Kamis, 27 Desember 2012

Jakob Sumarddjo dan Permainan Tradisional




Nama Lengkap : Jakob Sumardjo
Kategori : HUMANIORA
Agama : Katolik
Tempat Lahir : Klaten, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Selasa, 26 September 1939
Warga Negara : Indonesia
Ayah : P. Djojoprajitno
Istri : Jovita Siti Rochma



Pasirlayung, Rabu, 14 November 2012. Hujan masih setia mengguyur daerah Pasirlayung, sementara aku mulai memarkirkan bebek yang kutunggangi tepat di depan pagar rumah bernomor X1. Bukan rumah tersebut yang kutuju, melainkan sebuah rumah sederhana yang terletak tepat di sampingnya. Aku melepaskan jas hujan yang mulai betah bermukim di tubuhku, lalu aku berjalan menuju sebuah pintu dan mulai mengetuknya. Sebentar saja seseorang membukakan pintu. Keluarlah seorang wanita tua namun tampak masih kuat menawarkan senyum ramah. Beliau hendak bertanya tetapi langsung aku potong dengan pertanyaanku.
“Bapaknya ada, bu?”
“Ada, sebentar, tadi bapak ada di Jeihan. Nanti ibu telepon dulu. Silakan masuk!” ujarnya.
Aku pun masuk dan menunggu di ruang tamu yang dindingnya ramai lukisan. Sepuluh menit berlalu. Sambil menunggu, aku melepas jaket dan mempersiapkan peralatan untuk mendokumentasikan proses wawancaraku siang itu.
16.20 wib - Seseorang dengan jalan agak ringkih tampak menggeser pintu pagar rumah, lalu berjalan perlahan dengan payung ditangannya. Dialah Jakob Sumardjo. Seorang kakek yang sudah berusia 73 tahun namun tampak masih sehat - menurutku. Jakob Sumardjo merupakan seorang budayawan nasional sekaligus esais yang karya-karyanya sudah malang melitang di jagat kesusasteraan Indonesia.
Di rumah sederhana ini Jakob Sumardjo tinggal bersama isterinya kurang lebih 20 tahun. Suara bising motor yang melintas tepat di depan  rumah, menjadi irama pengawal percakapan yang akan segera kami sulut. Jakob duduk di sofa, pun denganku. Beratapkan remang lampu di ruangan itu, aku pun mulai menyuguhkan pertanyaan ringan sebagai pengawal percakapan dan dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan yang telah kusiapkan sebelumnya.

Masa Kecil dan Permainan Tradisional
Jakob Sumardjo adalah orang yang suka pada permainan tradisional. Dulu ketika angka mulai mengecup usia kanak-kanaknya, beliau gemar bermain ular-ularan, atau saat ini biasa disebut oray-orayan (dalam bahasa sunda). Sselain itu, ia juga bermain gobak sodor, gatrik dan kartu wayang.
Klaten yang menjadi kampung halaman beliau adalah daerah yang memiliki banyak kenangan perihal masa-masa bermainnya. Betapa tidak, acapkali matahari mulai bertengger seperti bohlam perpustakaan, beliau dan teman-teman sebayanya memutuskan untuk memulai permainan. Tidak hanya itu, ketika bulan mulai menguning di aspal, mereka pun melanjutkan permainan tersebut. Setiap hari mereka bermain bersama. Jumlahnya kurang lebih ada sepuluh orang. Tapi tak tentu, karena jika hari itu tema permainan adalah sepak bola, maka yang bermain hanya anak laki-laki saja.
Di usia kanak-kanaknya, permainan tradisional menjadi penghibur tersendiri baginya dan juga teman-teman sebayanya, karena di zaman itulah bangsa Indonesia sedang mengalami ketegangan hebat. Negara Indonesia sedang menjadi ajang penjajahan, sehingga perang pun masih berkeliaran di mana-mana. Saat itu Klaten merupakan daerah yang jaraknya lumayan dekat dengan tempat mortir-mortir berhamburan.
Jakob bercerita bahwa dulu tak jarang ia dapati mortir yang menyasar ke tempat mereka bermain, sehingga mereka pun berlarian bersama untuk menghindari mortir tersebut. Kadang mereka pun bersembunyi di balik pagar sambil melihat mortir-mortir yang meledak hebat. Pemandangan tersebut sudah tak asing di memoar anak-anak sebayanya ketika itu. “Menyeramkan” – kata itulah yang masih terekam di benaknya.
Jakob menyebutkan beberapa nama teman sebayanya yang juga memainkan permainan tradisional bersamanya. Ada yang bernama Toha, dia adalah anak santri. Lalu Karno, dia itu selanjutnya menjadi anggota PKI. Ada juga Midat, dan ada satu teman perempuan yang ia lupa namanya. Tetapi jika teman perempuannya itu sedang membawa kerbau untuk dimandikan, Jakob selalu ikut menaiki kerbaunya dan ikut memandikan kerbau  tersebut di sungai.
Masa kanak-kanak adalah masa penuh permainan. Peristiwa-peristiwa tak terduga yang sering ia alami bersama teman-temannya ketika bermain, menjadi hal yang sangat ia rindukan saat ini. Persahabatan erat yang terjalin karena kebersamaan mereka dalam memainkan permainan tradisional itu hanya berlangsung kurang lebih sampai kelas empat SD, karena sekitar tahun 1944 -1949 saat duduk di kelas lima sampai enam SD,  Jakob pindah ke Yogyakarta.
Ada satu pengalaman lucu menurutnya. Ia menceritakan bahwa dulu dirinya pernah terjatuh saat Jepang akan menyerbu sekitar pedesaan, kurang lebih masih berusia 5 tahun. Ketika keluarganya di dalam rumah mengemas barang-barang, tak sengaja ia berjalan mundur dan yang terjadi malah jatuh terperosok ke sungai. Orangtuanya mengira Jakob patah tulang atau sebagainya, tapi ternyata ia tidak apa-apa.
Dari banyak hal yang diceritakan Jakob, tampaklah bahwa banyak pengalaman-pengalaman menarik yang ia alami ketika bermain. Jakob mengaku bahwa dirinya selalu bergembira ketika bermain. Semua permainan dan perilaku menarik sewaktu kecil selalu ia nikmati. Sampai-sampai perihal menangkap belut, lele, dan mandi di sungai, pernah ia rasakan.

Tertarik pada Kebudayaan Sunda di Usia Dewasa
Beranjak ke masa-masa sekolah. Jakob bercerita bahwa dulu, untuk sampai di sekolah ia harus berjalan kaki menempuh sekitar 8 kilometer dan hanya dibekali uang setengah sen oleh ibunya. Uang itu sebenarnya untuk bekal sekolah, namun tak jarang dalam perjalanan menuju sekolahnya, Jakob selalu mampir ke pasar terlebih dahulu. Disana ada banyak buku-buku yang dijual. Uang jajannya itu ia kumpulkan untuk membeli buku. Ia sangat tertarik pada buku cerita bergambar. Dalam buku tersebut terdapat cerita tentang si Pait Lidah, Bawang Merah Bawang Putih, dan banyak lagi cerita menarik lainnya. Waktu itu Jakob tergila-gila sekali dengan buku. Tapi jika ibunya tahu bahwa uang jajannya itu sering digunakan untuk membeli buku, maka ia akan kena marah. Bukan karena tidak boleh membeli buku, melainkan karena uang tersebut sengaja ibunya berikan untuk Jakob membeli makan di jam istirahat sekolah.
Menuju masa-masa dewasanya, Jakob Sumardjo menjadi seorang budayawan asal Jawa, namun ia begitu tertarik dengan kebudayaan sunda. Akhirnya Ia mulai menggeluti kebudayaan sunda sejak dirinya memutuskan pindah dari Yogyakarta menuju Bandung, kurang lebih tahun 1962. Jakob menamatkan studi di IKIP Bandung pada jurusan Sejarah (saat ini UPI). Setelah itu ia mengajar di SMA St. Angela sampai tahun 1980. Kebetulan di sana ia mengajar sejarah dan seni menggambar. Jakob mulai mendalami kebudayaan Sunda dan merasa sangat tertarik sejak dirinya resmi pindah ke ASTI (sekarang STSI). Faktor lingkungan merupakan pengaruh utama dalam mengenal kebudayaan Sunda. Di kampus yang ber-basic seni tersebut, ia sering mendengar karawitan berkumandang setiap hari, sehingga bertambahlah rasa gelisahnya untuk memahami kebudayaan sunda.
Tidak sampai di sana. Suatu ketika ia pernah mendapat tugas untuk mengkaji cerita Sunda yang berjudul Mundinglaya Dikusumah. Ia segera mencari tahu apa itu Mundinglaya Dikusumah. Setelah mendapat informasi tentang cerita tersebut, muncul seberkas kekaguman akan sosok mistik dalam cerita itu, karena menurutnya tokoh Mundinglaya mirip dengan Dewaruci di Jawa. Setelah itu ia mulai mengkaji naskahnya dan muncullah kembali hasrat keingintahuan tentang cerita sunda lainnya. Ia pun memulainya dengan mencari tahu cerita-cerita pantun Sunda semisal Mandala dalam Wadon.

Mendalami Filosofi Permainan Tradisional Bersama Muridnya
Perihal permainan tradisional, ia mulai paham sejak salah seorang muridnya di jurusan Seni Rupa ITB, Zaini Alif, sering berdiskusi dan bertanya kepadanya mengenai filsafat dari permainan tradisional. Kebetulan ketika itu Jakob mengajar filsafat seni di ITB. Zaini, muridnya, sangat tertarik dan ingin mengembangkan permainan tradisional Sunda yang ternyata bernilai filosofi tinggi. Sebenarnya Zaini telah menyelesaikan tesisnya, tetapi dia menangguhkannya dalam beberapa waktu agar tesis tersebut bisa lebih kompleks.
Dari diskusinya bersama Zaini, Jakob akhirnya tahu bahwa permainan tradisional memiliki dua sifat. Pertama, bersifat play. Permainan tradisional yang bersifat play, yakni permainan yang menuntut pemain untuk mengukur kemampuan diri. Misalnya oray-orayan. Permainan tersebut menanamkan kepercayaan diri pada anak-anak. Pada permainan play itu tidak ada istilah kalah dan menang. Semisal membuat kolecer, anak-anak membuat kolecer. Siapa yang bisa berputar dan berbunyi berarti dia telah mampu dan berhasil membuatnya. Pada akhirnya di masa depan kolecer tersebut akan digunakan. Dari situ terlihat bahwa permainan bersifat play ini lebih berujung pada pengukuran kemampuan diri dan sebagai pembelajaran tak langsung untuk masa depan. Permainan play lebih membentuk karakter untuk berkembang, yaitu menantang kemampuan diri untuk bisa maju.
Kedua, permainan tradisional yang bersifat game. Permainan yang bersifat game biasanya lebih mengarah pada kalah dan menang yang berujung pada rasa sakit hati. Permainan ini menuntut pemain untuk melakukan sesuatu agar menang.
Jika disandingkan dalam permainan tradisional sunda, umumnya lebih bersifat play, sehingga hampir semua permainan sunda dimainkan untuk mengukur kemampuan diri. Semisal permainan oray-orayan, menangkap ikan, membuat kolecer dan lainnya.
Sebaliknya, jika dihadapkan dengan permainan tradisional Jawa, umumnya lebih bersifat game, sehingga pada akhirnya harus ada yang kalah dan menang. Salah satunya adalah permainan gambar wayang.
Jakob Sumardjo lebih tertarik mendalami sisi kebudayaan dari permainan tradisional tersebut. Ia tidak memiliki sumbangsih mengenai permainannya, ia justru membantu dari segi filsafat kebudayaannya. Ragam permainan tradisional bisa dilihat dari letak geografis masyarakatnya. Orang-orang Sunda yang hidup di daerah ladang, pasti memiliki permainan yang berbeda dengan orang-orang Jawa yang hidup di daerah pesawahan.

Permainan Modern Mengikis Permainan Tradisional
Lelaki yang kini memiliki tiga orang anak tersebut mengaku bahwa anak-anaknya saat ini tidak bermain permainan tradisional sepertinya. Mereka justru bermain dengan mainan-mainan modern. Semisal robot. Tapi kadang mereka juga bermain layang-layang di luar rumah bersama anak kampong.
Jakob memandang bahwa permainan tradisional saat ini mulai terkikis dengan hadirnya mainan-mainan modern  yang lebih canggih dan instan. Maka dari itu, sebaiknya permainan tradisional harus dikenalkan kembali pada anak-anak, karena dalam mengajarkan pendidikan saat ini dibutuhkan pengajaran yang dikemas dalam bentuk play. Permainan modern lebih mengarah pada individu saja, sehingga jika diterapkan dalam mengajarkan pendidikan sangat tidak cocok. Permainan kita ini harus permainan sosial. Jika menyendiri tidak ada manfaatnya terhadap masyarakat. Setidaknya permainan tradisional anak-anak yang bersifat sosial dalam dunia pendidikan itu dimulai sejak kelas 1 sampai kelas 6 SD. Maka sejak dini, kita harus mengumpulkan permainan yang bersifat play dan menerapkannya di sekolah-sekolah. Terlepas dari kegiatan pramuka, permainan tradisional harus tetap disisipkan di dalamnya. Kita bisa memulainya di daerah kita sendiri yang berlatar Sunda, jangan sampai permainan sunda tersebut justru dijumpai di kota Palembang, Minang, atau kota-kota lainnya. Budayakanlah terlebih dahulu di daerah sunda itu sendiri. Dalam permainan tradisional biasanya terdapat nyanyian-nyanyian khas yang  menggunakan bahasa daerah, dengan demikian kita akan banyak melestarikan budaya daerah setempat melalui permainan tradisional yang sudah dikenalkan sejak dini pada anak-anak.
Lelaki yang bulan-bulan ini sering mendapat panggilan untuk mengisi ceramah-ceramah dan mengaku baru pulang dari Borobudur pada acara perkumpulan penulis cerita silat itu menitipkan pesan bijak bagi tunas-tunas bangsa yang selanjutnya akan melestarikan budaya bangsa ini.
Gunakan waktu anak-anak itu untuk kebahagiaan. Biarkan anak-anak bermain dan merasakan kebahagiaan. Salah satunya dengan bermain permainan tradisional itu tadi.” ujarnya mengakhiri perbincangan.


LUTUNG KASARUNG



Prabu Tapa Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. "Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta," kata Prabu Tapa.
Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. "Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya.

Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. "Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !" ujar Purbararang.
Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, "Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri". "Terima kasih paman", ujar Purbasari.

Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. "Apa manfaatnya bagiku ?", pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih

seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. "Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !", kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

"Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku", kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, "Jadi monyet itu tunanganmu ?".

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.
Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.

SI KANCIL DAN SIPUT



Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.
Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.
“Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil. “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.
Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.
Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.
Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput. Kancil

terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”
Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.
Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.
Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.

MALIN KUNDANG



Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.
Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.
Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.
Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.
Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya

dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia
memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.


TIMUN MAS



Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.
Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”.
Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.
Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.
Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya.

Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa. Kemudian timun meas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun emas?”, teriak si raksasa. Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak timun emas.
Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.
Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.


Rabu, 26 Desember 2012

Begitu Melankolisnya Lagu Fatwa Pujangga by Rendy Ahmad (Arai Sang Pemimpi)


sejak minggu, 23 desember 2012 yang lalu saya memutuskan untuk mudik ke rumah di cirebon karena memang sedang libur kuliah alias pekan sunyi sebelum kegiatan UAS berlangsung awal januari  2013 nanti.

sesampainya di rumah, pemandangan baru mulai tertata di sekeliling rumah.
sebuah toko air isi ulang menjadi tetangga baru toko pakaian milik ibu.

yaa.. sejak kepulangan ayah ke rumah Tuhan,
ibu berhasil menyewakan bagian depan rumah kami kepada penjual air mineral,
sehingga tampak lebih ramai dari biasanya.
dan kini aku tahu, ibu tak kesepian lagi *semoga :)

- di rumah - 
setiap malam tiba, ibu menyalakan handphone-nya dan memutar lagulagu terbaru yang diberikan oleh kakak lelaki saya satu-satunya yang kini menetap di cicalengka- bandung.

tret.. trot.. tret.. trot...

jreng, jreng, jreng, jreng...

hehehe

sederet lagu yang sedikit demi sedikit mulai saya ingat dan pernah saya dengar sejak kecil karena biasa ibu nyanyikan sewaktu saya masih sekolah dasar dan tinggal di rumah.

sederet lagu yang biasa di-karaoke-kan ibu dan kakak perempuan saya acapkali waktu senggang.

di antaranya..


  • Bengawan Solo - Hetty Koes Endang
  • Simalakama - Rama Aiphama
  • Kota Solo - Hetty Koes Endang
  • Tenda Biru - Desi Ratnasari
  • Tuhan - Bimbo
  • Sajadah Panjang - Bimbo
  • Ada Anak Bertanya pada Bapaknya - Bimbo
  • Warung Pojok - Sri Dian Pertiwi & Mus Mulyadi
  • Fatwa Pujangga - versi Rama Aiphama & versi Said Effendi
  • Bunga Seroja - Rama Aiphama
  • Sebiduk di Sungai Musi - Alfian
  • Bunga Nirwana - Dlloyd
  • Dinda Bestari - Rama Aiphama


dan...masih banyak lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan secara utuh di sini, hehe :D


(^_^)

lagulagunya nice banget..
nostalgiaan orang tua gitu.
tapi jujur, saya memang suka lagulagu nostalgia garagara si ibu sering muterin lagulagu lawas tersebut di rumah.


***


seeeekkkkiiiiiiiiiiiiiiiip..........


putar lagu berikutnya...


jreeeeng...


sebuah lagu yang mengembalikan ingatan saya pada sebuah film lama yang sangat saya sukai :D



film "SANG PEMIMPI"


yaa... sebuah lagu yang dinyanyikan oleh aktor idola saya - Rendy Ahmad (sebagai Arai)


LAGU "Fatwa Pujangga"


(^_*)


di handphone ibu terdapat dua versi yaitu versi Rama Aiphama dengan musik dan nada yang lebih nge - beat, lalu satu lagi versi Said Effendi dengan musik dan nada yang lebih mellow.


sejurus waktu, ingatan saya kembali ke masamasa nonton film Sang Pemimpi.
lagu yang sengaja Rendy Arai Ahmad nyanyikan untuk gadis berkerudung merah (diperankan oleh Maudy Ayunda).

akhirnya setelah memutar otak, saya pun memutuskan untuk men - download lagu Fatwa Pujangga versi Rendy Arai Ahmad beserta videonya dari youtube.. 

berbagi linknya ::

1. http://www.4shared.com/mp3/Bfft-lEW/Rendy_Arai_Ahmad_-_Fatwa_Pujan.html

2. http://www.youtube.com/watch?v=lHwb-_fdZzY


hihihi.. *segitunya.. :')


alhasil, lagunya lebih melankolis dari dua versi penyanyi sebelumnya,
dan lagu tersebut menambah kekaguman saya pada tokoh Arai di film Sang Pemimpi buah karya Andrea Hirata itu (novel).. hehehe.

(^_^)

hmm...
enough.. just it!

sekian dan terima kasih kepada My Beloved Mother sudah mengembalikan ingatan saya ke beberapa tahun lalu.. :D

Selasa, 25 Desember 2012

a little story


Sejak kecil sebenarnya aku lebih suka bergaya di depan kaca, atau kadang menunjukan bakat fashion show – ku  di depan keluarga. Dengan memakai dress mini, atau sekedar handuk acapkali selesai mandi, pasti aku langsung bergaya dan berjalan lenggak-lenggok bak seorang model menuju kamarku. Itu aku lakukan sejak usiaku berkisar 5-6 tahun. Ketika itu aku masih menduduki taman kanak-kanak.

Di rumah (cirebon) bahkan sampai saat ini masih bertumpukan seberkas CD lagu-lagu India yang dulu sengaja kubeli karena kegemaranku menonton film India di tv. Kini jarang kutemui film India di channel-channel televisi, mungkin karena sudah tersingkirkan dengan banyaknya film maupun acara-acara di Indonesia yang harus tayang, sehingga film luarpun berkurang porsinya. 

Semakin hari, aku semakin menyukai musik-musik India. Tarian-tariannya pun mulai handal kugerakkan, liriklirik lagunya mulai hafal kunyanyikan, karena alat inderaku bersedia menampung kilasan gerak-gerik artis India yang menari dan bernyanyi saat musik terlantun.

Entah mengapa aku jadi pandai menari dan justru tertarik pada dunia tarian. Hal itupun menjadi sebuah prestasi perdanaku ketika duduk di bangku Taman Kanak-kanak. 

Aku meraih juara terbaik dalam lomba yang tidak sengaja diadakan di TK – ku ( TK Al-Hikmah Cirebon).

Ketika itu guruguru kami tidak memberitahukan bahwa ada lomba di sekolah. Mereka hanya menyuruh kami berkumpul dan berdiri dalam satu ruangan luas dengan tape yang mulai memutarkan lagulagu nge - beat. Di sana berkumpullah semua murid TK Al-Hikmah mulai dari kelas nol kecil sampai kelas nol besar. 

Setelah itu salah satu guru kami memberi aba-aba agar kami mulai menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama musik. Dengan hanya memerintahkan kami untuk mulai menari, kami pun melenggak-lenggok sesuka hati. Kami hanya tahu bahwa hari itu adalah hari free pelajaran, dan digantikan dengan hiburan kami menari-nari sepuasnya mengikuti irama musik yang diputar guru kami.

Esoknya, sebelum memulai pelajaran, guruku yang menjadi wali kelasku saat itu mengumumkan sebuah informasi tentang kegiatan kemarin. 

Ternyata...
kegiatan menari kemarin dilombakan tanpa sepengetahuan kami, 
dan terpilihlah aku sebagai juara favorit guruguru. 

Akhirnya akupun mendapat sebuah bingkisan sebagai hadiah penari terbaik, dan setelah kubuka, bingkisan itu berisi sebuah kaos bergambar kartun tweete dengan bertuliskan pemenang lomba menari TK Al-Hikmah. Akupun sangat terkejut dan bahagia. 

Sepulangnya di rumah, aku memberitahukan hal itu pada ibu, dan ibu langsung tertawa merespon ceritaku. Aku senang dan semakin suka menari karena prestasi yang kuraih ketika itu menambah motivasiku untuk menjadi penari. Kini kaos yang menjadi hadiah pertamaku itu entah berada di mana, karena sudah hampir 14 tahun aku tak memakainya lantaran tubuhku yang semakin besar.

Beranjak ke masamasa sekolah dasar. Aku agak lupa memastikan usiaku, mungkin ketika aku masih duduk di bangku kelas 3 atau 4 SD. 

Sebuah madrasah di daerah tempat tinggalku mengadakan lomba membaca puisi tingkat pelajar. Lomba tersebut tidak dibatasi berapa usia pelajarnya, yang merasa dirinya pelajar, maka boleh mengikuti lomba tersebut. 

Entah ada angin apa, tibatiba kakakku yang kini menjadi guru bahasa inggris (Lena Rosyana) menyuruhku untuk ikut lomba tersebut, dan ia berjanji akan melatihku membaca puisi. Saat itu kepolosan membawaku untuk menerima tawaran kakakku itu. 

Dengan modal seadanya, aku pun mengikuti lomba tersebut. Aku masih ingat judul puisi yang kubacakan ketika lomba, yaitu.. 

"Kupu-kupu"

Entah karya siapa, aku lupa. Tapi ada satu yang sangat kuingat. Lomba itu diikuti oleh sebagian besar seniorku di sekolah agama, dan aku adalah peserta termuda di sana. 

Temanteman sebayaku tidak berminat mengikuti lomba tersebut, akhirnya rasa minder pun hampir menjelajahi pikiranku. Namun, aku terlanjur mendaftarkan diri di lomba tersebut. Sehingga mau tak mau aku harus tetap mengikutinya, setidaknya bisa menunjukkan hasil latihan bersama kakakku.

Di penghujung acara, para pemenang lomba pun diumumkan. Alhasil, aku meraih juara harapan pertama pada lomba itu, dan tiga orang peraih juara inti adalah senior yang usianya jauh di atasku, kisaran usia SMP. Aku senang sekali, setidaknya aku mendapat piagam penghargaan dan bingkisan buku beserta alat tulisnya. Kakakku pun sangat bangga mengetahuinya. 
“siapa dulu pelatihnya?” ujarnya sombong.

Duduk di bangku kelas 5 – 6 SD, gairah menariku mulai sedikit terkikis karena prestasi di bidang akademik yang menuntutku menjadi juara kelas. Aku terlanjur meraih ranking pertama berturut-turut sejak kelas 1 sampai 6 SD (Tuhan yang mencerdaskanku dan mengatur segalanya), maka dari itu prestasi tersebut aku kembangkan agar bisa lulus ujian nasional dengan hasil terbaik. 

Saat duduk di bangku kelas 5 SD itulah aku diajar oleh seorang guru bahasa Indonesia yang sangat komunikatif dan juga ekspresif. Caranya mengajar tidak membuat kami merasa jenuh. Kami justru senang ketika pelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Aku masih ingat nama guru favorit kami itu, ‘Ibu Ida’ guru bahasa Indonesia di SDN1 Pabuaran Kidul. Guru kedua yang sangat dekat denganku setelah ‘Ibu Ikeu’ wali kelasku. 

Ibu Ida mengajarkan bahasa dengan gaya dan kemasan yang menarik. Kami diajarkan membaca puisi, cerita, pidato, berita, dan lainnya dengan ekspresi yang sesuai, dan nada juga tempo yang teratur. 

Alhasil, 

aku menjadi perwakilan sekolah dasarku untuk mengikuti lomba membaca puisi antar-sekolah di tingkat kecamatan. Aku pun meraih juara kedua. Mungkin karena aku agak kesulitan membaca puisi yang dilombakan dalam bahasa sunda. 

Puisi karya Hikmat Sadkar berjudul Tanah Sunda 
dan 
Sangkuriang karya Beni Setia

Dua puisi yang menggunakan bahasa sunda dan aku berhasil membacakannya di depan umum meskipun diawal latihan aku agak kesulitan memaknai isinya. 

Aku tetap bangga meraih juara kedua, tapi terlintas sedikit rasa kecewa dibenakku ketika mengetahui bahwa yang mendapat juara pertama akan diikutkan dalam lomba membaca puisi tingkat kabupaten dan mewakili kecamatan tersebut. 

Tapi beruntunglah temanku bernama ‘Lilih’, dia berhasil membawa nama baik sekolahku karena meraih juara pertama lomba mendongeng dalam bahasa sunda dan akan mewakili kecamatan kami untuk mengikuti lomba di kabupaten. 

Dongeng yang berjudul ‘Sakadang Kuya jeung Sakadang Maung’ mampu menghantarkannya ke tingkat kabupaten. Ternyata ‘Lilih’ pun meraih juara kedua lomba mendongeng di tingkat kabupaten Cirebon. Sebuah kebanggaan besar bagi kami dan sekolah kami.

Duduk di bangku kelas 5 SD, banyak hal yang ingin selalu aku ingat. Di samping buku diary (harian) yang sudah gemar kutulis sejak duduk di bangku kelas 3 SD, aku pun menuliskan ceritacerita imajinasiku dalam sebuah buku tulis bersampul putih yang sengaja kubuat dan kuberi judul “NOVEL”, buku itu aku beri makan hingga aku duduk di bangku SMP.



Skip....skip.....skip....


SMP ---> SMA ---> KULIAH


(beberapa tahun kemudian...)



Tahun 2012 bulan Agustus lalu, aku mudik ke cirebon, sebuah kamar dengan suasana berbeda kudapati ketika pulang ke rumah. Ternyata ibu mengganti tata letak barang di dalam kamar. Aku pun membuka sebuah lemari berisi tumpukan dan jejeran buku yang pernah kubeli dan kubaca sejak kecil. 

Di sana kutemukan sebuah buku yang mengembalikan ingatanku ke beberapa tahun silam. Sebuah buku dengan sampul yang tidak berwarna putih lagi dan agak usang, kutemukan di antara tumpukan buku pelajaranku ketika SMP. Buku bertuliskan “NOVEL” itu aku buka dan kubaca kembali.

Sejurus waktu, gelak tawaku pecah. Aku langsung merasa geli akan isi dari buku itu. Kumpulan cerita pendek yang mengisahkan perjalanan persahabatan dan cinta masa kecilku (cimon) dengan jelas tergambarkan dalam sudut pandang orang ketiga. Benar-benar takjub dan masih belum mempercayainya. 

Tapi ada satu yang membuat mataku geli sehingga menggelitik organ tubuhku lainnya. Buku itu berjudul NOVEL akan tetapi di dalamnya justru berisi kumpulan cerita pendek roman picisan dengan variasi judul masingmasing di tiap cerita. –  Hahaha – salah tafsir nama..

Sedikit aku dokumentasikan bentuknya ::


 








Ini sepenggal catatan masa kecilku yang berhasil kubuat sebagai alarm memoar masa silam. Meskipun masih ber-genre cerita populer (nge-pop) tapi setidaknya keinginanku untuk menulis cerita tanpa kusadari sudah tertanam sejak sekolah dasar.

Berawal dari menari, 
membaca puisi, 
menulis pengalaman yang dijadikan cerita, 
dan satu lagi yang belum sempat kuceritakan dalam catatan ini... 

‘menyanyi’ , 

sebuah hobi yang terlesap di antara ketiga hal itu.


Semuanya berkembang dan menyatu dalam jiwaku karena seorang wanita yang melatih kemampuanku sejak kecil. Aku adalah penggemar beratnya. Sampai kapanpun wanita itu adalah segalanya bagiku. Dia bukanlah kakakku yang melatihku membaca puisi, bukan pula guruguruku yang mengajari aku membaca dan berhitung, melainkan seorang wanita yang selalu menemani harihariku di rumah, yang menjelma malaikat dan mampu menjadi siapapun bagi perkembanganku.

(o_O)



(foto kedua orangtuaku zaman dulu)


Yaaa...


===== >>>> IBU

(',')


Beliau yang menambah kecintaanku pada kegiatan ‘menyanyi dan bercerita (mendongeng)’.


Sejak kecil, acapkali langit menutup diri, ibuku selalu mendongengkan ceritacerita legenda dan asal mula suatu tempat. Semisal cerita sangkuriang, danau toba, malin kundang, dan lainnya. Tak lupa ia selalu menyisipkan sebuah lagu yang berkaitan dengan cerita yang akan diceritakannya padaku menjelang tidur.

Sebuah lagu anakanak dalam bahasa sunda, penghantar cerita anakanak yang ia ceritakan padaku ::

abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka
teu kinten saena sareng lucuna
ku abdi dierokkan, erokna sae pisan
cik mangga tingali boneka abdi

(^_^)


Sebuah lagu penghantar cerita Sangkuriang yang kini masih terekam dalam memoarku  ::

nun dupa mengalun buka tabir purbakala
riwayat priangan ibu yang menanggung malang
dipercinta oleh putra sangkuriang sakti
walau mengetahui itu ibunda sejati
agar dapat berlabuh di gelap malam
diminta menyiapkan telaga dan perahu semalam
nun di timur fajar tiba sebelum waktunya
sangkuriang putra tak menepati janjinya.


....dan....

masih banyak lagu lainnya yang menjadi gawang kecintaanku pada menyanyi dan mungkin belum sempat aku tuliskan liriknya dalam catatan ini..


***


“IBU” 
adalah pembimbing setia dalam catatan masa kecilku, 
hingga kini..
selama ia dan aku masih bernafas. 
Sebuah niatan tumbuh untuk menuliskan riwayat hidupnya dalam seberkas karyaku kelak.


** Mom... u’re my everything ** []