Minggu, 16 Maret 2014

About “Skenario Waktu”


Bulan-bulan awal tahun lalu, saya menamatkan novel karya Ayu Utami berjudul Pengakuan Eks Parasit Lajang. Seusai membacanya, mendadak gairah menulis saya berkobar. Layaknya petasan yang melejit-lejit di langit irian, hari itu saya berniat membuat sebuah cerita. Entah panjang berbentuk novel, atau mungkin sebatas cerita pendek yang tidak terlalu penting. Tapi saat itu, kamus kata saya bertambah dan mendadak meniru gaya penulisan Ayu Utami yang vulgar tapi “keren”.

Hari itu entah tanggal berapa, yang pasti saya merekamnya dalam pertemuan singkat dengan seorang perempuan. Seseorang yang baru saya kenal di acara bedah buku Alazhi Perawan Xin-Jiang, yang diadakan oleh Majelis Sastra Bandung (MSB) di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Saat itulah kali pertama kami berkenalan dan kebetulan dia berasal dari Cirebon juga.

Beberapa hari setelah itu, saya pulang kampung dan berniat menjumpai kawan baru saya itu. Kami memutuskan bertemu di Gramedia yang ada di Grage Mall. Akhirnya setelah sampai dan beberapa saat melihat-lihat buku bacaan di sana, terjadilah pertemuan kedua. Nia, nama pendeknya, dari Gramedia mengajak saya berkunjung ke sebuah kafe rempah-rempah yang letaknya tak jauh dari Grage. Namanya kafe Brana.

Benar saja, sesampainya di Brana, saya takjub dengan suasana kafe yang nyaman dan tak nampak bahwa kafe itu ada di salah satu sudut kota Cirebon, karena suasananya tak sepanas yang dibayangkan. Kafe itu disuguhi lukisan-lukisan abstrak dan beberapa menyajikan tema kecirebonan. Kata Nia, baru beberapa hari sebelumnya diadakan pameran Lukisan di kafe tersebut sehingga ada beberapa lukisan yang masih menghuni di sana.

Akhirnya potret pertemuan di kafe itulah yang saya jadikan sebagai latar saya dalam menulis Skenario Waktu. Tentunya dengan beberapa modifikasi yang saya buat untuk mendukung alur ceritanya.

By the way, terlepas dari pertemuan singkat dengan kawan baru saya bernama Nia dan kafe rempah—rempah yang menghuni ingatan saya itu, sebenarnya saya ingin berbagi beberapa penggalan cerita yang ditulis tahun lalu seusai menamatkan novel P.E.P.L (singkat).

Beberapa penggalan cerita akan saya bagi di sini. This is it…

***
Kelak seorang lelaki akan lahir dari rahimmu, rahim para iblis yang menyakitiku secara perlahan. Kelak seorang perempuan akan lahir dari rahimmu, rahim para iblis yang merebut separuh skenarioku. Kelak kutukan itu tumbuh menjadi dedaun yang rimbun, yang jika dipetik bunganya, berdarah di dadamu. Kelak dan kelak, semua akan berbeda, semua akan menjadi terbalik, seperti cermin kafe yang memotret lengkap seluruh kesaksian matamu dan mataku.

***
Tujuh belas nol nol, waktu yang kami pilih untuk menamatkan sejumput pertanyaan di kepala. Sebuah senja dengan dua cangkir cokelat panas serta empat lonjor pisang bakar yang menambah keasrian meja nomor 9. S memulai cerita dengan menyebut nama seseorang yang kami incar. Ia adalah B, lelaki yang telah melukainya, kelak aku tahu ia melukaiku juga.

***
“Perhatikan aku! kini kerudungmu adalah kerudungku. Bajumu adalah bajuku. Rokmu adalah rokku. Kaos kakimu juga merupa kaos kakiku. Atau… kau adalah aku? Ah, tidak! Tepatnya aku adalah kau. Ya, aku adalah kau, S!”

***
Di mata S, aku melihat mataku tengah menimbun gerimis. Di matanya pula, ada bibirku yang terkatup-katup. Di matanya, ada tangan dan kakiku yang tak bisa diam dan terus bergoyang-goyang, padahal tak ada musik yang mengalun. Di matanya, aku melihat gelisah yang ngungu pada wajahku, mataku, bibirku, kupingku, dan dadaku.
“Kalau aku berpisah dengan B, apa kau mau kembali padanya?” tanyaku. Ia hanya diam, lalu terisak. “Untuk apa, memang kau rela dia meninggalkanmu?” jawabnya.
Aku bertanya padamu, kau mengutukiku dengan pertanyaan yang lebih menyesakkan nafasku. Sial!
“Kalau kau mau, aku akan memutuskan B dan memintanya kembali padamu.” Hanya itu yang kuucap, S diam, setelahnya senyap beberapa saat. Ia melihat wajahku, matanya menudingku, mengutuki seseorang yang telah merampas sesuatu dalam hidupnya.
Ini adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan, membiarkan seseorang memilih skenarionya melalui suguhan kata yang aku ucapkan. Entah reaksi apa yang akan B sandingkan jika ia tahu bahwa skenario hidupnya tengah aku obral seperti barang rongsokan

***
“Lalu apa yang harus aku lakukan? setidaknya membuatmu merasa adil dalam masalah ini?” Sekali lagi aku bertanya. Semua yang kuungkapkan pada S berbentuk pertanyaan, kelak aku tahu bahwa pertanyaan itu akan mengutukkiku juga.
Nafasku dan S terengah-engah dalam bingkai pertanyaan yang keluar dari mulut dan pikiran kami sendiri. Temperatur di ruangan itu pun mulai mengubah hawa sejuk menjadi padang pasir yang gersang. Kecemburuan mengepul hebat di ubun-ubun kami. Kafe itu semakin sesak. Kami berebutan oksigen untuk bernafas, rasanya  penghuni ruang itu hampir seluruhnya terlumat api. Sekujur tubuhnya berasap, apalagi ia –yang sedang bercermin di mataku.

***
Langit meremang, tampak lebih redup dari sebelumnya. Aku tahu, Tuhan sedang mempermainkan skenario kami. Menimbang-nimbang dengan tangannya, melempar-lempar ke tangan kanan dan kiri, lalu menggenggamnya erat. Tuhan sedang mengatur cerita yang Ia buat, memperkirakan segala sesuatunya agar tepat sasaran. Aku yakin Tuhan tengah menyimak percakapan kami yang tak habis-habis ini. Hingga kami pun masih bungkam dalam ketidakpastian.

_ coming soon _

Itulah beberapa penggalan acak dari Skenario Waktu. Cerita ini belum selesai, lagipula ada beberapa adegan yang perlu diperbaiki. Diksi yang digunakan pun masih membutuhkan koreksi.
Baiklah, nanti…. ya… nanti setelah saya selesai melakukan penelitian skripsi, niat penting saya adalah menamatkan cerita ini dan memberikan kejelasan pada para tokohnya, akan dibawa ke mana cerita ini. Novelkah, cerpenkah, atau hanya tulisan biasa yang selamanya mengendap di dalam laptop? Entahlah, kita liat beberapa bulan ke depan. 

***Sudah malam, Intan bobo.***

Sleep tight…!



Jumat, 17 Januari 2014

ANALISIS BUKU BESTSELLER DAN RANCANGAN BUKU BESTSELLER

LAPORAN

diajukan sebagai salah salah satu tugas ujian akhir semester
matakuliah Manajemen Penerbitan

oleh
Intan Pertiwi
NIM. 1000958
Dik.7B Jurnalistik

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014
===============================================

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER 7
MATAKULIAH MANAJEMEN PENERBITAN

  1. Bacalah sebuah buku bestseller, apapun judul dan bidangnya. Analisislah penyebab bestseller, terutama berdasarkan aspek isi dan pangsa pasarnya. Sebelumnya, jelaskanlah identitas dan resumenya. Lampirkan pula fotokopi dari jilid buku tersebut.
Jawab :

  1. Identitas Buku
Judul Buku                  : Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali
Jenis Novel                  : Novel
Penulis                         : Helvy Tiana Rosa
Penerbit                       : AsmaNadia Publishing House
Tahun Terbit                : September 2011 (Cetakan Kedua)
Jumlah Halaman          : 245 Halaman


  1. Resume Buku
Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali merupakan lanjutan dari cerpen legendaris yang dimuat di Majalah Annida pada tahun 1993. awalnya berjudul Ketika Mas Gagah Pergi. KMGP –singkatan cerpen ini- dianggap sebagai pelopor kebangkitan Sastra Islam Kontemporer di Indonesia kala itu yang kemudian diterbitkan dalam bentuk novel pada tahun 1997 dan sampai sekarang tercatat sudah lebih dari 15 kali penerbitan ulangnya. Di dalam novel Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali terdapat 15 cerpen pembangun jiwa, dan kisah tentang Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali berjumlah 64 halaman.
Novel ini menceritakan tentang seorang gadis belia, Gita Ayu Pratiwi yang sangat dekat dengan saudara kandung satu-satunya, Gagah Perwira Pratama, biasa dipanggil Mas Gagah adalah mahasiswa Teknik Sipil Universitas Indonesia semester tujuh. Gita sangat bangga dan menyukai Kakaknyatersebut karena sosoknya yang sangat baik, cerdas, tidak pernah meninggalkan shalat, periang dan tentu saja ganteng. Menurutnya, tidak ada yang tidak menyukai Mas Gagah, dari keluarga atau tetangga, nenek atau kakek, orang tua dan adik kakak teman-temannya menyukai sosok “Gagah” tersebut.
Kedekatan Gita dan Mas Gagah berubah ketika Masnya pulang dari Madura, Mas Gagah bertemu dengan seorang Kiai yang membawanya menjemput hidayah Allah. Gagah yang dulu suka jalan-jalan, nonton konser music, selalu bernampilan ala coverboy, humoris dan pencinta music rockbenar-benar berubah. Bahkan Gita yang merupakan cewek tomboy yang sangat cuek penampilannya mulai merasa gawat ketika Masnya sudah tidak mau bersalaman dengan perempuan. Inilah Gita, salah satu dari banyaknya remaja gadis yang dalam masa pencarian jati diri. Ia menganggap apa yang Masnya lakukan adalah suatu hal yang aneh. Ia merasa kehilangan sosok Mas Gagah yang selalu ia banggakan. Sampai pada saat ia mulai belajar memahami tentang kebiasaan baru Masnya dengan membaca buku dan berdiskusi. Perlahan ia merasa hidayah mulai menghampirinya, dan Mas Gagah yang sempat hilang ia rasakan telah kembali. Kehendak Allah berbicara lain. Mas Gagah yang sedang pergi mengemban tugas dakwah meninggal dunia dikarenakan bentrok massa. Ia benar-benar kehilangan sosok Mas kebanggannya.
Satu tahun kemudian Gita mulai bisa mengikhlaskan kepergian sosok Mas Gagah. Namun, ketika ia mulai mengikhlaskan, ia bertemu dengan sosok Lelaki yang selalu menggunakan kemeja kotak-kotak. Hampir disetiap kesempatan ia selalu bertemu dengan sosok tersebut, di bus, gerbong kereta api, restoran, Universitas Indonesia sampai panti-panti. Lelaki berkemeja kotak-kotak tersebut selalu berdiri di tengah kerumunan orang banyak menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Sampai pada akhirnya Gita ingin mencari tahu tentang lelaki itu.
Lama setelah kejadian tersebut, Gita sudah tidak pernah bertemu dengan sosok berkemeja kotak-kotak, sosok yang punya andil dalam keislamanan Gita. Gita telah menjadi muslimah sejati dan ia berniat ingin mencari pekerjaan setelah lulus kuliah. Gita mulai mencari pekerjaan walauayahnya mempunyai perusahaan sendiri. Ketika ia menemukan pekerjaan dan mulai melakukan wawancara, ia bertemu dengan sosok yang tidak pernah ia sangka sebelumnya, Si Kemeja Kotak-Kotak, yang merupakan Direktur perusahaan tempat Gita melamar pekerjaan.
Ketika selesai melakukan wawancara dan hendak pulang, Gita melihat sosok Yudhistira naik ke dalam bus. Sosok itu kembali menyebarkan kebaikan, walaupun sosok tersebut merupakan seorang Direktur. Dalam senja yang temaram, Gita kembali melihat sosok Mas Gagah yang menunggu bus. Wajah Mas Gagah yang cerah.

  1. Analisis Buku
1)      Berdasarkan Isi
Buku tersebut bestseller karena isinya secara tak lansung menggambarkan fenomena-fenomena yang terjadi di Negara kita. Akhir-akhir ini kita sering mendengar adanya paham dan komunitas islam baru yang berdiri atas nama pribadi, kemudian suatu ketika terdengar isu-isu penyimpangan dari aliran tersebut sehingga dianggap musyrik terhadap Allah. Kita juga sering mendengar fenomena maraknya teroris di Indonesia yang menggemborkan jihad tapi malah merugikan orang lain. Hal tersebutlah yang penulis, bunda Helvy usung dalam ceritanya ini. Seperti yang kita tahu, larisnya sebuah buku umumnya terjadi karena fenomena yng sedang mencuat di tahun tersebut. Sehingga sebuah buku bisa terjual habis di pasaran karena isinya sangat syarat manfaat sebagai wawasan untuk menjalani kehidupan di masa itu.
Buku tersebut juga mengajarkan beberapa aturan dalam islam, ketika seorang perempuan terlahir dengan latar belakang agama yang tidak kuat, maka buku tersebut mengajarkan kita untuk lebih berubah menaati aturan Tuhan. Buku tersebut memotivasi kita untuk lebih taat dan berteguh pendirian dalam ajaran agama yang dibawa oleh nabi-nabi kita sebelumnya.
2)      Berdasarkan Pangsa Pasar
Bunda Helvy adalah seorang dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Seni UNJ. Sehingga secara kasat mata kita sudah paham bagaimana bukunya bisa laris karena tujuan dan sasaran pembacanya yang sudah jelas merujuk pada mahasiswanya yang bergelut di dunia sastra atau literasi. Selain di UNJ, beliau juga merupakan Anggota Ahli Majelis Sastra Tenggara dan Ketu Majelis Penulis Forum Lingkar Pena, tercatat beliau bisa meraih pangsa pasar dari komunitas-komunitasnya itu. Pada akhirnya sebuah buku akan laris di pecinta bidangnya. Sama seperti buku ini. Ada beberapa sasaran yang mungkin sangat tertarik dengan kemunculan buku ini seperti akademisi di bidang literasi, akademisi yang gemar membaca fiksi, akademisi yang berlatar religius dan membutuhkan referensi bacaan fiksi islami. Selain itu, jika dilihat dari kalangan luar akademisi, banyak juga yang membeli buku ini barangkali karena jaringan Bunda Helvy yang luas dalam acara-acara islami, sehingga memungkinkan mereka untuk tertarik pada bunda Helvy dan ingin membeli karyanya.



  1. Rancanglah sebuah buku yang anda anggap bisa bestseller seperti buku yang telah anda analisis di atas. Tentukanlah isi buku secara garis besar dan pangsa pasarnya. Jelaskanlah alasan-alasan optimisme anda terhadap laris manisnya penjualan buku tersebut.
Jawab :

  1. Rancangan Buku
Buku yang akan saya rancang adalah satu paket berjudul “Kuliah Kerja Nyata” berisi dua buah buku berjudul :
KKN, I’m ready!” dan “KKN, I’m in love.”
Buku pertama berjudul “KKN, I’m ready!” berisi tips-tips saat melakukan kegiatan KKN karena pada saat KKN banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan direncanakan meliputi :
1)      Pra KKN
-          penentuan tempat KKN.
-          kontak seluruh anggota satu kelompok.
-          kumpul kelompok KKN.
-          penentuan ketua kelompok KKN.
-          pembagian tugas (jobdesk).
-          pembagian pengadaan logistik.
-          iuran pembekalan selama KKN.
-          merencanakan kostum saat KKN (bisa membuat dresskode/baju KKN).
2)      KKN
-          mempersiapkan diri mengikuti pembukaan dan sambutan dari warga setempat.
-          pembacaan situasi dan kondisi tempat KKN.
-          pembacaan sikap, kebiasaan dan adat istiadat warga setempat.
-          penentuan program kerja dan penanggung jawab kegiatannya selama KKN.
-          penentuan jadwal piket harian.
-          penentuan agenda refreshing mingguan sebagai ajang liburan.
-          penentuan agenda sayonara atau perpisahan yan berkesan.
-          foto bersama sebagai agenda dokumentasi di tempat.
3)      PASCA KKN
-          penyusunan laporan akhir KKN sebagai tugas dari kampus (baiknya dilaksanakan selama KKN berlangsung, sehingga di akhir KKN, hanya tinggal merevisi dan menambahkn dokumentasi-dokumentasi kegiatan).
-          perpisahan dengan anggota kelompok (kumpul anggota).
-          menghitung dan mempublikasi sisa uang kas (jika masih ada).
-          merencanakan tempat bepergian sebagai agenda perpisahan.
-          melakukan foto studio bersama.
Sedangkan buku kedua berjudul “KKN, I’m in love” adalah sebuah kisah yang diangkat dari “true story” pengalaman mahasiswa yang melaksanakan kegiatan KKN, di dalamnya meliputi kisah-kasih asmara mereka, persahabatan, sampai pada pertengkaran sengit selama KKN. Buku ini lebih bersifat naratif karena dirancang seperti novel.

  1. Pangsa Pasar & Optimisme Bestseller
Melihat perkembangan program kegiatan di hampir seluruh kampus Indonesia, KKN adalah salah satu kegiatan yang cukup ditunggu-tunggu oleh mahasiswa. Kegiatan ini umumnya berkisar selama satu bulan. Di sinilah kita diuji bagaimana cara berinteraksi, menghargai pendapat orang lain, tinggal seatap dengan orang-orang baru, dan mempelajari budaya tiap daerah. Kita juga akan melatih banyak keahlian seperti mengajar, melatih berkreasi untuk wirausaha, seminar, workshop, bahkan mengikuti kegiatan dari budaya setempat yang barangkali bisa memberikan banyak pelajaran bagi kita.
Melihat betapa pentingnya KKN dan pengalaman yang mendasar bagi mereka yang akan melaksanakan kegiatan tersebut, maka saya memberanikan diri merancang dua buah buku ini yang dikemas dalam sebuah paket buku berjudul “Kuliah Kerja Nyata” tak lain tak bukan pangsa pasar saya adalah mahasiswa. Ya, setiap tahunnya pasti ada mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan KKN, maka saya tak perlu khawatir jika ketinggalan pangsa pasar, karena buku ini cukup diminati dari kedua judulnya, buku ini memberikan pengalaman lebih yang sangat dibutuhkan mahasiswa awam yang akan melaksanakan kegiatan KKN.
Akhirnya dengan segala kepercayaan diri, buku ini pasti akan menjadi bestseller karena pangsanya terjamin setiap tahun selama program dan matakuliah KKN tidak dihapuskan dari daftar matakuliah di kampus-kampus Indonesia.
Selamat menikmati bacaan yang ringan dan memiliki segudang manfaat ini. Doakan agar buku ini segera terbit dan menjadi bestseller. Semoga terlaksana dengan baik, dan selamat KKN bagi Anda yang akan melaksanakannya! Salam hangat. Intan Pertiwi. J


Minggu, 08 Desember 2013

5 Puisi dimuat dalam Harian Indopos Jakarta (edisi sabtu 7 desember 2013)

Manusia hanya berusaha, Tuhan yang menentukan. Sudah dua minggu sebelum 7 desember saya mengirim sebanyak 12 puisi ke redaktur Koran Nasional - Indopos Jakarta, yang tak lain adalah seorang penyair besar, Sutardji Calzoum Bachri. Saya tak pernah berambisi untuk bisa dimuat dalam harian tersebut. Mendengar nama redakturnya pun saya hanya bisa mengernyitkan dahi tanpa ada harapan besar untuk pemuatan karya saya. Tapi Tuhan memiliki jalan lain yang membuat gairah menulis saya bertambah. Ketika bulan-bulan akhir ini saya disibukkan oleh kegiatan UKM dan tugas-tugas kuliah yang semakin meradang buas, saya malah membelokkannya dengan menulis puisi. Saya pikir puisi-puisi ini hanya akan menjadi puisi kamar yang tidak akan pernah dibaca banyak orang, tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan menampar saya melalui karya-karya ini. Tuhan menggugah pikiran bengkok saya yang hampir melenyapkan puisi begitu saja dari ritual sehari-hari saya. Tuhan memiliki opini tersendiri ketika saya memilih vakum untuk menulis puisi. Inilah hasil skenario Tuhan yang sudah dirancang sedemikian hebat. Saya mengagumi Tuhan, sama seperti DIA mengagumi hasil usaha saya.
Epapernya belum sempat saya download, karena Indopos jarang menampilkannya di Internet. Kalaupun ada, proses penayangannya yang cukup lama. Akhirnya saya mendapat kabar dari seorang penggiat sastra berinisial KS yang barangkali sudah membeli korannya di Jakarta, bahwa kelima puisi saya inilah yang lolos dalam rubrik Hari Puisi Indopos.
Selamat mengapresiasi puisi-puisi ini. Salam!


Patetis (1)
Wishu Muhamad

setelah berminggu-minggu ditinggalkan olehmu
ternyata inilah yang sanggup aku tuliskan :

setumpuk pakaian kotor di bawah ranjang
sebundel selimut kering di ujung kaki
dan sisa airmata menempel di bantal kita.

tak peduli rambut kusut menambah kisut dadaku
setiap hari aku bercermin
dan menemukan bagian-bagian dari tubuhku yang asing

kau bilang,
“mencintaimu adalah mencari yang tak pernah terjawab oleh cermin”

lalu sebagian usiaku kau tulis dalam puisi.

kini, di hadapan cermin itu
aku hanyalah perempuan
yang selalu memiliki alasan
untuk dicintai atau dilupakan.

2013.



Melukis Senja
Bara

 –kuas
kepada siapa kularungkan penantian ini
tiap menit adalah waktu yang sekarat bagiku
jam terus berdetak
tapi tak jua menggariskan bayangmu
hanya kental oranye yang melucuti tubuhku

 –mata
kanvas di ujung kuasmu berkata:
tak ada yang berubah dari tubuhku,
selalu tentang mentega di langit biru
dan seseorang asing yang kau temui di Gilimanuk
seperti orbit yang memutari pandanganku.

 –kanvas
di Jembrana, kau menyulap kuas satu warna;
memotret tangkapan mata
kali ini bersama awan cumulonimbus,  sesekali 
menjelma fibratus cirrus, melumer  di tubuhku

 –senja
wajahku tak ubahnya hadir dalam potretmu
seperti gravitasi yang melekat pada kanvas dan kuasmu
tibatiba terpampang dalam Travel Photographer
dan seseorang asing di Gilimanuk
masih menunggumu; membawaku padanya.

2013.



Patetis (2)
: Bah

pada dedaun rimbun
kutulis doa untukmu
pemikul rezeki
kelak sepersatu daun itu luruh
menguap bersama angin
melindap dalam pusara,
semoga menjadi pertanda
jiwa bersemuka
kita adalah  tubuh yang serupa
dalam dua termin masa

ketika sangkakala bergema
segugus petuahmu menjelma ruh
bagi jengkal nafasku yang ripuh

2013.



Cermin
 : Maila

di wajahmu yang bulat
sesudut rona berbinar cemas
mengedipkan sayap sayup mata
bergelung menjelma ombak lanun
yang telah pikun.

langit bertungku bukanlah waktu yang sakral
sebab tubuhmu tetap melengkung
mengitari bulan yang kaku
memantul lewat celahcelah kaca; pecah.

pada jejarum jam yang tak terlihat
telunjukmu menyerupai hulu
larut dalam muara mata
kakimu serupa egrang; menumpu asa.

tidakkah kau ingat, Maila
cermin yang memotretmu
memahatkan luka dan kenangan 
yang pernah bersarang
di tubuh kita

jika pantulannya hanya keindahan semu,
tubuhmu adalah kebohongan terburuk
bagi seluruh pemilik rusuk.

2013.



Mengemas Waktu

aku hendak berkemas dari tiparmu,
ketika fajar menyarak mimpi
dan embun menganak sungai
di antara cilap mata ini.

pun aku mulai berkemas dari tiparmu,
ketika surya membidik pupil
dan semesta menjelma perangai yang labil.

aku akan tetap berkemas dari tiparmu,
ketika langit tunggang gunung
dan mega memutasikan iga
yang tertimbun di lengan kirimu.

akhirnya aku berkemas dari tiparmu,
ketika butir bulan menyingsing malam
dan kunang-kunang menamatkan segala percakapan.

2011.



Biodata Penulis :
Intan Pertiwi, lahir di Cirebon 12 September 1992.
Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI Bandung. 
Saat ini tengah menggarap skripsinya ihwal pembelajaran menulis di sekolah.


Sabtu, 07 Desember 2013

Desember

pada siapa kularungkan penantian ini
tiap detik adalah waktu yang sekarat bagiku
jam terus berdetak, tapi tak jua menggariskan bayangmu
hanya gigil semu yang merunjam bibirku

kini,
saat musim merebahkan usia
tubuhku adalah dingin yang tak lagi teraba
dan hujan adalah kebekuan terburuk
bagi seluruh pemilik rusuk.


Memoar, 2013.

Senin, 24 Juni 2013

Ingatan Tentang .....

Pagi ini mendadak gairah nulis saya timbul lagi setelah ke sekian kalinya nonton film Perahu Kertas di laptop. Enggak tau kenapa, saya kaya dihipnotis sama musiknya, dan alur cerita yang disuguhin film itu cenderung ngembaliin ingatan saya ke beberapa tahun silam. Tepatnya pas sekolah dasar -- called Cimon -- Cinta Monyet. hehe.

Darwis, seorang murid lakilaki yang baru masuk kelas 2A di sekolah saya. Dia itu murid baru, tapi otaknya encer, pinter banget! Masamasa sekolah dasar adalah masa terpintar selama hidup saya. Ya, soalnya pas  SD, saya ngeraih juara pertama berturut-turut dari kelas satu sampai enam. *Takdir Tuhan*

Yup! Darwis itu otaknya gak kalah encer dari saya, peringkat ke dua yang saat itu lagi ada di tangan Ayu, langsung dia rebut tanpa rasa berdosa sedikit pun begitu dia resmi jadi murid baru di kelas kami. So good! keren!
Lelaki bertopi yang punya mata sipit dan wajah agak chiness itu, dia menduduki peringkat dua setelah saya! Hampir takut peringkat satu juga direbut dia, makanya saya ekstra belajar, supaya angka satu itu tetep betah jadi penghuni peringkat raport saya.

Dia -- lelaki berjubah hujan (Nocturno).

Darwis terkenal murah senyum dan pinter ngegambr. Pernah saya curi-curi pandang sama dia pas di kelas, tepatnya pas mata pelajaran seni rupa. Dia jago mainin pensilnya loh, wow banget deh, dan kamu tau apa gambar yang dia buat? sebuah alat musik, men! Gitar! (kelas 2 SD udah bisa bikin gitar yang keliatan hidup dan nyata. Hah, You're the best!)

Saya enggak tau kalau itu kali pertama saya kesengsem sama anak lakilaki yang begitu memesona. Selain pinter, dia jago ngegambar. Wah, kan? Mukanya ganteng meskipun sampai sekarang saya belum tau kayak apa muka gedenya, tapi saya yakin kok dia masih tetep memesona seperti dulu.

Tepat di kelas 2 SD dia masuk jadi murid baru, sering becanda bareng saya, sering ngelempar senyumnya ke muka saya terus saya tangkep pake tangan dan saya usap ke pipi tembem saya. *hah* -,-"

yaa... begitulah Darwis dengan segala kekonyolan dan kecerdasan otaknya itu.

Sampai suatu hari sahabat saya--Ayu, kedapetan surat dari Darwis, kata Ayu surat itu buat saya, tapi belum saya buka dan malah saya simpen di dalem tas gendong bergambar twiti kesayangan saya. 

Esoknya, Ayu berniat ngajak saya buat jadi detektif-detektif'an.

Sepulang sekolah saya sama Ayu penasaran pengen tahu rumah Darwis saat itu, jadi sengaja deh Ayu punya ide konyol buat mengintai Darwis dari belakang pas dia ke luar gerbang sekolah. Akhirnya dengan segala keberatan--seberat badan saya, dan demi nama persahabatan yang begitu erat dengan Ayu, saya pun ikut mengintai! *padahal penasaran juga*

Ayu dan saya ngikutin Darwis dari belakang, dia lagi jalan bareng temen lakilaki kami bernama Carta. Mereka berdua kompak banget kaya tim, ke mana-mana berdua, yaa... mungkin Darwis baru aja dapetin sahabat hidupnya di sekolah itu. Setelah agak jauh kami ngikutin dia, ada rasa curiga kami yang berlebihan, kayanya Darwis sengaja belok-belok ke gang yang acak deh -- keliatannya Darwis tau kalau kami lagi memata-matai langkah dia. 

And then, pas Darwis belok ke sebuah gang, saya sama Ayu langsung tancep gas buat belok juga, soalnya langkah Darwis sama Carta cepet banget, kami pun belok ke gang yang melenyapkan tubuh Darwis di mata kami. Dan ternyata, pas belok......

jleb!

nothing "somebody".....
Beneranlah mereka lenyap dan kami kehilangan jejak mereka! *heuh*
Kami nengokinn muka ke semua penjuru, tapi gak ada satu pun helai rambut mereka yang tersepuh angin dan mencolok mata kami. Gang itu kosong, kami enggan untuk lanjut berjalan karena udah kehilangan jejak dari situ.
Akhirnya kami balik ke arah pulang. Sialnya, begitu balik arah, suara tawa langsung pecah di belakang kami. Saya dan Ayu langsung nengokin muka, and then... mereka berdua nongol lagi di gang itu. Carta keliatan ketawa puas banget ngeliat gelagat kami, sampai mukanya merah kaya jus tomat yang udah di mix pake stroberi. ckck. Kalau Darwis, dia cuma senyum lucu sambil sedikit ngelepas tawa renyahnya, eeeeeh ada lesung pipinya juga, saya baru beneran jelas ngeliat lesung pipinya. Heeeem, truly renyah dan memesona ! *keukeuh*

Entah dengan kekuatan dari mana, saya dan Ayu keburu kaget dan malu, akhirnya kami langsung ngacir dengan seribu langkah dari aspal gang itu. Kami langsung pulang ke rumah dan berharap besok Darwis sama Carta amnesia untuk selama-lamanya--tentang hari itu.

Setahun di kelas 2 udah bikin saya lumayan deket sama Darwis, sampai tiba saat kenaikan kelas 3 SD, Darwis gak dateng di acara perpisahan dengan wali kelas 2. Semua anak yang saya absen mukanya hadir kok, tapi saya gak ngeliat muka Darwis nongol di kelas itu. Saya agak sedih, apalagi saya bawa hadiah buat dia--buku gambar-- supaya dia bisa terus menggambar dan kelak ngelukis wajah saya. *hope*

Setelah pulang ke rumah dan membongkar isi tas twiti kesayangan saya, akhirnya terbukalah semua itu. Yap, tepatnya di sebuah surat usang yang udah beberapa hari jadi penghuni tas saya. Darwis nulis surat itu pake tulisan tangannya sendiri. Saya masih inget, ada gambar dua muka di surat itu. Yang pertama muka perempuan dengan rambutnya diiket satu, dan kedua, muka lakilaki yang rambutnya belah dua. Gambar muka itu berhadapan, di antara keduanya ada gambar love kecil. Barulah saya tau pas ngeliat tulisan di bawah gambar itu. Gambar perempuan tertulis nama saya, dan gambar lakilaki tertulis nama dia sendiri. 

Itulah cinta monyet saya yang enggak bertepuk sebelah tangan--kalau kata orang dewasa sih.

Memang.. cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan, cinta itu terus menuju ke hati kami, cinta itu saling melengkapi meskipun usia kami masih terlalu dini. Ya, cinta itu biasa orang sebut cinta monyet, apalagi usia kelas 2 SD, terasa begitu janggal jika sudah mulai jatuh cinta. Tapi kami melakoninya, kami merasakannya meskipun kami tidak tahu bagaimana kelanjutan cerita cimon kami.

Surat itu adalah surat cinta pertama dan terakhir yang Darwis berikan pada saya. Saat esoknya masuk sekolah, saya sudah mendapati kabar bahwa Darwis pindah ke Jakarta karena neneknya di daerah itu meninggal dan ia resmi tinggal di Jakarta serta melanjutkan sekolahnya di sana.

Sampai saat ini, Darwis belum tau tentang perasaan saya, belum tau apakah cimonnya bertepuk sebelah tangan, atau lantas menjadi hujan yang meresap ke dalam tanah lalu subur di atas tangkai-tangkai pepohonan yang rimbun. Entahlah. Darwis belum juga menampakkan wajahnya di hadapan saya. 
Pertemuan mengejutkan disertai perpisahan yang mengejutkan pula. Darwis pergi tanpa pamit, Darwis pergi membiarkan saya menanggung perasaan itu seorang diri-- ketika seorang saya belum patut untuk berbicara serius tentang cinta, bahkan mengeja dan mengingat-ingat bentuk hurufnya pun masih terasa sulit. Darwis pergi dan belum saya temui sampai detik saya menulis catatan usang ini. 
Seandainya dia tau, masamasa itu adalah masa yang terlalu bocah untuk mengutarakan bahasa cinta, apalagi membiarkannya luntang lantung karena ditinggal kabur pencurinya.

Darwis -- dan ingatan tentang ..... (?)


(IP, Juni 2013)