juga kaya Ayu Tingting.” ~ngggg…
Waktu menunjukan pukul 19.35, saya sudah tak sabar melihat kereta api yang melintas dua kali di hadapan kami. Rasanya ingin loncat melewati rel itu, tapi apa daya, badan sudah lemas dan tak berselera karena niatan kami untuk menjadi penonton paling depan Kereta Kencana akhirnya tertunda gara-gara Ayu Tingting itu, eeeh salah alamat maksudnya. Ckck. Sementara Wishu di perjalanan segenting itu masih sempat berceletuk kesal karena dosennya yang salah memberi informasi tempat pertunjukan, terlepas dari kami yang tidak membaca tiketnya sejak awal membeli dan si adik tingkat yang sudah “terlalu” memercayai kami tahu tempat pertunjukan teater tersebut berlangsung.
Sampai di IFI pukul 19.40, kami bergegas menuju pintu masuk. Untunglah masih ada beberapa orang yang nampaknya sama seperti kami, ketinggalan pertunjukan. Di sana sudah berjaga seorang aa-aa (halah) menghalangi kami masuk, ternyata doi ingin berbagi aturan lebih dulu. Kata aa-aa penjaga itu, kuota kursi di dalam sudah penuh, kalaupun kita ingin tetap masuk, harus duduk di bawah (lantai) dengan jalan jongkok atau jalan kodok agar penonton lain yang sudah stay dari tadi, juga pertunjukan Kereta Kencana yang sudah dimulai itu tidak terganggu karena kehadiran kami yang telat. ~wokeee
Demi tugas lelaki saya, dan demi almarhum Opah WS Rendra, akhirnya kami pun terpaksa menuruti aturan tersebut. Tapi, setelah masuk ke dalam gedung, saya menemukan sebuah kursi kosong dan Wishu menyuruh saya untuk duduk di sana, sementara tiga kerabat yang sedari tadi bersama saya termasuk Wishu, berjalan merunduk menuju lantai bagian depan untuk duduk dan menonton di sana. Dengan pedenya saya langsung duduk di kursi kosong itu. Tiba-tiba seorang perempuan setengah baya di samping kursi saya langsung menegur, “maaf sudah ada orangnya di sini.” ~_~
Akhirnya saya berdiri, bingung, dan malu jika harus berjalan ke dapan sendirian sambil berjongkok. Tidak mungkin juga saya berteriak memanggil Wishu yang sudah sibuk menyiapkan catatannya. Saya pun masih berdiri kebingungan. Lalu dari belakang, seorang perempuan cantik berambut pirang mencolek saya,
What the jreng to the jreng… Ternyata dia adalah Hana..  (penyelamat), rekan seangkatan saya di jatuk (jabang tutuka) teater lakon. Doi menawarkan untuk berbagi kursinya dengan saya. Akhirnya tanpa pikir panjang langsung saja saya terima, kebetulan tubuh kami cukup irit untuk duduk berdua di satu kursi.
Setelah beberapa menit menikmati pertunjukan Kereta Kencana yang keren itu, saya pun mulai merasa pegal. Maklum, sebetulnya saya dilarang duduk sembarangan oleh dokter karena akan berpengaruh pada kondisi Junior. Tapi karena terpaksa dan tak ada pilihan, saya pun harus bertahan beberapa menit duduk seadanya. Jika boleh memilih, harusnya saya rela berjalan jongkok untuk bisa duduk lesehan di depan bersama suami dan dua rekan kami. Tapi yaa begitulah, pertunjukan sudah setengah jalan. Saya pun semakin resah dengan posisi duduk saya.
Beberapa menit kemudian, Tuhan mendengar doa saya. Dia menulis skenario seseorang yang duduk di kursi atas untuk hengkang dari tempatnya. Dan Tuhan menggiring mata saya untuk melihat perpindahan itu. Akhirnya dengan segelintir ancang-ancang yang sudah disiapkan ketika melihat gerak-gerik perpindahan orang itu, saya pun langsung berdiri, berjalan dan melambai pada Hana yang masih duduk di kursi tadi. Saya langsung melahap kursi kosong yang baru saja disediakan Tuhan. Dia mengerti antusias saya untuk mengapresiasi pertunjukan itu. Thanks to Allah :-*
Pertunjukan Kereta Kencana adalah pertunjukan yang dilakoni oleh Studiklub Teater Bandung (STB). Ketika menyaksikan pertunjukan itu, ingatan saya langsung berputar, berlari ke beberapa pertunjukan sebelumnya yang pernah saya tonton. Yap, ternyata saya ingat sesuatu…

“Masih adakah cinta di antara kita?”

Yuhu, sebuah pertunjukan alit dari teater koma karya Nano Riantiarno yang pernah diperankan oleh dirinya dan istrinya. Mendadak saya ingat pertunjukan itu, karena suara dan acting para aktor sangat mirip dengan gaya pengucapan aktor-aktor teater koma. *keren!
Ini beberapa foto pertunjukan Kereta Kencana di IFI Bandung :





Sedangkan berikut ini beberapa foto pertunjukan Tanda Cinta - Teater Koma per-fragmen yang saya ambil dari videonya di laptop. Hehehe.







Menonton teater adalah sebuah hiburan tersendiri bagi saya dan Wishu. Kebiasaan ini kami tularkan pada Anjar dan Fajar dengan mengajak mereka berpetualang hanya untuk menonton sebuah naskah keren karya WS Rendra dipentaskan. Akhirnya, di tengah pertunjukan Kereta Kencana itu, imajinasi saya bermain. Saya mengandaikan kehidupan indah bersama suami saya kelak. Ketika tak ada lagi yang bisa kami andalkan untuk membahagiakan kami di luar sana, kami berdua pun siap untuk saling menghibur, saling mengisi dan melengkapi.
Sikap seseorang tak bisa dinilai dari luarnya saja, tapi bagaimana ia bisa membawa dirinya menjadi bermanfaat bagi orang lain. Seperti Ia yang selalu membuat saya tertawa dan bahagia, sekalipun jalan yang kami ambil curam dan terjal, tapi bersamanya, saya merasa nyaman dan terjaga. Sederhana saja. Karena bahagia memang sederhana. Seperti kesederhanaan yang ia ajarkan pada saya.
Berjumpa dengan kawan lama, berbagi kisah, menghasilkan gelak tawa yang jarang terjadi, dan memiliki insting juga intuisi sebagai seseorang yang berarti bagi hidup orang lain. Kami sudah melaluinya hari ini.
Seusai menonton pertunjukan teater, kami pun berpisah lebih dulu dengan Cimeng karena dia harus menjemput seseorang, ujarnya. Akhirnya saya, Wishu dan Jambrong yang mulai kelaparan karena petualangan hebat malam itu, bersiap untuk dinner. Kami menuju tempat makan Jengkol Sufi yang letaknya di Dago. Tapi tenang, saya tidak memesan jengkol, hanya menemani kedua pecinta jengkol itu. Saya memilih menu lain yang lebih aman bagi nafas, eeeh, penampilan saya (uwow) -,-
And finally , momen makan malam itulah yang menjadi penutup pertemuan bersama rekan Wishu. Kami berpisah dengan Jambrong di tempat itu setelah menghabiskan banyak obrolan dan juga makanan. Saya dan Wishu kembali ke daerah atas (setiabudhi), sementara Anjar (si Jambrong) berlawanan arah dengan kami (caheum).
I remember… the way you look at me, yes I remember. –Mocca.
Lantas apa yang menjadi gagasan atau ide pokok dari tulisan ini?
Teater? Sahabat? Cinta? Ayu Tingting? Eeeh… Atau…?
Entahlah, saya hanya ingin berbagi kisah dan menggabungkannya dalam arsip Kisah Berkesan di Blog ini. Apapun inti ceritanya, saya bisa mengambil banyak kenangan yang diawetkan dalam Peramu Kata.
Perjalanan kami masih panjang, saya masih ingin menulis, terlepas dari harus menulis skripsi atau melakukan perlakuan penelitian di sekolah dan menulis hasilnya. Saya lelah, tapi ingin menulis, jadi ini saja yang saya tulis. Sekadar berbagi sebelum akhirnya saya benar-benar sibuk dengan berbagai macam urusan Junior.
Saya akhiri dengan penggalan lagu ini,
Love was made for me and you…

Tertanda, yang tersayang :

Wishu Muhamad
ASAS Junior
Yahlamu Syahla’
Zhafran Muzhaffar

^_^

Kamis, 20 Maret 2014

Kepada S


kau tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi aku.
menjadi perempuan yang selalu kau usik dalam kenangan.

kau tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi aku
menjadi rumah yang selalu didatangi masa lalu

kelak, ketika kau tak sendiri
bersiaplah menjadi aku :
tuan rumah
bagi segala resah yang ditimbun pemiliknya.

kelak, ketika kau menemukan ia
bersiaplah menerima segalanya
sebuah petaka atau penghantar duka

bagi silam yang melahap usia.

Minggu, 16 Maret 2014

About “Skenario Waktu”


Bulan-bulan awal tahun lalu, saya menamatkan novel karya Ayu Utami berjudul Pengakuan Eks Parasit Lajang. Seusai membacanya, mendadak gairah menulis saya berkobar. Layaknya petasan yang melejit-lejit di langit irian, hari itu saya berniat membuat sebuah cerita. Entah panjang berbentuk novel, atau mungkin sebatas cerita pendek yang tidak terlalu penting. Tapi saat itu, kamus kata saya bertambah dan mendadak meniru gaya penulisan Ayu Utami yang vulgar tapi “keren”.

Hari itu entah tanggal berapa, yang pasti saya merekamnya dalam pertemuan singkat dengan seorang perempuan. Seseorang yang baru saya kenal di acara bedah buku Alazhi Perawan Xin-Jiang, yang diadakan oleh Majelis Sastra Bandung (MSB) di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Saat itulah kali pertama kami berkenalan dan kebetulan dia berasal dari Cirebon juga.

Beberapa hari setelah itu, saya pulang kampung dan berniat menjumpai kawan baru saya itu. Kami memutuskan bertemu di Gramedia yang ada di Grage Mall. Akhirnya setelah sampai dan beberapa saat melihat-lihat buku bacaan di sana, terjadilah pertemuan kedua. Nia, nama pendeknya, dari Gramedia mengajak saya berkunjung ke sebuah kafe rempah-rempah yang letaknya tak jauh dari Grage. Namanya kafe Brana.

Benar saja, sesampainya di Brana, saya takjub dengan suasana kafe yang nyaman dan tak nampak bahwa kafe itu ada di salah satu sudut kota Cirebon, karena suasananya tak sepanas yang dibayangkan. Kafe itu disuguhi lukisan-lukisan abstrak dan beberapa menyajikan tema kecirebonan. Kata Nia, baru beberapa hari sebelumnya diadakan pameran Lukisan di kafe tersebut sehingga ada beberapa lukisan yang masih menghuni di sana.

Akhirnya potret pertemuan di kafe itulah yang saya jadikan sebagai latar saya dalam menulis Skenario Waktu. Tentunya dengan beberapa modifikasi yang saya buat untuk mendukung alur ceritanya.

By the way, terlepas dari pertemuan singkat dengan kawan baru saya bernama Nia dan kafe rempah—rempah yang menghuni ingatan saya itu, sebenarnya saya ingin berbagi beberapa penggalan cerita yang ditulis tahun lalu seusai menamatkan novel P.E.P.L (singkat).

Beberapa penggalan cerita akan saya bagi di sini. This is it…

***
Kelak seorang lelaki akan lahir dari rahimmu, rahim para iblis yang menyakitiku secara perlahan. Kelak seorang perempuan akan lahir dari rahimmu, rahim para iblis yang merebut separuh skenarioku. Kelak kutukan itu tumbuh menjadi dedaun yang rimbun, yang jika dipetik bunganya, berdarah di dadamu. Kelak dan kelak, semua akan berbeda, semua akan menjadi terbalik, seperti cermin kafe yang memotret lengkap seluruh kesaksian matamu dan mataku.

***
Tujuh belas nol nol, waktu yang kami pilih untuk menamatkan sejumput pertanyaan di kepala. Sebuah senja dengan dua cangkir cokelat panas serta empat lonjor pisang bakar yang menambah keasrian meja nomor 9. S memulai cerita dengan menyebut nama seseorang yang kami incar. Ia adalah B, lelaki yang telah melukainya, kelak aku tahu ia melukaiku juga.

***
“Perhatikan aku! kini kerudungmu adalah kerudungku. Bajumu adalah bajuku. Rokmu adalah rokku. Kaos kakimu juga merupa kaos kakiku. Atau… kau adalah aku? Ah, tidak! Tepatnya aku adalah kau. Ya, aku adalah kau, S!”

***
Di mata S, aku melihat mataku tengah menimbun gerimis. Di matanya pula, ada bibirku yang terkatup-katup. Di matanya, ada tangan dan kakiku yang tak bisa diam dan terus bergoyang-goyang, padahal tak ada musik yang mengalun. Di matanya, aku melihat gelisah yang ngungu pada wajahku, mataku, bibirku, kupingku, dan dadaku.
“Kalau aku berpisah dengan B, apa kau mau kembali padanya?” tanyaku. Ia hanya diam, lalu terisak. “Untuk apa, memang kau rela dia meninggalkanmu?” jawabnya.
Aku bertanya padamu, kau mengutukiku dengan pertanyaan yang lebih menyesakkan nafasku. Sial!
“Kalau kau mau, aku akan memutuskan B dan memintanya kembali padamu.” Hanya itu yang kuucap, S diam, setelahnya senyap beberapa saat. Ia melihat wajahku, matanya menudingku, mengutuki seseorang yang telah merampas sesuatu dalam hidupnya.
Ini adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan, membiarkan seseorang memilih skenarionya melalui suguhan kata yang aku ucapkan. Entah reaksi apa yang akan B sandingkan jika ia tahu bahwa skenario hidupnya tengah aku obral seperti barang rongsokan

***
“Lalu apa yang harus aku lakukan? setidaknya membuatmu merasa adil dalam masalah ini?” Sekali lagi aku bertanya. Semua yang kuungkapkan pada S berbentuk pertanyaan, kelak aku tahu bahwa pertanyaan itu akan mengutukkiku juga.
Nafasku dan S terengah-engah dalam bingkai pertanyaan yang keluar dari mulut dan pikiran kami sendiri. Temperatur di ruangan itu pun mulai mengubah hawa sejuk menjadi padang pasir yang gersang. Kecemburuan mengepul hebat di ubun-ubun kami. Kafe itu semakin sesak. Kami berebutan oksigen untuk bernafas, rasanya  penghuni ruang itu hampir seluruhnya terlumat api. Sekujur tubuhnya berasap, apalagi ia –yang sedang bercermin di mataku.

***
Langit meremang, tampak lebih redup dari sebelumnya. Aku tahu, Tuhan sedang mempermainkan skenario kami. Menimbang-nimbang dengan tangannya, melempar-lempar ke tangan kanan dan kiri, lalu menggenggamnya erat. Tuhan sedang mengatur cerita yang Ia buat, memperkirakan segala sesuatunya agar tepat sasaran. Aku yakin Tuhan tengah menyimak percakapan kami yang tak habis-habis ini. Hingga kami pun masih bungkam dalam ketidakpastian.

_ coming soon _

Itulah beberapa penggalan acak dari Skenario Waktu. Cerita ini belum selesai, lagipula ada beberapa adegan yang perlu diperbaiki. Diksi yang digunakan pun masih membutuhkan koreksi.
Baiklah, nanti…. ya… nanti setelah saya selesai melakukan penelitian skripsi, niat penting saya adalah menamatkan cerita ini dan memberikan kejelasan pada para tokohnya, akan dibawa ke mana cerita ini. Novelkah, cerpenkah, atau hanya tulisan biasa yang selamanya mengendap di dalam laptop? Entahlah, kita liat beberapa bulan ke depan. 

***Sudah malam, Intan bobo.***

Sleep tight…!



Jumat, 17 Januari 2014

ANALISIS BUKU BESTSELLER DAN RANCANGAN BUKU BESTSELLER

LAPORAN

diajukan sebagai salah salah satu tugas ujian akhir semester
matakuliah Manajemen Penerbitan

oleh
Intan Pertiwi
NIM. 1000958
Dik.7B Jurnalistik

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014
===============================================

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER 7
MATAKULIAH MANAJEMEN PENERBITAN

  1. Bacalah sebuah buku bestseller, apapun judul dan bidangnya. Analisislah penyebab bestseller, terutama berdasarkan aspek isi dan pangsa pasarnya. Sebelumnya, jelaskanlah identitas dan resumenya. Lampirkan pula fotokopi dari jilid buku tersebut.
Jawab :

  1. Identitas Buku
Judul Buku                  : Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali
Jenis Novel                  : Novel
Penulis                         : Helvy Tiana Rosa
Penerbit                       : AsmaNadia Publishing House
Tahun Terbit                : September 2011 (Cetakan Kedua)
Jumlah Halaman          : 245 Halaman


  1. Resume Buku
Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali merupakan lanjutan dari cerpen legendaris yang dimuat di Majalah Annida pada tahun 1993. awalnya berjudul Ketika Mas Gagah Pergi. KMGP –singkatan cerpen ini- dianggap sebagai pelopor kebangkitan Sastra Islam Kontemporer di Indonesia kala itu yang kemudian diterbitkan dalam bentuk novel pada tahun 1997 dan sampai sekarang tercatat sudah lebih dari 15 kali penerbitan ulangnya. Di dalam novel Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali terdapat 15 cerpen pembangun jiwa, dan kisah tentang Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali berjumlah 64 halaman.
Novel ini menceritakan tentang seorang gadis belia, Gita Ayu Pratiwi yang sangat dekat dengan saudara kandung satu-satunya, Gagah Perwira Pratama, biasa dipanggil Mas Gagah adalah mahasiswa Teknik Sipil Universitas Indonesia semester tujuh. Gita sangat bangga dan menyukai Kakaknyatersebut karena sosoknya yang sangat baik, cerdas, tidak pernah meninggalkan shalat, periang dan tentu saja ganteng. Menurutnya, tidak ada yang tidak menyukai Mas Gagah, dari keluarga atau tetangga, nenek atau kakek, orang tua dan adik kakak teman-temannya menyukai sosok “Gagah” tersebut.
Kedekatan Gita dan Mas Gagah berubah ketika Masnya pulang dari Madura, Mas Gagah bertemu dengan seorang Kiai yang membawanya menjemput hidayah Allah. Gagah yang dulu suka jalan-jalan, nonton konser music, selalu bernampilan ala coverboy, humoris dan pencinta music rockbenar-benar berubah. Bahkan Gita yang merupakan cewek tomboy yang sangat cuek penampilannya mulai merasa gawat ketika Masnya sudah tidak mau bersalaman dengan perempuan. Inilah Gita, salah satu dari banyaknya remaja gadis yang dalam masa pencarian jati diri. Ia menganggap apa yang Masnya lakukan adalah suatu hal yang aneh. Ia merasa kehilangan sosok Mas Gagah yang selalu ia banggakan. Sampai pada saat ia mulai belajar memahami tentang kebiasaan baru Masnya dengan membaca buku dan berdiskusi. Perlahan ia merasa hidayah mulai menghampirinya, dan Mas Gagah yang sempat hilang ia rasakan telah kembali. Kehendak Allah berbicara lain. Mas Gagah yang sedang pergi mengemban tugas dakwah meninggal dunia dikarenakan bentrok massa. Ia benar-benar kehilangan sosok Mas kebanggannya.
Satu tahun kemudian Gita mulai bisa mengikhlaskan kepergian sosok Mas Gagah. Namun, ketika ia mulai mengikhlaskan, ia bertemu dengan sosok Lelaki yang selalu menggunakan kemeja kotak-kotak. Hampir disetiap kesempatan ia selalu bertemu dengan sosok tersebut, di bus, gerbong kereta api, restoran, Universitas Indonesia sampai panti-panti. Lelaki berkemeja kotak-kotak tersebut selalu berdiri di tengah kerumunan orang banyak menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Sampai pada akhirnya Gita ingin mencari tahu tentang lelaki itu.
Lama setelah kejadian tersebut, Gita sudah tidak pernah bertemu dengan sosok berkemeja kotak-kotak, sosok yang punya andil dalam keislamanan Gita. Gita telah menjadi muslimah sejati dan ia berniat ingin mencari pekerjaan setelah lulus kuliah. Gita mulai mencari pekerjaan walauayahnya mempunyai perusahaan sendiri. Ketika ia menemukan pekerjaan dan mulai melakukan wawancara, ia bertemu dengan sosok yang tidak pernah ia sangka sebelumnya, Si Kemeja Kotak-Kotak, yang merupakan Direktur perusahaan tempat Gita melamar pekerjaan.
Ketika selesai melakukan wawancara dan hendak pulang, Gita melihat sosok Yudhistira naik ke dalam bus. Sosok itu kembali menyebarkan kebaikan, walaupun sosok tersebut merupakan seorang Direktur. Dalam senja yang temaram, Gita kembali melihat sosok Mas Gagah yang menunggu bus. Wajah Mas Gagah yang cerah.

  1. Analisis Buku
1)      Berdasarkan Isi
Buku tersebut bestseller karena isinya secara tak lansung menggambarkan fenomena-fenomena yang terjadi di Negara kita. Akhir-akhir ini kita sering mendengar adanya paham dan komunitas islam baru yang berdiri atas nama pribadi, kemudian suatu ketika terdengar isu-isu penyimpangan dari aliran tersebut sehingga dianggap musyrik terhadap Allah. Kita juga sering mendengar fenomena maraknya teroris di Indonesia yang menggemborkan jihad tapi malah merugikan orang lain. Hal tersebutlah yang penulis, bunda Helvy usung dalam ceritanya ini. Seperti yang kita tahu, larisnya sebuah buku umumnya terjadi karena fenomena yng sedang mencuat di tahun tersebut. Sehingga sebuah buku bisa terjual habis di pasaran karena isinya sangat syarat manfaat sebagai wawasan untuk menjalani kehidupan di masa itu.
Buku tersebut juga mengajarkan beberapa aturan dalam islam, ketika seorang perempuan terlahir dengan latar belakang agama yang tidak kuat, maka buku tersebut mengajarkan kita untuk lebih berubah menaati aturan Tuhan. Buku tersebut memotivasi kita untuk lebih taat dan berteguh pendirian dalam ajaran agama yang dibawa oleh nabi-nabi kita sebelumnya.
2)      Berdasarkan Pangsa Pasar
Bunda Helvy adalah seorang dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni UNJ. Sehingga secara kasat mata kita sudah paham bagaimana bukunya bisa laris karena tujuan dan sasaran pembacanya yang sudah jelas merujuk pada mahasiswanya yang bergelut di dunia sastra atau literasi. Selain di UNJ, beliau juga merupakan Anggota Ahli Majelis Sastra Tenggara dan Ketu Majelis Penulis Forum Lingkar Pena, tercatat beliau bisa meraih pangsa pasar dari komunitas-komunitasnya itu. Pada akhirnya sebuah buku akan laris di pecinta bidangnya. Sama seperti buku ini. Ada beberapa sasaran yang mungkin sangat tertarik dengan kemunculan buku ini seperti akademisi di bidang literasi, akademisi yang gemar membaca fiksi, akademisi yang berlatar religius dan membutuhkan referensi bacaan fiksi islami. Selain itu, jika dilihat dari kalangan luar akademisi, banyak juga yang membeli buku ini barangkali karena jaringan Bunda Helvy yang luas dalam acara-acara islami, sehingga memungkinkan mereka untuk tertarik pada bunda Helvy dan ingin membeli karyanya.



  1. Rancanglah sebuah buku yang anda anggap bisa bestseller seperti buku yang telah anda analisis di atas. Tentukanlah isi buku secara garis besar dan pangsa pasarnya. Jelaskanlah alasan-alasan optimisme anda terhadap laris manisnya penjualan buku tersebut.
Jawab :

  1. Rancangan Buku
Buku yang akan saya rancang adalah satu paket berjudul “Kuliah Kerja Nyata” berisi dua buah buku berjudul :
KKN, I’m ready!” dan “KKN, I’m in love.”
Buku pertama berjudul “KKN, I’m ready!” berisi tips-tips saat melakukan kegiatan KKN karena pada saat KKN banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan direncanakan meliputi :
1)      Pra KKN
-          penentuan tempat KKN.
-          kontak seluruh anggota satu kelompok.
-          kumpul kelompok KKN.
-          penentuan ketua kelompok KKN.
-          pembagian tugas (jobdesk).
-          pembagian pengadaan logistik.
-          iuran pembekalan selama KKN.
-          merencanakan kostum saat KKN (bisa membuat dresskode/baju KKN).
2)      KKN
-          mempersiapkan diri mengikuti pembukaan dan sambutan dari warga setempat.
-          pembacaan situasi dan kondisi tempat KKN.
-          pembacaan sikap, kebiasaan dan adat istiadat warga setempat.
-          penentuan program kerja dan penanggung jawab kegiatannya selama KKN.
-          penentuan jadwal piket harian.
-          penentuan agenda refreshing mingguan sebagai ajang liburan.
-          penentuan agenda sayonara atau perpisahan yan berkesan.
-          foto bersama sebagai agenda dokumentasi di tempat.
3)      PASCA KKN
-          penyusunan laporan akhir KKN sebagai tugas dari kampus (baiknya dilaksanakan selama KKN berlangsung, sehingga di akhir KKN, hanya tinggal merevisi dan menambahkn dokumentasi-dokumentasi kegiatan).
-          perpisahan dengan anggota kelompok (kumpul anggota).
-          menghitung dan mempublikasi sisa uang kas (jika masih ada).
-          merencanakan tempat bepergian sebagai agenda perpisahan.
-          melakukan foto studio bersama.
Sedangkan buku kedua berjudul “KKN, I’m in love” adalah sebuah kisah yang diangkat dari “true story” pengalaman mahasiswa yang melaksanakan kegiatan KKN, di dalamnya meliputi kisah-kasih asmara mereka, persahabatan, sampai pada pertengkaran sengit selama KKN. Buku ini lebih bersifat naratif karena dirancang seperti novel.

  1. Pangsa Pasar & Optimisme Bestseller
Melihat perkembangan program kegiatan di hampir seluruh kampus Indonesia, KKN adalah salah satu kegiatan yang cukup ditunggu-tunggu oleh mahasiswa. Kegiatan ini umumnya berkisar selama satu bulan. Di sinilah kita diuji bagaimana cara berinteraksi, menghargai pendapat orang lain, tinggal seatap dengan orang-orang baru, dan mempelajari budaya tiap daerah. Kita juga akan melatih banyak keahlian seperti mengajar, melatih berkreasi untuk wirausaha, seminar, workshop, bahkan mengikuti kegiatan dari budaya setempat yang barangkali bisa memberikan banyak pelajaran bagi kita.
Melihat betapa pentingnya KKN dan pengalaman yang mendasar bagi mereka yang akan melaksanakan kegiatan tersebut, maka saya memberanikan diri merancang dua buah buku ini yang dikemas dalam sebuah paket buku berjudul “Kuliah Kerja Nyata” tak lain tak bukan pangsa pasar saya adalah mahasiswa. Ya, setiap tahunnya pasti ada mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan KKN, maka saya tak perlu khawatir jika ketinggalan pangsa pasar, karena buku ini cukup diminati dari kedua judulnya, buku ini memberikan pengalaman lebih yang sangat dibutuhkan mahasiswa awam yang akan melaksanakan kegiatan KKN.
Akhirnya dengan segala kepercayaan diri, buku ini pasti akan menjadi bestseller karena pangsanya terjamin setiap tahun selama program dan matakuliah KKN tidak dihapuskan dari daftar matakuliah di kampus-kampus Indonesia.
Selamat menikmati bacaan yang ringan dan memiliki segudang manfaat ini. Doakan agar buku ini segera terbit dan menjadi bestseller. Semoga terlaksana dengan baik, dan selamat KKN bagi Anda yang akan melaksanakannya! Salam hangat. Intan Pertiwi. J