Kamis, 27 Desember 2012

LUTUNG KASARUNG



Prabu Tapa Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. "Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta," kata Prabu Tapa.
Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. "Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya.

Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. "Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !" ujar Purbararang.
Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, "Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri". "Terima kasih paman", ujar Purbasari.

Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. "Apa manfaatnya bagiku ?", pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih

seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. "Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !", kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

"Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku", kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, "Jadi monyet itu tunanganmu ?".

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.
Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.

SI KANCIL DAN SIPUT



Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.
Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.
“Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil. “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.
Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.
Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.
Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput. Kancil

terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”
Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.
Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.
Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.

MALIN KUNDANG



Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.
Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.
Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.
Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.
Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya

dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia
memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.


TIMUN MAS



Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.
Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”.
Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.
Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.
Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya.

Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa. Kemudian timun meas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun emas?”, teriak si raksasa. Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak timun emas.
Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.
Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.


Rabu, 26 Desember 2012

Begitu Melankolisnya Lagu Fatwa Pujangga by Rendy Ahmad (Arai Sang Pemimpi)


sejak minggu, 23 desember 2012 yang lalu saya memutuskan untuk mudik ke rumah di cirebon karena memang sedang libur kuliah alias pekan sunyi sebelum kegiatan UAS berlangsung awal januari  2013 nanti.

sesampainya di rumah, pemandangan baru mulai tertata di sekeliling rumah.
sebuah toko air isi ulang menjadi tetangga baru toko pakaian milik ibu.

yaa.. sejak kepulangan ayah ke rumah Tuhan,
ibu berhasil menyewakan bagian depan rumah kami kepada penjual air mineral,
sehingga tampak lebih ramai dari biasanya.
dan kini aku tahu, ibu tak kesepian lagi *semoga :)

- di rumah - 
setiap malam tiba, ibu menyalakan handphone-nya dan memutar lagulagu terbaru yang diberikan oleh kakak lelaki saya satu-satunya yang kini menetap di cicalengka- bandung.

tret.. trot.. tret.. trot...

jreng, jreng, jreng, jreng...

hehehe

sederet lagu yang sedikit demi sedikit mulai saya ingat dan pernah saya dengar sejak kecil karena biasa ibu nyanyikan sewaktu saya masih sekolah dasar dan tinggal di rumah.

sederet lagu yang biasa di-karaoke-kan ibu dan kakak perempuan saya acapkali waktu senggang.

di antaranya..


  • Bengawan Solo - Hetty Koes Endang
  • Simalakama - Rama Aiphama
  • Kota Solo - Hetty Koes Endang
  • Tenda Biru - Desi Ratnasari
  • Tuhan - Bimbo
  • Sajadah Panjang - Bimbo
  • Ada Anak Bertanya pada Bapaknya - Bimbo
  • Warung Pojok - Sri Dian Pertiwi & Mus Mulyadi
  • Fatwa Pujangga - versi Rama Aiphama & versi Said Effendi
  • Bunga Seroja - Rama Aiphama
  • Sebiduk di Sungai Musi - Alfian
  • Bunga Nirwana - Dlloyd
  • Dinda Bestari - Rama Aiphama


dan...masih banyak lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan secara utuh di sini, hehe :D


(^_^)

lagulagunya nice banget..
nostalgiaan orang tua gitu.
tapi jujur, saya memang suka lagulagu nostalgia garagara si ibu sering muterin lagulagu lawas tersebut di rumah.


***


seeeekkkkiiiiiiiiiiiiiiiip..........


putar lagu berikutnya...


jreeeeng...


sebuah lagu yang mengembalikan ingatan saya pada sebuah film lama yang sangat saya sukai :D



film "SANG PEMIMPI"


yaa... sebuah lagu yang dinyanyikan oleh aktor idola saya - Rendy Ahmad (sebagai Arai)


LAGU "Fatwa Pujangga"


(^_*)


di handphone ibu terdapat dua versi yaitu versi Rama Aiphama dengan musik dan nada yang lebih nge - beat, lalu satu lagi versi Said Effendi dengan musik dan nada yang lebih mellow.


sejurus waktu, ingatan saya kembali ke masamasa nonton film Sang Pemimpi.
lagu yang sengaja Rendy Arai Ahmad nyanyikan untuk gadis berkerudung merah (diperankan oleh Maudy Ayunda).

akhirnya setelah memutar otak, saya pun memutuskan untuk men - download lagu Fatwa Pujangga versi Rendy Arai Ahmad beserta videonya dari youtube.. 

berbagi linknya ::

1. http://www.4shared.com/mp3/Bfft-lEW/Rendy_Arai_Ahmad_-_Fatwa_Pujan.html

2. http://www.youtube.com/watch?v=lHwb-_fdZzY


hihihi.. *segitunya.. :')


alhasil, lagunya lebih melankolis dari dua versi penyanyi sebelumnya,
dan lagu tersebut menambah kekaguman saya pada tokoh Arai di film Sang Pemimpi buah karya Andrea Hirata itu (novel).. hehehe.

(^_^)

hmm...
enough.. just it!

sekian dan terima kasih kepada My Beloved Mother sudah mengembalikan ingatan saya ke beberapa tahun lalu.. :D

Selasa, 25 Desember 2012

a little story


Sejak kecil sebenarnya aku lebih suka bergaya di depan kaca, atau kadang menunjukan bakat fashion show – ku  di depan keluarga. Dengan memakai dress mini, atau sekedar handuk acapkali selesai mandi, pasti aku langsung bergaya dan berjalan lenggak-lenggok bak seorang model menuju kamarku. Itu aku lakukan sejak usiaku berkisar 5-6 tahun. Ketika itu aku masih menduduki taman kanak-kanak.

Di rumah (cirebon) bahkan sampai saat ini masih bertumpukan seberkas CD lagu-lagu India yang dulu sengaja kubeli karena kegemaranku menonton film India di tv. Kini jarang kutemui film India di channel-channel televisi, mungkin karena sudah tersingkirkan dengan banyaknya film maupun acara-acara di Indonesia yang harus tayang, sehingga film luarpun berkurang porsinya. 

Semakin hari, aku semakin menyukai musik-musik India. Tarian-tariannya pun mulai handal kugerakkan, liriklirik lagunya mulai hafal kunyanyikan, karena alat inderaku bersedia menampung kilasan gerak-gerik artis India yang menari dan bernyanyi saat musik terlantun.

Entah mengapa aku jadi pandai menari dan justru tertarik pada dunia tarian. Hal itupun menjadi sebuah prestasi perdanaku ketika duduk di bangku Taman Kanak-kanak. 

Aku meraih juara terbaik dalam lomba yang tidak sengaja diadakan di TK – ku ( TK Al-Hikmah Cirebon).

Ketika itu guruguru kami tidak memberitahukan bahwa ada lomba di sekolah. Mereka hanya menyuruh kami berkumpul dan berdiri dalam satu ruangan luas dengan tape yang mulai memutarkan lagulagu nge - beat. Di sana berkumpullah semua murid TK Al-Hikmah mulai dari kelas nol kecil sampai kelas nol besar. 

Setelah itu salah satu guru kami memberi aba-aba agar kami mulai menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama musik. Dengan hanya memerintahkan kami untuk mulai menari, kami pun melenggak-lenggok sesuka hati. Kami hanya tahu bahwa hari itu adalah hari free pelajaran, dan digantikan dengan hiburan kami menari-nari sepuasnya mengikuti irama musik yang diputar guru kami.

Esoknya, sebelum memulai pelajaran, guruku yang menjadi wali kelasku saat itu mengumumkan sebuah informasi tentang kegiatan kemarin. 

Ternyata...
kegiatan menari kemarin dilombakan tanpa sepengetahuan kami, 
dan terpilihlah aku sebagai juara favorit guruguru. 

Akhirnya akupun mendapat sebuah bingkisan sebagai hadiah penari terbaik, dan setelah kubuka, bingkisan itu berisi sebuah kaos bergambar kartun tweete dengan bertuliskan pemenang lomba menari TK Al-Hikmah. Akupun sangat terkejut dan bahagia. 

Sepulangnya di rumah, aku memberitahukan hal itu pada ibu, dan ibu langsung tertawa merespon ceritaku. Aku senang dan semakin suka menari karena prestasi yang kuraih ketika itu menambah motivasiku untuk menjadi penari. Kini kaos yang menjadi hadiah pertamaku itu entah berada di mana, karena sudah hampir 14 tahun aku tak memakainya lantaran tubuhku yang semakin besar.

Beranjak ke masamasa sekolah dasar. Aku agak lupa memastikan usiaku, mungkin ketika aku masih duduk di bangku kelas 3 atau 4 SD. 

Sebuah madrasah di daerah tempat tinggalku mengadakan lomba membaca puisi tingkat pelajar. Lomba tersebut tidak dibatasi berapa usia pelajarnya, yang merasa dirinya pelajar, maka boleh mengikuti lomba tersebut. 

Entah ada angin apa, tibatiba kakakku yang kini menjadi guru bahasa inggris (Lena Rosyana) menyuruhku untuk ikut lomba tersebut, dan ia berjanji akan melatihku membaca puisi. Saat itu kepolosan membawaku untuk menerima tawaran kakakku itu. 

Dengan modal seadanya, aku pun mengikuti lomba tersebut. Aku masih ingat judul puisi yang kubacakan ketika lomba, yaitu.. 

"Kupu-kupu"

Entah karya siapa, aku lupa. Tapi ada satu yang sangat kuingat. Lomba itu diikuti oleh sebagian besar seniorku di sekolah agama, dan aku adalah peserta termuda di sana. 

Temanteman sebayaku tidak berminat mengikuti lomba tersebut, akhirnya rasa minder pun hampir menjelajahi pikiranku. Namun, aku terlanjur mendaftarkan diri di lomba tersebut. Sehingga mau tak mau aku harus tetap mengikutinya, setidaknya bisa menunjukkan hasil latihan bersama kakakku.

Di penghujung acara, para pemenang lomba pun diumumkan. Alhasil, aku meraih juara harapan pertama pada lomba itu, dan tiga orang peraih juara inti adalah senior yang usianya jauh di atasku, kisaran usia SMP. Aku senang sekali, setidaknya aku mendapat piagam penghargaan dan bingkisan buku beserta alat tulisnya. Kakakku pun sangat bangga mengetahuinya. 
“siapa dulu pelatihnya?” ujarnya sombong.

Duduk di bangku kelas 5 – 6 SD, gairah menariku mulai sedikit terkikis karena prestasi di bidang akademik yang menuntutku menjadi juara kelas. Aku terlanjur meraih ranking pertama berturut-turut sejak kelas 1 sampai 6 SD (Tuhan yang mencerdaskanku dan mengatur segalanya), maka dari itu prestasi tersebut aku kembangkan agar bisa lulus ujian nasional dengan hasil terbaik. 

Saat duduk di bangku kelas 5 SD itulah aku diajar oleh seorang guru bahasa Indonesia yang sangat komunikatif dan juga ekspresif. Caranya mengajar tidak membuat kami merasa jenuh. Kami justru senang ketika pelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Aku masih ingat nama guru favorit kami itu, ‘Ibu Ida’ guru bahasa Indonesia di SDN1 Pabuaran Kidul. Guru kedua yang sangat dekat denganku setelah ‘Ibu Ikeu’ wali kelasku. 

Ibu Ida mengajarkan bahasa dengan gaya dan kemasan yang menarik. Kami diajarkan membaca puisi, cerita, pidato, berita, dan lainnya dengan ekspresi yang sesuai, dan nada juga tempo yang teratur. 

Alhasil, 

aku menjadi perwakilan sekolah dasarku untuk mengikuti lomba membaca puisi antar-sekolah di tingkat kecamatan. Aku pun meraih juara kedua. Mungkin karena aku agak kesulitan membaca puisi yang dilombakan dalam bahasa sunda. 

Puisi karya Hikmat Sadkar berjudul Tanah Sunda 
dan 
Sangkuriang karya Beni Setia

Dua puisi yang menggunakan bahasa sunda dan aku berhasil membacakannya di depan umum meskipun diawal latihan aku agak kesulitan memaknai isinya. 

Aku tetap bangga meraih juara kedua, tapi terlintas sedikit rasa kecewa dibenakku ketika mengetahui bahwa yang mendapat juara pertama akan diikutkan dalam lomba membaca puisi tingkat kabupaten dan mewakili kecamatan tersebut. 

Tapi beruntunglah temanku bernama ‘Lilih’, dia berhasil membawa nama baik sekolahku karena meraih juara pertama lomba mendongeng dalam bahasa sunda dan akan mewakili kecamatan kami untuk mengikuti lomba di kabupaten. 

Dongeng yang berjudul ‘Sakadang Kuya jeung Sakadang Maung’ mampu menghantarkannya ke tingkat kabupaten. Ternyata ‘Lilih’ pun meraih juara kedua lomba mendongeng di tingkat kabupaten Cirebon. Sebuah kebanggaan besar bagi kami dan sekolah kami.

Duduk di bangku kelas 5 SD, banyak hal yang ingin selalu aku ingat. Di samping buku diary (harian) yang sudah gemar kutulis sejak duduk di bangku kelas 3 SD, aku pun menuliskan ceritacerita imajinasiku dalam sebuah buku tulis bersampul putih yang sengaja kubuat dan kuberi judul “NOVEL”, buku itu aku beri makan hingga aku duduk di bangku SMP.



Skip....skip.....skip....


SMP ---> SMA ---> KULIAH


(beberapa tahun kemudian...)



Tahun 2012 bulan Agustus lalu, aku mudik ke cirebon, sebuah kamar dengan suasana berbeda kudapati ketika pulang ke rumah. Ternyata ibu mengganti tata letak barang di dalam kamar. Aku pun membuka sebuah lemari berisi tumpukan dan jejeran buku yang pernah kubeli dan kubaca sejak kecil. 

Di sana kutemukan sebuah buku yang mengembalikan ingatanku ke beberapa tahun silam. Sebuah buku dengan sampul yang tidak berwarna putih lagi dan agak usang, kutemukan di antara tumpukan buku pelajaranku ketika SMP. Buku bertuliskan “NOVEL” itu aku buka dan kubaca kembali.

Sejurus waktu, gelak tawaku pecah. Aku langsung merasa geli akan isi dari buku itu. Kumpulan cerita pendek yang mengisahkan perjalanan persahabatan dan cinta masa kecilku (cimon) dengan jelas tergambarkan dalam sudut pandang orang ketiga. Benar-benar takjub dan masih belum mempercayainya. 

Tapi ada satu yang membuat mataku geli sehingga menggelitik organ tubuhku lainnya. Buku itu berjudul NOVEL akan tetapi di dalamnya justru berisi kumpulan cerita pendek roman picisan dengan variasi judul masingmasing di tiap cerita. –  Hahaha – salah tafsir nama..

Sedikit aku dokumentasikan bentuknya ::


 








Ini sepenggal catatan masa kecilku yang berhasil kubuat sebagai alarm memoar masa silam. Meskipun masih ber-genre cerita populer (nge-pop) tapi setidaknya keinginanku untuk menulis cerita tanpa kusadari sudah tertanam sejak sekolah dasar.

Berawal dari menari, 
membaca puisi, 
menulis pengalaman yang dijadikan cerita, 
dan satu lagi yang belum sempat kuceritakan dalam catatan ini... 

‘menyanyi’ , 

sebuah hobi yang terlesap di antara ketiga hal itu.


Semuanya berkembang dan menyatu dalam jiwaku karena seorang wanita yang melatih kemampuanku sejak kecil. Aku adalah penggemar beratnya. Sampai kapanpun wanita itu adalah segalanya bagiku. Dia bukanlah kakakku yang melatihku membaca puisi, bukan pula guruguruku yang mengajari aku membaca dan berhitung, melainkan seorang wanita yang selalu menemani harihariku di rumah, yang menjelma malaikat dan mampu menjadi siapapun bagi perkembanganku.

(o_O)



(foto kedua orangtuaku zaman dulu)


Yaaa...


===== >>>> IBU

(',')


Beliau yang menambah kecintaanku pada kegiatan ‘menyanyi dan bercerita (mendongeng)’.


Sejak kecil, acapkali langit menutup diri, ibuku selalu mendongengkan ceritacerita legenda dan asal mula suatu tempat. Semisal cerita sangkuriang, danau toba, malin kundang, dan lainnya. Tak lupa ia selalu menyisipkan sebuah lagu yang berkaitan dengan cerita yang akan diceritakannya padaku menjelang tidur.

Sebuah lagu anakanak dalam bahasa sunda, penghantar cerita anakanak yang ia ceritakan padaku ::

abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka
teu kinten saena sareng lucuna
ku abdi dierokkan, erokna sae pisan
cik mangga tingali boneka abdi

(^_^)


Sebuah lagu penghantar cerita Sangkuriang yang kini masih terekam dalam memoarku  ::

nun dupa mengalun buka tabir purbakala
riwayat priangan ibu yang menanggung malang
dipercinta oleh putra sangkuriang sakti
walau mengetahui itu ibunda sejati
agar dapat berlabuh di gelap malam
diminta menyiapkan telaga dan perahu semalam
nun di timur fajar tiba sebelum waktunya
sangkuriang putra tak menepati janjinya.


....dan....

masih banyak lagu lainnya yang menjadi gawang kecintaanku pada menyanyi dan mungkin belum sempat aku tuliskan liriknya dalam catatan ini..


***


“IBU” 
adalah pembimbing setia dalam catatan masa kecilku, 
hingga kini..
selama ia dan aku masih bernafas. 
Sebuah niatan tumbuh untuk menuliskan riwayat hidupnya dalam seberkas karyaku kelak.


** Mom... u’re my everything ** []









Kamis, 22 November 2012

and forever.. i will always love you

" mengapa cemburu lebih dulu sampai melebihi bayanganku? "

aku tak pernah tahu tentang suratan takdir yang telah dituliskan Tuhan.
saat ini, aku sedang menjalaninya tanpa perlu menyesali segala keputusan yang telah aku ambil.
apapun itu, yaa.. inilah adanya.
sesuatu yang telah aku pertimbangkan masakmasak.
semoga tetap menjadi sesuatu yang abadi, seperti awan yang kekal mengambang di permukaan langit.

sudah hampir genap dua tahun hubungan ini diresmikan.
entah siapa yang lebih dulu meresmikannya, dia.. atau justru aku?
kami hanya berhubungan melalui bahasa tubuh, tanpa perlu mengucapkan peresmian yang sakral sebagai ungkapan pemastian status kami.

ini baru kualami pertama kali seumur hidupku.
cinta yang bermula dari ketidaksengajaan, dan semoga tidak berakhir dengan tidak sengaja pula.

aku mencintainya juga menyayanginya, lelakiku - yang biasa kusebutsebut sebagai seorang malaikat.

aku tak pernah mau meresmikan hubungan kami - pada awalnya. sama seperti ketidakmauanku meresmikan blog ini sebagai buku harianku. namun itu di luar dugaanku. kami menjalin hubungan spesial, lebih dari dua sejoli yang saling berbagi isi hati. kami mulai segan melakukan apapun bersama. sehingga terjadilah sebuah waktu di mana aku harus memutuskan hubunganku dengan lelaki lain yang lebih dulu memboyong hatiku. akhirnya sama sepertiku. ia pun begitu, memutuskan untuk segera melupakan masa lalunya yang dulu sangat sulit untuk dilupakan karena cintanya yang masih bertengger di wajah elok wanita itu..

well, yang lalu biarlah memudar di belukar awan dan tertimbun di jejakjejak aspal.
seperti katanya :

" kini hanya ada kau dan aku "
" kini hanya kau dan juga karyaku " 

perkataan yang semakin menguatkan benteng hubungan kami dan keyakinanku terhadap keseriusannya.
hal ini tidak aku simpulkan sendiri.
tepat sekitar tiga bulan yang lalu, aku mendapat kabar burung dari mantan kekasihnya,

" semoga kalian bahagia. Yorrick sangat mencintaimu. Carroline.. kau adalah wanita yang tepat untuknya, karena aku melihat keseriusan itu di tingkah laku Yorrick sebelum memutuskan hubungan kami. " -  ucap Chaterine padaku - kabar ini kudengar dari burungburung yang sempat bermukim di pohon yang terletak tepat sebelah kanan jendela kamarku.

aku senang mendengarnya, maka dari itu akan kupertahankan dia.

meskipun aku tahu, saat ini - posesif - adalah penyakit yang sering menggerogoti pikiran dan perasaanku.
posesif = segala yang berlebihan tentang perasaan ini terhadapnya.

aku takut, tapi aku masih kuat melangkahkan kaki untuk sampai di singgasananya.
aku akan membuang arloji lamanya bersama Chaterine, dan akan kubelikan Yorrick arloji baru sebagai penguat memoar waktu atau ingatan kami tentang segala yang kami lalui bersama.

kini Yorrick semakin pandai meramu kata juga mengemas perilakunya dengan baik supaya aku tetap terjaga dalam pikiran dan perasaanku ini.
yaa... Yorrick saat ini berbeda dengan Yorrick terdahulu.

aku mencintaimu, Yorrick.. :)
and forever... i will always love you..

Rabu, 07 November 2012

PATOS



-          buat Irma Nurfa

ada yang mesti kau padamkan
ketika senyum telah dingin di wajah ranummu
dan rumah tak lagi menjadi penawar rasa rindu
kau hanya bertumpu pada kaki yang mulai layu

aku menemukanmu bisu di bibir jalan
serupa arca di museum penghabisan
ketika langit bersemayamkan senja yang memudar
aku tahu,  kini rumahmu tak sebising dulu
padahal kita masih asyik menimang masa silam

kemarilah Kak,
kubelikan arloji baru untukmu
dengan jarum jam yang tak lagi memutar memoar lalu
dengan segugus arpus yang mampu menopang  jemu.
kemarilah,
bersama siluet penyulut rindu.



ruang peramu kata, 2012.

meaning of jealous?

sudah lama tak bersua dengan blog ini.

rindu? ya, tentu.

dear.. diamond..

ada yang ingin aku ceritakan.
sedikit menyentuh ranah curahan hati.

ini tentang seberkas jemu yang mulai merunjam sekerlip mataku.

kau tahu,
apa itu cemburu?

aku tak pernah berani menerjemahkan makna cemburu. tapi tak kusangka bahwa dengan sendirinya ia mampu hadir di tiap ruang gerakku bersamanya.

aku selalu mewaspadai hal ini. namun kewaspadaan itu tak sekedar menjadi acuan untuk tidak merasakannya, melainkan kukemas pula dalam balutan kemesraan.

"cemburu yang mesra."

cemburu yang akhirnya tidak menjatuhkanku pada sifat ambisius ataupun posesif.
cemburu yang sehat.
cemburu yang sewajarnya terjadi pada tiap pasang insan.

cemburu...
cemburu?

yesany time 'jealous' can killing me.. slowly..

entah mengapa baru kali ini aku merasakannya lagi.
cemburu yang berlebihan.
cemburu yang dulu tak pernah menjajah pikiran dan perasaanku hingga selayu ini.

kini ia hadir kembali dengan senyum menyeringai.
seolah membawa segugus kebengisan dan pertengkaran masa silam.

cemburu..
serupa nenek sihir yang mengudara di pojokpojok arteri
sambil membisikkan sebundel pertengkaran
ia berlabuh di belukar awan, hingga terjadilah hujan yang berkepanjangan.


cemburu?
i don't understand about it, 
but i have felt..

- ('_') -

Rabu, 03 Oktober 2012

all about Diamond



all about me…
“INTAN PERTIWI”


life is struggle
and struggle needs sacrifice
and every sacrifice is worship




Intan, begitulah orang-orang biasa menyapanya. Perempuan  yang lahir di Cirebon pada tanggal 12 September 1992 ini mempunyai nama lengkap Intan Pertiwi. Sejak lahir sampai duduk di bangku SMA, Intan memang sudah tinggal di Cirebon. Namun, saat ini ia tinggal di tempat kos-kosannya yang terletak di Jalan Cilimus no.103 rt.07 rw.06 Kelurahan Isola Kecamatan Sukasari Bandung. Letaknya tak jauh dari tempat kuliahnya sekarang. Perempuan yang memiliki hobi bernyanyi ini ternyata masih duduk  di bangku kuliah. Selain bernyanyi, Intan juga mempunyai hobi membaca dan menulis berbagai bentuk karya tulis ataupun karya sastra. Saat ini Intan mengambil  kuliah pada jurusan  Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan salah satu progam study  di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni yang ada di Universitas Pendidikan Indonesia Kota Bandung, tepatnya pada tahun 2010 lalu. Sebelumnya ia telah mengunyah bangku pendidikan di TK Al-Hikmah Pabuaran Kidul dan lulus tahun 1998, lalu berlanjut ke SD Negeri 1 Pabuaran Kidul dan lulus pada tahun 2004, kemudian di SMP Negeri 1 Ciledug lulus tahun 2007, dan juga di SMA Negeri 1 Lemahabang yang lulus pada tahun 2010.
Perempuan yang sekarang masih menduduki kelas Pendidikan B ini masuk ke UPI melalui jalur beasiswa bidikmisi yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Untuk meraih beasiswa tersebut, ia pun melampirkan beberapa sertifikat ataupun piagam penghargaan yang pernah ia dapatkan berkat prestasinya selama itu. Intan pernah meraih juara pertama pada lomba membaca naskah berita se-kabupaten Cirebon. Ia juga pernah meraih juara ketiga lomba menulis karya tulis ilmiah yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon. Selain prestasi yang diraih dari cabang Bahasa dan Sastra Indonesia, ia juga pernah mengikuti lomba menyanyi solo se-Kabupaten Cirebon dan meraih juara ketiga. Intan juga pernah menjadi perwakilan kabupaten Cirebon dalam mengikuti lomba mengarang esai berbahasa sunda tingkat Provinsi se-Jawa Barat yang diadakan di kota Tasikmalaya. Di luar bidang bahasa Indonesia, Intan yang sejak kecil menyukai mata pelajaran bahasa inggris itupun menuangkan kemahirannya beretorika dengan mengikuti ajang lomba pidato bahasa inggris, dan pernah dua kali berturut-turut menjadi juara pertama dalam lomba pidato bahasa inggris di SMA-nya.
Dalam menggeluti kegiatan, Intan adalah seorang perempuan yang hanya mampu memfokuskan diri pada satu hal yang sedang digarapnya. Perempuan yang memiliki tinggi badan sekitar 157cm ini mengaku bahwa dirinya sudah aktif berorganisasi sejak sekolah dasar. Keaktivannya itu berhasil mengangkatnya menjadi pratama putri dalam organisasi pramuka sekaligus menjadi murid teladan di sekolah dasarnya. Menduduki masa-masa SMP, hasrat berorganisasinya semakin tinggi. Ia pun menyalurkan aktivitasnya ke dalam organisasi inti atau OSIS di SMP tersebut, dan menduduki jabatan sebagai wakil ketua OSIS. Selain mengikuti organisasi intra sekolah, Intanpun mengikuti organisasi ekstra. Ia termasuk ke dalam pasukan pengibar bendera (paskibra) di SMP-nya dan diangkat sebagai wakil Ibu Lurah. Di bidang olahraga, ia pun mengikuti organisasi basket di SMP-nya tersebut. Beranjak ke masa-masa SMA, perempuan yang memiliki berat badan 45kg ini meneruskan bakat berorganisasinya dengan mengikuti kembali OSIS, ekstrakurikuler Paskibra dan juga basket di SMA-nya. Ia berhasil menduduki jabatan sebagai bendahara satu dalam OSIS dan menjadi pengemban putri sekaligus komandan pengibar bendera (Dankibar) di paskibra SMA-nya.
Berbicara seputar hobi atau kegemaran, Intan sangat suka menyanyi dan memainkan alat musik kesayangannya ‘gitar’. Prestasinya itu ia tuangkan dalam berbagai bentuk. Mulai dari mengikuti ajang-ajang lomba menyanyi baik itu solo ataupun band, tak jarang pula ia diikutsertakan dalam garapan teater sebagai pemusik ataupun penyanyi musik teater. Selain menyanyi dan bermusik, Intan juga gemar membaca dan menulis. Sejak kecil ia sering membeli majalah anak-anak semisal majalah Bobo dan Ino. Tak jarang Intan juga mengirimkan buah karyanya berupa puisi ataupun saran-saran pembaca di majalah anak-anak tersebut, dan dimuatlah di sana.
Jika dikaitkan dengan kegemarannya itu, maka kini ia semakin membulatkan tekadnya untuk menguatkan hobinya agar terus berkembang dan bisa bermanfaat untuknya. Intan mulai mencoba mengembangkan bakatnya di bidang kepenulisan melalui konsentrasi jurusan di kampusnya. Ia mengambil kelas jurnalistik sebagai konsentrasinya di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia itu. Segala bentuk tulisan semisal puisi, esai, artikel ataupun cerpen sering dilahapnya. Maka ia semakin yakin dengan kemampuannya di bidang jurnalistik.
“Salah satu kunci kesuksesan menulis adalah dengan membaca.” Kata-kata itulah yang terpatri di kepala perempuan bermata sayu ini. Menulis puisi dan cerpen adalah sebagian jurus terjitunya dalam meluapkan emosi di pikiran juga hatinya. Karena itulah, beberapa karyanya telah dimuat dalam antologi situ waktu.
 Sementara hobi menyanyi ia salurkan dengan bergabung dalam tim musikalisasi puisi di kelasnya yang bertengger dengan nama Bahtera Gaib. Kadang suaranya tersebut dijadikan backsound sebuah pertunjukan, entah itu teater ataupun dramatisasi puisi di kampusnya. Sejak duduk di bangku SMP sampai SMA, Intan selalu diikutseratakan oleh guru-gururnya untuk mengisi acara yang berlangsung di sekolahnya tersebut yaitu dengan bernyanyi pada tiap kegiatan yang diadakan oleh pihak sekolah. Ketika duduk di bangku SMA lah akhirnya Intan diangkat menjadi vokalis band sekolahnya. Di luar itu, ia juga menjadi vokalis band yang digawangi oleh beberapa teman dekatnya, band tersebut bernama New Version Warrior (NVW Band). 
Perempuan yang saat ini aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lakon dan juga Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI ini berharap bahwa ia dapat menyelesaikan kuliahnya maksimal dalam jangka waktu empat tahun dengan hasil yang sangat memuaskan. Ia juga berharap apa yang ia cita-citakan dapat tercapai dengan mudah dan lancar.
Motto hidupnya adalah “life is struggle and struggle  needs sacrifice and every sacrifice is worship”

--> created by Intan Pertiwi <-- d'_'b